I Love You No Matter What

I Love You No Matter What
Chapter 32 - Rowen dan Leon



"Selamat datang di kantorku tuan Richard" sapa Ken kepada Richard Rowen yang memasuki ruangan kantor pribadi Ken.


"Rupanya, kau berhasil membawa Leon Company naik ke puncak" puji Richard sambil duduk di depan Ken.


"Tuan Richard berlebihan....ini berkat bantuan ayah angkatku yang menjual semua saham Leon dengan harga murah ke padaku" jawab Ken.


"Kau masih memujanya...dia Daryl Silas yang sudah menendang mu" ucap Richard sinis.


"Hmmm...apa informasi yang kuberikan berguna untukmu, soal documents pribadi Kai waktu itu?" Ken menambahkan.


"Yah...ayah dan anak rendahan itu cocok satu sama lain, aku ingin mereka hancur, dan Rowen Company berada di puncak tertinggi lagi, mereka tidak pantas" Kesombongan Richard.


"Tuan Richard terlalu sombong..."


"Ken...aku tidak tahu saat ini kau berpihak ke mana?, kau memberikan documents pribadi Kai saat itu, jelas tujuanmu adalah agar aku menghabisi Kai, dan menghabisi Daryl...tapi aku duduk di hadapan mu saat ini pun, kau tak bergeming soal tawaran ku untuk bekerja sama, apa yang kau inginkan?, apa rencana mu?" Richard penasaran.


"Aku adalah penonton" ucap Ken.


"Benarkah...aku mencurgaimu...kau memiliki sesuatu tujuan"


"Yah.. kau benar tujuanku adalah bermain serapih mungkin" jawab Ken.


"Ku berikan satu usulan, agar permainan mu bisa berhasil...kau harus menggandeng ku" Richard menawarkan diri.


Richard bodoh, dia selalu berpikir bisa mengendalikan ku, batin Ken.


"Aku tidak ingin menggandeng seseorang yang pernah gagal dengan rencana yang aku arahkan, itu....membuatku kecewa" Ken memainkan pulpen di atas mejanya.


Richard berdiri, wajahnya mengarah ke kursi Ken.


"Aku bukan kegagalan..." tunjuk Richard.


"Bagaimana kau bukan kegagalan, membunuh ayah dan anak saja tidak mampu" singgung Ken.


"Apa kau mampu?" Richard kembali bertanya.


"Di sini akulah pemegang skenario...dan kau aktornya tuan Richard...aku lah sutradara nya, seorang sutradara melihat aktor nya gagal, untuk apa mengajaknya bekerja sama lagi" ucap Ken.


"Hmmm....kau bilang kau seorang penonton, terbongkar sudah...kau memanfaatkan ku untuk membunuh mereka demi kemenangan mu"


"Aku adalah sutradara yang duduk di kursi penonton, dan menilai aktorku bermain di panggung"


"Tak ada gunanya aku di sini, kau terlalu banyak mengkhayal bisa mengendalikan ku, umurmu saja seumuran putriku" Richard bangkit.


"Tunggu tuan Richard"


"Aku tidak ada waktu"


"Aku memiliki penawaran menarik...Rowen dan Leon memang tidak bisa bekerja sama...tapi...ada sesuatu yang akan membuatmu senang" ucap Ken.


"Kau membuang waktuku"


"Duduklah sebentar tuan, aku yakin kau akan suka"


Richard kembali duduk.


"Aku memberikan penawaran yang akan sangat menguntungkan mu, bagaimana kalau kita bertaruh?" bujuk Ken.


"Bertaruh?!" Richard penasaran.


"Iya tuan...bertaruh...aku ingin membuat kesepakatan denganmu...apa kau mau mendengarkan?" tanya Ken.


"Apakah menguntungkan untukku?" tanya Richard.


"Kau akan sangat beruntung" ucap Ken.


"Hmmm...baiklah aku mendengarkan, apa rencana mu?" tanya Richard penasaran.


"Aku ingin anda bertaruh denganku, tuan Richard...jika anda berhasil menghabisi semua keluarga Silas, maka semua saham Leon dan saham Baron milikmu...semuaaa" bujuk Ken.


"Tapi....jika anda gagal, maka saham Rowen milikku dan Lana milikku, bagaimana?" lanjutnya.


Hmmm....menarik, Rowen akan berada di paling puncak, batin Richard.


"Menarik bukan?" ucap Ken seakan tahu isi hati Richard.


"Tapi...apa aku bisa percaya padamu Ken?" tanya Richard.


Ken menelepon sekretaris nya, lalu Masuklah seorang perempuan membawa suatu berkas.


"Silahkan di baca...dan ini resmi, ini surat kesepakatan kita, aku sudah menandatangani nya...di sini tertulis jika kau gagal menjalankan kesepakatan kita, maka semua saham Rowen milikku, dan jika kau berhasil Leon dan Baron milikmu, bagaimana?" tanya Ken kembali.


Hm...menurut kabar beredar, Kai sedang dalam keadaan koma, kondisi Daryl Silas pasti sedang dalam kondisi lemah, aku mungkin saja kali ini akan berhasil, pikir Richard.


"Hmm....baiklah...aku setuju" Richard menandatangani berkas yang di berikan Ken.


Richard bodoh, manusia serakah sepertinya sangat mudah di peralat sudah dua kali ku peralat, aku takkan kalah, akan ku gunakan segala cara, 2 musuh bisa ku lumpuhkan dengan mengadu domba mereka, Leon Company akan bangkit di bawah kepemimpinan ku, batin Ken.


Richard pun pergi meninggalkan ruangan Ken, dengan rasa sumringah.





"Tuan Daryl!!....tangan Kai bergerak" ucap Charlotte yang sedang menengok Kai bersama kekasihnya Ezra.



Semua orang terkejut dan menghampiri ruangan rawat inap Kai.



Sudah 2 minggu Kai dalam keadaan koma.



"Ezra...dokter cepat!" seru Daryl.



Ezra pun bergegas menjemput Dokter pribadi Kai.



"Lana..."



"Lana..."



"Lana..."



Kai memanggil nama Lana berkali-kali.



"Kai...akhirnya, buka mata mu Kai..." Daryl memegangi tangan putranya.



Semua orang merasa iba di dalam ruangan itu, ibunya Mario, Mario, Charlotte dan tante Lidya, ikut menyaksikan kejadian itu.



Dokter pun datang langsung di persilahkan memeriksa Kai. Setelah 30 menit pemeriksaan.



"Tuan Daryl bisa kita bicara?" ucap Dokter.



Semua yang ada di ruangan pun keluar.



"Setelah operasi yang kami lakukan pada tuan Kai saat itu berhasil, mungkin saat sadar dari koma nya kondisinya akan kurang responsif, itu karena Dia mengalami luka tembak di bagian tengah kepala nya dan pelurunya menembus bagian samping kiri belakang kepala, dan bersarang di sana yang akhirnya bisa kami angkat pelurunya, hasil scan CAT memperlihatkan gumpalan darah besar dan bengkak di otaknya, saya sangat takjub perkembangan tuan Kai dalam 2 minggu ini, namun saya ingin mengingatkan apabila tuan Kai terbangun, kemungkinan untuk berjalan ataupun berdiri sendiri, di perlukan terapi di pusat rehabilitasi, mungkin akan banyak berpengaruh pada bagian kanan tubuhnya" Dokter ahli bedah saraf itu menjelaskan.



"Tuan Kai, untuk komunikasi saya cek tidak ada masalah, saya rasa tuan Kai akan cepat membuka matanya, tuan Daryl tidak perlu khawatir karena ini akan jadi kabar baik, itu saja hasil pemeriksaan saya, saya harus kembali ke Rumah Sakit, apabila ada perkembangan dan pemeriksaan lebih lanjut saya akan datang secepatnya" lanjutnya.



Dokter pun pergi meninggalkan kediaman Daryl.



Dokter memberikan kabar gembira kepada Daryl dan membuat nya senang tidak bisa berkata apapun, Daryl pun langsung mengabarkan kerabat yang lain perihal apa yang di sampaikan dokter tadi.



Daryl pun memanggil Ezra dan Charlotte untuk berbicara berdua.



"Kalian, aku memiliki tugas untuk kalian berdua, cari informasi tentang Lanaris, untuk putraku Kai" ucap Daryl.



"Baik tuan" mereka serentak.



Mereka pun pergi meninggalkan Daryl tuannya.