I Love You My Step Mother

I Love You My Step Mother
Mulai Terpesona



Alfira POV


Aku terbangun dari pingsan di jam setengah 10 malam, tubuhku masih terasa lemas dan kepala ini masih berputar. Saat mataku terbuka, aku merasa linglung dan sedikit bingung. Aku mencoba mengumpulkan kesadaran dan mencari tahu apa yang terjadi.


Aku melihat sekeliling ruangan yang redup, menyadari bahwa aku tengah berada di kamar. Tetapi apa yang menyebabkan aku pingsan? Apa yang terjadi setelah aku kehilangan kesadaran?


Aku mencoba mengingat-ingat kejadian sebelum aku pingsan, tapi pikiranku masih keruh dan membingungkan. Aku mencoba untuk mengingat, namun seolah-olah ada kekosongan dalam ingatan.


Tunggu, sudah berapa lama aku tertidur? Dan apa ini? Kurasakan sesuatu menempel di keningku. Aku mengambilnya, ternyata kain basah. Aku meletakkan kain itu di nakas samping ranjang.


Aku meraih kepala dengan tanganku yang gemetar, mencoba meredakan pusing yang terus melanda. Aku bertanya-tanya apakah ada orang di sekitar yang tahu apa yang terjadi?. Apakah seseorang telah memberi pertolongan saat aku pingsan.


Aku ingin bangkit dari pembaringan, tetapi badan terasa lemas tak berdaya. Walhasil, aku hanya mampu terduduk menyandar ke dashboard ranjang.


"Bu, jangan bangun dulu!" Spontan aku menoleh ke arah suara, ternyata itu Andrian. Ia datang menghampiriku sambil membawa nampan makanan.


"Ibu harus makan." Andrian  mendudukan diri di samping kiri ranjang, dengan satu mangkok bubur di tangan, dan segelas air mineral di tangan sebelahnya.


Andrian meletakan mangkok tersebut di atas nakas. "Oh iya. Sebelum makan bubur, Ibu minum dulu, ya." Aku hanya mengangguk lantas menerimanya. Kebetulan, tenggorokanku terasa haus. Kuteguk satu gelas air mineral sampai habis.


"Umm, Dri ... sudah berapa lama Ibu tertidur?" tanyaku seraya memberikan gelas kosong itu padanya. Aku hanya linglung tidak ingat apa-apa.


"Dari maghrib, ibu pingsan." Raut wajah Andrian tampak khawatir. Aku terdiam sejenak, dan perlahan mulai ingat.


"Ibu makan dulu ya, setelah itu langsung minum obat." Andrian mengambil mangkok di atas nakas. Mengaduk-aduk isinya yang kutebak sebagai bubur.


Tanganku terulur untuk meraih mangkok itu. Namun, Andrian malah menjauhkannya dariku. "Biar Andrian suapin, Ibu diem aja."


Apa aku tidak salah dengar? Ia ingin menyuapiku?


"Ibu makan sendiri aja, Dri. Sini buburnya." Ketika aku akan mengambilnya Andrian menepis tanganku.


"Nggak!" sergahnya dengan penuh penekanan. Aku mengernyit bingung, tumben hari ini sikapnya sangat perhatian, tapi tetap dengan wajah datar.


"Aaa ... " Sendok bersisi bubur di tangan itu terulur mengarah ke mulutku. Dengan ragu, aku melahapnya. Jujur, ada rasa canggung ketika disuapi olehnya. Begitulah berulang-ulang sampai buburnya tandas.


Setelah perutku terisi makanan dan obat, aku merasa lebih baik dibanding sebelumnya, walaupun masih agak lemas tapi bagusnya tak separah tadi. Setelah usai Andrian menyuapiku, ia tertunduk lesu memandang lantai.


"Maaf." Satu kata meluncur dari mulutnya.


"Untuk apa?" tanyaku bingung.


"Karena mengabaikan Ibu dan meninggalkan Ibu sendirian." Apakah Andrian menyesal?


"Tidak masalah ko," kataku seolah semua baik-baik saja.


"Ya ... Ibu bisa paham ko kalau kamu masih belum bisa menerima orang lain menggantikan sosok ib---,"


"Bukan itu!" Tiba-tiba Andrian memotong ucapanku sembari menoleh menatapku sendu. Terkatup. Aku tersentak karena ia sedikit membentak. Hening sesaat.


"Andrian ke dapur dulu ya, Bu. Mau cuci ini dulu. Ibu istirahat saja, kalau butuh apa-apa tinggal panggil, Andrian." Bangkit berdiri, kemudian ia berlalu pergi keluar kamar dengan mangkok kotor dibawanya.


Sebagian aktifitas yang dilakukan orang sakit adalah berbaring manja dan tidur di atas kasur. Begitulah yang aku lakukan seharian ini. Tentu saja aku sudah memberitahu kepala sekolah kalau hari ini aku tidak bisa mengajar karena sakit. Syukurlah, pak kepala sekolah bisa memaklumi.


Aku meletakkan ponsel di samping bantal setelah Mas Reza menghubungi dan bertanya tentang keadaanku. Aku bilang padanya kalau Andrian yang merawatku. Mas Reza bernapas lega setelah tahu kalau Andrian sudah pulang.


Tiba-tiba aku jadi teringat sesuatu. Di saat waktu pingsan, bukannya aku mengenakan pakaian basah? Baru sadar setelah terbangun aku sedang mengenakan kaos. Apa jangan-jangan Andrian yang menggantinya? Wajahku mendadak merona dan aku terbelalak membayangkan Andrian menanggalkan bajuku waktu itu. Oh si*l.


Aku termenung. Masih tidak menyangka kalau Andrian yang mengurusku. Mulai dari menyiapkan air hangat, menyuapi makanan dan memberikanku obat, ia jadi mendadak perhatian. Tetapi untungnya masih ada Bi Narsih yang bisa meringankan bebannya. Meskipun Bi Narsih tidak bisa berlama-lama di sini, disebabkan ia hanya pekerja paruh waktu.


Tadi pagi, Andrian mengabari bahwa ia akan pulang terlambat, dikarenakan ada urusan dengan tugas kelompok. Andrian memang anak yang tergolong pintar. Selain cerdas, ia juga berbakat terutama dalam memainkan keyboard. Aku kadang sering menyaksikan perform-nya yang luar biasa di atas panggung.


Mengernyit, reflek aku memalingkan pandang ke arah pintu kamar. Pasalnya, terdengar suara derap langkah mendekat. Daun pintu itu bergerak menghasilkan bunyi pintu berderit terbuka secara perlahan. Bernapas lega, rupanya orang itu Andrian. Syukurlah aku kira orang lain.


"Maaf, Bu. Andrian pulang terlambat. Apa Ibu butuh sesuatu?" Dengan masih memakai seragam sekolah dan mengendong ransel, Andrian mendekat dan duduk di pojok ranjang.


"Nggak ada, Dri. Lebih baik kamu makan aja dulu terus mandi dan istirahat. Bi Narsih sudah menyiapkan semuanya di meja makan," kataku sambil terbangun dari posisi baringan. "Kamu sudah makan?" tanyaku kemudian.


Andrian menggeleng pelan. "Makanlah, kamu pasti lapar."


"Andrian, nggak lapar ko, yang pentingkan sekarang Ibu yang harus Andrian urusin." Aku jadi tersentuh mendengar ucapannya barusan.


Semenjak aku menikahi papanya, dulu sempat berpikir apakah Andrian membenciku karena sikapnya yang berubah dingin dan cuek? Namun, kali ini ia agak berbeda. Hangat dan perhatian. Mungkin karena aku sakit. Bisa jadi. Belum tentu juga ia sepenuhnya menerimaku.


"Bu?" Suara datar Andrian menyadarkanku dari lamunan.


"Iya, ada apa?" balasku dengan sedikit mengerjap-ngerjapkan mata.


"Ada sesuatu di sudut bibir Ibu."


"Apa?"


Belum sempat aku menyeka sendiri, jempol tangannya lebih dulu membersihkan sudut bibirku. Sejenak aku tertegun dibuatnya. Aku mulai memandang dan mengamati wajahnya yang hampir dua jengkal berada tepat di depan wajahku.


Mukanya yang bersih tanpa noda dan jerawat, manik mata yang teduh berwarna coklat, alis dan bibir tebal, hidung mancung, rahang yang tegas dan rambut lebat serta hitam berkilau sungguh sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Sorot mataku perlahan berpindah ke bawah. Dadanya bidang dan tubuh yang sedikit atletis dibarengi perawakannya yang tegap itu menjadikan Andrian sosok lelaki yang ...


Spontan aku mengalihkan pandang sembarang. Apa yang aku pikirkan? Bahkan mataku sampai tidak berkedip ketika melihat wajah rupawan itu.


"Nah, sekarang nodanya sudah nggak ada. Tadi Ibu makan apa sih ko nyampe tersisa di bibir gitu?" Aku melirik sekilas. Senyuman manis itu entah mengapa melelehkan hatiku.


"Oh ... tadi ibu makan roti dilapisi selai kacang," jawabku salah tingkah.


"Kalau begitu sekarang Andrian mandi dan makan dulu ya, nanti kalau Ibu butuh sesuatu tinggal panggil saja."


"Iya."


Tanpa disengaja, aku dibuat terkesima saat sekilas melihat senyumnya. Bangkit berdiri dari ranjang, Andrian lekas berlalu dari kamarku, sampai punggungnya hilang di balik pintu.


Kalau dipikir-pikir. Mengapa aku mendadak gugup? Bahkan aku sampai tidak mau beralih tatap ketika memandang wajah tampan teduh itu. Oh, Astaga Alfira. Jangan katakan kalau aku terpesona padanya!