
Setelah mengungkapkan seluruh perasaan yang Andrian pendam selama dua tahun ini di malam itu, hatinya terasa jauh lebih baik dan lega. Meskipun ia sadar, semua itu percuma saja dan mungkin sudah dibilang terlambat untuk bisa memiliki sang pujaan. Namun, mengetahui fakta bahwa Alfira juga memendam rasa yang sama terhadapnya, Andrian merasa ada satu kebahagian yang tidak bisa dibeli oleh apapun. Cinta yang terbalaskan, begitulah fakta yang membuat hati Andrian berbunga-bunga setiap waktu.
Satu lagi hal yang mengejutkan Andrian, bahwa Alfira sebenarnya tidak mencintai Reza. Andrian baru tahu kalau pernikahan Reza dan Alfira adalah hasil dari perjodohan. Kadang terlintas di benaknya, kalau Andrian merasa bersalah pada Reza, tapi ia juga terkadang dibuat kesal dengan pilihan sang ayah yang malah jatuh pada wanita pengisi hatinya.
Mengapa pula pernikahan Reza baru Andrian ketahui ketika semuanya sudah siap tinggal dua hari lagi? Andrian berpikir mungkin itu salahnya. Andai dulu ia segera mengungkapkan cinta pada Alfira, semuanya tidak akan serumit ini.
Sementara Alfira terus berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Apakah mengungkapkan rasa terhadap Andrian adalah hal yang salah atau benar? Entahlah, yang jelas hatinya memang tidak bisa berbohong bahwa ia juga memendam rasa yang sama.
Di ruang makan, dua orang yang tengah duduk asyik menyantap hidangan saling terdiam tanpa obrolan. Reza yang baru pulang ke rumah setelah mengurus bisnis merasa heran sebab anak semata wayangnya itu tak henti-hentinya mengukir senyuman bahagia.
Sedang Alfira lebih banyak terdiam dan sibuk berkutat membereskan peralatan memasak. Reza tidak mengetahui bahwa kepergian dirinya selama tiga minggu, rupanya mengundang banyak sekali hal yang terjadi di antara anak dan istrinya.
Mulut kedua insan itu memang terkatup, tapi hati masing-masing saling bertautan bersorak gembira. Sungguh Reza yang malang, ia berada di antara dua hati yang menyatu, sedangkan cintanya hanya bisa bertepuk sebelah tangan.
***
"Katakan lagi," pinta Andrian pada Alfira yang mungkin sudah terhitung ke sekian kalinya.
"Sudah jelas buat apa dikatakan lagi?" balas Alfira yang bosan mendengar permintaan anak tirinya itu berulang kali.
"Pengen denger sekali lagi aja." Andrian merengek manja. Seraya tengah menyetir mobil, sesekali ia terus mencuri pandang pada wanita yang berada di samping kirinya itu.
Menghela napas panjang Alfira memijit pelipisnya. Bukannya ia tidak mau mengatakan itu, tapi dirinya merasa malu, kikuk dan canggung bila hal demikian diucapkan kembali.
"Please, ayolah ...," rengek Andrian memelas.
Menoleh ke samping kanan, Alfira memasang tampang datar. "Aku sayang kamu. Puas?" ucap Alfira dengan penekanan. Memutarkan dua bola mata malas, Alfira kembali menatap jendela. Memandangi pemandangan jalan tol di luar sana. Detik kemudian senyuman tipis muncul di wajahnya.
"Aku juga." Kalimat sederhana tapi sangat bermakna bagi Andrian. Apa yang Alfira lontarkan barusan, membuat hati Andrian serasa bagai taman bunga yang bermekaran. Mendadak wajahnya berseri-seri.
Rona merah tampak di wajah keduanya. Hati yang menghangat, dan jantung yang berdebar. Mereka menikmati rasa indah itu, meski terkadang keduanya sadar bahwa mereka hanya bisa memiliki hati satu sama lain tapi tak dapat memiliki raga masing-masing.
***
"Kak, pengen nge-date."
Andrian tidak menanggapi rajukkan pacar manjanya itu. Ia malah tetap fokus menyantap makanannya di kantin.
"Kakak!" teriak Siska di telinga Andrian, sontak membuat Andrian menutup kedua rungunya.
"Yak! Kamu kenapa sih?" Andrian menyahut kesal. Mendelik sebal ia menatap Siska yang cerewet.
"Aku tuh ngerasa dianggurin dari tadi tau nggak, sih?" ucap Siska cemberut, kedua lengannya terlipat di dada.
Andrian yang sadar tak acuh pada Siska jadi merasa bersalah. Memang akhir-akhir ini ia sering mengabaikan pacarnya itu yang kadang membuat Siska kecewa.
"Ya sudah nanti malam kita nge-date," kata Andrian sambil merangkul Siska yang terus merajuk sedari tadi.
Siska tidak merespon, ia masih mendengus kesal. Bahkan membuang tatapan sang pacar. Melihat Siska yang masih menekuk wajah cemberut, Andrian mendekatkan mulutnya ke telinga gadis itu.
"Sayang, jangan marah dong, " bisik Andrian menggoda. Mendadak ada desiran aneh di tubuh Siska. Sesaat ia tersenyum tipis.
"I love you." Andrian malah usil menggoda Siska biar amarah Siska mereda. Manjur, akhirnya Siska luluh lantas ia memalingkan tatapannya ke arah Andrian.
"Emang Kakak sibuk apa sih nyampe nggak ada waktu buat aku?" tanya Siska datar.
"Belajar mulu kerjaannya, emang nggak bosen apa?"
"Kakak, kan sudah kelas dua belas jadi harus giat belajar dong."
Sejenak Siska melamunkan Andrian yang setahun lagi akan lulus SMA dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sementara dirinya yang masih kelas sebelas otomatis akan menghabiskan hari-harinya tanpa Andrian di sekolah. Siska jadi mendadak sedih dan murung.
"Sayang, kamu kenapa? Ko kelihatan sedih?" Andrian bingung.
Siska menggenggam tangan kiri Andrian lembut. Menatap Andrian dengan mata yang berkaca-kaca. "Pokoknya Kakak selama setahun ini harus banyak waktu buat aku."
"Iya, maaf. Kakak akan usahain ya," ucap Andrian menenangkan. Ia jadi mendadak kasihan.
Dulu, Andrian memang tidak punya rasa terhadap Siska, tapi karena perlakuan Siska yang perhatian dan baik padanya perlahan rasa suka itu muncul. Akan tetapi, Siska belum bisa merebut hati Andrian sepenuhnya dari Alfira.
Ada rasa tak enak hati dan kasihan bila membayangkan dirinya memutuskan hubungan dengan Siska, tapi ia juga tidak mungkin terus melanjutkan hubungan ini atas dasar coba-coba tanpa cinta.
Andrian merasa bersalah menjadikan Siska sebagai pelarian untuk melupakan Alfira, tapi kenyataannya Andrian belum mampu memberikan hatinya pada Siska. Andrian memang milik Siska, tapi hatinya milik Alfira.
***
Malam ini malam minggu, Andrian dan Siska rencananya akan berkencan. Reza dan Alfira yang duduk di ruang tengah, tak sengaja melihat sang anak berjalan melewati keduanya dengan pakaian rapih dan wangi parfum maskulin menguar.
Reza menebak-nebak apa yang akan dilakukan anaknya itu. "Jangan kemaleman kencannya," seru Reza pada Andrian dengan mulut penuh camilan.
Andrian menoleh kaget. Sungguh tebakan yang tepat. "I--iya, Pah," balas Andrian sedikit malu. Sejenak ia berhenti melirik wanita di samping Reza, siapa lagi kalau bukan Alfira. Sedang Alfira yang dilanda cemburu, tertunduk lesu pura-pura sibuk memainkan ponselnya.
Triing!
Satu pesan WhatsAp masuk ke ponsel Andrian. Andrian segera merogoh benda pipih itu di saku celananya.
Terlihat nama Alfira tertera di pop-up ponselnya, buru-buru Andrian meng-klik notifikasi.
[Selamat berkencan!] 06:34 pm
Andrian balas mengetik. [Kenapa? Cemburu?]
Alfira terhenyak. Ada rasa malu ketika perasaannya kali ini tertebak.
[Menurutmu?]
Gengsi dong bila diungkapkan, begitulah balasan Alfira.
[Hati Andrian tetap milik Ibu ko]
Sekilas Andrian melirik kembali ke arah Alfira yang fokus membaca pesannya. Rona merah dan senyuman singkat terbit di bibir Alfira, Andrian yang melihatnya ikut tersenyum bahagia.
Chat singkat itupun, lekas Alfira hapus tanpa sisa. Bisa gawat urusan kalau terbaca oleh Reza, batinnya. Walaupun ia memasang password untuk membuka ponsel, tapi alangkah baiknya dicegah agar tak ketahuan. Begitulah kira-kira.
Sejenak Andrian dan Alfira tertegun. Merenungi kisah cinta keduanya. Ada rasa yang menyesakkan dada. Tersiksa dengan cinta terlarang nan memabukkan. Ingin rasanya saling memiliki, tapi kapan?
Hanya waktu yang bisa menjawabya.