I Love You My Step Mother

I Love You My Step Mother
Godaan Ibu Tiri



Andrian pulang ke rumah dengan badan yang lelah setelah bersenang-senang dari tempat karaoke. Ia ingin cepat-cepat merebahkan badan dan beristirahat. Sungguh ia kapok datang ke tempat itu lagi, rasanya tidak nyaman berada dalam keramaian dan kebisingan.


Di ruang tengah, lampu kristal terang sudah berganti dengan lampu meja berwarna kuning sehingga menampakkan cahaya redup, memberikan suasana yang tenang dan nyaman. Andrian disambut dengan senyuman hangat oleh Alfira. Lantas ia bertanya, "Andrian, apakah kamu sudah makan?"


Andrian melemparkan senyum singkat ke arah Alfira, meski masih terlihat lesu. "Sudah, Bu Al. Tadi makan di tempat karaoke bersama rekan-rekan kerja."


Wanita itu mengangguk anggukan kepala. "Istirahatkan badan kamu sana. Kamu kelihatan cape banget."


Andrian duduk di sofa, menghela napas dalam. Sejenak ia mengistirahatkan badan. Di sebelahnya Alfira ikut mendaratkan pantatnya di sofa. "Mau aku ambilin minum nggak?" Alfira menawari.


Sembari memejamkan mata, Andrian berucap, "Nggak usah, Bu. Nanti aku bisa ambil sendiri."


"Aku ambilkan, ya." Alfira beranjak dari sofa, pergi ke dapur dengan langkah gesit. Andrian membuka mata, memerhatikan punggung Alfira lekat. Akhir-akhir ini ibu tirinya itu sangat perhatian. Dari dulu pun memang begitu, pikirnya.


Andrian jadi melamun. Mendadak ia mengingat kehadiran wanita asing yang ia temui bersama Reza di restoran beberapa waktu lalu. Ia juga menceritakan bagaimana dirinya merasa terganggu dengan perilaku beberapa rekan kerja yang terlibat dalam hiburan yang kurang pantas.


Alfira datang dengan segelas air di tangannya lalu menyodorkan gelas itu pada Andrian. "Terima kasih," ucap Andrian sembari menenguk air. Ia menatap Alfira yang kini duduk di sebelahnya. "Papa sudah tidur?"


"Sudah."


Mereka berdua melanjutkan percakapan ringan, mengobrol seputar pekerjaan Andrian dan kadang membicarakan Ari yang sudah kelewat aktif. Mereka kembali dekat seperti dulu. Tidak ada rasa canggung lagi, mengingat saat pertama kali Andrian pulang dari Belanda keduanya sempat kikuk satu sama lain.


"Syukur kalau kamu betah kerja di sana." Alfira meletakkan tangannya lembut di bahu Andrian dengan sedikit pijatan sambil tersenyum penuh kasih sayang. Entah mengapa Andrian jadi merasa rileks dan nyaman.


Juga deg-degan.


"A-aku ... ke kamar dulu." Andrian mendadak tergagap. Alfira menarik kembali tangannya dari bahu Andrian, ia mengangguk.


***


Andrian melangkah ke meja makan dan mendapati Reza tengah duduk sembari meminum teh hangat dan memainkan gawai, sedangkan Alfira sibuk berkutat mencuci alat wajan di wastafel.


Lelaki beralis tebal itu menyapa, "Selamat pagi, Pa." Kemudian menarik kursi dan mendudukan diri di sebelah Reza.


Reza mengangkat kepala, menyambut Andrian dengan senyuman sebentar sebelum kembali memandang ponselnya. "Selamat pagi, Andrian. Pulang jam berapa malam tadi?"


"Pukul setengah sepuluh malam. Papa tumben sudah tidur?"


"Ya, lelah sekali kerjaan kemarin."


Alfira sudah selesai dengan alat masaknya, ia bergabung di meja makan. Bocah kecil bernama Ari masih terlelap di kamarnya. Mereka meneruskan sarapan dalam keheningan.


Terlintas bayangan Devi ketika berada di tempat karaoke. Andrian memandang Reza dari samping, ia penasaran dan ingin bertanya tentang pekerjaan klien papanya itu. Namun, ia urungkan dan kembali menyantap makanan. Ia memilih untuk membiarkannya saja dan berpikir kalau itu bukan hal yang tidak penting.


***


Reza sudah berangkat duluan untuk bekerja, namun Andrian masih di kamar kebingungan. Andrian mulai panik saat menyadari bahwa dasi dan kemeja yang seharusnya ada di lemari pakaian tidak tampak satupun. Ia segera mencari-cari, membuka laci dan lemari sebelahnya tetapi tetap tidak menemukan apa yang dia butuhkan.


Dia baru ingat jika selama beberapa hari ini dia belum mencuci baju kotornya yang sudah menumpuk. Sehingga, kemeja bersih untuk bekerja tidak bersisa sama sekali. "Aduh, kenapa bisa lupa cuci baju begini?" Andrian menepuk jidatnya.


"Eh? Kok ...." Dahi Andrian mengernyit.


"Andrian kamu kenapa?" tanya Alfira heran saat mendapati Andrian mondar mandir dengan gelisah.


"Soalnya tadi aku nyari-nyari kemeja bersih, lupa dicuci. Eh taunya Bu Al yang mencucinya. Aku jadi nggak enak." Andrian menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Alfira tertawa ringan. "Kaya ke siapa aja, " katanya seraya menyimpan rapih tumpukan kemeja dan dasi itu ke dalam lemari. Andrian jadi tidak enak hati, ia sudah dewasa tidak seharusnya Alfira turut mencucikan bajunya.


Tetapi di sisi lain, Andrian merasa lega melihat pakaian dan dasi yang disuguhkan oleh Alfira sudah bersih dan tertata rapih di lemarinya. Ia tidak perlu repot-repot membersihkan itu semua. "Terima kasih, Bu Al. Kamu sangat membantu."


"Iya, sama-sama."


"Lain kali Bu Al jangan cucikan baju aku lagi, ya."


Alfira mengerutkan dahi. "Kenapa?"


"Nggak kenapa-kenapa. Aku cuman nggak mau ngerepotin. " Senyum canggung terpatri di wajah Andrian.


Andrian berterima kasih sekali lagi pada Alfira sebelum melanjutkan persiapannya untuk pergi bekerja. Alfira dengan cepat memalingkan pandangan ketika tersadar bahwa Andrian hanya mengenakan handuk yang terlilit di pinggang. Wajahnya memerah, gegas ia melangkahkan kaki keluar dari kamar sang anak tiri untuk memberikan privasi.


***


Ketika Andrian keluar kamar dengan langkah terburu-buru setelah mengenakan pakaian kantor dan membawa tas kerja, ia kembali berpapasan dengan Alfira di ruang tengah. Alfira tersenyum dan memegang lengan Andrian lembut. "Andrian, tunggu sebentar."


Andrian berhenti dan menatap Alfira heran. "Ada apa, Bu Al?"


Alfira menggigit bibir bawahnya sejenak sebelum berbicara, "Andrian, dasimu kok begini?"


Andrian menunduk melihat posisi dasinya yang terbalik, Alfira dengan cekatan membetulkan dasi yang tersemat di leher lelaki itu. Andrian melihat ke arahnya dengan pandangan berbinar, tertegun.


Ketika wajah keduanya begitu dekat, denyut jantung Alfira berdetak semakin cepat. Ia kerap mencuri tatap dan terpaku beberapa saat seakan tidak bisa berpaling dari pandangan mata elang Andrian yang hangat. Rasa bergejolak dalam hati Alfira semakin kuat. Membuatnya merasa seperti ada magnet yang menarik dan membuatnya terpikat. Namun, ia dengan cepat mengatasi perasaan itu, memaksakan senyum kaku di wajah. Rasa gugup sekarang mendominasi.


Begitu juga Andrian, dia salah tingkah, wajahnya merah bak kepiting rebus disebabkan penampilan Alfira yang berubah. Apabila tadi malam dan beberapa saat yang lalu wanita itu mengenakan piyama, sekarang Alfira memakai yukata atau handuk kimono sehingga menampakkan belahan d*da indah bulat nan kencang miliknya.


Gek! Andrian menelan ludah.


Tubuhnya mendadak tegang. Matanya terpaku melihat kecantikan dan lekuk tubuh wanita di hadapan. Andrian merasakan denyut jantung semakin mengencang. Seolah-olah tertarik oleh pesona wanita yang berdiri begitu dekat dengannya.


Dengan cepat Andrian mengusir hal-hal kotor yang sempat terlintas di pikiran.


"Sekarang sudah rapih," ucap Alfira dengan senyuman manis. Menampakkan lesung di pipinya.


Andrian sempat membeku beberapa saat, ia berusaha menenangkan diri. Menghembuskan napas panjang, meredam gejolak terlarang. "T-terima kasih, Bu Al," katanya dengan nada bergetar.


"Selalu siap membantu. Semoga harimu menyenangkan dan kerjaanmu lancar."


Andrian mengangguk, lalu bergegas keluar rumah. Sementara Alfira tetap berdiri di ruang tengah, melihat Andrian pergi sambil tersenyum penuh kehangatan. Dia menyentuh dadanya yang masih berdetak heboh di dalam sana. "Sudah bertahun-tahun tapi rasa ini belum hilang juga."