I Love You My Step Mother

I Love You My Step Mother
Ketika Cinta Mampu Temukan Belahannya



Alfira POV


Hari minggu ini aku memutuskan berbelanja ke pasar, karena persediaan sayur dan daging sudah habis di kulkas. Biasanya ini pekerjaan Bi Narsih, tapi kondisi kesehatannya masih belum membaik. Alhasil, aku harus berbelanja sendiri. Mas Reza tidak bisa menemaniku dikarenakan kesibukannya mengurus bisnis.


"Al .... " Seseorang menepuk pundakku, spontan aku menoleh kebelakang lalu membalikan badan.


Mataku terbuka lebar setelah sadar siapa orang di hadapanku ini. "A--arman?" Mengapa aku bisa bertemu dengannya?


Pria yang aku benci di dunia ini! "Kenapa kamu ada di sini?" tanyaku terkejut.


Tanpa menjawab pertanyaan ia malah menarik pergelangan tanganku. "Ikut aku bentar!"


"Apaan sih kamu, main tarik-tarik aja!" Aku mengerang kesal dengan perlakuannya yang seenak jidat main tarik-tarik tangan orang. Aku coba melepaskan pegangan tangannya, tapi sukar. Tenaganya sangat kuat.


Aku diseretnya dan lelaki berengsek itu terus berjalan dengan mencengkram erat pergelangan tanganku. Kemudian Arman membawaku ke tempat yang agak sepi dari hiruk pikuk pasar.


"Singkirkan tangan kamu! Aku nggak suka kamu pegang!" seruku mencoba memberontak.


Dia menghela napas kasar. Cengkraman tangannya malah semakin erat seakan enggan melepaskanku.


"Katanya kamu udah nikah."


"Ya, terus apa urusannya sama kamu!" gertakku kesal.


Arman menatapku tajam. "Berani-beraninya kamu nikah tanpa sepengetahuanku!"


Kubuang tatapanku darinya.


"Kamu tega ya sama aku, aku sayang kamu tau!"


Aku mendelik kesal. "Cih, bullshit!"


Sekarang, kedua tangannya beralih naik memegang kedua bahuku, dengan reflek aku menghempaskan kedua tangan menjijikan itu. "Jangan sentuh-sentuh aku!"


Arman, ia adalah mantan pacarku di SMA. Aku membencinya karena betapa seringnya ia menyakiti perasaanku. Ketika ia kepergok bersama cewek lain, ia selalu berdalih hanya teman.


Teman ko mesra? Itulah yang membuatku curiga. Waktu itu aku sangat bodoh karena dibutakan cinta, percaya saja ucapannya.  Berulang-ulang seperti itu, aku sampai bosan.


Aku tidak tahan dengan hubungan seperti ini. Lantas aku memutuskannya, dan ia tidak terima. Arman tidak ingin putus dariku, tapi dibelakangku ia selingkuh. Aku merasa jengah seperti dijadikan koleksi olehnya. Lagi, aku memutuskannya sepihak. Namun, ia kembali tidak terima. Setelah itu terserah apa maunya, aku tak peduli! Bagiku ia sudah bukan siapa-siapa lagi.


Sampai aku masuk ke perguruan tinggi, Arman mengikutiku dengan masuk ke universitas yang sama. Arman terus saja menggangguku, mendekati dan menguntitku.


'Kita masih pacaran!' Kalimat itu terus saja terlontar dari mulutnya. Namun, di sisi lain, ia malah memacari cewek lain. Sungguh pria gila! Sepertinya ia hanya terobsesi padaku, bukan mencintaiku!


Selang beberapa bulan, ia menghilang. Arman jarang terlihat di kampus. Terdengar kabar, kalau ia menghamili seorang gadis, lalu pihak keluarganya meminta pertanggung jawaban, ia terpaksa berhenti kuliah, lalu bekerja untuk menafkahi gadis yang ia nikahi karena kecelakaan itu.


Akhirnya aku bisa bernapas lega. Arman menghilang dari pandanganku, tapi sekarang kenapa ia malah muncul di hadapanku?!


"Al, aku nggak percaya! Katanya kamu nikahi om-om ya?" ucapnya sinis.


Aku tidak mengubris ucapannya.


"Katanya suamimu itu pengusaha sama pengacara, pantes aja kamu mau. Om-om berdompet tebal. Hahaha ..." Arman mencibirku. Terserahlah.


Aku mulai jengah dengannya, tetapi aku tetap tak mengacuhkannya.


"Aku denger usaha ayah kamu hampir bangkrut, dan setelah itu terdengar kamu menikah dengan pria tua. Aku yakin, kamu pasti terpaksa karena ayahmu, kan?"


Sialan! Kenapa ia bisa tahu?


Seketika aku jadi teringat ayah, kadang aku merasa dijual olehnya.


"Padahal kamu masih 24 tahun lho Al, seharusnya kamu nikahin yang seumuran sama kamu aja, aku misalnya."


Aku mendelik jengkel ke arahnya. "Udah ngomongnya? Aku mau belanja!" Ketika hendak melangkah, Arman memegang kedua pergelanganku kuat. "Apaan sih? Lepas nggak?!" bentakku.


"Aku masih kangen, Al."


Aku mencoba melepas cengkraman dari tangannya itu tapi susah. "Apaan sih kamu! Kamu gila ya?! Bukannya kamu udah punya istri?!"


"Aku cerein dia! Aku cintanya sama kamu!"


"Itu bukan cinta tapi obsesi!"


"Kamu cerein dia ya, kita balikan lagi," serunya dengan tampang memelas.


"Cih! Ogah!" Marah dan kesal, tanpa ragu aku tendang 'juniornya'.


"Aaaarrgh. .. sialan!" dia mengerang kesakitan, kedua tangannya memegang area sensitif itu.


Aku tersenyum sinis. "Mimpi!"


Kubalikan badanku meninggalkannya, tapi tiba-tiba saja dia mencengkram kedua bahuku dari belakang.


"Kamu ngak bisa lari dari aku!"


"Tolo---," Mulutku dibekapnya. Oh Tuhan, tolong hambamu ini!


Si berengsek itu menyeretku ke tempat sepi dan agak sedikit gelap di pojok pasar. Aku gemetar dan ketakutan.


Aku meringis kesakitan saat Arman mendorongku kasar ke dinding. "Kamu gila ya." lirihku.


Arman menatapku dengan raut muka yang sulit aku artikan. Perlahan ia mulai mendekat ke arahku, aku mundur selangkah tapi mepet kehalang tembok. Aku mulai ketakutan, sebenarnya ia mau apa?


Terpampang sebuah senyuman misterius di wajahnya. Kedua bola matanya terus menjamahku dari atas sampai bawah. Tatapannya seperti hewan buas kelaparan yang melihat mangsa di depan mata.


"Arman ... aku mohon biarkan aku pergi ...." Aku mengiba dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kamu makin sexy aja sih, Al. Gue jadi ... bergairah."


Ada rasa lega saat aku melihat dari belakang punggung Arman seseorang dari kejauhan tengah berlari tergesa ke arah kami.


Cepatlah! Orang itu semakin mendekat. Namun, sepertinya aku mengenal siluet tubuh itu. Wajahnya tidak terlalu jelas karena ruangan yang remang-remang.


Bruk!


Orang itu menendang punggung Arman dari belakang. Arman tersungkur ke lantai, dia meringis kesakitan.


Aku mulai melirik ke arah orang itu. Ada sedikit cahaya dari ventilasi yang menyorot ke mukanya. Secara perlahan aku mulai mengamati lekat, dan ternyata ...


Andrian! Mulutku terkatup tidak percaya. Bagaimana ia bisa tahu aku ada di sini?


Rahang Andrian tampak menegang, tatapannya tajam mengarah ke Arman. Emosi Andrian mulai tersulut, ia menarik kerah kemeja Arman, lalu menghajarnya.


"Berengsek!" Andrian mulai melayangkan pukulan-pukulannya. Aku hanya diam membeku menyaksikan itu.


"Aaarhhhgt ... Sialan! Lu siapa, hah?!" Arman mulai naik pitam. Ia bangkit berdiri dengan kasar, lalu membalas perlakuan Andrian. Arman mulai mengepalkan tangannya kemudian melayangkan satu pukulan ke muka Andrian, tapi untungnya dengan sigap Andrian berhasil menghindar.


Aku mengusap wajah gusar melihat perkelahian keduanya. Berharap Andrian baik-baik saja.


Sekilas Andrian menengok ke arahku, sampai akhirnya ia lengah. Alhasil, Arman berhasil menonjok pipi kiri Andrian dengan keras, lalu satu tendangan tepat di ulu hatinya.


"Andrian!!" Aku menjerit histeris.


Dia tersungkur ke lantai. Beberapa kali batuknya mengeluarkan darah. Napasnya terengah-engah ditambah keringat membanjiri wajahnya.


Aku meringis melihatnya. "Arman, apa yang kamu lakukan, hah?!" seruku emosi.


"Hey, ada apa ribut-ribut?!" Beberapa pria paruh baya datang menghampiri kami. Aku bernapas lega, karena nasibku dan Andrian bisa terselamatkan. Arman yang awalnya akan mengahajar Andrian lagi, ia urungkan setelah menyadari kedatangan empat orang pria tersebut.


Dasar pengecut! Ia langsung berlari kocar kacir pergi dengan muka babak belurnya meninggalkanku dan Andrian yang terbaring lemas tak berdaya.


Aku mendekat. Bersimpuh di lantai. Mengangkat kepala Andrian dan kujadikan pahaku sebagai bantalnya. Sungguh dadaku terasa sesak, cemas, sedih dan khawatir melihat dia seperti ini.


"Ada apa ini? Kenapa tu anak ko bisa babak belur?" tanya seorang pria dari mereka sambil mengelilingi kami berdua.


Aku menoleh, lantas menjawab, "Tidak apa-apa Pak, hanya perkelahian kecil."


"Oh ya sudah. Cepat bawa pulang, Neng. Kasihan," ucap bapak itu cemas. Aku hanya mengangguk. Keempat orang itu pun lantas pergi meninggalkan kami.


"Andrian, kamu nggak apa-apa?" tanyaku penuh rasa kekhawatiran.


"Ibu baik-baik saja, kan? Apakah ibu terluka? Ibu diapakan olehnya?" Sempat-sempatnya ia menanyakan keadaanku, disaat kondisinya sendiri lebih buruk dariku. Dasar anak bodoh!  Namun, dalam hati jujur aku suka dengan perhatiannya itu.


"Nggak usah tanyain kondisi Ibu. Muka kamu udah lebam kaya gitu!" semburku dengan muka 'pura-pura' galak.


Kuseka keringat dan bercak darah di pelipis bibirnya dengain sapu tangan yang sebelumnya berada di kantung celana jeansku. Andrian malah tersenyum. Sialan! Lagi-lagi aku terpesona dengan senyumannya.


Detik kemudian, raut wajah itu berubah datar. Ada gurat kecemasan terpampang.  "Ibu jangan pergi sendirian lagi ya, pinta Andrian aja, biar Andrian bisa jagain Ibu."


Mendengar ucapan manisnya membuat jantungku berdegup kencang dan hatiku meleleh. Sebesar itukah ia ingin melindungiku? Tak menanggapi, aku terdiam dan hanya menganggukan kepala.


"Kenapa kamu ko bisa tahu Ibu di sini?" tanyaku lembut.


"Entahlah, hati Andrian yang menuntunnya ke sini ..." Lagi, hatiku dibuat meleleh olehnya.


Sesaat kemudian ia terkekeh. " Tadi pas Ibu naik taksi, Andrian langsung ikutin Ibu pake motor."


"Benarkah?"


"Hu'um. Tadinya Andrian mau ke perpus, tapi mendadak ada rasa tak enak hati makanya Andrian balik arah lalu buntuti taksi yang Ibu naiki."


Ya Tuhan, anak ini. Sebegitu perhatiannya ia padaku. Aku jadi dibuat tersentuh.


"Ayo pulang. Kamu bisa berdiri sendiri nggak, Dri?" Aku khawatir dengan keadaannya.


"Bisa kok." Andrian bangun dari pembaringan. Aku merangkul pundaknya untuk membantu ia berdiri.


"Pelan-pelan saja jalannya." Aku memapahnya keluar dari bangunan pasar yang sudah tak terpakai. Beberapa pasang mata sempat memandang ke arah kami dengan kerut di dahi.


"Kamu serius bisa mengendarai motor dengan kondisi lemah seperti ini?" tanyaku ketika sudah sampai di parkiran.


"Uhuk! Nggak apa-apa Andrian pelan-pelan ko," ujarnya disertai batuk karena hantaman dari Arman tadi yang mengenai ulu hatinya. Aku menyeka darah di sudut bibirnya, ia menatapku intens.


"Kalau kamu nggak sanggup, kita bisa naik taksi. Nanti papamu yang bawa motor." Andrian menggeleng. Aku menarik napas. "Ya udah kalau begitu."


Ketika sampai di rumah, Mas Reza terperanjat kaget melihat wajah Andrian yang lebam. Aku menceritakan semua kronologis kejadian tadi siang padanya.


Setelah mendengar itu, Mas Reza sangat geram. Ia ingin melaporkan Arman ke polisi, tapi aku menahannya. Lagian untuk apa? Aku hanya tidak mau berurusan lagi dengannya.


***


Malam ini, kucoba mendatangi kamar Andrian memeriksa kondisinya. Jujur, aku merasa khawatir, dan entah mengapa malam ini aku ingin menemaninya dan mengobati luka yang ia derita.


Masuk ke dalam, dan aku mendapati dirinya tertidur pulas. Pasti Andrian kecapean akibat baku hantam dengan Arman tadi. Duduk di samping ranjang, menatapnya secara lekat. Memerhatikan setiap inci wajahnya.


Aku membelai kepalanya penuh sayang. "Terimakasih ya, kamu selalu ada untuk aku," ucapku lirih.


Perlahan tangan ini merayap mengelus pipi, alisnya, hidungnya, bibirnya, rambutnya.


Dadaku jadi bergemuruh, jantungku berdetak kencang, tapi napasku sesak.


Apa aku mulai mengagumimu?


Aku membaringkan tubuh di sampingnya. Mendekatkan wajahku ke telinganya, mulai berbisik, "kenapa kamu harus mencintaiku diam-diam jika pada akhirnya membuatmu terluka? Untuk apa mencintai diam-diam jika pada akhirnya harus membuatmu tersiksa? Kenapa harus mencintai diam-diam jika pada akhirnya kamu tidak bisa memiliki? Mengapa harus mencintai diam-diam jika suatu saat mungkin kamu akan kehilangan?"


Aku mengela napas pelan. "Andrian, bolehkah jika aku juga mencintaimu diam-diam?"