
Keduanya terus terhanyut dalam melodi yang romantis. Saat Andrian memainkan setiap tuts dengan penuh perasaan, Alfira merasa seperti dunia hanya milik berdua, yang lain ngontrak. Lagu tersebut berbicara tentang kebahagiaan, cinta, dan keindahan hidup.
Saat ini, Alfira dan Andrian merasa bahwa mereka sedang mengalami semua itu bersama-sama. Sadar kenyataan harus dihadapi, mereka tahu kalau cinta juga tak musti selalu memiliki.
Saat lagu berakhir, mata keduanya saling memandang. Dalam pandangan itu terkandung segala rasa cinta dan kerinduan yang tak terucapkan. Satu menit berselang, keduanya masih bersitatap dengan senyuman hangat.
Momen ini adalah pengingat bagi Andrian dan Alfira bahwa di antara semua ketidakpastian dalam hidup, ada kebahagiaan yang dapat mereka temukan satu sama lain, seperti "La Vie en Rose" yang mereka dengar bersama.
Alfira tiba-tiba sadar saat kedua tangannya masih memegang pundak Andrian dengan lembut dari belakang. Keheningan yang menyusul setelah lagu berakhir membuatnya jadi kikuk dan gugup. Dengan hati yang berdebar, dia perlahan melepaskan pegangannya.
"Maaf," ucap Alfira salah tingkah.
"Nggak apa-apa." Andrian pun tak luput dari rasa gugup.
"Terima kasih, Andrian. Permainan piano kamu itu indah sekali." Andrian yang dipuji Alfira sontak tersenyum malu, pipinya bersemu merah.
Andrian tersenyum kaku dan mengangguk. "Sama-sama. Lagipula aku masih amatiran."
"Nggak ko. Kamu kayak udah profesional."
"Masa sih?" tanya Andrian penasaran, Alfira mengangguk cepat.
Hening sesaat. Suasana mendadak agak canggung. Tetapi dalam hati mereka, ada rasa hangat dan kebahagiaan. Mereka tahu bahwa apa pun yang terjadi, Keduanya akan selalu memiliki satu sama lain untuk saling mendukung dan berbagi momen-momen indah seperti ini.
***
Ketika Andrian sedang rebahan di kamar, ia merasa bosan. Akhirnya ia putuskan bermain ponsel, menggulir layar ponselnya tanpa tujuan tertentu. Membuka aplikasi media sosial dan tiba-tiba tak sengaja ia melihat sebuah akun yang disarankan untuk diikuti. Nama akun itu adalah "Sesilia Winata."
Andrian agak terkejut melihat saran itu, mengingat Sesilia adalah rekan kerjanya dan sebentqr lagi akan jadi atasannya. Meskipun Andrian baru saja mulai bekerja di perusahaan, ia dibuat kepo dan berpikir bahwa mengikuti akun media sosial Sesilia bisa menjadi cara yang baik untuk lebih mengenalnya.
Dengan itu, dia mengklik tombol "Ikuti" pada akun Sesilia dan mulai menjelajahi postingan-postingannya. Andrian benar-benar terpana saat melihat unggahan gambar-gambar di akun media sosial wanita itu.
Dia tidak bisa menahan kagumnya melihat kecantikan Sesilia yang luar biasa, hampir seperti seorang model profesional. Gambar-gambar itu menunjukkan Sesilia dengan penampilan yang begitu elegan dan modis.
Selain itu, Andrian melihat beberapa foto Sesilia sedang berpose untuk sebuah produk. Ia mendapatkan endorsemen dari produk-produk kecantikan dan make-up. Semua itu membuat Andrian semakin kagum pada kemampuan Sesilia dalam dunia fashion dan kecantikan.
Andrian merasa bersyukur telah mendapatkan kesempatan untuk bekerja dengan seseorang yang begitu berbakat dan sukses. Meskipun dia baru mengenal Sesilia, dia bisa melihat betapa luar biasanya perempuan ini.
Saat sedang asyik me-stalking akun Sesilia, Andrian agak terkejut ketika melihat pesan langsung yang muncul di kotak masuknya. Ternyata, pesan itu berasal dari yang bersangkutan. Tampaknya, Sesilia mengirim pesan duluan. Dengan rasa penasaran, Andrian membukanya.
[Aku follback, ya]
Pesan dari Sesilia setelah ia tahu bahwa lelaki yang mengikutinya adalah Andrian, terlihat dari foto profilnya.
[Wah, lagi online rupanya] Balasan Andrian dengan emoticon nyengir. Ada rasa malu tertangkap basah mengikuti wanita itu.
[kebetulan aja, pas aku online kamu follow]
Andrian tersenyum tipis. [Tak apa-apa aku follow kamu?]
[Ya iyalah. Kalau pun nggak boleh ya dari kemarin udah aku privat]
[Benar juga] Andrian membalas ditambah dengan emoticon nyengir lagi.
[Belum tidur?]
[Belum, lagi gabut]
Andrian merubah posisi telentang jadi menyamping ke kanan.
[Kalau kamu?] Sambungan balasan Andrian. Lama perempuan itu tak menjawab, hingga detik berikutnya sebuah pesan kembali masuk.
[Aku lagi kesepian nggak ada yang nemenin] Sesilia membalas dibarengi emoticon sedih.
[Emang pacar kamu kemana?]
Belum ada balasan lagi dari Sesilia, akhirnya Andrian menutup ruang obrolan itu. Mematikan data kemudian meletakkan ponselnya di atas nakas.
Matanya mulai berat, dia menguap beberapakali tanda rasa kantuk mulai melanda. Hingga, dia menutup mata menuju ke alam mimpi.
***
Keesokan harinya, ketika Andrian tiba di tempat kerja, dia melihat Sesilia mengobrol serius dengan pria setengah baya di depan pintu masuk kantor. Wanita itu sedang terlibat dalam pelatihan untuk calon CEO perusahaan. Andrian sempat mendengar percakapan di antara keduanya. Sesilia menjelaskan materi kepemimpinan pada orang di hadapan.
Saat iris coklat tuanya tak sengaja melihat Andrian lewat, Sesilia memberikan senyuman singkat yang dibalas serupa oleh Andrian. Lalu perempuan itu kembali fokus berbicara pada orang di hadapannya.
"Sudah selesai kerja untuk hari ini?"
Andrian menoleh ke samping. "Ya, hari ini cukup padat. Bagaimana denganmu? Apakah pelatihan calon CEO berjalan lancar?"
Mereka berdua mulai berbincang, menciptakan momen yang santai dan hangat di tengah suasana sore yang tenang. Sesilia tampaknya ingin berkomunikasi lebih jauh dengan Andrian di luar pekerjaan, membuat mereka jadi semakin dekat satu sama lain.
Sesilia mengulum bibir, tampak ragu-ragu. "Andrian, apa kamu nggak sibuk malam ini?"
Andrian mengernyitkan kening. "Nggak ada, Sesilia. Kenapa?"
"Gimana kalau kita makan malam bersama? Aku baru saja menemukan restoran yang bagus di dekat sini."
Andrian dengan senang hati menerima undangan tersebut. Andrian pikir, ini adalah kesempatan bagus untuk lebih mengenal Sesilia di luar lingkungan kerja dan menjalin hubungan yang lebih erat.
Andrian bertanya, "Jam berapa kita akan makan malam?"
Sesilia tersenyum, "Jam 8, bagaimana?"
Andrian mengangguk setuju, "Baiklah, jam 8. Aku akan siap. Nanti aku jemput kamu."
"Oke, aku tunggu, ya," ucap Sesilia dengan senyum lebar. Merekapun akhirnya berpamitan dan berpisah di parkiran.
Pukul 8 malam, Andrian mengendarai mobil sedan hitam milik Reza. Ia tiba di depan gerbang rumah Sesilia untuk menjemputnya. Dia menunggu sejenak, dan tidak lama kemudian, Sesilia muncul dengan penampilan yang elegan membuat Andrian terpaku.
Perempuan berambut sebahu itu menyapa dengan senyum manisnya. "Hai, udah lama nunggunya?"
"Nggak ko," jawab Andrian canggung. Sebetulnya, ia agak gugup. Tidak tahu mengapa.
"Haha, kirain," kata Sesilia sambil tertawa. Andrian kemudian memutari mobilnya, ia membuka pintu penumpang mempersilakan Sesilia untuk masuk. "Makasih."
"Kamu terlihat cantik malam ini," ucap Andrian setelah ia duduk di kursi kemudi.
Sesilia tersenyum lebih lebar lagi, rona di pipinya tampak. "Yang benar?"
"Serius."
"Ya udah yuk. Kita jalan."
Mereka berdua kemudian memulai perjalanan menuju restoran, sambil bercakap-cakap dan berbagi cerita di dalam mobil. Ini adalah awal dari malam yang menyenangkan yang bakal mereka habiskan bersama.
Andrian sesekali melirik ke samping kiri. Ia memerhatikan penampilan Sesilia yang begitu cantik dan anggun. Ia mengenakan gaun hitam yang elegan dengan potongan yang pas di tubuhnya. Gaun tersebut memberinya tampilan yang mempesona, dan Andrian tidak bisa berhenti memikirkan betapa anggunnya Sesilia.
"Kamu terlihat benar-benar menakjubkan malam ini, Sesilia. Gaun hitam itu sangat cocok padamu."
Sesilia tersipu malu. Dapat pujian dari lelaki di sampingnya entah mengapa membuatnya salah tingkah. "Ah kamu muji terus."
"Kenapa? Aku berterus terang, kok."
Tak ada obrolan lagi tercipta. Andrian memutuskan fokus pada jalanan menuju tempat tujuan. Hingga, beberapa saat kemudian keduanya sampai di sebuah restoran mewah yang terletak di pusat kota.
Restoran ini memiliki atmosfer yang sangat eksklusif, dengan lampu-lampu gantung yang gemerlap, perabotan berwarna emas, dan lantai marmer yang bersih. Dinding-dindingnya dihiasi dengan lukisan-lukisan seni kontemporer yang indah.
Mereka diberi tempat duduk di sudut yang tenang dengan pemandangan kota yang memukau dari jendela besar. Meja dihiasi dengan bunga-bunga segar dan lilin-lilin beraroma yang memberikan sentuhan romantis.
Waiter pria yang profesional dengan seragam kemeja putih dan dasi hitam datang menghampiri mereka dengan senyum ramah. Membawa buku menu makanan dan minuman.
Sesilia dan Andrian membuka buku menu dengan penuh antusiasme. Sesilia melirik Andrian dengan senyuman terpatri di wajah. Ia mulai menjelajahi pilihan makanan yang beragam, dari hidangan penutup yang lezat hingga hidangan utama yang eksotis.
"Andrian, kamu mau pesan apa? Restoran ini terkenal dengan hidangan seafood dan dagingnya lho." Sesilia menyerahkan buku menu pada Andrian.
Andrian berpikir sembari membuka lembaran demi lembaran. "Hmm, semuanya terlihat begitu lezat. Bagaimana kalau kita mulai dengan hidangan pembuka yang bisa kita bagi bersama, seperti hidangan bruschetta?"
"Wah, seleramu bagus juga, ya. Kalau untuk hidangan utama, bagaimana dengan salmon panggang?"
Andrian mengangguk, ia memandang Sesilia dengan senyum tipis."Salmon panggang oke juga. Aku suka."
Mereka menutup buku menu dan memberi tahu waiter pesanannya. Restoran yang mewah ini menjanjikan pengalaman kuliner yang luar biasa bagi mereka berdua.
Saat mereka tengah menikmati hidangan, dan Andrian sedang asyik menyantap salmon panggang, tiba-tiba matanya tak sengaja menangkap sosok yang sangat familiar. Dia menyipitkan mata, mencoba untuk memastikan.
Dahinya berkerut bingung setelah menyadari bahwa pria yang berjalan menuju meja dengan seorang wanita asing di sisinya itu ternyata adalah, "Papa ...."