
"Mas, aku mau pamit pergi." Reza yang tengah memandikan burung Makaunya di teras rumah, memerhatikan Alfira dari atas sampai bawah. Ia memicingkan mata ketika melihat Alfira sudah rapih dengan setelan kemeja maroon dan celana jeans siap untuk pergi.
"Mau kemana?"
"Pergi belanja ke mall."
Ada waktu luang dan bosan sekaligus Reza merasa khawatir bila Alfira bepergian tanpanya, terbesit keinginan di benaknya untuk ikut.
“Mas ikut ya, dari pada berangkat sendirian," pinta Reza seraya masih berkutat membersihkan burung peliharaan.
"Nggak usah, aku ditemenin Andrian ko," sela Alfira cepat. Niatnya jalan-jalan bersama Andrian saja, menghabiskan waktu berdua. Reza tak boleh ikut, pikirnya.
Andrian yang baru keluar dari dalam rumah, lekas masuk ke dalam mobil yang terparkir di depan garasi.
"Beneran nggak mau ditemenin, Mas?" Reza bertanya sekali lagi.
"Cuman bentar ko, Mas ... Jadi nggak usah ikut ya," tukas Alfira gugup.
Sejenak Reza menjeda aktifitasnya, detik kemudian ia mengecup kening sang istri. "Ya sudah hati-hati ya, Mah," ucapnya dibarengi senyuman hangat.
Andrian yang menyaksikan adegan itu, sontak membuang tatapan ke sembarang arah. Hatinya tak kuasa menahan cemburu yang membabi buta.
"Dah, Mas.. aku berangkat dulu," seru Alfira seraya melambaikan tangan mendekat ke arah mobil.
***
Kedua manusia berstatus ibu dan anak tengah asyik menikmati moment kebersamaan mereka. Belanja, bermain permainan di time zone, menonton bioskop dan tentunya berakhir dengan makan di food court sampai petang.
"Andrian, lepasin tangan kamu!" bentak Alfira sambil makan. Ia jengkel, karena sedari tadi Andrian menggenggam tangan kirinya, dan ia tidak mau melepaskannya. Alfira merasa kesusahan makan ayam bakar kecap itu hanya dengan menggunakan satu tangan untuk melahapnya.
"Nggak mau, di rumah Andrian nggak bisa pegang!" sahut Andrian ngeyel.
Selama menemani Alfira belanja, tangan Andrian seolah gatal ingin terus menggenggam tangan Alfira kemana-mana. Meskipun tidak ada keberadaan Reza di situ, tetapi Alfira risih dan gelisah bagaimana jika ada orang yang dikenal tak sengaja melihat ia bergandengan tangan dengan Andrian bak sepasang kekasih? Bisa gawat urusan, fikir Alfira.
"Emang kamu enak gitu makan pake satu tangan, tangan kiri lagi?" Alfira nyolot saking kesalnya.
"Nggak masalah bagi Andrian," jawab Andrian tetap santai, dengan cengiran lebar menampakan deretan gigi putihnya.
Alfira hanya bisa menghela napas pasrah. Untuk kali ini, ia biarkan saja kemauan sang anak tiri. Lagipula Alfira juga tak masalah digandeng Andrian.
"I love you," bisik Andrian di telinga Alfira untuk yang ke sekian kali. Sampai Alfira bosan mendengarnya, tapi hati bersorak senang dan ada rasa panas di pipi. Alfira merona.
Memutar bola mata malas, Alfira menoleh. "Iya, iya..." Alfira tersenyum tipis. Andrian balas senyum lebar.
Dari hari ke hari sikap Andrian pada Alfira jadi mendadak manja. Alfira yang merasakan perubahan dadakan itu sekejap dibuat heran. Pada orang lain Andrian tipikal cowok cuek dengan muka datar tanpa ekspresi. Namun, hanya pada dirinyalah Andrian mirip jelmaan bocah besar yang terus menempel dan bermanja riya pada ibunya.
Terutama setelah mengetahui fakta bahwa ibu tirinya itu juga mencintainya. Tapi dibalik sikap manja Andrian, ia tetap penurut pada Alfira. Apapun yang Alfira perintah selalu ia laksanakan.
Makanan di meja mereka telah tandas. Perut sudah terisi dengan kenyang. Dirasa cukup lama mereka berduaan dari siang sampai menjelang malam, akhirnya Alfira memutuskan untuk pulang.
"Pulang yuk," ajak Alfira seraya membereskan barang belanjaan.
Andrian melihat arloji di pergelangan tangannya. Masih betah, ia enggan beranjak."Ish masih pukul 7 malam, entar aja jam sembilan," ucap Andrian malas.
Alfira menaikkan sebelah alis bingung. "Ya ampun Andrian kita sudah lama di sini, dari siang nyampe mau isya, emang nggak cukup?"
"Entar aja dua jam lagi," timpal Andrian menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, lalu memainkan ponsel.
"Lalu ngapain selama dua jam?" tanya Alfira mulai bosan.
"Diem aja dulu di sini," jawab Andrian tanpa mengalihkan pandangannya dari gawai. Menghela napas, Alfira ikut saja apa yang Andrian titahkan. Toh kelihatannya Andrian tak berniat beranjak dari kursi.
Alfira yang ingin merogoh ponsel di dalam tas, ditahan oleh sang anak tiri. "Kenapa?" Dahinya berkerut bingung.
"Jangan buka-buka hp, entar papa ngechat lewat WA nanyain kapan pulang. Lebih baik taruh lagi dalam tas."
"Lho kok gitu?"
"Iya, iya deh." Lagi-lagi Alfira dibuat pasrah menuruti kemauan sang anak tiri. Heran, mengapa dirinya bisa semudah itu dibujuk. Ah, cinta memang luar biasa efeknya.
"Cape?" Andrian melihat Alfira yang tampak lesu. Mungkin karena terlalu asyik bermain seharian ini.
Mengukir senyum, Alfira menatap Andrian lembut. "Kalau sama kamu nggak kerasa cape ko." Kalimat yang seketika membuat hati Andrian menghangat, kupu-kupu berterbangan di perut dan jantung berdebar bak irama gendang dangdut. Sungguh luar biasa.
Andrian menggeser tempat duduknya berdekatan di samping Alfira. Menarik kepala Alfira untuk bersandar di bahu lebarnya. Dengan kedua tangan saling menggenggam hangat. Meski risih, tapi Alfira menikmati. Keduanya tak acuh dengan sekitar. Posisi seperti itu, membuat Alfira dan Andrian merasa nyaman. Saling menyalurkan rasa cinta yang terpendam selama ini.
Hingga, sepasang mata dari sisi lain, tengah mengamati dua sejoli yang tak asing di penglihatan. Ada rasa heran dan tanda tanya berkecamuk di batinnya.
"Romantis sekali," gumamnya tak sadar. "Mir, coba lihat," ucap Rara menepuk pundak Mira yang sedang berjalan sambil asyik tengok kanan kiri menenteng belanjaan.
"Apa, Ra?" tanya Mira datar.
"Itu kak Andrian, kan? Kok dia sama cewek lain ya?" Rara terkaget sebab pemandangan yang tak jauh dari posisi mereka di seberang sana. Andrian yang tengah merangkul Alfira mesra. Ia berfikir kalau Andrian selingkuh dari Siska. Posisi Alfira yang menyandar pada bahu Andrian tapi terhalang oleh tubuh Andrian membuat ia tak dikenali.
Mira yang penasaranpun menyipitkan mata agar lebih jelas karena mereka melihat dari kejauhan. Membuat Rara salah fokus. "Itu Bu Alfira bego!" seru Mira setelah mengamati. Ia menepuk lengan Rara kesal.
"Hah? Masa sih?" tanya Rara kurang yakin. Ekspresi muka cengonya membuat Mira terkekeh.
"Iya itu Bu Al ... tadi pas dia noleh bentar jelas ko."
"Eh, tapi ko mesra ya?" celetuk Rara tiba-tiba dengan raut muka herannya.
Rara dan Mira sempat berpikir sejenak. Mira berupaya positif thinking, namun malah Rara sebaliknya. Apakah wajar bila status anak tiri dan ibu tiri terlihat mesra bak sepasang ABG berpacaran? Apalagi dengan posisi rangkul, peluk, genggam erat.
Mira menggelengkan kepala menepis perasangka aneh tersebut. "Lu gimana sih Ra? ya wajarlah orang ibu dan anak."
"Tapi, kan ibu tiri dan anak tiri!" tukas Rara. Tatapan mereka masih terpaku pada kedua manusia itu.
"Ya mungkin Kak Andrian sudah anggap Bu Alfira sebagai ibu kandungnya kali makanya sudah nggak segan-segan kaya gitu. Emangnya semua ibu tiri itu kejam?" ujar Mira menerka-nerka.
Mata Rara membulat sempurna, terkejut setelah tak sengaja melihat Andrian mengecup kening Alfira singkat. "Apa nggak salah, barusan Kak Andrian ...." Rara bergumam sendiri dengan perasaan sedikit perih. Memang ia akui, hatinya masih menyukai Andrian. Meski di sisi lain, ia telah mengikhlaskan.
Mira pun tak luput melihat adegan singkat itu. Namun, ia tak mau ambil pusing. "Udah yuk ah balik," ajak Mira sambil menarik lengan Rara. Sedang Rara, bukannya fokus jalan ke depan, sorot matanya masih betah memerhatikan Andrian dan Alfira sehingga ia tak sengaja menendang tong sampah.
***
Di ruangan kelas 11 IPA 1, Alfira tengah mengajar Bahasa Indonesia. Rara dan Mira kebetulan berada di kelas yang sama. Terutama Rara, dengan memangku dagu di atas meja bukannya fokus memerhatikan pelajaran yang diterangkan, ia malah mengamati gerak gerik Alfira sambil otaknya berjalan memikirkan kejadian semalam yang berkecamuk di pikirannya.
"Rara!" seru Alfira pada Rara. Tersentak, iapun sadar kemudian. "Jangan melamun, perhatikan ke depan!"
"I--iya, Bu." Rara menegakkan badan sambil mengangguk kikuk.
***
"Cerein papa!" Dua kata yang keluar dari mulut Andrian sontak membuat Alfira terperanjat kaget.
"Andrian, kamu hilang akal apa?!" seru Alfira melotot menoleh ke arah Andrian yang sedang mengemudikan mobil.
"Aku ingin kita saling memiliki seutuhnya." Masih pandangan fokus lurus ke depan, Andrian mengungkapkan keinginan, tanpa peduli dengan risiko ke depannya.
"Kamu gila yah?! Apa kamu nggak kasihan sama papamu?!"
bentak Alfira heran. Gampang sekali Andrian memutuskan hal tersebut, pikirnya. Andrian terkatup. Rasa cinta yang menggebu-gebu pada Alfira, membuatnya kehilangan akal.
"Selama papa dan orangtuaku masih hidup kita tak bisa saling memiliki." Nada suara Alfira melemah. Ia menyandar lesu seraya memalingkan pandangan lurus ke depan. Tatapannya kosong.
Sejenak Alfira menghela napas kasar, lalu melanjutkan ucapan. "Apa mungkin kita bisa saling memiliki sepenuhnya? Aku tidak yakin Andrian, tapi itu sepertinya sulit. Kita masih bisa saling bertemu dan bersama dalam satu atap, apakah itu tidak cukup?"
Andrian masih terdiam tidak menanggapi. Menyadari kenyataan tak bisa memiliki seutuhnya sungguh sangat menyiksa batinnya.
"Atau mungkin kita sebaiknya coba hilangkan saja rasa ini," celetuk Alfira pasrah. Andrian menggeleng tak mau. Ia menepi dan memberhentikan laju mobilnya mendadak.
"Aaahhh! Sial!" Andrian berteriak frustasi. Berulang kali ia meninju stir mobil dengan emosi.