
Alfira FOV
"Begitu Bu, ceritanya," jelasnya panjang lebar, suaranya juga agak bergetar.
"Haah ... " Kuhela napas kasar sambil memijit pelipis keningku.
Mendengar curhatan Rara membuatku jadi sakit kepala. Bukannya mengejar prestasi, cewek-cewek labil ini malah rebutan laki-laki. Tapi, kalau melihat seorang anak di-bully aku jadi terenyuh. Tidak sepantasnya seseorang mendapatkan perundungan.
Memang kuakui, sosok Andrian itu idaman para gadis. Selain tampan, cerdas, berbakat anak itu juga baik hati. Namun, sungguh disayangkan mengapa dia harus dapat cewek yang super manja, angkuh dan kekanak-kanakan seperti Siska?
"Ya sudah Ra. Nanti sehabis dari ruangan Ibu, kamu pake jaket punya Ibu aja ya, soalnya seragammu kotor ada bekas jus alpukat, susah dihilangkan," ucapku sembari menyerahkan sweater warna kremku padanya.
Rara menerima jaketku setelah itu ia langsung mengenakannya. "Pas di badan kamu rupanya."
"Apa karena Rara kegendutan ya, Bu? Kok ukuran jaketnya bisa pas sama badan Rara?" tanyanya dengan tampang cemberut.
Aku menaikan alis heran, melipat lengan di dada. "Apa kamu mengejek badan Ibu yang kebesaran?" Aku pura-pura sebal padanya.
Rara gelagapan setelah mendengar ucapanku. "Bu--bukan begitu, Bu. Maksud Rara, harusnya body Rara belum sebesar ini, apalagi Rara masih remaja."
Melihat reaksi wajahnya yang panik, dan tampak lucu membuatku tergelak. "Hahaha, Ibu nggak marah ko, tadi cuman bercanda." Aku menepuk pundaknya. "Emangnya Ibu besar?"
"Nggak sih, maksud Rara Ibu langsing untuk ukuran wanita seusia Ibu. Masalahnya, Rara masih remaja, tapi body Rara udah bongsor." Rara mendengus, ia masih memandang bentuk tubuhnya.
"Mungkin pertumbuhanmu cepat kali, Ra." Aku nyengir.
Gadis itu memanyunkan bibir merah mudanya. "Kirain Rara, Ibu marah sama Rara. Padahal Rara nggak bermaksud ...."
"Iya Ibu paham ko."
Beberapa detik kemudian Rara kembali menunduk, sesekali menggigit bibir bawahnya yang agak bergetar. Ia seperti menahan tangis.
"Kenapa?"
"Rara jadi takut ketemu Siska dan teman-temannya, Bu."
"Nanti Siska biar Ibu yang urus, kamu nggak usah takut sama dia," kataku menenangkan sambil kuelus pundaknya lembut. Ia mengangguk.
"Besok jaketnya Rara kembalikan ya, Bu."
Aku berikan senyum hangat. "Nggak usah terburu-buru, Ra. Santai saja."
Rara bangkit berdiri. "Rara pamit, Bu. Terimakasih." Kubalas anggukan pelan.
***
Bel pulang sekolah ini, aku punya rencana untuk mengomeli si gadis judes super manja, cucu pemilik yayasan ini. Seharusnya itu tugas Pak Agus selaku guru BK, tapi ia ingin selalu mencari aman. Alasannya, Pak Agus tidak mau dipecat dari pekerjaan. Ia memikirkan keluarganya yang harus dinafkahi, dilema memang.
Walaupun Siska merupakan remaja angkuh dan arogan disebabkan keluarganya pemilik tempatku mengajar, aku tak akan gentar. Aku tidak akan membeda-bedakan anak hanya karena statusnya. Jika dia salah, ya tetap salah.
Aku hanya jengah. Mengapa anak yang status sosialnya tinggi bisa kebal hukum di sekolah ini? Kata sesama rekan guru, orang tua dari teman-teman satu geng Siska adalah relasi dan donatur untuk keluarganya, pemilik yayasan ini. Apa itu akan menciutkan nyaliku? Tidak.
Pintu ruang BK terdengar diketuk dari luar. Aku menerka-nerka jika seseorang yang berada di ambang pintu itu adalah dia. Tadi siang aku menyuruh gadis itu menemuiku di ruang BK.
"Masuk!"
Pintu perlahan terbuka, dengan percaya diri dan muka semringah dia masuk lalu mendudukan diri di kursi yang berhadapan denganku.
"Ada apa, Bu?" Pembawaan anak itu sungguh tenang, apa dia belum tau maksudku memanggilnya?
Aku tatap dirinya tajam. "Kenapa kamu bully Rara?" tanyaku tanpa basa basi.
Siska memalingkan pandang, berubah dingin. "Aku benci. Dia bikin masalah denganku."
"Dengar ya Siska. Ibu tidak suka kamu memperlakukan orang seperti itu. Itu namanya perundungan. Dan itu bisa berakibat fatal pada psikologis anak, kamu tau?!" bentakku sedikit marah.
"Siska kesel, Bu. Rara berani-beraninya deketin Ka Andrian. Siska nggak suka!" sahutnya dengan memberengut sebal.
Sekarang gadis oriental itu menatapku tajam. "Ish Ibu! kalau Andrian berhasil direbut gimana?!" Nada bicaranya meninggi itu membuatku jengkel.
"Kalau dia cinta sama kamu nggak mungkin dia selingkuh!" selaku menarik ulur napas.
Anak itu menyilangkan kedua lengannya di dada. "Pokoknya Siska nggakak suka, Rara. Titik!"
Menghela napas panjang, kuputar bola mata jengah. "Kalau kamu masih seperi ini, Tante dan papanya Andrian nggak akan merestui kamu sama Andrian!" ancamku padanya. Sebenarnya sih iseng saja.
Siska tampak terperanjat mendengar ucapanku barusan. Matanya terbelalak, mulutnya menganga.
"Ko ... Tante gitu sih?" Suaranya mulai melembut sekarang.
"Kenapa? Meskipun ibu tiri tapi, kan tetap saja aku Ibunya." Aku tersenyum menyeringai. Sejenak ia terdiam gusar.
"Minta maaf ke Rara, atau akhiri hubungan kalian?"
"I--iya, deh!" Kembali dirinya memalingkan muka. Apa ia tidak rela? Masa bodo! Yang jelas aku senang mengerjainya, ternyata manjur juga ancamanku.
"Janji ya?"
"Iya," balasnya ogah-ogahan terkesan ketus.
Setelah percakapan dengan atmosfir penuh ketegangan itu, Siska bangkit berdiri dari kursi. Tanpa sepatah kata atau bilang permisi ia beranjak pergi. Sungguh tidak sopan.
***
Pisang goreng, menjadi camilanku dan Mas Reza malam ini. Di ruang TV, Mas Reza terlihat serius menonton acara talkshow politik. Politik memang pembahasan yang menarik baginya, tetapi bagiku tidak. Entahlah, aku merasa muak saja membicarakan politik. Banyak pejabat bermuka dua, politik dinasti dan pencitraan.
"Andrian, suruh kesini, Mah. Kumpul bareng kita." Tanpa teralihkan dari layar TV, Mas Reza menyuruhku.
"Biar aku aja Mas yang ke kamarnya, ada yang mau aku bicarakan padanya," kataku. Kebetulan aku ada rencana memberitahukan kebusukan Siska pacarnya. Barangkali Andrian bisa merubah tingkah negatif Siska.
"Sekalian bawa pisang gorengnya barangkali dia mau."
"Mas, masih mau lagi?"
"Udah kenyang."
Bangkit dari sofa seraya membawakan sepiring pisang goreng, aku berjalan ke lantai atas mendatangi kamarnya. Saat Kubuka pintu, lalu melangkah masuk, Andrian menengok ke belakang dengan senyuman menawan.
"Andrian, pisang goreng," kataku sambil meletakannya di atas nakas.
Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Ini pertama kali aku memasuki kamarnya. Tampak bersih dan tertata rapi. Selain tampan, Andrian ternyata suka kebersihan. Sungguh cowok yang sempurna.
Perlahan aku mendekat, berdiri di sampingnya. "Ibu ganggu, ya?"
"Ah nggak ko. Ada apa?"
"Umm ... Mengenai Siska pacarmu itu." Aku mengulum bibir. "Ibu tidak suka prilakunya, hanya karena Rara mendekatimu, dia sampai membully Rara."
Diam. Andrian tidak menanggapi. Ia malah menatapku lekat. Perasanku mulai aneh ditatap seperi itu. Kubuang arah pandang darinya.
"Kamu bisa nasehatin dia, kan? Pasti dia nurut kalau sama kamu."
Aku tersentak saat merasakan ada sebuah tangan menggenggam tangan kiriku. Dengan kening yang berkerut, reflek aku menatapnya kembali.
"A--da apa, Dri?" Aku jadi mendadak terbata, dan gugup. Aneh.
Kurasakan rengkuhan jemarinya pada jemariku, dan entah mengapa aku malah membalasnya. Otomatis jemari kita sekarang saling bertautan.
"Tangan Ibu lembut."
Aku membisu! Digenggam olehnya, ada rasa hangat menjalar sampai ke hati. Aku tidak mengerti, rasa apa ini?
Tanpa aku sadari, sejenak kami berdua terpaku dalam keheningan dan kecanggungan.