
Dalam perjalanannya ke kantor, Andrian merenungkan momen tadi pagi. Matanya terus-menerus teringat akan wajah cantik Alfira saat wanita itu merapikan dasinya. Dia merasa aneh dan bingung. Mengapa perasaannya pada Alfira tak kunjung hilang? Sudah empat tahun lamanya. Mereka sudah berjanji untuk mengubur rasa terlarang itu, tetapi debaran di dada ketika mereka berdekatan masih terasa.
Saat tiba di kantor, Andrian mencoba untuk fokus pada pekerjaan. Namun, pikirannya terus melayang ke wajah Alfira. Dia merenung, mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Mungkin ini hanya perasaan sesaat, dia berpikir. Mungkin ini adalah reaksi alami terhadap kebaikan dan perhatian yang telah diberikan Alfira padanya. Mungkin sekarang rasa itu sudah berubah jadi rasa kagum.
Ketika sesi rapat dimulai pun Andrian masih belum bisa sepenuhnya berkonsentrasi. Seperti ada sesuatu yang hampa, sesuatu yang penting dalam hidupnya, dan dia tidak tahu apa itu. Yang Andrian tahu adalah bahwa ia harus menemukan cara untuk mengatasi perasaannya pada Alfira, sebelum semuanya menjadi semakin rumit seperti dulu.
Sementara itu, Alfira sibuk dengan pekerjaan rumah tangga dan merawat Ari. Pikirannya masih dipenuhi oleh sang anak tiri. Berdekatan dengan Andrian dengan jarak sedekat itu membuat gejolak cinta terlarang itu hadir kembali. Hanya saja sekarang sudah berbeda. Cinta, nafsu dan gairah, mungkin seperti itu tepatnya.
Alfira menggeleng-gelengkan kepala, menepis pikiran negatif yang terus berkelebat dalam otaknya. Tidak! Dia harus menjaga jarak dengan Andrian, itu yang dia pikirkan. Alfira telah berjanji untuk melenyapkan rasa pada Andrian empat tahun lalu. Jangan biarkan Janji itu diingkari oleh diri sendiri.
Namun, di dalam hatinya, ada keinginan yang tumbuh untuk lebih dekat dengan Andrian. Perasaan itu semakin membingungkan. Bagaimana dia bisa mencintai anak tirinya selama itu? Pertanyaan tersebut terkadang menghantuinya sepanjang hari.
"Aku sudah nggak tahan dengan semua ini," gumamnya sembari tengah sibuk menyuapi Ari. Ia menunduk, mengusap wajahnya frustasi. "Kenapa kamu selalu terbayang-bayang di pikiranku, Andrian?"
***
Ketika malam tiba, Andrian kembali ke rumah. Saat itu, Alfira sudah memasak makan malam, dan semuanya berlalu seperti biasa. Mereka makan bersama di meja, berbicara tentang hari masing-masing. Tapi, ada kecanggungan terasa, seperti ada sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Setelah makan, Andrian beristirahat di kamar. Alfira memutuskan untuk menyusulnya dengan segelas susu di tangan. "Andrian, susumu."
Andrian yang tengah membaca buku di atas ranjang menoleh. "Kenapa Ibu repot-repot bawakan Andrian susu?"
"Aku nggak kerepotan, kok," ucap Alfira seraya meletakkan segelas susu tersebut di nakas.
Mereka berdua duduk di tepi tempat tidur, dan Andrian mulai membuka diri. "Bu Al, aku ingin mengatakan sesuatu," ujarnya dengan hati-hati.
Alfira menatapnya dengan penuh perhatian. "Apa itu, Andrian?"
Andrian menghela napas dalam-dalam. "Aku tahu ini mungkin terdengar aneh, tapi aku merasa masih ada sesuatu di antara kita."
Alfira tidak tahu apa yang harus dikatakan. Dia memahami bahwa Andrian sedang mencoba untuk berbicara tentang perasaannya, tentang apa yang sedang terjadi di antara mereka. Tapi, dia juga sadar bahwa hal ini menyangkut sesuatu yang sangat kompleks.
"Maksudmu?" Alfira mengernyit kening.
Wanita itu mengalihkan pandangan ke sembarang arah. Menghela napas kasar. "Entahlah, Andrian. Apa yang harus kita lakukan? Kita sudah berjanji, kan?"
"Tapi ...." Berulang kali Andrian mengulum bibirnya. Gugup bercampur resah menjadi satu. Dari lubuk hati yang paling dalam, ia masih mencintai wanita itu. Walaupun sudah berulang kali meredamnya, namun rasa terlarang itu muncul dengan sendirinya.
Kini Andrian sudah dewasa, ada rasa lain yang bergejolak dalam dada. Andrian menggenggam tangan kanan Alfira lembut. Kedua mata mereka beradu tatap. Sejenak, keduanya terbuai dalam ikatan cinta terlarang. Andrian mulai memiringkan kepala, mengikis jarak antara dirinya dan Alfira.
Jantung Alfira mulai berdetak hebat. Ia seolah terhipnotis oleh sorot teduh mata elang itu. Dua bibir itu sebentar lagi akan beradu. Hingga sesaat kemudian, Alfira tersentak dan sadar. Ia memalingkan wajah. Apa yang baru saja akan mereka lakukan?
Andrian kecewa dengan penolakan Alfira. Sungguh sekarang dirinya dikuasai oleh nafsu seolah pikirannya tidak berfungsi. Seakan Andrian lupa bahwa Alfira adalah istri ayahnya. Tidak sepantasnya dia melakukan hal tersebut.
"Andrian, i--ini nggak etis," kata Alfira bergetar.
"Papa, nggak ada di rumah." Andrian berbisik penuh gair*h.
Alfira menoleh kaget pada lelaki itu. "A--apa maksudmu?"
"Al, aku ...." Tangan keduanya masih saling menggenggam. Namun, kedua lengan Alfira kini sudah berubah posisi, ia mengalungkan dua tangannya di leher Andrian. Pun dengan sebelah tangan Andrian yang sudah bertengger mengelus rahang Alfira lembut penuh sensual. Tubuh mereka terasa panas dan tegang. Tak luput pipi keduanya merona. Hasrat tiba-tiba timbul tak dapat dicegah.
Sebelah tangan kiri Andrian merangkul pinggang ramping milik sang ibu tiri, saling merapatkan diri. Sepasang mata itu menatap pada ranumnya bibir sensual milik Alfira. Andrian sudah tidak tahan ingin mengecupnya. Untuk kedua kali dia mengikis jarak di antara keduanya.
Sementara itu, sebelah tangan Andrian turut aktif bergerilya dibalik piyama Alfira hingga dengan leluasa tangan itu bisa mengelus punggung mulus perempuan di hadapan. Jarinya mulai nakal melepas pengait bra yang melekat pada tubuh Alfira. Wanita itu terperanjat menyadari tindakan Andrian.
Tiba-tiba Alfira mendorong tubuh Andrian ke belakang hingga pemuda itu terbaring di atas ranjang. "T-tidak! Ini tidak benar!" Alfira lekas menjauhkan diri dari Andrian. Bergegas ia bangkit berdiri lalu pergi meninggalkan Andrian dengan perasaan sulit dijelaskan.
***
Keesokan harinya, Reza pulang ke rumah pukul sebelas malam dengan wajah tampak lelah. Saat Reza memasuki kamar mandi dan melepaskan jasnya, Alfira masuk ke kamar dan mendapati ponsel suaminya berdering di atas ranjang. Nama "Jhoni" muncul di layar, dan tanpa berpikir panjang, dia mengangkat telepon itu.
"Hallo, Sayang. Kamu udah nyampe?" Suara seorang perempuan di seberang sambungan membuat jantung Alfira kaget bukan main.
Hello.. akhir-akhir ini aku bakal update telat mungkin seminggu sekali karena lagi sibuk di platform sebelah. Kalau mau update cepet, please tinggalkan jejak buat mengapresiasi karya aku, ya. ☺️