
Sudah satu minggu aku dan Bu Alfira tinggal dalam satu atap yang sama, sebagai ibu dan anak tentunya. Meskipun membuat hati ini perih, tapi yang namanya kehidupan harus tetap berlanjut, 'kan? Aku ingin move on. Kalimat itulah yang ada di benakku sekarang.
Satu minggu ini juga aku mulai dekat dengan Siska. Semenjak aku iseng mengajaknya jalan tempo lalu, aku dan dirinya jadi semakin intens berkomunikasi. Kadang diriku kerap dijadikan tempat mencurahkan isi hatinya.
Meskipun sebenarnya aku agak malas menanggapi, tapi aku mencoba jadi pendengar yang baik. Siska kerap bercerita mengenai kedua orang tuanya yang jarang di rumah, teman-teman satu geng, anak yang tidak ia sukai sampai anak-anak cowok yang sering nyatakan cinta padanya.
Wajar saja, karena Siska merupakan siswi idola para siswa. Ia acap kali dapat ungkapan cinta. Ku akui, Siska cantik, imut, lumayan pintar, kaya dan populer. Tipe setiap cowok, tapi tidak bagiku.
"Ka, aku pengen ngomong." Di jam istirahat ini, aku dan Siska tengah makan berduaan di kantin.
"Kalau mau ngomong, ngomong aja," kataku menoleh ke arahnya.
"Tapi nggak di sini. Kita ke belakang taman sekolah aja, yuk." Aku menganggukan kepala tanda mengiyakan ajakannya. Bergegas aku dan Siska mengayunkan kaki menuju area yang dituju.
Angin berembus sepoi-sepoi. Awan berwarna biru cerah. Di taman belakang sekolah, suasana sangat sepi dengan udara yang sejuk. Jauh dari hiruk pikuk para pelajar berlalu lalang.
"Duduk di situ, Kak." Kami berdua mendudukan diri di bangku taman berbahan kayu reot di bawah pohon beringin.
"Jadi, apa yang mau kamu omongin, Sis?" tanyaku penasaran.
Siska menatapku lekat. Berulang kali ia menggigit bibir bawahnya, tampak nervous. Lantas, Siska mulai berkata, "A--aku ...," Tangan Siska meremas ujung roknya. Apakah ia gugup?
"Apa?" Sebelah alisku terangkat heran.
"A--a--ku ...."
"Katakan saja, kamu mau ngomong apa?" aku mulai tak sabaran karena ia selalu menggantungkan ucapan.
"Aku suka sama Kakak!"
Hah? Menganga, aku tidak menyangka. Apa barusan? Siska menyukaiku? Sunyi sesaat. Namun, anehnya setelah ia mengatakan itu, aku merasa biasa saja.
"Mau nggak Kaka jadi pacar aku?" Mataku langsung terbelalak seketika.
"Serius?" tanyaku memastikan.
"Aku serius, Kak." Suasana jadi penuh kecanggungan. Mendadak aku jadi kikuk.
Aku mengalihkan pandang ke sembarang arah. Tidak menyangka bila Siska semudah itu menyatakan cinta padahal ia perempuan. Bukankah rata-rata perempuan itu pantasnya dikejar, bukan mengejar? Kebanyakan perempun selalu beralasan gengsi, tapi aku salut dengan Siska. Ia sangat pemberani.
"Sejak kapan kamu suka sama aku?" Suaraku memecahkan keheningan.
"Sejak ... Kaka nolongin aku saat kepeleset turun dari mobil waktu itu."
Menautkan alis, kucoba mengingatnya. Sesaat kemudian, aku menganggukan kepala. Kala itu hari pertama aku masuk sekolah sebagai anak kelas XI. Gerimis turun, dan jalanan terasa licin.
Setelah selesai ku parkirkan motor di area parkir sekolah. Tampak seorang gadis hendak turun dari mobil, sepertinya siswi baru angkatan kelas X. Namun, ketika ia menginjakan kaki di bumi, dia kehilangan keseimbangan. Aku yang kebetulan berada tepat di belakang gadis itu reflek menangkapnya dari belakang.
Sejenak, kami beradu pandang. Adegan itu sekilas persis bak di drama Korea. Dia terpeleset, lalu aku menangkapnya. Aku jadi terkekeh geli mengingat moment itu.
"Kakak itu baik. Pinter nyanyi sama main keyboard. Pas di pentas seni sekolah aku merhatiin Kakak bermain itu sambil bernyanyi dengan sangat menjiwai. Aku suka. Kakak itu berbakat banget." Jujur, aku jadi tersanjung atas pujiannya.
"Kamu benar-benar suka sama aku apa cuman kagum aja?" tanyaku mengintrogasi.
Siska terkesiap. "Aku serius suka sama Kakak. Tadinya, aku pikir itu hanya perasaan suka dan kagum saja, tapi ternyata lama kelamaan rasa suka itu semakin dalam, dan berubah menjadi ...,"
Mengerutkan kening aku menatapnya intens. "Jadi?"
Dering bel tanda masuk kelas berbunyi. Kami masih terdiam dengan pikiran masing-masing. Aku yang bingung menerima cintanya, dan mungkin Siska yang menunggu jawabanku. Jujur, aku tidak punya perasaan terhadapnya.
"Kakak nggak perlu jawab sekarang. Aku paham ko Kakak butuh waktu. Aku kasih waktu satu hari untuk Kakak nerima aku atau nggak."
Selepas itu, tanpa sepatah kata Siska melengos pergi begitu saja. Meninggalkanku yang diam membeku kebingungan.
***
Belajar matematika di malam hari benar-benar menguras isi otakku. Di atas kursi bejalar, aku menggeliat merenggangkan otot . Tenggorokan mendadak kering haus. Bangkit berdiri lekas pergi ke dapur.
Baru akan memasuki ruang dapur, langkahku tercekat. Pupil mata ini melebar sempurna ketika dihadapkan pada pemandangan yang sangat merusak mata. Papa dan Bu Alfira, mereka berciuman.
***
Alfira POV
Mas Reza masih ******* bibirku ganas, enggan melepaskan. Cukup lama bibir kami berpagutan. Mulai risih, ku hentikan aktifitas ini. Menghirup udara lalu mengembuskannya.
"Ko malah berhenti, Dek? Padahalkan lagi enak-enaknya," ucap Mas Reza dengan senyum lebar.
"Sudah Mas, nanti malu takut dilihat Andrian anakmu." Risih sekaligus jengah. Mas Reza main nyosor saja tak tahu tempat. Bagaimana kalau ada orang lihat?
"Dia di kamar ko, nggak bakalan lihat kita." Ia berkata dengan entengnya.
Kedua lengan Mas Reza masih melingkari pinggang rampingku. Perlahan ku lepas dan mendorongnya agak menjauh dari wajahku.
"Kenapa ih?" Mas Reza terheran-heran sambil cengengesan.
"Jangan di sini, Mas. Malu."
Mas Reza merangkul pundakku. "Ya sudah. Kita lanjut di kamar aja kalau gitu."
Mengembuskan napas lelah. Sebenarnya aku lagi malas melakukan hal demikian. Namun, bagaimana cara aku menolak?
"A--a--ku lagi menstruasi, Mas." Terpaksa aku berdusta.
Mengernyitkan kening, raut wajah Mas Reza tampak kecewa. "Perasaan dari kemarin menstruasi terus? Kirain Mas udah selesai." Wajar saja Mas Reza curiga, aku selalu tidak punya alasan lain untuk menolak ajakan bercinta darinya.
"Be--belum beres, Mas. Menstruasinya masih ada," aku kembali berbohong. Mungkin aku akan dilaknat malaikat. Lagian, ini bukan salahku, tapi salah nasib mengapa aku harus berjodoh dengan dirinya?
"Oh, oke." Senyuman tipis ia berikan padaku.
Ketika kami melangkah hendak beranjak ke kamar, perhatianku dan Mas Reza teralihkan pada sosok anak remaja yang sedang menggendong ranselnya dan helem yang ia kenakan tengah berjalan dengan tergesa menuju pintu utama.
"Andrian, mau ke mana malam-malam begini, Mas?" tanyaku bingung yang dibalas gelengan Mas Reza.
"Andrian! kamu mau kemana malam-malam begini?!" seru Mas Reza sama sekali tidak digubris anak itu. Andrian melenggang pergi begitu saja tanpa sepatah kata. Membuat tanda tanya besar bagiku dan Mas Reza.
Bruk!
Bantingan pintu rumah membuatku tersentak. Mengangkat sebelah alis heran, kami berdua mematung di tempat.
"Kenapa dia kelihatan emosi?" Aku dan Mas Reza saling pandang menatap dengan kening yang berkerut bingung.