
Pagi itu, ketika Sesilia datang ke kantor, suasana begitu berbeda. Semua karyawan menyambutnya dengan gembira dan bangga atas promosi Sesilia setelah menjadi CEO. Mereka mengucapkan selamat dan bersalaman pada wanita berumur dua puluh lima tahun itu. Menunjukkan dukungan dan penghargaan mereka terhadap kepemimpinannya.
Andrian yang juga hadir di lobi kantor, tidak ketinggalan untuk mengucapkan selamat kepada Sesilia. Meskipun akhir-akhir ini mereka semakin dekat, namun ia masih bersikap profesional dan menyambut Sesilia dengan sopan sebagai atasan.
"Selamat, Bu Sesil atas jabatannya sebagai CEO baru perusahaan," ucap Andrian dengan senyum.
Sesilia menarik sudut bibirnya ke atas, menatap Andrian dengan mata berbinar. "Terima kasih atas dukunganmu."
"Kamu pasti akan menjadi CEO yang hebat."
"Semoga saja."
Ada rasa hangat menjalar di hati ketika tangannya bersentuhan dengan tangan Andrian. Setelah menyambut pemimpin baru perusahaan, semua karyawan berhamburan menuju ruang kerja masing-masing.
Sesilia pun lekas pergi ke ruang kerjanya. Ia merasa bahagia melihat dukungan dari semua orang di kantor. Terutama saat bertemu dengan Andrian. Seolah dirinya tidak bisa mengalihkan perhatian pada yang lain.
***
Reza baru saja pulang ke rumah setelah berhari-hari sibuk dengan pekerjaan. Saat ia masuk ke dalam, ia disambut dengan hangat oleh Alfira. Wanita itu memberi senyum seperti biasanya, memeluk Reza sebentar.
Tidak lama setelah itu, Ari yang masih kecil berlari menuju Reza dengan penuh semangat, meminta agar digendong. Reza dengan senang hati mengangkat putranya yang riang gembira itu. Mereka bertiga kemudian berkumpul di ruang tengah, menciptakan momen kehangatan di rumah mereka setelah berpisah beberapa hari.
Sambil digendong oleh ayahnya, Ari, bocah berusia tiga tahun itu, mulai berceloteh riang. Meskipun kata-katanya masih cadel, antusiasme dan kebahagiaan begitu jelas terpancar di wajah kecilnya.
"Papa, Ali lindu Papa banget! Ali mau main tluk sama Papa."
Reza tersenyum dan mencium pucuk kepala putranya. "Papa juga merindukan Ari, Nak. Nanti setelah Papa mandi, kita bisa main truk bersama, ya?"
Ari mengangguk antusias, dan ia terus berbicara dengan cadel dalam bahasanya sendiri, menciptakan momen kehangatan dalam keluarga yang mereka cintai.
Namun, lain halnya dengan Alfira. Saat berdekatan dengan Reza ia mencium wangi parfum perempuan di tubuh pria itu membuatnya curiga.
Meskipun pernah terlintas pikiran negatif sejak Reza jarang di rumah, ia memutuskan untuk tidak ambil pusing pada saat ini. Ia memilih untuk fokus pada kebahagiaan Ari.
"Mas, kamu ingin aku buatkan apa untuk makan siang?"
Reza menoleh dan menjawab dengan senyuman lembut, "Sebenarnya, Mas pengen istirahat saja dulu, cape di luar kota banyak kerjaan sama ngurusin bisnis."
Alfira mengangguk mengerti dan memahami bahwa Reza mungkin lelah setelah perjalanan panjangnya. Ia kemudian membiarkan suaminya istirahat sambil bermain dengan Ari, berharap bahwa suasana hangat keluarga dapat mengatasi perasaan curiganya.
***
Malam itu, Reza, Alfira, Andrian, dan Ari duduk bersama untuk makan malam. Suasana keluarga terasa hangat, dan mereka menikmati makanan bersama sambil berbincang.
Andrian, yang merasa penasaran dengan keberadaan Reza yang jarang di rumah, akhirnya memutuskan untuk bertanya, "Pa, akhir-akhir ini Papa sibuk dan jarang di rumah, ya? Apa yang sedang Papa kerjakan?"
"Pekerjaan sebagai pengacara memang seringkali memakan banyak waktu. Banyak klien yang membutuhkan bantuan hukum, dan Papa harus bertanggung jawab untuk membantu mereka. Itu sebabnya kadang-kadang Papa harus pergi untuk menyelesaikan kasus atau pertemuan dengan klien," imbuhnya.
Andrian mengangguk, sementara Alfira hanya menyimak, tapi ikut memahami situasi sang suami. Walau perasaan curiga dan ketidakpastian masih tetap ada. Meskipun ia tidak mengungkapkannya secara langsung.
Mendadak Andrian teringat pada wanita yang datang bersama Reza di restoran malam itu. Meskipun ada ketidaknyamanan di dalam dirinya, ia memutuskan untuk tidak menanyakan lebih lanjut tentang wanita tersebut untuk saat ini.
Andrian memilih untuk menjalani makan malam dengan tenang, tetapi di dalam hati, rasa ingin tahu dan kecurigaan tetap ada. Tentang kebohongan Reza saat ia beralasan berada di luar kota, tetapi muncul tiba-tiba bersama seorang wanita di Jakarta.
"Oh, iya. Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Reza sembari meneguk air.
Andrian yang selesai dengan makannya, menoleh. "Lancar-lancar saja, Pa."
"Bagus lah."
***
Alfira menjadi cerewet, pasalnya Ari yang masih duduk di pangkuan Reza enggan untuk pergi ke kamar. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Ari berulang kali menggeleng ogah tidur karena masih betah menonton kartun di ponsel ayahnya.
Alfira menghela napas lelah. "Ari, ini sudah larut malam lho, waktunya tidur. Besok dilanjut lagi mainnya."
Ari menatap Reza dengan mata memelas, mencoba untuk memohon agar diberi izin untuk tetap menemaninya. "Tapi Ali ingin main sama Papa."
Reza mencoba meyakinkan Ari sambil tersenyum, "Ari, besok kita main lagi, ya. Sekarang, Papa ingin Ari cepet bobo."
"Nggak mau!" Balita itu cemberut.
Reza membujuk, "Ayolah, Ari. Tidur, ya. Besok kita main lagi, ok."
"Janji Papa nggak kemana-mana lagi?"
"Iya, Papa janji," kata Reza sembari mencium pucuk kepala putranya.
Ari akhirnya setuju setelah diyakinkan, dan Alfira menggandengnya menuju kamar. Setelah Alfira menidurkan Ari di ranjang, ia segera mematikan lampu dan menutup pintu. Sengaja Ari tidur di kamar berbeda, biar anak itu bisa mandiri. Begitulah parenting yang diterapkan Alfira pada anaknya.
Kamar Ari bersebelahan dengan kamar Andrian di lantai atas, memungkinkan Alfira bisa melewati kamar di sebelahnya. Ketika pintu kamar Andrian terbuka setengah, Alfira mengintip dan tidak sengaja kedua iris coklatnya melihat pemandangan di dalam.
Wajahnya mendadak memanas. Hatinya bergemuruh. Dia terkesima saat mendapati Andrian tengah berbaring dan bert*lanjang dada hanya dengan mengenakan boxer brief, celana pendek ketat warna hitam. Tubuh atletis dengan perut kotak-kotak membuat Alfira menelan ludah. Lelaki itu memejamkan mata dengan earphone tersumbat di telinganya.
Sejenak ia terperangah, menyadari bahwa Andrian begitu seksi di usianya yang sudah menginjak dua puluh empat tahun. Dulu ketika remaja, anak itu memang sudah tampan, tapi belum sematang sekarang. Kumis tipis mulai tumbuh, tubuh atletisnya menampakkan otot berbentuk sempurna. Timbul hasrat terlarang dalam diri Alfira.
Tatapan Alfira seakan terpaku pada lelaki di dalam kamar itu. Tiba-tiba ia membayangkan sesuatu yang tidak pantas. Alfira menggeleng-gelengkan kepala, saat menyadari kesalahannya. Menghembuskan napas panjang, Alfira tertegun. "Kenapa pikiranku jadi kotor begini? Astaga," gumamnya tak percaya.