I Love You My Step Mother

I Love You My Step Mother
Aku Sayang Kamu



Andrian POV


Dari hari ke hari hubunganku dengan Bu Alfira jadi semakin dekat. Bahkan ia sangat perhatian padaku dibanding sebelum-sebelumnya. Dulu ia sempat menjauhiku tanpa aku tahu sebabnya, tapi entah mengapa sikapnya perlahan berubah.


Akhir-akhir ini ia sering memperlakukanku dengan manis. Seperti menalikan tali sepatuku, menyiapkan baju seragam setiap pagi, mengantarkan segelas susu ke kamar dan menemaniku belajar setiap malam.


Aku mengerti mungkin semua itu adalah baktinya terhadapku sebagai ibu tiri. Menerima kenyataan bahwa statusnya merupakan ibu tiriku adalah kenyataan yang pahit dan miris, tapi dibalik itu aku bahagia saat bersamanya.


Moment termanis yang tidak bisa aku hapus dari ingatan adalah ketika ia coba menenangkanku dari phobia takut akan ketinggian. Waktu itu matahari terbenam dengan indahnya dan moment sunset itulah yang paling berkesan dalam hidupku. Ingin rasanya kuputar kembali saat itu, dimana kedua kaki ini terasa ringan dan melayang seolah tak ada beban.


Kami dalam perjalanan menuju pulang. Kulirik dirinya yang tengah duduk dengan anggun sambil memperhatikan derai hujan yang membasahi kaca jendela mobil di sampingku. Entah mengapa netraku tidak bisa beralih untuk memandangi wajahnya, walaupun itu dari samping, sepertinya aku memang kecanduan.


"Kalau ngendarain mobil itu musti fokus, jangan lihatin Ibu terus," cetus Bu Alfira datar seraya memalingkan pandang ke arahku. Bibirnya menyunggingkan senyum manis yang selalu membuatku meleleh.


Mataku membulat seketika, aku kaget bukan main. Aku seperti maling yang tertangkap basah. Wajahku mendadak jadi panas.


Segera kupalingkan tatapan ini fokus ke depan. Samar-samar dia tertawa kecil. Sesekali aku meliriknya dari ekor mata. Sekilas dirinya juga seperti memperhatikanku. Mendadak aku jadi salah tingkah.


"Saat Ibu berada di gendonganmu waktu di Dufan, kamu sempat bilang ...." Bu Alfira bersuara, tapi ia menggantungkan ucapan, " kalau kamu mencintai seorang wanita tapi kamu tidak bisa memiliknya. Siapa dia?"


Aku membisu! Manamungkin aku menjawab kalau wanita itu adalah dia!


"Kenapa kamu sampai tidak bisa memilikinya?" Mulutku masih terkatup bingung harus bilang apa.


Cukup lama aku tidak merespon pertanyaannya. Sampai akhirnya aku berani menjawab, "K--karena A--Andrian tidak berani mengungkapkan perasaan Andrian padanya." aku terbata-bata dengan pandangan masih lurus ke depan. Detik selanjutnya aku memberanikan diri menoleh sebentar ke samping kiri. Bu Alfira rupanya memerhatikanku lekat.


"Itu karena cintamu yang diam-diam." Aku tersentak kaget. Mengapa perkataannya tepat sekali? "Seandainya kamu ungkapkan, mungkin dia akan jadi milikmu," lanjutnya.


Mendengar kalimat itu membuat mulutku tidak bisa berkata-kata. Aku mengernyit heran dengan semua uacapan yang terlontar dari mulutnya, ia seperti paham tentang kisah cintaku. Aku tidak pernah menceritakan kisah asmaraku kepada orang lain tapi ia seolah mendorongku untuk menceritakan segalanya.


Tidak ada percakapan lagi di antara kami, sehingga kami terdiam dalam keheningan sampai kami tiba di pekarangan rumah.


***


Aku masih memikirkan obrolanku dengannya ketika berada dalam mobil saat kami kembali pulang sore tadi. Entah apa maksudnya, tapi itu cukup mengganggu pikiranku.


Tiba-tiba aku teringat catatan kecilku yang berada di dalam kotak. Aku meringsut ke bawah kolong meja mengambil benda tersebut. Duduk di meja belajar lalu membuka catatanku dan kubaca kembali isinya.


Tulisanku dua tahun yang lalu, saat aku mulai jatuh hati padanya. Namun, aku tidak bisa mengungkapkan. Cukup sulit, malu, ragu, gelisah dan bingung bagaimana cara menyatakannya. Aku memang bodoh, jika saja dulu aku berani berterus terang, mungkin akhirnya tidak akan seperti ini.


"Itu karena cintamu yang diam-diam."


"Seandainya kamu ungkapkan, mungkin dia akan jadi milikmu."


Kata-kata yang Bu Alfira ucapkan entah mengapa jadi terlintas di pikiranku.


Aku terperanjat. Membelalakan mata tak percaya. Tunggu! Apa jangan-jangan Bu Alfira telah membaca isi catatanku?


Kalau memang iya, berarti sekarang ia sudah mengetahuinya. Apa benar Bu Alfira tahu perasaanku?


Tanganku mendadak gemetaran. Aku tertegun dan kebingungan. Memikirkan apakah Bu Alfira benar-benar mengetahuinya atau ... Menjambak rambut, aku frustasi. Antara yakin dan tidak. Namun, hatiku merasa yakin kalau ia sempat membacanya.


Sekarang aku paham. Saat dia menjauh dan mengacuhkan diriku, aku yakin itu karena Bu Alfira pasti telah membaca isinya. Lantas, mengapa tiba-tiba sikapnya berubah manis terhadapku? Bukankah seharusnya ia tetap menghindar?


Dan ketika dia mengatakan, "Seandainya kamu ungkapkan mungkin dia akan menjadi milikmu."


Apa Bu Alfira juga menyukaiku? Tapi sejak kapan? Lalu bagaimana perasaannya terhadap papa? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkelebat dalam otakku.


Aku menggeleng-gelengkan kepala frustasi. "Tidak mungkin."


Knop pintu yang terbuka reflek membuatku menoleh ke arah suara. "Bu Alfira ...," gumamku terkejut.


Bu Alfira membawa segelas susu. Berjalan menghampiriku, kemudian meletakan susu tersebut di atas meja belajar. Aku yang duduk hanya bisa termangu.


Bu Alfira mengangkat sebelah alis tanda keheranan. "Kamu kenapa? Ko bengong?"


Aku tidak menanggapi. Aku masih asyik memandang matanya dalam dan ia juga menatapku lekat.


'Aku cinta kamu Al,' batinku yang berbicara, tapi mulutku bungkam.


Kedua bola mata kami masih saling memandang. Sekilas kulihat ia mengalihkan netranya ke arah catatan yang berada di genggamanku, kemudian membuang arah pandang ke sembarang arah.


Bu Alfira sedikit terlonjak kaget dengan perlakuan tak terdugaku padanya.


"A--andrian kamu kenapa, sih?" Nada suara Bu Alfira terdengar gemetar. Kembali aku tidak merespon pertanyaannya. Hanya lima menit. Biarkan aku memelukmu selama lima menit saja.


Hening. Bu Alfira masih membiarkanmu dalam posisi ini. Mengapa? Mengapa ia tidak memberontak melepaskan diri dari dekapanku? Apakah Bu Alfira juga menikmatinya?


Aku memutar tubuh Bu Alfira menghadap ke arahku, kembali memeluknya erat. Dadaku bergemuruh. Jantungku berdetak kencang. Bu Alfira masih bergeming, tidak membalas pelukanku ataupun mencoba melepaskan diri.


Sekarang aku yakin! Pasti Bu Alfira mengetahui perasaan terlarang ini.


Empat menit aku mendekapnya, kurasakan pergerakan darinya mencoba melepaskan diri dari pelukanku. Ayolah, aku masih ingin. Terpaksa aku melerainya.


Bu Alfira menatapku intens, dan wajahnya memerah! Apakah ia tersipu?


"Andrian, kenapa sih kamu? K--amu agak aneh." Bu Alfira sedikit tergagap, apakah ia nerveous?


Lagi-lagi aku tak menghiraukan pertanyaannya, sorot mataku malah beralih pada bibir ranum yang ingin sekali rasanya aku ...


"Andrian?"


Ya Tuhan, aku sudah tidak tahan. Ada gejolak dalam dada ini untuk segera melakukan hal itu. Aku ingin mengecupnya. Merasakan kehangatan bibirnya. Maafkan aku Tuhan ... Aku sudah tidak bisa menahan.


Dengan pergerakan cepat aku menarik tengkuk Bu Alfira. Mendekatkan tubuhku dan tubuhnya, kemudian ....


Cup


Aku mencium bibirnya! Bu Alfira terperanjat. Matanya terbelalak. I'm sorry for this, Al ...


Aku kehilangan kendali! Katakanlah kalau aku berengsek! Namun, aku bahagia karena bisa merasakan bibir wanita yang selama ini aku puja.


PLAK!!


Aku tersentak kaget. Bu Alfira mendorong kemudian menampar pipi ini dengan kerasnya!


Dadaku sesak, hatiku hancur. Seperti sebuah kaca yang terjatuh lalu pecah menjadi kepingan yang luluh lantak.


Memberanikan diri aku menatapnya walau berat. Ada kilatan amarah dan kekecewaan di matanya. Akan tetapi, ada sebuah genangan di sana. Berusaha menahan air mata yang tumpah ke luar.


Rasa sakit karena tamparannya tidak sebanding dengan rasa hatiku yang berdenyut nyeri. Suara tamparan itu sepertinya akan selalu membekas di ingatanku. Aku terdiam tidak bergerak.


"Anak kurang ajar ...," ucap Bu Alfira lirih menghancurkan keheningan dan atmosfir yang mendadak jadi kecanggungan di antara kami. Kalimat itu ... membuatku syok dan sakit. Seperti belati menghujam jantung, terkoyak, lalu hancur.


Aku menunduk. Pasrah, dan hanya bisa berkata, "M--maaf." Baiklah, mungkin setelah ini Bu Alfira akan membenciku.


Dengan ragu aku kembali memandang ke depan. Rupanya Bu Alfira berbalik memunggungiku. Ia mulai melangkahkan kaki, bersiap untuk pergi.


Aku menggelengkan kepala mencoba menyadarkan diriku dari rasa syok ini.


Aku tidak tahan dengan semua ini. Aku tidak bisa menahan gejolak ini lagi. Memang sudah terlambat tapi aku ingin mengungkapkan langsung rasa ini dari mulutku.


"AKU MENCINTAI KAMU AL!!" seruku lantang, dan aku memanggil namanya tanpa embel-embel ibu. Langkah Bu Alfira tercekat. Mematung di tempat.


"Maafkan aku atas perlakuanku tadi. Tapi asal kamu tahu ... kalau aku sayang sama kamu. Saat pertama kali melihatmu aku merasa langsung jatuh cinta. Aku mencintaimu karena aku suka senyumanmu, hatimu, dan perkataanmu, semuanya darimu. Aku jatuh cinta padamu karena melalui beningnya matamu kutemukan kedamaian. Jangan tanya mengapa Aku pun tak tahu jika pada akhirnya akan jatuh hati padamu," lirihku sendu.


Aku menghela napas berat menetralkan rasa sesak di dada. "Aku sakit dan menderita, ketika melihatmu dan papa berdua. Mungkin ini sudah terlambat, terserah kamu mau membenciku, yang jelas, Aku ... sayang kamu, Al." Kalimat demi kalimat tersebut mengalir lancar begitu saja dari mulut.


Bu Alfira membalikan badan menghadapku. Tampak air mata mengalir di pipinya. Sesaat dirinya memejamkan mata. Terdengar helaan bapas berat lalu menunduk. Helaian rambutnya menutupi wajah.


Bu Alfira kembali menegakkan kepala lurus memandangku dengan ekspresi datar tak bisa kuartikan. Perlahan ia langkahkan kaki jenjangnya mendekatiku. Sekarang, ia tepat berada di hadapanku. Kami saling menatap dalam-dalam.


"Katakan lagi kalimat yang terakhir ...," lirihnya sendu.


"A--aku sayang kamu Al," jawabku gemetar.


"Aku juga ...."


Mataku terbelalak tidak percaya. Apa barusan? Bu Alfira juga menyukaiku? Ya Tuhan! Aku bagaikan mendapat uang gepokan!


Hatiku bergemuruh saat Bu Alfira mendadak memelukku erat.