I Love You My Step Mother

I Love You My Step Mother
Kepergok



"Mah?"


Alfira mengerjap beberapa kali sambil mengumpulkan kesadaran. Wajah familiar di depannya berhasil membuatnya terperanjat kaget selama beberapa detik.


“Mas?”


Matanya terbelalak. Oh bagaimana ini? Pikir Alfira. Ia tertegun, mulutnya mendadak bisu.


Reza mengangkat sebelah alis bingung tatkala melihat Andrian tertidur di pangkuan Alfira dengan nyenyaknya. "Andrian kenapa, Mah?"


"Aaa hmm iiii tuuuu aaa nuuu ...," balas Alfira gagap.


Suara Reza yang ngebas akhirnya perlahan membangunkan Andrian dari tidur, lalu ia mengucek-ngucek matanya. Saat ia mulai sadar bahwa ternyata Reza berdiri di hadapan, Andrian tercengang, sontak ia terkesiap bangkit berdiri.


"Kamu kenapa, Andrian?" tanya Reza datar.


"I-iitu, Pah ... Andrian tadi pusing, terus dipijitin deh sama Ibu." Andrian beralibi.


Dalam pikiran Reza, perlakuan Alfira terhadap Andrian menurutnya wajar saja, karena itu adalah bakti sebagai ibu tiri. Bahkan di benaknya, Reza merasa lega, bahwa Andrian dan Alfira bisa dekat satu sama lain.


Reza bahagia jika anak semata wayangnya itu perlahan bisa menerima Alfira sebagai ibu tiri, mengingat dulu Andrian sempat egois karena tidak menginginkan pengganti ibu kandungnya. "Ya udah cepetan sana makan, lalu minum obat," pinta Reza sembari berlalu pergi.


Sementara mereka berdua masih mematung di tempat saking kagetnya, seolah mereka seperti pencuri yang tertangkap basah.


***


"Ra, lu bisa diem nggak sih?"


"I fancy you, i fancy you, fancy you ... It's dangerous ttakkeumhae neon hmm hmm hmm ..."


Mira berdecak kesal. Ia yang sedang mengerjakan tugas di jam istirahat merasa terganggu, pasalnya gadis berambut panjang diikat kuda itu sedang bernyanyi dan menari di depan kelas dengan riangnya. Jingkrak sana jingkrak sini, hentakan kaki kanan kiri, menggoyangkan badan mengikuti group idol kpop di layar ponsel yang ia sandarkan ke tas di atas meja.


"Fancy ... you .. Hmm hmm ... joahamyeon eottae ... Fancy ... you ... jigeum neoneorego gallae ... Fancy, ooh!"


"Rara berisik!!" teriak Mira kesal.


Sadar dengan rutukan Mira, dengan terpaksa akhirnya Rarapun mematikan MV yang ada di gallery ponsel. Merogoh sapu tangan dari dalam tas, lalu ia berjalan ke arah Mira dan duduk di sampingnya. Sejenak ia mengatur napas yang terengah-engah karena energi habis dipakai untuk menari.


"Ngerjain PR tuh di rumah bukan di sekolah, jadinya lu ganggu gue yang lagi asyik cover!" gerutunya kesal.


"Lu juga ngapain cover di kelas? Kalau mau cover sono di luar!" timpal Mira geram sambil tetap fokus mengerjakan PR.


Rara mendecih sinis sambil menyeka keringat di dahi dengan sapu tangannya, kemudian ia merogoh cermin kecil dan lipbalm yang ada di saku lalu mengoleskannya ke bibir.


Mira melirik sekilas. "Gimana, udah sukses belum deketin Ka Andrian-nya?" tanya Mira penasaran.


Rara menyimpan kembali cermin dan lipbalm itu ke dalam saku rok. "Belum, susah ditaklukin orangnya," ucap Rara seraya menatap Mira lesu.


"Sabar ya, mungkin dia belum bisa move on dari Siska."


Rara terdiam, matanya menerawang ke langit-langit kelas. Entah mengapa ia malah teringat hubungan Alfira dan Andrian yang intens dan tidak wajar saat beberapa kali kepergok olehnya.


"Eh Mir, lu curiga ngga sih?"


"Curiga apaan?" tanya Mira yang tetap fokus mengerjakan tugas.


"Coba lu pikirin. Saat Siska nggak masuk sekolah selama tiga hari terus ada kabar ia putus dari Kak Andrian, kejadiannya barengan waktu Bu Alfira berhenti ngajar."


Mira menciutkan alisnya. "Terus?"


"Kita, kan pernah curiga sama hubungan mereka, waktu mereka kepergok di restoran mall terus waktu gue mergokin mereka di parkiran Alfa. Gue udah pernah bilang ke elu kalau mereka itu mesra layaknya orang pacaran, masih inget nggak?"


"Hu'um terus."


"Terus pas kita ngobrol di WC, waktu itu kita nggak nyadar ternyata ada Siska dibilik toilet. Gue yakin dia pasti denger apa yg kita omongin."


"Entah kenapa gue merasa yakin aja, kalau Kak Andrian sama Bu Al itu punya hubungan lebih dibanding ibu dan anak. Coba lu pikir, Bu Al itu, kan masih muda, cantik lagi, ya bisa jadi aja bikin Kak Andrian jatuh cinta. Apalagi nih ya, kata temen sekelasnya Kak Andrian itu selama sekolah dari kelas X nyampe pertengahan kelas XI dia tuh nggak pernah pacaran, cuman sama Siska doank. Dia juga nggak pernah naksir cewek di sekolah," tutur Rara.


"Ya mungkin dia naksir cewek di luar sekolah kali, Ra."


"Nggak, kata temennya sih dia juga nggak punya pacar di luar." Mira terdiam. "Kadang gue suka merhatiin tau Mir, Kak Andrian kalau natap Bu Al kaya yang beda gitu," sambung Rara.


"Ah lu mah aneh-aneh," timpal Mira.


"Ih beneran sumpah, gue itu orangnya pekaan. Beda loh tatapan orang yang penuh cinta sama yang nggak!"


"Preet!" Cibir Mira. "Ya terus kalau menurut lu mereka punya hubungan lebih, kenapa lu masih deketin Kak Andrian?" lanjut Mira.


"Lu gimana sih Mir, ya nggak mungkin lah mereka bisa bersatu. Kan, masih ada bapaknya Kak Andrian!" sergah Rara.


"Ya bisa aja kan Bu Al cerai dari bapaknya terus mereka nikah," ucap Mira yang seketika jidatnya dapat jitakan dari Rara. "Apaan sih jitak-jitak pala gue!" serunya kesal.


"Gini nih kalau kebanyakan nonton drakor sementara ngaji jarang!" seru Rara.


"Lah, emang bener kan, bisa aja mereka nikah suatu saat nanti!"


"Ya ampun Mira ... haram tau hukumnya ibu tiri dan anak tiri nikah, meskipun dia udah cere ama bapaknya!" jelas Rara lantang.


"Kalau bapak Kak Andrian mati?"


"Tetep nggak bisa Mir, soalnya status Bu Al sudah seperti ibu kandung. Coba aja kalau bisa mereka datengin tuh seluruh KUA yang ada di Indonesia atau dunia, pasti ditolak! Karena semesta tidak meridhoi!"


Mendengar itu Mira membulatkan mulutnya membentuk huruf O pertanda mengerti. "Terus gimana kisah cinta mereka kalau nggak bisa saling miliki?" tanya Mira.


"Ya udah sih ikhlasin aja, lagian Kak Andrian cocoknya ama gue," ucap Rara percaya diri.


Mira memutar bola matan malas. "Emang lu bisa gitu bikin dia jatuh cinta? Sama Siska yang jadian sembilan bulan aja bisa putus."


"Ya bisa lah, gue bakal bikin dia jatuh cinta."


"Iya, palingan pake jarang goyang, Aww!" cetus Mira mencibir yang otomatis keningya dapat jitakan lagi dari Rara.


***


"Sampai kapan kita sepeti ini?"


"Entahlah," balas Alfira sambil menyantap nasi kremes dan es teler di foodcourt.


Andrian menyandar ke kursi sambil menghela napas berat. "Apa kita harus menderita terus seperti ini, mencintai tapi tak bisa memiliki?" tanya remaja itu, mukanya tampak lesu.


Alfira tidak membalas pertanyaan Andrian, karena ia juga tidak tahu harus berkata apa.


"Apa Ibu tidak bisa bercerai dari papa?" Andrian mulai kehilangan akal.


Alfira menoleh ke asal suara, menatap Andrian kesal. "Bercerai? Kamu pikir itu mudah? Bagaimana dengan papamu? Dengan orangtuaku?!" bentak Alfira sambil mendengus.


Andrian mengacak-acak rambut frustasi. Alfira yang melihat itu hanya bisa pasrah, karena tidak tega, ia pun menangkup kepala Andrian lalu menyandarkan ke bahunya untuk menenangkan.


"Sudahlah, kita seperti ini aja dulu ... yang penting kita bisa bersama. Iya, kan?" Andrian tidak merespon, pikirannya masih kalut.


Tanpa disengaja ternyata ada Rara dan Mira yang juga sedang makan di meja paling pojok di foodcourt yang sama. Sedari tadi, kedua bola mata gadis itu memperhatikan kedua sejoli tersebut.


"Tuh, kan bener kata gue Mir, mereka pasti ada sesuatu," bisik Rara. Mira masih terperangah, ia hanya menganggukan kepalanya.


Brak!


Mira dengan terkejutnya meloneh ke arah Rara karena Rara tiba-tiba saja gadis di sebelahnya menggebrak meja. "Lu kenapa sih, Ra?"


"Ini tidak benar! Aku harus membuat Kak Andrian sadar!" Kemudian Rara melanjutkan, "Kak Andrian, kau harus sadar itu tidak benar!" seru Rara lantang, sedikit mendramatisir.