
"Andrian, sini, Nak!" seru Reza kepada anaknya.
Mendengar seruan papanya, Andrian lekas menghampiri Reza dan Alfira yang tengah duduk di ruang TV.
"Ada apa, Pah?"
Sebelum mengatakan sesuatu, Reza menatap Andrian dengan senyum lebar penuh arti. Andrian yang melihat sang ayah cengengesan dibuat kebingungan.
"Kamu, akan punya adik, Andrian!"
"Aaaaa ...!"
Andrian mengerjakan mata, menengok sekeliling. Membuang napas perlahan menenangkan degupan jantung yang tak beraturan, tangannya menyeka keringat di dahi. Sejenak ia melamun lalu menyadari rupanya tragedi itu hanya mimpi. Memejamkan mata, ia menghela napas lega.
Remaja tampan itu menatap langit-langit kamar, menengadahkan tangan lalu berdoa, "Tuhan, tolong kabulkan do'aku, jangan sampai Bu Alfira hamil. Aamiin!"
***
Suasana sarapan pagi di meja makan itu berlangsung hening, hanya terdengar dentingan sendok, garpu dan piring. Sedangkan Alfria sibuk mencuci alat-alat bekas memasak.
"Andrian, besok Papa mau keluar kota, kamu jaga rumah ya baik-baik," ucap Reza memecahkan keheningan.
Andrian menoleh sebentar ke arah papanya. Sambil menguyah makanan Reza melanjutkan," selama tiga minggu Papa nggak pulang ke rumah, Papa mau ngurusin cabang bisnis ayam goreng Papa di luar kota yang agak bermasalah."
"Kenapa, Pa?"
"Restoran ayam goreng yang di Magetan kebakaran." Reza memijit keningnya pusing.
Andrian membelalakkan mata terkejut. "Kok bisa kebakaran, Pah?"
"Ada keteledoran karyawan di sana. Tapi untungnya, tidak ada korban jiwa." Andrian bernapas lega lalu mengangguk sebagai respon. Sekilas Alfira tersenyum tipis sambil menoleh sebentar lalu kembali fokus pada kerjaannya di atas wastafel.
Selama tiga minggu, Andrian dan Alfira akan tinggal berdua, tapi Andrian merasa kurang bersemangat, antara senang dan tidak, disebabkan Andrian merasa hubungannya dengan Alfira yang agak merenggang.
Seharian ini kedua insan itu masih saja belum bertegur sapa. Saat berada di mobil, di sekolah, sampai pulang ke rumah pun demikian adanya.
***
Menikmati suasana malam di balkon kamar menjadi tempat merenung Alfira dari pikirannya yang berkecamuk. Entahlah, setelah Alfira mengetahui perasaan Andrian terhadapnya, ia merasa sedikit canggung.
Alfria memutuskan agak menjauh dan mengabaikan anak tirinya itu, agar ia bisa menghempaskan rasa yang tidak bisa dimengerti olehnya. Alfira merasa perasaannya terhadap Andrian tidak wajar. Ia tidak ingin berlarut-larut memelihara perasaan anehnya tersebut.
Ingin menghempaskannya, tetapi sampai detik ini rasa itu masih ada. Seperti benih yang tak diinginkan Alfira untuk tumbuh, tapi benih itu semakin subur tumbuh di setiap detiknya.
Alfira merasa perasaan ini aneh. Apakah rasa terhadap Andrian hanya sekedar kagum? Apakah hanya sekedar suka?
Ataukah menjadi rasa cinta?
Kalau cinta lalu ini cinta apa?
"Ini cinta terlarang," gumamnya penuh penekanan.
Namun, jauh di lubuk hati, entah mengapa Alfrira merasa rindu terhadap perhatian dan keperdulian Andrian padanya. Alfira ingin Andrian selalu berada di dekatnya, mengayomi dan melindungi.
Terkadang, rasa cemburu itu datang kala melihat kedekatan Andrian dengan Siska. Alfira tidak rela jika Andrian memberikan perhatian lebih pada wanita lain. Lain halnya terhadap Reza, sang suami. Perasaannya terhadap Reza hampa, hambar dan kosong. Hubungan dengan Reza hanya sekedar istri yang patuh dan melayani, tidak lebih.
Seharusnya Reza yang mengisi hatinya, tapi malah Andrian yang masuk dan hinggap di dalam sana.
Mulut Alfira terus berucap, "ini tidak benar. Ini tidak boleh terjadi. Dia anak tiriku." Namun, hati berkata, 'aku merindukannya, senyumnya, perhatiannya, rasa nyaman ketika berada di dekatnya dan aku ingin terus berada di sisinya'
Alfira mengacak rambut frustasi, ia sudah tidak tahan. Alfira terjebak pada cinta Andrian.
***
Andrian POV
Gemuruh hujan lebat di tengah malam diselingi guntur yang terus menyambar membuat jantungku berdetak kencang tak karuan. Aku bergidik ketakutan, meringsut ke tempat tidur, menselonjorkan kaki.
Aku tidak bisa menampik kalau aku memang takut petir. Tapi entah mengapa ketika di dalam mobil dengannya waktu itu, saat hujan lebat, nyaliku mendadak berani. Bu Alfira yang ketakutan, langsung menghamburkan diri ke pelukanku. Aku bahagia bisa menenangkan dan memeluknya. Berharap ada secercah harapan untuk bisa memilikinya, tapi apakah bisa dan kapan?
Mendadak diri ini kehilangan semangat, mengingat papa juga terlihat sangat mencintai Bu Alfira. Seketika aku jadi teringat lirik lagu dari 'the Virgin'
'Kau kan selalu tersimpan di hatiku, meski ragamu tak dapat kumiliki ...'
Jeder! (suara petir)
Aku tersentak kaget ketika tiba-tiba suara guntur dan kilatan petir ditambah lampu yang mendadak mati membuat seisi ruangan jadi gelap.
Tunggu, sepertinya sayup-sayup aku mendengar suara Bu Alfira berteriak. Apakah ia ketakutan? Apakah aku harus ke kamarnya?
Aku berpikir sejenak. Baiklah, sepertinya harus.
Mengambil ponsel yang tergeletak tepat di samping kananku, menyalakan flash di ponsel. Setelah itu, aku bergegas pergi ke lantai bawah.
Mengarahkan sorot sinar lampu senter ponselku ke segala arah. Membuka pintu perlahan dan tidak lama kemudian aku melihatnya. Dia sedang meringkuk di balik selimut.
Mengendap-endap aku berjalan ke arah tempat tidur lalu duduk di tepi ranjang.
"Ibu, tidak apa-apa?"
Mendengar suaraku Bu Alfira langsung membuka selimutnya, terkesiap lantas menoleh padaku dengan ekspresi keterkejutan sekaligus rasa lega. "Andrian?"
"Iya, Andrian di sini."
"Sejak kapan kamu masuk? Ibu nggak nyadar kalau kamu ada di kamar?" tanya Bu Alfira merubah posisinya jadi duduk.
"Barusan, cuman mau mastiin kalau Ibu baik-baik saja," kataku tersenyum, kuharap dia bisa melihatnya walaupun kondisi gelap dan hanya diterangi oleh lampu senter ponsel yang ku sorotkan ke sembarang tempat.
"Maaf Andrian main masuk aja, nggak ketuk pintu dulu." Aku merasa tak sopan sekaligus tak enak hati.
"Nggak apa-apa." Bu Alfira menatapku intens dengan senyum singkatnya.
Tubuhku menegang, pipi memanas, dan jantungku memompa lebih cepat dari biasanya. Mengapa? Karena Bu Alfira dengan cepatnya mendekat lalu menghamburkan diri ke dalam dekapanku. Ada sesuatu yang menari-nari di perut seperti sayap kupu-kupu.
"Ibu takut banget, Andrian ..."
Bu Alfria membenamkan wajahnya di ceruk leherku. Dapat kurasakan helaan napas hangat yang tak beraturan menerpa, membuat hati ini bergemuruh. Aku mendadak bisu!
Dengan lembut aku mengelus-elus punggungnya menenangkan.
"Kamu bisa temenin Ibu dulu, kan malam ini? Ibu takut gelap dan petir," ucapnya pelan. Ada rasa bahagia sekaligus canggung secara bersamaan. Bagaimana bisa aku yang notabenenya remaja laki-laki bisa berlama-lama dengan ibu tiri dalam satu kamar yang sama? Bukankah itu sangat tabu?
Namun, tidak tega juga diri ini membiarkannya sendirian. Baiklah, demi Bu Alfira apa saja aku turuti.
"I--ya ... Andrian te--temenin ko. Ibu jangan takut lagi, ya." Entah mengapa aku mendadak gagap.
"Thanks ya, Ndri."
"Hmm."
***
Lima belas menit berlalu, Bu Alfira belum beranjak dari dekapanku. Sebentar aku menunduk memandang wajahnya rupanya ia sudah tertidur lelap. Helaan napasnya mulai teratur.
Memandang kembali wajah cantik itu yang kini sangat dekat denganku rasanya membuat hati ini bersiul senang. Mataku tak dapat terpejam karena tak henti-hentinya jantung ini berdebar, bak irama gendang dangdut.
Jujur, aku menyukai situasi ini. Aku bisa memeluknya, memperhatikan dan memandang wajahnya yang memesona. Meskipun dalam pencahayaan yang minim, tapi wajahnya memancarkan keindahan dan itu membuatku tidak bisa lepas memandangnya.
Bisakah terus seperti ini?
Lama dalam posisi seperti ini membuatku sedikit pegal. Ingin beranjak tapi tak tega sekaligus tidak enak hati jadi dengan rela aku biarkan saja soalnya aku tidak ingin Bu Alfira terbangun dan disisi lain aku bahagia bisa melindunginya, memberikan ketenangan untuknya.
Entah dorongan dari mana tiba-tiba tanganku gatal ingin mengelus pipi halus itu penuh sayang.
"Ibu ko cantik banget, sih? Sepertinya aku harus berterima kasih pada Tuhan karena telah menciptakan makhluk secantik dirimu," gumamku dibarengi senyum lebar.
Mata ini rasanya tak mau beralih dari menatap wajahnya. Rupa cantik Bu Alfira seolah mengunci kedua netraku agar tak beralih memandang yang lain.
"Ibu itu sangat menarik, tidak hanya cantik fisik tapi juga cantik hati. Ibu orangnya lembut, ramah, murah senyum, sopan dan santun. Ibu juga sangat dewasa dan bijaksana. Ibu juga cerdas dan mandiri. Aku suka semuanya dari Ibu, apalagi senyummu itu. Seandainya Ibu tahu, kalau aku sudah lama memendam perasaan ini padamu. Entahkah, hanya saja tidak ada wanita selain kamu yang mengalihkan duniaku. Bolehkah Aku mencintaimu lebih dari ibu dan anak?"
Mulutku dengan lancarnya mengungkapkan segala isi dalam hati yang selama ini terpendam. Jika Bu Alfira masih tersadar mana berani aku mengungkapkan, mengingat wanita di pelukanku ini istri papa.
Dia adalah ibu pengganti yang tak kuharapkan untuk menjadi ibu tiriku.