
Sudah satu malam Siska menginap di rumah Andrian, dan di malam yang kedua ini tidak ada keberadaan Reza di rumah itu. Otomatis hanya menyisakan mereka bertiga di sana.
Di ruang TV, mereka bertiga sedang asyik menonton film ditemani dengan cemilan yang menumpuk di meja. Sebenarnya Siska hanya ingin menonton berdua saja dengan Andrian, tapi Alfira malah ikutan nonton karena penasaran. Siska sedikit terganggu.
Film yang diputar lama kelamaan rupanya membuat Siska dan Alfira mulai ketakutan. Namun, tetap saja mereka tonton karena saking penasarannya. Sementara Andrian malah anteng sebab genre horor memang favoritnya.
"Kakak, takut ...," bisik Siska sambil memeluk lengan kanan Andrian manja. Sesekali ia membenamkan wajah di bahu Andrian.
Andrian jadi dibuat tidak enak hati dan risih sebab ada keberadaan Alfira disitu. Ia peka, takut membuat Alfira cemburu dan terluka karena kemesraan yang diberikan Siska terhadapnya."Kalau takut nggak usah ditonton," ucap Andrian menenangkan. Seraya coba melepas pengangan Siska di lengannya tapi Siska ogah lepas.
"Siska, lepas ih malu."
"Ish apaan sih? Jangan maksa lepasin ah." Siska kesal karena Andrian sedari tadi memaksa melepaskan pelukan kedua tangan Siska di lengan Andrian. "Nggak mau jauh dari Kakak. Aku, kan lagi takut," lanjutnya berbisik gusar.
Di sisi sebelah kiri Andrian, seorang wanita tengah mendengarkan samar-samar perdebatan keduanya. Dia berusaha tenang menahan rasa cemburu. Ada rasa jengah melihat tingkah gadis di sebelahnya yang manja banyak maunya.
Sebetulnya Alfirapun sama. Ia tengah dilanda ketakutan akan setan. Apalagi film tersebut sangat menyeramkan sekali. Kadang ada beberapa adegan jumpscare yang membuat jantung seakan meloncat dari tempatnya.
Alfira berfikir akan sangat memalukan bila dirinya terlihat takut, sedangkan ia paling dewasa diantara keduanya. Namun, karena sudah tidak bisa ditahan, Alfira yang duduk di sebelah kiri Andrian mulai menggeserkan diri lebih dekat ke arah Andrian. Alfira butuh sandaran, sebab rasa takutnya sudah berada di puncak ubun-ubun.
Hingga detik kemudian, scene yang menampakan hantu kuntilanakpun muncul secara tiba-tiba.
"Kyaaaaaa!!" jerit Alfria dan Siska serentak sambil memejamkan kedua mata mereka.
Tanpa disadari, ternyata Siska dan Alfira memeluk Andrian secara bersamaan. Siska di sebelah kanan dan Alfira di sebelah kiri, sontak membuat Andrian kaku seketika.
Andrian yang baru tahu kalau Alfira juga takut. Lantas berkata lembut, "jangan takut, ada aku."
"Setannya serem, Kakak." Siska balas ucapan Andrian. Padahal, tujuan Andrian berkata demikian bukan padanya, melainkan pada sang ibu tiri.
Siska secara perlahan membuka mata. Menyadari kalau Alfira juga melakukan hal yang sama, ia menatap Alfira sinis. ada rasa cemburu alias tak rela. Sungguh tak tahu malu, fikir Siska.
Mendadak pembicaraan singkat Rara dan Mira saat di toilet kembali hadir terngiang. Mood Siska berubah sentimen terhadap ibu tiri kekasihnya itu. Alfira yang baru buka mata dan sadar, lekas melepaskan pelukan. Siska dan Alfira sempat saling bertatapan kemudian memalingkan pandangan mereka kembali ke layar TV.
"Kakak geser ke arah Siska cepetan," bisik Siska pada Andrian, supaya ia menggeser tempat duduknya ke arah kanan.
"Iya." Tak mau ambil pusing, Andrian patuh saja. Jangan lupakan tangan Siska yang enggan lepas bergelayut manja pada lengan Andrian.
Alfira hanya bisa terdiam dan tetap tenang, tapi di dalam lubuk hatinya ada rasa cemburu menggerayangi hati. Andrian sempat melirik ke arah Alfira, ia paham apa yang di rasakan ibu tirinya itu. Andrian merasa tidak enak dan bersalah. Namun, mahu bagaimana lagi, statusnya adalah pacar Siska yang harus ia prioritaskan.
***
Acara menonton bersamapun usai, dan malam sudah larut. Ketiganya beranjak pergi meninggalkan ruang TV menuju kamar masing-masing.
Saat Andrian akan memasuki kamarnya di lantai atas, tanpa sadar Siska mengikutinya dari belakang. Ia menahan lengan Andrian di ambang pintu, lalu menariknya keluar.
"Apa?" tanya Andrian bingung dengan tingkah Siska yang tiba-tiba memepetnya ke pojok.
Tanpa sepatah kata Siska mengalungkan lengannya di leher Andrian. Ia mulai memiringkan kepala, mengerucutkan bibir, dan memejamkan mata. Perlahan ia mulai mengikis jaraknya dengan Andrian, kemudian ...
"Andrian!" Seruan Alfira otomatis mengagetkan keduanya. Siska tersentak lalu menurunkan tangannya dari leher Andrian. Sudah sedari tadi Alfira diam-diam memantau dengan mengikuti keduanya agar tidak melakukan hal yang macam-macam.
Sebisa mungkin mereka jangan sampai berduaan, bisa gawat urusan. Benar saja, sedari tadi mengamati, rupanya gadis itu berusaha melakukan hal di luar batas, mencuri cium sang kekasih secara diam-diam. Oh tidak bisa dibiarkan.
Gelagapan, Siska langsung berjalan cepat ke kamar tamu di sebelahnya. Malu juga sebenarnya.
"****!" umpat Siska setelah masuk kamar. "Sejak kapan Bu Alfira ada di sana? Ish ganggu aja!" Ia mengerutu kesal sebab ciumannya batal.
Sedang Andrian, ia menghampiri Alfira dengan kening berkerut bingung. "Ada apa, Bu?" tanya Andrian.
Alfira memasang tampang datar. "Ikuti aku," perintah Alfira sambil berjalan meninggalkan Andrian.
"Iya."
Rupanya, Alfira mengarahkan kakinya ke kamar di antai bawah. Andrian yang mengekori Alfira ikut masuk dan Alfira bergegas mengunci pintu.
Alfira menyandar di daun pintu, melipat kedua tangan di dada. Menatap Andrian dalam. "Jangan coba-coba lakukan itu ketika ada aku," lirih Alfira sendu. "Kamu pasti tahu perasaanku. Melihat kamu dengannya berdempetan saja, membuat hatiku sakit."
"Dan itu juga yang aku rasakan ketika kamu bersama papa." Andrian menyela cepat mengungkapkan semua kecemburuan nya terhadap Reza dan Alfira.
Andrian mendekat, mengunci tubuh Alfira dengan kedua tangannya menumpu pada daun pintu. Perlahan ia mendekatkan wajahnya. "Begitupun diriku. Ia hanya pelarian untuk melupakanmu, dan rupanya gagal," bisik Andrian di telinga Alfira sontak membuat tubuh Alfira menegang. Jantung keduanya berdegub heboh di dalam.
Meski gugup, tetapi Alfira bersikap tenang. "Lantas, kenapa kamu nggak mutusin dia aja? Kasihan cintanya bertepuk sebelah tangan." Ada rasa iba pada Siska. Namun, Alfira tak mau tinggi hati merasa dirinya di atas awan.
"Entahlah, aku lagi bingung."
Ditengah tengah atmosfer panas dan tegang, Alfira terkekeh. "dasar kamu."
Memandang Alfira sedekat ini, membuat Andrian terkesima dan terpesona. Wajah cantik berlesung pipi itu berhasil membuatnya jatuh hati selama dua tahun lebih. Alfira seolah mengalihkan dunia Andrian dari wanita lain.
Tatapan keduanya berlangsung intens, tanpa sadar mereka terhanyut dalam buaian cinta terlarang. Ada sesuatu yang menggelitik perut masing-masing. Desiran aneh kerap menjalar tatkala dengan perlahan Andrian memiringkan kepala, mengikis jarak di antara keduanya.
"Bolehkah?" Andrian berharap ia dapat merasakan kembali kehangatan bibir Alfira.
Melalui mata saja, Alfira dapat membaca apa yang Andrian inginkan. Namun, ia malah membuang tatapan. "Pergilah ke kamarmu. Lalu tidur," ucap Alfira mengalihkan topik.
"Nggak boleh ya? Ya udah." Andrian memundurkan wajahnya. Kedua lengannya tak lagi mengunci Alfira, tapi ia masukan sebelah tangannya ke dalam kantong celana.
Alfira menggeser posisinya yang semula menyandar pada daun pintu, mempersilakan Andrian untuk keluar. Namun, ketika Andrian hendak membuka pintu, Alfira menahannya.
"Ada sesuatu yang kamu lupakan."
Dahi Andrian mengerut bingung. "Apa?"
Cup!
Sebuah kecupan singkat di pipi Andrian mendarat dengan sempurna. Terbelalak sekaligus menganga, Andrian dibuat speechless. Wajahnya memerah bak kepiting rebus.
"Sebuah ciuman dariku," kata Alfira dengan senyuman manis tak kalah wajahnya pun merona. "Good night, semoga mimpi indah," lanjutnya sambil mendorong Andrian yang melongo keluar kamar. Pintu pun tertutup.
Senangnya dalam hati, batin Andrian bersiul gembira seraya melangkahkan kaki kembali ke kamar.
***
Di pagi hari, Siska, Alfira dan Andrian tengah asyik menyantap makanan yang terhidang di meja makan.
"Aaaa, Sayang ...." Siska menyodorkan satu sendok nasi goreng ke mulut Andrian, dengan ragu Andrian terpaksa melahapnya.
"Sekarang giliran Kakak, suapin Siska!"
"A--pa?" Andrian tergagap. Ada-ada saya permintaan aneh sang pacar.
Siska menekuk mukanya kecewa. "Kenapa? Nggak mau?"
"Ish, malu tahu!"
"Nggak apa-apa ih kali kali biar sweet. Ayolah ...," rengek Siska sudah tak tahan ingin disuapi.
Menghela napas lelah, pada akhirnya Andrian mulai menuruti permintaan Siska. Kedua remaja itu saling menyuapi satu sama lain di hadapan Alfira yang sama-sama sedang makan di satu meja.
"Yey, makasih sayang," ucap Siska riang sambil mencubit kedua pipi Andrian gemas.
Alfira yang cukup lama memerhatikan tingkah Siska, memutar kedua bola mata jengah. Manja dan lebay sekali, cibirnya dalam hati.
Satu kecupan dari Siska tiba-tiba mendarat di sebelah pipi Andrian. Andrian terperanjak kaget. ada rasa sebal, sebab ia memikirkan perasaan Alfira di depannya.
"Uhuk!" Alfira tersendak. Pasalnya, Siska mencium pipi di posisi yang sama ketika ia mengecup Andrian tadi malam. ciuman Siska Seolah menghapus bekas kecupannya.
"Uhuk! Uhuk!"
Menyadari Alfira yang terbatuk tak henti-hentinya, Andrian mulai panik.
"I--ibu, nggak apa-apa?" tanya Andrian khawatir, dengan sigap ia mendekat ke arah tempat duduk Alfira, lalu menyerahkan segelas air mineral sambil menepuk-nepuk punggungnya.
"Ibu nggak apa-apa ko Andrian, tenang aja," ucap Alfira setelah menenggak segelas air penuh. Sebelah tangannya turut mengelus dada karena lumayan menimbulkan efek sakit juga.
Siska yang melihat gelagat Andrian dibuat tertegun. Memicingkan mata memerhatikan keduanya. Obrolan yang ia dengar dari Rara dan Mira tempo lalu tiba-tiba saja terngiang-ngiang di kepalanya.