
"Jadi, guru itu masih muda?" tanya Evelin pada Pak Willy kepala asisten rumah tangga yang berdiri tegap di sampingnya.
"Iya Nyonya, dia masih berumur 24 tahun."
"Sudah kamu cari tahu latar belakangnya?" Evelin kembali bertanya dengan pandangan yang tak teralihkan dari membaca majalah di atas sofa ruang keluarga.
"Guru honorer, kontrak mengajar empat tahun. Dia sudah mengajar selama dua tahun di Yayasan kita. Status menikah," jawab Pak Willy.
"Apa dia galak? Guru killer?"
"Tidak Nyonya. Kata sesama rekan gurunya, dia guru yang cukup lembut tidak menggunakan kekerasan dalam mengajar. Dia tergolong guru yang disukai siswa karena karakternya yang ramah."
Evelin menciutkan alis bingung, disebabkan guru yang diinginkan putrinya untuk diberhentikan dari yayasan miliknya itu tidak mempunyai riwayat yang buruk.
Evelin sempat menanyakan apa alasannya Siska menginginkan Alfira untuk di depak dari sekolah, tapi Siska selalu terdiam tidak pernah menjelaskan. Meskipun tidak mengetahui permasalahan Siska dan Alfira secara rinci, Evelin cukup paham dengan apa yang dialami Siska melalui kesedihan dan kebenciannya terhadap guru tersebut.
Berpikir sejenak, Evelin menengok ke arah Pak Willy. "Hubungi kepala sekolah lalu pecat dia," perintah Evelin mantap yang dibalas anggukan Pak Willy kemudian.
***
Alfira berjalan gontai keluar dari ruang kepala sekolah dengan perasaan campur aduk. Sedih, resah, kecewa dan heran. Pasalnya, ia diberhentikan keluar dari sekolah tanpa hormat, padahal kontraknya masih dua tahun lagi. Ia dipecat oleh pimpinan yayasan tersebut secara tidak prosedural dan tidak sesuai dengan surat perjanjian kerja. Hal Itu membuat tanda tanya besar baginya.
Seorang gadis di belakangnya tersenyum menyeringai di saat melihat Alfira berjalan lesu keluar ruangan kepsek. Hatinya bersorak puas merasakan kesenangan batin yang tak terhingga. Senang bahwa dia telah berhasil menendang wanita yang dibencinya dari sekolah.
Siska sempat berniat untuk menyebarkan kabar perselingkuhan antara anak dan ibu tiri, tapi ia urungkan. Siska masih punya rasa kasihan. Bagi Siska, dengan menendang Alfira dari sekolahnya saja itu sudah cukup, yang penting Siska tidak usah repot-repot lagi melihat muka yang membuat dirinya jijik akhir-akhir ini.
***
"Ibu dipecat."
"A--apa?!" Andrian terperanjat kaget mendengar ucapan dari Alfira. Ia menepikan laju mobilnya dan mengerem mendadak. Dari dalam mobil ia duduk terpaku seketika. Andrian menatap Alfira yang memandang ke depan dengan raut muka kecewa, sedih dan hampa.
"Tapi kenapa?!" tanya Andrian heran.
"Entah, Ibu juga nggak tau," balas Alfira lemas setelah kehilangan pekerjaannya.
Andrian mengalihkan pandangan ke depan, memegang setir kemudi dengan tangan yang gemetar. Ia yakin, pasti ini ulah Siska. Andrian tahu kalau keluarga Siska adalah pemilik yayasan tempat ia sekolah. Namun, Andrian sadar, ia tidak mungkin menyalahkan Siska atas semua ini. Ialah yang patut disalahkan. Andrian mengerti bahwa tindakan Siska adalah tanda rasa sakit dan marah atas apa yang ia perbuat dengan Alfira.
Menoleh ke samping kanan, Alfira mengernyit menyadari remaja kaki-laki itu terdiam seketika. "Andrian, kamu kenapa ko diem?"
"Maaf," lirihnya.
"Buat apa?"
"Ini semua karena salah Andrian," ucapnya bergetar sambil menunduk. Andrian mencoba menahan air mata yang akan jatuh keluar. Andrian merasa sakit, menerima kenyataan itu. Akibat cinta terlarang mereka berdua, Alfira harus kehilangan pekerjaan.
"Sudahlah, tidak masalah bagi Ibu," kata Alfira menenangkan dengan menarik sudut bibirnya ke atas seolah-olah ia tegar dan baik-baik saja.
***
Hari ini Andrian musti bersekolah tanpa kehadiran Alfira, dan itu membuatnya rapuh. Berasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Selama di sekolah, Andrian memilih diam dan murung. Malas melakukan sesuatu ataupun hanya sekadar berkumpul dengan teman-temannya. Mood sedang tidak ingin diganggu.
Tidak jauh berbedanya dengan Siska, keduanya sama-sama terdiam lesu seolah tidak ada gairah hidup. Kebetulan keduanya tengah berjalan melewati lorong kelas, Andrian menuju perpustakaan sedangkan Siska ke arah kantin.
Andrian dan Siska tampak berjalan dengan lemasnya. Tanpa mereka sadari, ternyata keduanya berpapasan satu sama lain berlawanan arah. Andrian menatap Siska datar, dan Siska langsung membuang tatapan dengan ekpresi tumpulnya ke sembarang arah.
Langkah Siska terhenti ketika tangan kiri Andrian mencekal lengan kirinya. Andrian masih menatap Siska dari samping, sementara Siska memilih membuang muka.
"Maaf," lirih Andrian dengan penuh rasa bersalah.
Siska menghempaskan tangan Andrian kasar. Menoleh cepat menatap Andrian yang berada di sampingnya. Bukan tatapan cinta yang seperti biasanya melainkan berubah jadi benci.
"Kita putus," ucap Siska datar kemudian ia melegos pergi tanpa tambahan kata. Andrian termangu dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
***
Di dalam kamar, Siska kembali meringkuk di balik selimut. Air mata yang ia tahan saat berada di sekolah, akhirnya meledak tak bisa ia kendalikan. Ia menangis tersedu, mengingat bahwa hubungannya dengan Andrian telah berakhir beberapa jam lalu. Lisannya memang mudah mengatakan 'putus' tapi hati terasa berat.
"Kyaa ... sialaan!!" Siska menjerit dalam isakan tangisnya. "Gue benci sama lo!" Mulutnya berkata demikian, tapi dalam lubuk hati berkilah lain. Siska masih mencintai Andrian. Ia tidak pernah mencintai cowok lain sedalam cintanya pada Andrian.
Memang benar apa kata pepatah, janganlah mencintai terlalu dalam karena kadang akan menimbulkan luka. Siska mencintai Andrian tanpa meminta bayaran apapun, tapi Andrian malah memberikan setumpuk air mata, hati yang hancur, dan hari-hari yang terbuang percuma.