
Dengan perasaan campur aduk antara kaget, heran dan penasaran Andrian memutuskan untuk menghampiri meja di mana ayahnya, Reza, sedang bercengkrama dengan seorang wanita. Ia melangkah perlahan, mendekati meja tersebut.
"Papa," sapa Andrian.
Reza yang tampak terkejut dan gelagapan melihat kedatangan Andrian, berusaha tersenyum dengan canggung. "Andrian? Oh, aku tidak tahu kamu akan ada di sini."
Andrian kemudian menoleh kepada wanita yang duduk di samping Reza. Wanita dengan gaun merah ketat itu tampaknya juga kaget dan sedikit tidak nyaman dengan situasi ini. Andrian mengernyit heran karena tidak mengenali wanita tersebut.
"Dia siapa?"
Reza berusaha untuk tetap tenang, meskipun dalam hati gelisah. Ia melirik wanita itu sekilas. "Oh, ini Ibu Devi, klien Papa." Reza kembali menatapnya dengan gugup. "Dev, eh Bu. Kenalkan ini anak saya, Andrian."
Perempuan bergincu merah menyala itu mengangguk kikuk, mencoba untuk tersenyum meskipun situasi ini agak canggung. Dia mengulurkan tangan. "Hallo, saya Devi, klien Mas, eh Bapak Reza. Senang bertemu denganmu."
Andrian masih agak bingung dengan kehadiran Reza dan Devi di restoran ini, tetapi dia mencoba untuk tetap sopan. Ia menyambut uluran tangan wanita itu. "Senang bertemu dengan Anda."
"Kamu sendirian saja, Andrian?" tanya Reza penasaran.
Andrian menggeleng. "Aku bareng teman, Pa. Di meja sana." Reza mengikuti arah pandangan Andrian pada meja dimana Sesilia duduk, wanita itu sama-sama menatap pada keduanya dan memberi senyum singkat.
"Kalau Papa sendiri?"
"Jadi, begini Andrian. Papa dengan Bu Devi sedang berdiskusi tentang kasusnya Bu Devi. Papa pengacara yang akan mendampinginya." Reza tersenyum kaku, begitupun wanita itu.
"Oh." Andrian manggut-manggut setelah mendengar penjelasan dari Reza.
Setelah berbicara singkat dengan Reza, Andrian memutuskan untuk pamit dan meninggalkan meja mereka. Sementara itu, Sesilia yang penasaran bertanya, "Siapa mereka?"
"Itu ayahku dan kliennya."
"Eh, benarkah?" kata Sesilia tak menyangka. Detik kemudian, ia beranjak dari kursi, menghampiri meja Reza di seberang sana tak jauh dari posisi tempatnya bersama Andrian.
Sesilia menyapa Reza ramah. "Hallo, Om."
Reza mendongak, ia ikut tersenyum. "Hallo. Apakah kamu temannya Andrian itu?"
"Iya, Om. Saya juga rekan kerjanya di kantor."
"Wah, bagus dong." Reza tersenyum senang. Ketiganya saling berjabat tangan.
"Senang kenalan sama, Om."
"Om juga. Sering-sering lah main ke rumah," ujar Reza sembari meneguk segelas air mineral di depannya. Sedangkan wanita itu sibuk berkaca, seraya mengoleskan lipstik di bibirnya. Sekilas, Sesilia memerhatikan wanita berambut pirang itu.
"Iya mungkin kapan-kapan. Saya permisi dulu, Om."
"Baiklah."
Setelah berpamitan dengan Reza, Sesilia kembali ke mejanya menghampiri Andrian yang sedari tadi mengamati interaksi keduanya dari jauh.
"Senang bisa kenal sama Papamu," kata Sesilia sembari menenggak minuman terakhirnya. "Ngomong-ngomong, apa kerjaan Papamu?"
Andrian melihat arloji bermerk rolex yang melingkar di pergelangan tangan. "Pulang?" tanyanya pada Sesilia.
"Oke." Andrian berdiri, ia mengeluarkan dompet dari saku celana. "Biar aku saja yang bayar. Aku yang mengajakmu," ucap Sesilia menahan tangan Andrian ketika ia hendak mengeluarkan lembaran uang.
"Serius?" Andrian menatapnya tak enak.
"Iya. Lain kali kamu yang terakhir aku." Sesilia nyengir, dibalas senyuman lebar dari Andrian.
Keduanya beranjak, meninggalkan restoran dan Reza yang masih asyik makan malam dengan Devi di dalam sana.
Setelah mengantar Sesilia pulang ke rumahnya, pikiran Andrian masih terganggu oleh kehadiran Reza dan Devi di restoran tadi. Ini membuatnya bertanya-tanya, bukankah papanya itu seharusnya berada di luar kota untuk beberapa hari? Mengapa sekarang dia ada di Jakarta dan bahkan makan malam dengan seorang wanita?
Andrian merenung di dalam mobilnya ketika ia mengemudikan sedan hitam itu menuju rumah. Kecurigaan dan pertanyaan mulai menghampiri. Ia merasa perlu untuk mencari tahu lebih banyak tentang situasi ini, terutama mengingat hubungan yang rumit antara dirinya, Reza, dan Alfira. Tetapi, ia juga merasa harus berhati-hati dan tidak membuat asumsi sebelum mendapatkan informasi lebih lanjut.
Sesampainya di rumah, Alfira dengan wajah sumringah membukakan pintu untuk Andrian. Setelah masuk, Andrian bertanya pada Alfira. "Apakah Papa sudah pulang ke rumah sebelumnya?"
Alfira mengernyitkan kening, ia menjawab ragu, "Nggak, Andrian. Papamu belum pulang. Kenapa?"
Andrian hanya mengangguk dan merasa aneh. Namun, ia tak mau ambil pusing dan berpikir yang macam-macam. Dia pamit pada ibu tirinya, menuju ke kamar meninggalkan Alfira yang masih bergeming sendiri di depan pintu.
Di dalam kamar, ketika Andrian hendak berganti pakaian, ia menerima panggilan dari Sesilia. "Hallo?"
"Malam," sapa Sesilia merdu di ujung sana.
"Ada apa?" Andrian penasaran. Baru juga berpisah, sekarang Sesilia sudah menghubunginya. Apakah ada hal penting? pikirnya.
"Aku cuma mau berterima kasih kamu mau nemenin aku dinner."
Andrian tertawa kecil. "Oh, kirain ada apa. Aku juga senang makan malam sama kamu."
Hening sesaat. "Oke, good night kalau gitu."
"Kamu juga, ya. Lekas tidur besok kerja."
Sesilia terkekeh. "Apa aku bakal mimpiin kamu soalnya aku udah kangen lagi." Wanita itu berkata dengan pelannya.
"Hah?" tanya Andrian dengan muka cengo. Memastikan apakah ia tak salah dengar.
"Hmm, lupakan. Anyway, have a nice dream."
"Kamu juga. " Sambungan telepon pun terputus.
Di atas ranjangnya yang nyaman, Sesilia tersenyum malu-malu setelah menutup panggilan telepon dengan Andrian. Saat itulah ia menyadari bahwa perasaannya terhadap lelaki itu semakin dalam. Sepertinya ia naksir dan benar-benar menyukai rekan kerjanya itu.
Dengan senyum bahagia di wajah, Sesilia merenung tentang pertemuan mereka yang semakin sering. Entah mengapa ia ingin dekat terus dengan Andrian. Pembawaan Andrian yang kalem dan terkadang pendiam, membuatnya jadi penasaran. Tetapi untuk saat ini, ia hanya bisa memendam.
Ada kebahagiaan yang tak terelakkan ketika malam itu ia terus-terusan berpikir tentang Andrian. "Kayaknya aku makin suka sama kamu deh," gumamnya dengan wajah merona.