
Sudah tiga hari ini Siska tak acuh pada Andrian. Setiap ia menyapa, Siska selalu melengos pergi tanpa sepatah kata. Andrian mencoba minta maaf via telepon dan WA, tapi tak kunjung diangkat ataupun dibalas, bahkan pesannya itu selalu centang satu.
Andrian merasa pusing dengan sikap Siska yang mengabaikannya. Andrian merasa bersalah tidak bisa mengerti Siska, tapi ia merasa Siska juga terlalu egois dan posesif.
Di sisi lain, sebenarnya Siska tidak tahan dan tidak tega mencampakkan Andrian. Siska memang marah, tapi ia merasa rindu, ingin dekat dan tentu saja ingin bertemu. Namun, karena terhalang ego, Siska sekuat tenaga menahan kerinduannya itu. Ia ingin agar Andrian mencoba memahaminya.
Hingga pada suatu hari, Siska sudah tidak tahan dengan kerinduannya yang membuncah. Lantas ia mendatangi rumah sang kekasih.
Alfira yang mendengar suara bel berbunyi, segera membukakan pintu. Tercengang saat mendapati ternyata Siska yang datang bertamu.
"Siang tante," sapa Siska dengan senyum manisnya.
Alfira hanya memasang wajah datar. "Tumben datang ke rumah? pasti mau ketemu Andrian, ya?"
"Iya, Ka Andrian-nya ada?"
"Dia lagi keluar, belanja di minimarket tapi bentar lagi balik ko. Ayo masuk," ajak Alfira sambil membukakan pintu lebar-lebar dan dibalas hanya anggukan kepala oleh Siska.
"Siska, pengen nunggu di kamar Ka Andrian boleh ya, Tan?"
"Ya terserah kamu. Tuh kamarnya di atas." Alfria menunjukan keberadaan kamar Andrian, dan Siska pun langsung beranjak pergi ke kamar yang dituju.
Sambil berjalan Siska bermonolog, "kok Bu Alfira agak jutek ya?" Sesaat kemudian ia mengedikkan bahu tak acuh. "Bodo amat ah nggak mikirin!"
Selang beberapa menit kemudian Andrian sampai di rumah. Ia langsung mengayunkan kaki menuju kamar. Membuka pintu, tapi ia tidak sadar rupanya ada Siska yang bersembunyi di baliknya.
Andrian tersentak setelah menyadari ada sepasang tangan seseorang yang menutupi kedua matanya dari belakang.
"I--ini siapa sih?!" Agak kaget, sambil melepaskan kedua tangan lembut itu Andrian spontan membalikan badan ke belakang.
"Surprise ...!!" seru Siska dengan muka semringahnya.
Andrian menghela napas lega, setelah tahu siapa orang yang usil itu.
"Katanya lagi ngambek?"
"Gak tega kalau ngambeknya sama Kaka," ucap Siska manja sambil mengerucutnya bibirnya.
Gemas, Adrian malah mencubit hidung mungil Siska. "Aww, ih sakit!" pekik Siska memegang ujung hidungnya. Andrian malah nyengir.
"Kok kamu imut sih?"
"Baru tau ya?" Andrian menggangguk-anggukan kepala. Matanya memandang Siska lekat. Ia merasa kalau Siska itu lebih cocok jadi adiknya ketimbang pacar.
"Ka ..."
"Hmm?"
Aah, sudah beberapa hari ini Siska tidak merasakan kehangatan pelukan Andrian yang memabukkan. Tanpa diduga Siska menghamburkan diri ke pelukan Andrian akibat rasa rindu yang tak tertahan. "Kangeeen," lirihnya manja. Andrian hanya terdiam tak bergerak.
Pintu kamar yang setengah terbuka, memungkinkan seseorang untuk mengintip ke dalam, dan tanpa disadari keduanya ternyata Alfira sedari tadi menyaksikan adegan peluk-pelukan antara Siska dan Andrian yang lengket bak permen karet. Sambil membawa nampan dengan dua gelas minuman, Alfira bergeming mematung di ambang pintu. Hatinya merasa panas, tapi kenapa?
"Ehem!" dehem Alfira memecahkan keheningan.
Menyadari kehadiran orang lain, sontak membuat kedua remaja itu menoleh ke asal suara. Terkejut, dengan reflek mereka melepaskan pelukan masing-masing.
Alfira melangkahkan kaki memasuki kamar lantas menyimpan nampan itu di meja nakas. Setelah itu tanpa sepatah kata ia melengos begitu saja.
Sikap Alfira yang tampak dingin, membuat Siska mengernyitkan dahi heran. Tidak biasanya ia melihat Alfira yang cuek dan jutek. Padahal, sosok Alfira menurut Siska di sekolah adalah guru yang ramah dan murah senyum.
"Emang Bu Alfira pendiam ya kalau di rumah?" tanya Siska pada Andrian.
***
Sudah cukup lama mereka berduaan di kamar. Merasa tidak ada pembicaraan di antara keduanya membuat Siska bosan dan jengkel, lantaran Andrian terlihat asyik main game di ponsel sambil duduk bersila di atas kasur sedari tadi, dan dirinya diabaikan.
Siska yang awalnya duduk di tepi ranjang akhirnya mendekat ke samping Andrian. Ada niat jail, Siska merebut ponsel yang berada di tangan kekasihnya dengan cepat.
Kesal dan terkejut, Andrian berseru, "Siska! hape aku balikin!"
Dengan muka tengilnya, Siska berdiri di atas kasur lalu menyembunyikan ponsel tersebut di belakang tubuhnya. "Rebut kalau bisa!" sahut Siska dengan cengiran lebar.
Tak mahu kalah, Andrian bangkit berdiri mencoba merebut kembali ponselnya. Namun, Siska malah makin menjadi dengan menghalau Andrian dan mengangkat ponsel pacarnya itu tinggi-tinggi. "Siska siniin hape aku!"
Tak menghiraukan seruan Andrian yang tampak kesal, Siska justru tertawa renyah kemudian turun dari ranjang diikuti Andrian.
Badan Andrian yang lebih tinggi dari Siska memungkinkan tangan kanannya dengan leluasa menggapai ponsel yang berada di tangan kiri gadis itu, sementara tangan kiri Andrian mengunci tangan kanan Siska ke belakang tubuhnya. Merasa kewalahan karena menghalau Andrian yang lebih tinggi dan lebih berat darinya, akhirnya badan Siskapun oleng. Andrian yang tidak bisa menyeimbangkan tubuh malah ikut terjatuh. Otomatis badan Siska tertindih tubuh Andrian.
"Aduuh, sakit!" Siska mengaduh kesakitan tertindih tubuh sang pacar. Seketika kedua mata mereka saling bertatapan. Dengan posisi seperti itu, Siska ingin memanfaatkan kesempatan, ia malah mengerucutkan bibirnya pertanda ingin dicium.
"Kiss, Ka," pinta Siska sambil memanyunkan bibir dan memejamkan mata.
"Ta--tapi ...." Andrian gugup dan tidak siap melaksanakan titah Siska.
Lagi-lagi hati Alfira dibuat panas disebabkan ketidak sengajaan mendapati pemandangan di depan mata.
"Ehem!"
Suara deheman Alfira kembali membuat kedua remaja itu terperanjat kaget. Menoleh, reflek Andrian langsung membenarkan posisinya dengan buru-buru bangkit dari tubuh Siska. Begitupun dengan Siska, terkesiap ia bangkit dari posisi telentangnya lalu mendudukan diri kikuk.
"Minumnya sudah selesai, 'kan? Ibu ambil ya," tanya Alfria sambil berjalan membawa nampan berisi gelas kosong dari atas nakas.
Langkahnya terhenti saat di depan pintu. Tanpa menoleh untuk memandang keduanya, Alfira berujar ketus, "kalau pacaran itu jangan terlalu mesra, karena setan di mana-mana!"
Setelah memberi petuah barulah ia melanjutkan langkah meninggalkan Siska dan Andrian yang masih gelagapan dan salah tingkah.
***
Prak!
"Ini apa lagi mesti ada acara pecah gelas segala?!" gerutu Alfira sambil memberengut kesal. Entah apa yang ada di benak wanita itu, tangannya mencuci gelas, tapi pikirannya kemana-mana.
Mengambil pengki dan sapu di pojok dapur, Alfira membersihkan serpihan gelas kaca tersebut dibarengi mulutnya yang mengoceh sendiri. "Mereka berduaan di kamar lama banget, lagi pada ngapain sih?!"
Mendengar gerutuan kesal sang istri, Reza yang kebetulan datang ke dapur menghampiri Alfira dengan kening yang berkerut heran. "Kenapa sih, Mah? kaya lagi kesel?"
"Gak tau! Entah kenapa hari ini mood aku mendadak jelek!" ketus Alfira yang masih sibuk mengurusi serpihan gelas pecah.
Reza mencoba memaklumi tingkah Alfira, mungkin istrinya itu sedang menstruasi, pikirnya.
***
"Andrian, sini, Nak!" seru Reza kepada anaknya. Mendengar seruan papanya, Andrian lekas menghampiri Reza dan Alfira yang tengah duduk di ruang TV.
"Ada apa, Pah?"
Sebelum mengatakan sesuatu, Reza menatap Andrian dengan senyum lebar penuh arti. Andrian yang melihat sang ayah cengengesan dibuat kebingungan.
"Kamu, akan punya adik, Andrian!"