I Love You My Step Mother

I Love You My Step Mother
Cemburu



Andrian POV


Entah dorongan dari mana aku berani menggenggam tangannya. Sekadar hanya ingin merasakan kehangatan bersentuhan dengan jemarinya.


Kadang aku tercenung. Keinginanku untuk membuang perasaan ini padanya rupanya belum berhasil. Bukannya menghilang dari hati, malah semakin erat terpatri. Ingin menghempaskan, malah semakin melekat. Rasa itu seolah tertanam dalam hati, tersimpan dalam memori.


Kami terdiam dalam kesunyian, dan tiba-tiba dia melepaskan rengkuhan tanganku. Gelagatnya salah tingkah.


"Pisang gorengnya Ibu taruh di situ, kamu makan ya." Bu Alfira tampak gugup, setelah itu ia berlalu pergi dari kamarku.


Sejenak aku tertegun. Bukan pisang goreng yang kuinginkan, melainkan kamu. Aku cuma bisa membatin tak mampu berucap. Betapa malangnya diriku, yang hanya bisa mencintai tapi tidak bisa memiliki.


***


Matahari sudah mulai sembunyi, langit tampak berwarna jingga. Sore ini di parkiran motor, tak sengaja aku melihat Rara. Ini mungkin waktu yang tepat untuk berbicara padanya prihal perlakuan Siska tempo lalu.


Kuhampiri lantas menepuk pundaknya dari belakang. Rara sedikit terlonjak saat ia membalikan badan."Ra."


Rara terbeliak melihatku."Eh, Ka Andrian. Ada apa?" tanyanya disertai senyum tipis.


"Aku ingin minta maaf atas perlakuan Siska terhadapmu," ucapku to the point.


Rara mengalihkan tatapannya dariku dan senyuman itu perlahan memudar. "Aku belum bisa memaafkannya, Ka." Wajar saja bila Rara enggan memaafkan. Perlakuan Sisma terhadapnya sangat keterlauan dan aku bisa memahami.


Menghela napas berat. Memikirkan kelakuan Siska di sekolah membuat diri ini jengah. Namun, mahu bagaimana lagi, ia adalah pacarku.


Mengulum senyum, lantas kutepuk pundaknya pelan. "Nggak apa-apa aku ngerti."


Tampak senyum tipis sekilas terpatri di wajah Rara. "Makasih, Ka. Udah memahami."


"Iya, Ra."


Tatkala sorot mata ini menghambur ke sembarang arah, dengan tak sengaja aku menangkap seseorang yang mengintip dari dalam kaca mobil. Cara dia menatap kami berdua sungguh terlihat nyalang. Seolah kami adalah mangsa yang akan diterkam oleh binatang buas.


Siska. Aku melihatnya tampak merutuk kesal dengan tatapan tajam. Aku paham apa yang ia rasakan. Siska cemburu!


Kubuang pandanganku darinya. Begitu pun dengan Rara. Sadar tengah diawasi oleh Siska, wajah Rara seketika pucat pasi. Apa ia begitu ketakutan?


"Aku pergi dulu ya Ka, sampai ketemu lagi."


Rara berlari kecil meninggalkanku, sesekali ia menengok ke arahku. Kuberikan lambaian tangan dengan arti hati-hati di jalan.


***


Malam telah larut. Namun, mata ini belum bisa terpejam. Mungkin karena perutku yang terasa lapar, sedari tadi berteriak keroncongan. Bangkit dari posisi rebahan, kemudian yurun dari ranjang. Membuka pintu lantas berjalan lunglai.


Saat melewati kamar papa, langkahku tercekat. Penasaran, aku mendekatkan telinga ke daun pintu dan sayup-sayup terdengar lenguhan dan ******* seseorang.


'Sial*n!' Aku mengumpat dalam hati. Rasa lapar ini tiba-tiba lenyap berganti dengan rasa cemburu bergelora. Andai aku tak penasaran, seharusnya aku tidak perlu mendengar suara itu. Dasar Andrian bodoh!


Aku benci! Aku benci mendengar suara itu. Dengan napas terengah-engah dan sesak di dada. Aku kembali ke kamar dengan perasaan hancur tak terkira.


***


Pagi harinya, aku mematung di depan meja makan. Dadaku kembali bergemuruh, ketika tidak sengaja kulihat 'tanda kepemilikan' membekas di lehernya. Tanda bekas semalam, bukan digigit nyamuk dan aku tahu siapa lagi pelakunya.


Membayangkan saat mereka bercumbu membuatku sakit hati. Aku terluka, aku cemburu, aku kesal dan aku muak dengan perasaan yang rumit ini.


"Andrian, ko kamu malah bengong dan berdiri terus? Cepat duduk, kita sarapan." Aku diam tak menggubris ucapan papa yang tengah duduk menatapku heran. "Andrian?" Papa mengernyit bingung dengan tingkahku yang terbengong sedari tadi, begitupun dengan Bu Alfira.


Tanpa menghiraukan papa, aku langsung melengos pergi begitu saja. Melangkah keluar membawa tas gendong dan helm yang tadi sempat aku simpan di sofa.


"Andrian! Kamu nggak sarapan, Nak?!" seru papa lantang dari dalam dan teriakannya masih bisa kudengar sampai pekarangan.


***


Alfira POV


Mataku masih terpaku menatap layar televisi. Namun, pikiran berkecamuk. Kutengok jam analog di dinding yang tergantung. Sudah pukul dua belas malam, tapi Andrian belum pulang ke rumah. Saat pagi tadi, dirinya terlihat aneh, sikap dinginnya kembali muncul. Hari ini ia juga membolos. Padahal Andrian tergolong murid teladan. Aku jadi gelisah memikirkannya.


Malam ini begitu sunyi. Kadang kala aku merasa kesepian. Tadi siang, Mas Reza mengirimiku pesan kalau ia harus keluar kota lagi mengurus kliennya. Sekarang, ia jadi semakin sibuk.


Suara seseorang menggedor pintu menyadarkanku dari lamunan. Bangkit dari sofa, kulangkahkan kaki ini ke asal suara. Setelah pintu terbuka, mataku membulat sempurna. Pasalnya, Andrian tengah berada di atas gendongan Ferdi muridku. Ia terlihat tak sadarkan diri. Apa Andrian pingsan? Atau ...


Kuangkat sebelah alisku tanda keheranan. "Apa yang terjadi dengannya?" tanyaku bingung campur khawatir.


Sebelum membalas pertanyaaku, dengan gesit Ferdi berjalan tergopoh-gopoh menuju ruang tamu lalu membaringkan Andrian di sofa. Helaan napas lelah terdengar keluar dari mulutnya.


"Andrian mabuk, Bu. Dia terlalu banyak minum," ucapan Ferdi membuatku terhenyak. Aku tidak menyangka kalau anak itu habis minum-minum. Apa Andrian punya masalah?


Berjalan mendekat, lantas aku bertanya, "Kenapa dia bisa minum sebanyak itu?"


Mengedikkan bahu, Ferdi seolah tak tahu. "Putus cinta kali Bu, hehe," balasnya terkekeh.


"Dia nggak cerita sama kamu? Atau ... Dia emang suka minum-minum?" tanyaku mengintrogasi.


"Andrian ... baru kali ini minum, Bu."


"Kamu yang ngajak dia?" Kupicingkan mata curiga seraya berkacak pinggang.


Ferdi sedikit tersentak, panik. Ia menggeleng cepat. "Ng--gak ko, Bu. Itu kemauan dia sendiri. Kalau Ferdi mah cuma nemenin dan nggak ikutan minum," jawabnya terbata.


"Bener nih? Nanti tak laporin guru BK, kalau suatu saat nanti kalian kepergok minum-minum juga!" tegasku.


"I--iya, Bu. Saya permisi dulu ya Bu sudah malam. Daah, Bu!" seru Ferdi dengan langkah seribu berlari cepat ke arah pintu setelah dapat ancaman dariku. Apa-apaan coba?! Anak SMA sudah berani minum-minuman keras! Awas saja aku tak akan tinggal diam. Generasi bangsa ini harus bersih dari hal-hal yang begituan.


Berdiri membeku menatap anak yang tengah terbaring lemas di atas sofa. Aku mendesah pelan melihat keadaannya yang sekacau ini.


"Aarrghht! Aku benci kamu sama orang lain!"


Racauan Andrian membuat keningku mengkerut bingung. Apakah ia ngelantur barusan? Ataukah mimpi? Tiba-tiba ia menjerit. Aneh.


Kucoba mendekat, dan mendudukan diri di tepi sofa berdekatan dengan dirinya. Memerhatikan wajah kusut itu lekat. Samar-samar bau alkohol menguar. Bingung. Apa yang menyebabkannya bisa mabuk seberat ini?


Andrian masih terpejam, sesaat kemudian ia bergumam, "aku sayang kamu, Al ...."


Aku termangu, bingung.


Al? Siapa Al?