
"I--iya." Andrian mendadak tergagap.
Jantungnya berdegup lebih cepat. Dia jadi deg-degan dan sedikit salah tingkah oleh sentuhan lembut dari Alfira.
Empat tahun lamanya dia tidak disentuh oleh sang ibu tiri, dan sekarang elusan lembut itu masih memberikan efek merinding dan gelenyar aneh kerap menjalar.
Ari, yang sedang bermain dengan Andrian, tiba-tiba berseru dengan antusias, "Kak Andlian, main lagi yuk!"
Alfira, yang mendengar panggilan Ari, tersenyum dan mengingatkan, "Ari, sayang, sebentar lagi kamu harus mandi."
Andrian yang sebelumnya tertegun, akhirnya tersadar dan memberi senyum singkat pada Ari, "Tentu saja, Ari, kita bisa main lagi nanti. Sekarang, ayo pergi mandi dulu, ya."
Ari mengangguk lucu dan berlari menuju rumah. "Nanti Mama nyusul, Sayang!" seru Alfira.
Beberapa saat setelah kepergian Ari, suasana kikuk melanda. Andrian dan Alfira masih terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Ada begitu banyak hal yang mereka pikirkan dan rasakan. Setelah empat tahun berpisah, kecanggungan diantara keduanya semakin kentara.
"Kenapa kamu jarang menghubungiku saat di Belanda, Andrian?" Alfira bertanya tanpa menatap anak tirinya itu. Dia memandang ke sembarang arah dengan tatapan hampa, Andrian pun demikian.
"Karena, kita sudah berjanji untuk menjaga jarak dan menghapus perasaan kita, bukan?" jawab Andrian datar.
"Tapi bukan berarti dengan memutus silaturahmi di antara kita. Ingat, aku ibu sambungmu." Andrian menghela napas berat. Dia tidak berbicara lagi. "Aku mau memandikan dulu adikmu."
Alfira berlalu meninggalkan Andrian yang masih berdiri di tempatnya. Merenung tentang semua yang telah terjadi dalam hidup mereka. Meskipun banyak pertanyaan dan ketidakpastian yang belum terjawab, terutama tentang perasaannya pada Alfira, ia berusaha untuk berdamai dan ikhlas dengan keadaan
"Apakah dia sudah tidak mencintaiku lagi?" gumamnya pada sendiri.
***
Keesokan harinya, Andrian datang ke kantor Sesilia dengan langkah mantap dengan membawa dokumen-dokumen yang diperlukan untuk melamar pekerjaan, sedangkan resume sudah dikirimkan sebelumnya. Andrian harus bersemangat untuk menghadapi proses wawancara.
Setelah tiba di kantor, Andrian segera menghubungi Sesilia dan mereka bertemu di ruang kerjanya. Sesilia menyambutnya dengan ramah dan tersenyum. "Andrian, senang melihatmu di sini. Ayo, aku antarakan kamu da nanti akan ada staf HRD, dia akan membahas lebih lanjut tentang posisi ini."
"Deg-degan," kata Andrian tersenyum kaku pada Sesilia. Wanita itu menanggapi dengan tawa.
"Santai saja. Hanya perlu lakukan interview kok," kata Sesilia sambil menggiring Andrian menuju ruang staf HRD.
Setelah sampai, Sesilia pamit meninggalkan Andrian untuk melanjutkan pekerjaannya. Dengan perasaan gugup, Andrian duduk berhadapan dengan seseorang yang merekrut karyawan baru. Pembahasan tentang detail pekerjaan, pengalaman kerja, dan harapan perusahaan terhadap calon karyawan baru turut dipaparkan. Andrian dengan percaya diri menjelaskan bagaimana dia dapat berkontribusi pada perusahaan dan mengapa dia tertarik dengan pekerjaan ini.
Staf HRD mendengar dengan penuh perhatian dan memberikan pandangan positif. Setelah diskusi yang panjang, mereka menyimpulkan pertemuan dengan harapan bahwa semuanya akan berjalan baik dalam proses rekrutmen ini.
"Nanti kami hubungi," kata wanita itu. Andrian mengangguk.
Lantas, Andrian meninggalkan kantor dengan perasaan optimis dan siap untuk menghadapi langkah-langkah berikutnya dalam upayanya untuk mendapatkan pekerjaan baru yang diinginkan.
***
Saat tengah bekerja di perusahaan Sesilia, beberapa hari setelah diterima sebagai staf keuangan, seorang rekan kerja mendekati Andrian dengan rasa ingin tahu.
Rekan kerja tersebut bertanya dengan ramah, "Hei, Mas Andrian, sejak kapan kamu mengenal Sesilia? Soalnya saya sering lihat Mas Andrian dan dia kerap mengobrol. Sepertinya udah dekat, ya."
Andrian menoleh ke samping kiri. Mendongak pada seseorang yang tengah berdiri memandangnya. "Nggak sengaja ketemu di kafe."
"Oh, begitu." Pria itu mengangguk-anggukan kepala. "Sesilia itu cewek hebat di sini. Dia selalu bantu siapa pun yang membutuhkan. Kamu beruntung berkawan dekat dengannya."
Andrian hanya menanggapi dengan senyum tipis.
"Kamu tahu nggak kalau Sesilia itu adalah calon CEO PT Indah Makmur Mandiri?"
Sebagai karyawan baru dan tidak begitu mengenal jauh Sesilia, Andrian sedikit kaget mendengar informasi itu. Dia belum mengetahui jabatan Sesilia yang sebenarnya di perusahaan tersebut. "Eh serius? Aku nggak tahu kalau Sesilia adalah calon CEO."
Lelaki berkacamata tersebut menjelaskan, "Ya, benar. Dia adalah salah satu anak pemimpin perusahaan ini, dan kabarnya, dia adalah calon yang kuat untuk menjadi CEO di masa depan. Hebat, kan? Masih muda lho." Andrian sempat berpikir mengapa lelaki ini memuji terus Sesilia? apakah dia menaruh hati pada wanita itu?
Namun, Andrian jadi semakin terkesan dengan kesuksesan Sesilia. Merasa beruntung telah mendapatkan kesempatan untuk bekerja di perusahaan yang dipimpin oleh seseorang yang begitu kompeten. Dia berharap dapat belajar banyak dari Sesilia dan berkontribusi pada kesuksesan perusahaan.
"Eh, aku balik dulu ke mejaku, ya. Sorry ganggu waktu kerjamu," ujar pria itu disertai kekehan. Andrian lagi-lagi hanya memberi senyuman ramah.
Saat jam istirahat tiba, Sesilia menghampiri ruang kerja Andrian dengan senyum mengembang di wajahnya. Beberapa karyawan yang berada di situ sibuk memerhatikan.
Sesilia bertanya, "Andrian, gimana perasaanmu bekerja di perusahaanku selama beberapa hari ini?"
Sesilia mengangguk puas, "Senang aku dengarnya. Semoga kamu semangat bekerja di sini. Jika ada yang perlu kamu tanyakan atau jika ada yang dapat aku bantu, jangan ragu kasih tahu saja."
Andrian merasa dihargai dan diakui, ia berterima kasih pada Sesilia atas dukungan dan keramahannya. Andrian berharap dapat terus berkembang dan memberikan yang terbaik dalam peran barunya di perusahaan.
Sesilia melihat jam istirahat sebagai kesempatan untuk lebih mengenal Andrian. Dengan ramah, dia mengajak Andrian pergi ke kafe dekat kantor. "Gimana kalau kita habiskan jam istirahat di kafe dekat sini?" tawarnya.
Andrian tersenyum, ada rasa senang dengan ajakan tersebut. "Ayok."
"Let's go," ujar Sesilia antusias. Andrian dan Sesilia berjalan beriringan membuat beberapa pasang mata memerhatikan mereka.
Mereka berdua pun lekas pergi ke kafe, memanfaatkan waktu istirahat untuk berbicara lebih banyak tentang pekerjaan, minat mereka, dan banyak hal lainnya. Ini adalah kesempatan yang baik bagi mereka untuk membangun kedekatan yang lebih dalam dan berbagi pengalaman mereka di perusahaan.
***
Setelah pulang bekerja, Andrian menyapa Alfira yang tengah asyik menonton televisi di ruang keluarga. Dia melihat Ari dengan riangnya bermain mobil-mobilan di atas karpet bulu.
Andrian tersenyum pada Alfira dan bertanya, "Sore. Papa belum pulang?" tanya Andrian mengernyitkan dahi.
Tanpa teralihkan dari layar televisi, Alfira menjawab, "Papamu nggak pulang dulu selama beberapa hari."
"Sibuk terus, ya?"
"Ya begitulah. Dari dulu semenjak kamu di Belanda." Detik kemudian, Alfira mengangkat pandangannya dari televisi, ia tersenyum sehingga menampakkan lesung di pipinya. "Bagaimana pekerjaanmu?"
Sejak awal mengenalnya, Andrian selalu terpesona dengan senyuman Alfira. Tidak ada yang berubah dari sang ibu tiri. Sejenak ia terpaku, mengerjap lalu menjawab kikuk, "Hari ini cukup baik. Pekerjaan baruku lumayan menantang. Aku belajar beberapa hal di kantor. Semua rekan kerja di sana juga sangat ramah."
Alfira tersenyum senang mendengar jawaban Andrian. "Bagus dong. Kamu bisa beradaptasi."
"Aku ke atas dulu mau mandi, gerah." Andrian memberi senyum singkat pada Alfira, melenggang pergi menuju kamar. Di sana, ia mandi dan berganti baju, tubuh jadi segar setelah seharian bekerja. Setelah selesai, ia merasa haus lalu turun ke dapur.
Di dapur, Andrian menemukan sebotol jus alpukat buatan Alfira yang sudah disiapkan. Andrian menuang segelas dan duduk sejenak di meja dapur, menikmati rasa segar jus itu.
Setelah selesai minum, dia pergi ke ruang tengah, tempat piano warisan dari mendiang ibunya diletakkan. Dia duduk di depannya, menatap tuts-tuts yang penuh kenangan. Lalu, dengan penuh perasaan, dia mulai memainkan melodi yang lembut dan indah, membiarkan musik mengalir begitu saja.
Bagi Andrian, bermain piano adalah cara yang baik untuk merelaksasi diri dan meresapi momen-momen tenang dalam hidupnya. Musik itu mengisi ruangan, menciptakan suasana damai di rumah mereka.
Alfira yang berada di ruang keluarga tiba-tiba teralihkan oleh suara indah piano yang mengalun dari ruang sebelah. Ia beranjak dari sofa, berjalan mendekati suara. Saat dia memasuki ruangan, tampak dipenglihatannya Andrian sedang memainkan piano dengan penuh penghayatan.
Alfira kagum dan terpikat menyaksikannya, melihat betapa mahir sang anak tiri dalam memainkan musik. Perlahan Alfira mendekat, ia berdiri di belakang punggung Andrian. Alfira dengan hati yang hangat, mendengarkan dengan seksama.
Dia merasa bangga mengenal seseorang seperti Andrian dalam hidupnya, yang dapat memberikan momen indah seperti ini. Walaupun banyak sakitnya. Dalam diam, Alfira terus menyaksikan penampilan musik yang memukau di hadapannya.
Alfira semakin terhanyut saat Andrian terus memainkan piano dengan begitu indah. Melihatnya seperti ini, dia merasa terhubung dengan Andrian secara mendalam.
Jari-jari yang menekan tuts tuts piano mendadak berhenti, kala Andrian merasakan sentuhan lembut di kedua pundaknya dari belakang. Sentuhan itu membuatnya terkejut. Ia memutar tubuh perlahan dan bertanya, "Ibu, sejak kapan ada sini?" Andrian tergeragap.
"Dari tadi," balas Alfira dengan senyum tersungging di wajah.
Hening. Sesaat mereka saling memandang, dan dalam momen itu, ada debaran yang tiba-tiba hadir di hati keduanya. Mengingatkan kembali pada momen intens saat mereka bersama dulu.
Andrian berdaham, ia memalingkan pandangan ke sembarang arah. Tak ingin menatap Alfira terlalu lama. Detak jantungnya suka menggila. Sedang Alfira salah tingkah.
"Ng ... Andrian ...."
"Ya."
"Kamu tahu nggak lagu Prancis berjudul La Vie en Rose?"
Lelaki tampan itu kembali menatap ibu tirinya. "Iya, tahu. Ibu ingin aku memainkannya?" Alfira mengangguk. Permintaan yang membuat Andrian tersenyum.
Dengan semangat, Andrian mulai memainkan lagu itu dengan penuh penghayatan, menciptakan suasana yang sangat romantis di ruangan.
Alfira terkesima menyaksikan Andrian begitu lihai memainkan lagu ini. Mereka berdua terhanyut dalam melodi yang indah. Lagu tersebut seakan mengungkapkan perasaan mereka satu sama lain, dan saat Andrian memainkannya dengan begitu lincah, Alfira merasa cinta di antara mereka yang sempat terkubur lamanya hadir kembali.
Sejenak mereka melupakan segala ketidakpastian dan masalah yang ada, hanya fokus pada saat ini, berbagi momen yang intens bersama melalui musik yang merdu.