
Flashback
Siska POV
Cuaca dingin di pagi hari ini membuatku malas mandi. Alhasil, aku hanya mencuci muka dan menggosok gigi saja. Kak Andrian sedang apa ya di kamar? Apa ia sudah bangun?
Penasaran, lantas dengan riang aku pergi ke kamarnya. Setelah aku masuk, ku dapati tempat tidurnya yang kosong acak-acakan belum dibereskan. Terdengar suara percikan air dari dalam kamar mandi. Itu pasti dirinya siapa lagi kalau bukan Kak Andrian.
Sambil menunggu Kak Andrian keluar aku berkeliling melihat seisi kamarnya. meskipun dulu aku pernah berada di sini sebelumnya, tapi aku ingin tahu kembali apa saja yang Kak Andrian punya dan sukai.
Aku mulai dari meja belajarnya. Membuka laci itu dan elihat isinya. Hanya ada kumpulan pulpen, penghapus, pensil. Ku pilah pilih tumpukan buku-buku di rak berharap ada novel di sana, tapi nihil. Hanya deretan buku LKS, buku sains, pengetahuan alam, sosial, bisnis, dan lain-lain, membosankan.
Diri ini kembali ingin tahu dan penasaran dengan laci meja nakas, ada apa di sana? Kubuka laci bagian atas, hanya ada kunci motor, kunci mobil dan ponsel. Aku mencoba memainkan ponsel Kak Andrian, namun tidak bisa disebabkan pakai kata sandi. Bikin kesal saja. Aku ini pacarnya, buat apa coba gunakan sandi-sandian segala?
Mendengus kesal, lantas aku berjongkok membuka lagi laci meja nakas yang paling bawah. Hingga pada akhirnya, tidak sengaja aku melihat sebuah kotak berada di bawah kolong ranjang. Tanganku gatal ingin menggapainya dan aku penasaran.
Meraihnya aku berhasil mengambil kotak tersebut. Meniup sedikit debu yang hinggap di sana. Membuka dan ku dapati sebuah catatan kecil. Catatan itu terlihat usang apa mungkin sudah lama? membuka lalu membacanya, rupanya catatan dua tahun yang lalu.
'Hey kau yang di sana. Saat pertama kulihat kamu, entah kenapa aku merasakan ada getaran saat melihatmu dan saat di dekatmu.
Mengapa aku selalu terdiam saat aku menatap mata indahmu? Mengapa aku selalu terpaku ketika melihat senyum manismu? Saat aku mengingatmu, pikiran ini bukan lagi milikku.
Mengagumimu dalam diam itu caraku, karena bukan kata tapi hati yang bicara.
Perasaan cinta ini sangat dalam hingga aku memilih untuk memendam.
Memperhatikanmu diam-diam, mendoakanmu setiap hari dan mencintaimu secara rahasia.'
Dahiku mengerut bingung, untuk siapa Kak Andrian menulis ini? Ada rasa sesak dan cemburu hinggap mendadak di dada.
'Perasaanku masih sama, tidak berubah. Semakin hari aku semakin mencintaimu dan mengagumimu, cinta dalam diam.
Kau tahu? Aku tak hanya mendoakanmu diam-diam, tapi juga berharap tatap kapan-kapan.
Adakah yang lebih hormat diam-diam mencintaimu, diam-diam mendoakanmu, diam-diam pula membinasakan rasamu. Semua serba diam-diam.'
Saat aku merasa jatuh cinta, terkadang ada suatu dorongan yang membuatku ingin mengungkapkan perasaan cintaku kepadamu. Namun, terasa sulit untuk mengungkapkannya. Ada perasaan malu, ragu, gelisah, bahagia yang bercampur menjadi satu. Jika tak diungkapkan, aku bingung harus berbicara apa Yang jelas, aku sangat mencintai kamu ...
Alfira Eliana Nurdin ...'
Nama wanita yang tertuang dalam tulisan indah itu, membuat rasa sesak di dada semakin menjadi. Bagai tertimpa batu besar yang membuat hatiku sakit.
"A--apa ini?" Aku terbata tidak percaya.
Gemetar aku membacanya. Rasa penasaran yang besar, mendorongku untuk kembali membuka lembaran berikutnya. Tulisan ini masih baru, sekitar satu bulan yang lalu.
'Jika cinta adalah sebuah senyuman, maka aku ingin melihat senyummu setiap pagi ketika aku membuka mata, dan betapa bahagianya aku, ketika semua itu terwujud. Ya, melihat senyummu setiap pagi adalah anugrah, melihatmu setiap hari adalah karunia dan melihatmu setiap malam adalah keniscayaan.
Aku bahagia setengah mati ketika aku tahu kau menyimpan rasa yang sama. Meskipun raga kita milik orang lain, tapi hati kita bertautan bersatu dalam ikatan yang tak terlihat ...
Aku mencintaimu Alfira, mencintai dalam cinta terlarang!'
Aku terpaku menahan perih dan sesak di dada. Hatiku hancur seketika, mengetahui kenyataan kalau selama ini Kak Andrian masih memendam rasa terhadap Bu Alfira. Sialan, hatiku rasanya bagai tergores benda tajam.
Lantas, selama ini ia menganggap aku apa? Aku mencintai Kak Andrian dengan tulus, tapi apa balasannya? Bahkan secuilpun dia tidak memberikan hatinya padaku?
Tiba-tiba aku ingat percakapan Rara ketika berada di toilet. Rupanya semua itu benar. Diam-diam mereka berselingkuh!
Berdecak kesal aku memasukan kembali buku catatan itu ke dalam kotak. Tersenyum getir membayangkan kedua manusia menjijikan itu selama ini mempermainkanku.
Jika Kak Andrian tidak mencintaiku lalu mengapa ia menerima cintaku? Apa aku hanya dijadikan pelarian? Lucu sekali bangsat! Menengadahkan kepala mencoba menahan air mata agar tidak keluar. Jangan menangis Siska, please.
"Berengsek kamu, Kak ...."
***
"Tapi Nona, anda belum makan." Seorang pelayan wanita dengan ragu membujuk anak majikannya itu.
Kesal, si gadis menghempaskan selimutnya kasar. Dia bangkit dari ranjang kemudian berdiri menghampiri kedua pelayan yang membawa nampan makanan tersebut.
Prang!
Dia melemparkan nampan makanan berisi segelas susu dan sepiring sushi kesukaanya ke lantai dengan emosi.
"Gue bilang keluar!" Dia menjerit penuh amarah sontak membuat kedua pelayan tersebut bergidik ngeri. Cantik-cantik tapi galak sekali.
"Iya baiklah, Nona." Tanpa membereskan bekas tumpahan makanan tersebut, kedua maid itu terpaksa keluar atas dorongan keras dari Siska.
Brak! Pintu tertutup rapat. Siska kembali meringsut ke tempat tidur, mengurung diri di kamar.
***
Seorang wanita dengan rok span dan blazer resmi yang baru pulang dari luar negeri berjalan menuju kamar putrinya. Terkejut karena mendengar kabar dari kepala asisten rumah tangga bahwa putri bungsunya mengurung diri di kamar.
Pasalnya, sudah dua hari gadis itu tidak masuk sekolah, belum makan apa-apa, tidak mau diganggu dan mungkin tidak mandi? Entahlah, hanya Tuhan dan dirinya yang tahu.
Perlahan wanita itu membuka pintu, mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Melewati pecahan vas bunga, melangkahi perlengkapan make up dan gelas yang pecah, tissue yang tercecer, dan baju kotor yang teronggok di lantai.
Wanita itu mendapati buah hatinya yang sedang meringkuk di bawah selimut. Dia mendekat kemudian duduk di tepi ranjang. Sayup-sayup isakan tangis terdengar.
"Fransiska, sayang?" Mendengar suara lembut itu memanggilnya, Siska membuka selimut yang menutupi seluruh badan, tapi hanya sebatas hidung. Ia menatap ibunya dengan kesedihan dan Evelin menatap putrinya lekat. Melihat wajah putrinya yang sembab, hidung memerah, rambut yang awut-awutan dan air mata yang keluar tak henti-hentinya membuat Evelin terenyuh sekaligus iba.
"Sayang, kamu kenapa ko jadi gini?" Siska tidak merespon pertanyaan sang ibu. Ia masih sesenggukan dengan air mata yang keluar.
Evelin mengelus-elus kepala putrinya penuh sayang untuk menenangkan. "Bilang sama Mamih siapa yang bikin kamu kaya gini, hmm?" Siska masih bergeming sibuk dengan tangisannya.
"Sayang sudah dong jangan nangis, Mamih jadi nggak tega lihat kamu kaya gini. Sekarang kamu makan ya, kata Pak Willy kamu belum makan apa-apa selama dua hari, kamu jangan nyiksa diri kaya gini," ucap Evelin dibarengi rasa khawatir.
Namun, Siska masih tidak menanggapi perkataan ibunya itu. Dia sedang tidak ingin berbicara.
Melihat itu, Evelin hanya bisa mendesah lelah. Ia penasaran, apa yang terjadi dengan putrinya? Mengapa jadi seperti ini? Siapa yang menyebabkannya menjadi memperihatinkan sekarang? Batinnya bertanya-tanya dengan luapan amarah.
***
Di rooftop sekolah Andrian sedang duduk menekuk lututnya sambil melamun. Ia memikirkan Siska yang sudah tiga hari tidak masuk sekolah. Dihubungipun susah, karena Siska sudah memblokir nomornya.
Andrian jadi merasa bersalah. Sekarang ia tahu penyebab Siska bisa murka saat itu. Setelah kepergian Siska dari rumah, ia mendapati sebuah kotak yang tergeletak di bawah lantai di samping ranjang. Andrian yakin, pasti Siska telah membuka dan membacanya.
Di sisi lain Andrian merasa gundah, sebab Siska sudah mengetahui semuanya, bahwa ternyata Andrian mencintai ibu tirinya sendiri. Andrian sempat berfikir, pasti Siska merasa jijik padanya. Padahal, mencintai Alfira juga bukan kehendak diri. Sebenarnya Andrian ingin membuang perasaan itu, tapi tetap tidak bisa, rasa cinta itu seolah berurat berakar dalam hati dan sukar untuk dilepaskan.
***
"Masih belum ada kabar darinya?"
"Belum, dia benar-benar marah."
Alfira mengalihkan pandangan pada jendela mobil yang terparkir, memandang jalanan dengan kendaraan ramai berlalu lalang. Sesaat ia menghembus napas panjang. Fikirannya bergelut, memikirkan seseorang telah mengetahui hubungan terlarang nya bersama Andrian. Ada rasa gelisah, tetapi ia berusaha setenang mungkin.
Pun dengan Andrian. Ia frustasi membayangkan apa jadinya bila suatu saat Siska dengan teganya menyebarkan gosip itu ke seluruh sekolah. Bisa stres Andrian lama-lama.
"Apa kita kurang ajar, Andrian?" Alfira bertanya begitu pelannya.
Andrian menoleh ke asal suara, memasang tampang datar. "Salahkan saja rasa ini. Kenapa kita bisa saling mencintai satu sama lain?"
Alfira mengalihkan pandangan menatap Andrian intens. Sebelah alisnya terangkat heran. "Kenapa kamu nggak bisa move on dari aku?"
"Nggak tau. Dulu, sejak kamu sudah menjadi milik papa aku ingin menghapus rasa ini, tapi sukar."
"Aku juga Andrian, entah mengapa aku tidak bisa mencintai papamu, tapi aku malah jatuh cinta padamu." Ungkapan dari Alfira membuat sudut bibir Andrian terangkat sekaligus tersipu.