
"Yang, jam aku bagus nggak?" tanya seorang remaja laki laki dengan riangnya pada gadis di samping yang tengah duduk melamun seraya mengunyah makanan yang terhidang di depannya. Cowok tersebut hendak memamerkan arloji mewah yang melingkar di pergelangan tangannya pada si gadis.
Gadis itu melirik sekilas. “Bagus," balasnya singkat lalu kembali menyantap makanannya di kantin.
"Ini hadiah dari Papa aku, belinya di Paris,” ujar pemuda itu bangga.
Siska hanya merespon sealakadarnya. “Oh.”
Cowok itu kemudian menatap Siska semringah. "Yang, nanti malem kita ngedate yuk," ajaknya penuh semangat.
"Hmm."
Heran dengan respon Siska yang serba singkat, eksfresi si cowok berubah bingung. “Kamu kenapa sih, Yang nggak semangat gitu kaya orang kurang makan sebulan?"
"Nggak apa-apa." Lagi lagi Siska malas menanggapi.
"Diih ... Tau ah." Kembali fokus laki-laki tersebut teralihkan pada jam barunya. Memandangi arloji mahal itu dengan senyuman kebanggaan dan kesombongan.
Akhir akhir ini Siska sering melamun dikarenakan kisah percintaannya yang sedikit tragis dan sudah sebulan Siska putus dengan Andrian. Untuk melampiaskan rasa patah hatinya, ia menjalin hubungan dengan cowok lain. Bahkan dalam kurun waktu tersebut Siska sudah berganti pacar sebanyak tiga kali.
Semenjak mengetahui kalau Siska menjomblo, banyak cowok-cowok yang mengantri. Bagaimana tidak, paras Siska yang menawan dengan wajah khas orientalnya yang mirip Natasha Wilona, kaya serta populer membuat para pemuda di sekolah mengejarnya.
Mulai dari anak pejabat, anak ekspatriat, anak pengusaha, sampai cowok yang biasa saja, bahkan laki-laki nerd pun tak luput ambil bagian. Tentu saja Siska tidak sembarangan menjadikan cowok-cowok itu untuk jadi pacarnya. Ia tipe pemilih, dan seleranya adalah pria tampan, cerdas, kaya dan populer.
Kedua bola sipitnya seketika membulat tatkala Siska tidak sengaja melihat Andrian berjalan beriringan dengan Rara menuju ke kelas. Keduanya terlihat sumringah, saling bercanda guraundan Siska penasaran tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Perlahan tapi pasti. Hati Siska mulai panas, jujur ia cemburu. Namun, kenapa? Bukankah Andrian itu hanya mantannya? Harusnya Siska sudah tidak merasakan perasaan itu lagi, bukan? Kalau pun memang seperti Itu adanya berarti Siska masih belum bisa move on, alias berpindah ke lain hati.
Padahal ia sudah berganti pacar sebanyak tiga kali, tapi perasaannya pada Andrian tetap sama. Meskipun ada kebencian terhadap laki laki itu namun entah mengapa cintanya pada Andrian masih berbekas di dalam hati.
"Babe?" Sapaan dari pacar barunya bagaikan angin lalu bagi Siska. Ia abai dan memilih tetap fokus memperhatikan sang mantan.
"Sayang?"
Siska tidak bergeming, si cowok mulai kesal.
"SISKAAAA!!"
Reflek Siska menutup kedua telinga. pasalnya, laki-laki ganteng yang berada di sisinya itu berteriak dengan suara yang memekikkan telinga. Syukurlah gendang telinga Siska tidak sampai pecah. Menoleh ke si empunya suara, siska memberangus kesal.
"Nggak usah teriak teriak bisa nggak?!"
Mendengus, si cowok berujar, "habisnya aku tuh merasa dianggurin pacar sendiri dari tadi, sungguh menyebalkan."
"Maaf, aku lagi banyak pikiran."
Mendesah lelah, Siska kembali mengabaikan kekasih barunya itu tidak mau ambil pusing Siska memilih melanjutkan kembali aktifitas melahap makanannya di meja kantin.
“Mikirin apa? Cerita dong”
“Cuman masalah kecil, ko.”
"Iya apa? Aku kan pengen tau,” desak si cowok penasaran.
“Jangan, ini masalah aku kamu nggak usah tau.” Siska membalas dengan singkat dan padat.
“Hmm, ok.” Dari pada buat mood pacar tambah runyam, mending mengalah saja tidak usah banyak nanya, pikir si cowok. “Oh iya. Sayang, entar malem ngedate, jadi, kan?" Dia mengalihkan topik ketika ingat malam ini jadwal berkencan.
“Kita batalkan saja, aku lagi nggak mood,” balas Siska sambil meneguk sebotol air mineral. Ia sudah menghabiskan makan siangnya.
“Yaah, ko nggak jadi?” Rasa kecewa kembali dirasakan pemuda itu setelah yang ketiga kalinya Siska membatalkan rencana berkencan. Mimik muka cemberut pun terpampang.
“Yang, Ayolah," rengek kekasihnya itu manja.
"Nggak mau, Beb.”
Menyerah, cowok itu mendengus kesal.
Dia menggebrak meja saking kecewanya sampai sampai sebagian pasang mata tertuju pada mereka berdua. Perdebatan apa lagi? Pikir orang-orang sekitar. "Sebenernya kamu tuh sayang nggak sih sama aku? Masa aku ajak jalan aja nggak mau?!"
Siska tidak menjawab, malas.
“Beb?!”
Disebabkan Siska bersikap tak acuh dan sibuk dengan pikirannya sendiri, cowok itu mencengkeram lengan kanan pacarnya itu sampai Siska mendesis kesakitan. Refleks Siska menyingkirkan lengannya dari cengkraman kasar sang kekasih.
“Lihat aku dong kalau aku ngomong tuh!” perintah si cowok sedikit membentak.
Emosi Siska pun tersulut. “Udah diem lu gue lagi capek tau nggak?! Mending gue pergi aja deh pusing!”
“Siska, ko kamu gitu sih sama aku?” laki laki itu mencoba menggenggam tangan Siska tapi dia tepis.
“Dah lah, tinggalin gue.”
“Maksud?” si cowok semakin dibuat heran dan kesal dengan tingkah Siska yang tak terduga. Tipe cewek moodyan, pikirnya.
“Maksudnya, kita putus. Paham, kan? Mendengar kalimat itu si pemuda pun termangu. Begitulah akhir percekcokan antara keduanya.
Bel tanda masuk kelas sudah berbunyi. Siska berdiri beranjak pergi meninggalkan pacarnya yang duduk membeku tak percaya bahwa dirinya diputuskan begitu saja.
***
"Andrian, paha Ibu pegal tau!"
"Bentar lagi ..."
Capek mengeluh sedari tadi tapi tak digubris Alfira mendengus kesal. Pasalnya, cukup lama Andrian berbaring manja di pangkuannya tanpa beranjak sedetikpun. Paha serasa kesemutan karena kepala Andrian menjadikannya bantal.
"Cepetan bangun! Nanti papa kamu pulang lihat posisi kita begini gimana coba?” seru Alfira gusar.
"Papa pulang masih lama ko, tenang aja," jawab Andrian enteng. “Aku masih pengen berlama-lama di pangkuan orang yang aku sayang. Rasanya nyaman.” sebuah senyuman bahagia terpatri di wajahnya.
Alfira menarik napas lalu menghembuskannya kasar. "Nggak. Cepetan bangun. Kalau mau tidur jangan di ruang TV. Pindah gih ke kamarmu,” perintah sang ibu tiri tapi lagi lagi tak digubris. Andrian tidak mau menanggapi, ia malah menejamkan matanya kembali melanjutkan tidur.
Lelah, Alfira kembali menyandarkan tubuh ke sofa. Ia menyerah dengan kelakuan anak tirinya itu. Untuk orang terkasih Alfira memilih mengalah, klo tidak Andrian sudah didepak dari pangkuannya. Hingga entah mengapa ia sendiri jadi merasa ngantuk, sudah tidak kuat Alfirapun memejamkan matanya sampai terlelap.
***
Reza yang baru pulang dari urusan, tengah berjalan menuju ruang tengah. Langkahnya tetiba terhenti disaat ia melihat istrinya tertidur lelap dengan posisi menyandar ke sofa.. Perlahan ia mendekat dan tertegun saat mendapati Andrian sedang berbaring manja di pangkuan Alfira. Keningnya mengernyit heran.
Reza mencoba membangunkan Alfira dengan mengoyang-goyangkan pundak istrinya itu, sehingga dengan perlahan berhasil membuatnya tersadar.
"Mah?"
Alfira mengerjapkan beberapa kali sambil mengumpulkan kesadaran. Wajah familiar di depannya berhasil membuatnya terperanjat kaget selama beberapa detik.
“Mas?”
Matanya terbelalak. Oh bagaimana ini? Pikir Alfira.