
Alfira POV
Sudah dua hari ini, semenjak Andrian dan Mas Reza tidak ada di rumah aku terpaksa pulang sendirian. Dengan kondisiku yang tidak bisa menyetir ini, Mas Reza sempat ingin mempekerjakan orang untuk jadi sopir pribadiku, karena Mas Reza merasa Andrian abai terhadapku. Akan tetapi, aku menolak, toh aku masih bisa berangkat menggunakan kendaraan umum.
Sepuluh menit berlalu, aku masih berdiri menunggu angkutan umum di gerbang sekolah ini, tapi tidak ada yang lewat satupun. Sepertinya, memesan ojek online adalah pilihan terbaik untuk saat ini.
Ku rogoh ponsel di dalam tas. Mengklik aplikasi berlogo warna hijau di layar. Ada seseorang menepuk pundakku spontan aku menoleh.
"Lho, ko Bu Alfria nggak pulang bareng sama Andrian? Apa lagi nunggu jemputan?" Suara Bu Ani, rekan sesama guru mengalihkan perhatian.
Aku memberikan senyum tipis. "Ah nggak ko, saya pulang sendiri."
"Ko pulang sendiri? Biasanya kalau saya lihat suka bareng Andrian, kalau nggak sama Andrian ya sama suaminya Ibu, " tanya wanita berkerudung kuning itu dengan dahi yang berkerut.
Aku mengalihkan pandangan kembali pada layar ponsel. "Suami saya lagi di luar kota. Kalau Andrian ... mungkin dia ada urusan," jawabku asal. Entahlah aku juga tak tahu.
"Eh, tapi tadi saya lihat dia boncengin Siska."
Reflek aku menoleh penasaran ke arahnya. "Fransiska cucuknya yang punya sekolah?"
"Iya kalau kata anak-anak yang lain sih, mereka pacaran," jelasnya.
"Oh begitu. Ibu lagi nunggu jemputan juga?" Aku mengalihkan topik.
"Iya, tumben-tumbenan nih suami datangnya lama, bukan apa-apa sih takut hujan aja, Bu. Langit sudah mendung begitu," ujarnya sambil mengelap keringat di kening, raut wajahnya tampak khawatir.
"Mungkin bentar lagi nyampe."
"Semoga aja tidak keburu hujan."
Setelah perbincangn singkat itu, kami fokus dengan gawai masing-masing. Hingga suara klakson motor mengalihkanku dari ponsel. Si pengendara berseragam hijau itu mengarahkan motornya mendekat.
"Mba Alfira, ya?" tanya abang ojol yang langsung berhenti di depanku.
"Iya." Ku simpan kembali ponselku ke dalam tas. "Bu, saya duluan ya," ucapku berpamitan dengan Bu Ani.
"Oh, hati-hati ya, Bu."
Memasang helem, naik ke atas motor. Perlahan si kuda besi melaju membelah jalanan. Namun, di tengah jalan, hujan tiba-tiba turun dengan lebatnya, mengguyur jalanan dan mengubah suasana seketika. Tetesan air jatuh dengan keras di atas helmku saat kami melaju.
"Maaf, Mba, hujannya terlalu deras. Kita harus berhenti sebentar dan mencari tempat berteduh," kata tukang ojek online dengan suara yang hampir tenggelam oleh deru hujan.
Aku mengangguk dalam keadaan yang basah kuyup. Kami berdua melihat minimarket yang terletak di seberang jalan dan tanpa ragu, kami berhenti di depannya. Tukang ojek membantuku turun dan kami berlari ke emperan minimarket untuk mencari tempat kering.
Kami duduk di sudut minimarket, berusaha melindungi diri dari hujan yang masih turun di luar sana. Aku melepas helm, tas, setengah rambut dan pakaianku basah. Air hujan mengalir deras di pelataran parkiran, menghasilkan suara yang menenangkan di tengah kekacauan. Aku merasakan tetesan air yang turun dari rambut ke leher, membuatku menggigil.
"Maaf sekali, Mba. Saya nggak nyangka hujan akan datang begitu tiba-tiba, dan saya juga nggak punya jas hujan, Mba," ucap tukang ojek online dengan nada penyesalan.
Aku tersenyum padanya, mencoba memberikan rasa pengertian. "Tidak apa-apa, Mas. Ini adalah keadaan tak terduga. Kita hanya perlu menunggu hujan mereda sebentar."
Kami duduk di sana, mengobrol dengan canggung dalam suasana minimarket yang ramai. Aku memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang dengan payung mereka, mencoba melindungi diri dari hujan. Pikiranku melayang ke rumah, membayangkan bagaimana suasana akan menjadi hangat dan nyaman ketika aku tiba di sana.
Tanpa disengaja, mataku terpaku pada sosok yang sedang berteduh di sudut minimarket. Di sanalah aku melihat Andrian, berdiri dalam diam. Hatiku berdebar keras, tak menyangka bahwa kami akan bertemu di tempat ini.
Detik kemudian Andrian menyadari kehadiranku dan tatapannya terpaku padaku, tapi aku melihat kebingungan dan kecemasan dalam matanya. Aku mencoba membaca ekspresi wajahnya, mencari jawaban atas pertanyaan yang kusimpan di hati.
Sementara itu, di dalam minimarket Siska tak menyadari kehadiranku. Ia sibuk memasukkan makanan ke dalam keranjang belanjaannya. Pandangannya tertuju pada produk-produk yang ada di depan, tanpa memperhatikan apa yang terjadi di sekitarnya. Aku merasa berdebar, tidak tahu apa yang harus kukatakan atau bagaimana harus bereaksi dalam situasi ini.
Saling pandang antara Andrian dan aku terjalin dalam diam. Matanya masih menatapku dengan kebingungan, seolah-olah ia tidak tahu bagaimana harus merespons kehadiranku. Aku bertanya-tanya mengapa ia mengabaikanku seperti ini? Apakah ada sesuatu yang salah?
Aku ingin sekali menanyakan padanya, ingin tahu apa yang terjadi, tetapi terhenti oleh pertanyaan yang menggelayut dalam benakku. Apakah dia masih belum menerima kehadiranku sebagai keluarganya? Mengapa beberapa hari ini ia tidak pulang ke rumah?
Bimbang. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku ingin mendekatinya, mengobrol sebentar tetapi keraguan membuatku urung untuk menyapanya. Aku takut menemukan kebenaran yang mungkin menyakitkan, tapi aku juga ingin memahami perasaan dan pikirannya.
Aku beranikan diri untuk menyunggingkan senyum walau kaku, namun Andrian malah membuang muka dan begitupun diriku. Aku memilih abai dan berpura-pura memerhatikan sekitar. Setelah beberapa waktu, hujan mulai reda. Tukang ojek online berdiri dan menawarkan untuk melanjutkan perjalanan.
"Tampaknya hujan sudah agak reda, Mba," ucap tukang ojol dengan ramah.
Aku beranjak, mengenakan helm kembali. Sekilas aku menoleh pada Andrian. Ia masih berdiri bergeming menatapku sendu. Perjalanan pulangku berlanjut, dengan tetes-tetes hujan yang masih jatuh dari langit.
Beberapa menit kemudian kami sampai. Aku turun dari motor, membuka pagar. Hujan yang reda meninggalkan jejak-jejak basah di sepanjang jalan. Hati dan pikiranku dipenuhi dengan keraguan. Mengapa sikap Andrian begitu dingin akhir-akhir ini? Apakah ada yang salah atau telah terjadi sesuatu yang membuatnya menjauh dariku?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala, menciptakan kecemasan yang semakin dalam. Aku merindukan kehangatan dan keramahannya seperti dulu. Namun, jarak antara kami terasa semakin jauh. Aku berharap bisa menemukan jawaban dan mengatasi kesalahpahaman ini.
Dengan langkah yang cepat, aku membuka pintu rumah. Tiba-tiba kepala mendadak pusing. Badanku meriang dan mual. Mungkin karena hujan yang turun mendadak dan perut kosong saat pulang dari mengajar tadi membuat imunitas tubuhku jadi lemah. kehujanan sebentar saja langsung masuk angin, heran.
Aku meletakkan tas basah di meja. Belum sempat ganti baju, aku memilih merebahkan badan di sofa, guna beristirahat sebentar. Lemas sekali rasanya. Mataku turut menyisir sekeliling. Terdengar suara dentingan jam dinding. Rumah besar ini semakin hening saja. Hanya aku seorang penghuninya.
Bi Narsih sudah pulang. Ia adalah pekerja paruh waktu. Tugasnya hanya membersihkan rumah dan menyiapkan makan di siang hari, setelah itu pergi. Entah mengapa penglihatanku jadi berputar-putar. Kepalaku rasanya pening dan berat.
Bangkit dari sofa, aku memaksakan diri untuk melangkah, berniat mengganti pakaian. Namun, kedua kaki ini terasa lemah. Seperti tidak kuasa menopang tubuh yang lemas. Pandangan pun menjadi buran, mendadak aku jadi oleng. Seketika pandanganku gelap. Setelah itu aku tidak sadarkan diri ambruk ke lantai.
***
Andrian POV
Senja ini, aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Papa terus saja menghubungiku, ujung-unjungnya mengomel minta aku pulang. Katanya papa sudah dua hari ini berada di luar kota.
Ia memintaku untuk menemani Bu Alfira. Papa takut terjadi apa-apa pada istri tercintanya. Ralat, seharusnya ia jadi istriku. Ah sudahlah, memikirkan itu makin hatiku hancur saja.
Aku jadi teringat dan tak enak hati karena telah mengabaikan Bu Alfira saat tak sengaja bertemu di minimarket tadi. Tatapan kebingungan yang terpancar dari wajahnya masih menghantuiku. Aku menyadari bahwa sikapku mungkin telah menyakiti perasaannya, dan itu tidak adil baginya.
Saat melihatnya, aku termangu. Tidak tahu bagaimana harus merespons kehadirannya dengan baik. Aku tidak ingin menyakiti Bu Alfira, tapi aku juga tidak tahu apa yang harus kulakukan atau katakan dalam situasi tersebut.
Tatapanku yang nanar mungkin telah membuatnya bertanya-tanya, dan aku merasa bersalah atas ketidakjelasan yang aku ciptakan. Aku berharap ia sadar bahwa aku sedang bingung, bukan karena mengabaikannya dengan sengaja.
Aku tahu bahwa Bu Alfira adalah sosok yang baik dan perhatian. Ia hadir dengan memberikan kebahagiaan sebagai guru sehingga hari-hariku saat di sekolah kian berwarna. Aku merasa bersalah telah membiarkan kebingungan dan rasa cemburuku menghancurkan hubungan kami.
Setelah mengantarkan Siska ke rumahnya, aku segera berpamitan pada Doni dan neneknya. Mengucapkan terimakasih selama lima hari ini aku diterima dengan baik. Neneknya meminta aku untuk selalu datang mengunjungi. Dia sudah menganggapku cucuknya sendiri.
Aku memacu motorku di sore hari, menembus lalu lintas yang padat menuju rumah. Ketika aku sampai di depan garasi, kebingungan menyelimuti pikiran. Hari sudah petang, tapi rumah tampak gelap luar dalam. Lampu teras rumah mati belum dinyalakan. Apakah tidak orang?
Turun dari motor, melepas helm. Aku mematikan mesin dengan hati yang berdebar. Ku kira dikunci, ternyata tidak. Setelah masuk, aku mengedarkan pandang ke seluruh ruangan yang gelap. Berjalan menuju saklar lampu.
Terbelalak aku terkejut ketika melihat siluet tubuh seseorang terkapar di atas lantai ruang tamu. Bu Alfira tergeletak pingsan, dengan baju basah bekas hujan menempel di tubuhnya.
"B--bu Alfira!"
Tanpa ragu, aku berlari mendekat dan memeriksa keadaannya. Wajahnya pucat dan napasnya terengah-engah. Panik dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Bu Al! Ada apa denganmu?" seruku dengan suara gemetar, mencoba membangunkannya.
Tidak ada respons dari Bu Alfira. Hatiku berdesir dalam kekhawatiran yang mendalam. Aku mengambil ponsel dan menelepon nomor dokter langganan papa dengan jasa datang langsung ke rumah. Aku menjelaskan situasinya dengan tergesa-gesa, mencoba memberikan detail sejelas mungkin.
Aku membopong Bu Alfira ke dalam kamar, membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Segera ku ambil handuk. Aku memutuskan mengganti pakaian basah Bu Alfira. Ada rasa malu, jadi ku putuskan menyelimutinya dengan handuk ketika aku menanggalkan pakaian itu.
Dengan gugup, aku mengalihkan tatapan ke sembarang arah agar mataku tetap fokus agar jangan sampai melihat tubuh polosnya. Kaos dan celana kering sudah terpasang, aku menarik selimut tebal untuk menghangatkan.
Aku mendudukkan diri di sisi ranjang, menggenggam tangannya erat. Berdoa dalam hati, berharap agar ia segera sadarkan diri. Pikiranku berkecamuk dengan pertanyaan tentang apa yang bisa menyebabkan keadaannya seperti ini. Apakah dia jatuh atau mungkin ada masalah kesehatan yang lain?
Aku merasa tidak sabar menunggu bantuan tiba. Sementara itu, aku berusaha tenang dan tetap di samping Bu Alfira, memberinya kenyamanan dan kehangatan. Waktu terasa berjalan dengan lambat.
Akhirnya, dokter tiba dengan cepat dan segera mengambil alih situasi. Dokter botak itu memeriksa Bu Alfira dan memberikan perawatan yang diperlukan. Aku memberikan informasi yang dia perlukan sebisa mungkin, mencoba menjelaskan apa yang aku tahu.
"Ini resep obatnya. Nanti kalau Bu Alfira sadar, suruh makan terus minum obat. Insya Allah demamnya mereda," ujar dokter sambil menulis resep obat.
"Terimakasih, Dok atas bantuannya."
Dokter mengangguk, kemudian dia undur diri setelah aku membayar total tagihannya. Mengacak rambut kesal, merutuki kebodohan. Jika tahu akan seperti ini, tidak seharusnya aku meninggalkan Bu Alfira sendirian.
"Maafkan aku Bu Al," gumamku penuh penyesalan.