I Love You My Step Mother

I Love You My Step Mother
Getaran Aneh



Minggu pagi yang mendung di rumah yang sepi. Setelah bangun tidur yang aku lakukan hanya rebahan manja di kasur. Untung libur, jadi suasananya pas untuk bermalas-malasan. Akan tetapi, bosan juga kalau tenyata diam tanpa melakukan aktifitas apapun di rumah.


Perut mulai memanggil untuk minta diisi tapi aku belum menyiapkan sarapan. Biasa, penyakit malas sedang melanda.


Dengan ogah-ogahan aku bangun dari pembaringan. Aku jadi ingat Andrian. Apakan ia sudah bangun?


Tadi malam Andrian mabuk dan tidur di sofa. Apakah ia masih di sana?Aku harus memeriksa keadaannya.


Mengayunkan kaki malas ke ruang tengah. Sofa itu tampak kosong, berarti ia sudah pindah ke kamar. Sebaiknya aku tidak usah mengganggunya dulu. Lebih baik aku bikin sarapan, karena perutku sudah keroncongan.


***


Setelah selesai menyiapkan makanan, seorang remaja berjalan sedikit sempoyongan menuju kulkas. Membukanya lantas meneguk sebotol air.


"Masih pusing?" tanyaku seraya mendudukan diri di kursi makan.


Andrian menoleh ke arahku, dan mengangguk pelan. Bola matanya tampak sedikit memerah. Maklum, namanya juga habis minum.


"Kenapa kamu mabuk-mabukan, Dri? Ibu tahu dari Ferdi yang mengantarkanmu ke sini. Apakah kamu punya masalah?" cerocosku sembari melahap makanan.


Andrian terdiam menatapku. Ia masih bergeming di dekat kulkas dengan botol yang digenggamnya.


"Ibu ... pernah merasakan tidak yang namanya patah hati?" Mengapa tiba-tiba ia menanyakan hal macam begitu? Oh, apa jangan-jangan Siska telah menyakitinya?


"Kamu lagi patah hati?" Aku bertanya balik tanpa menjawab pertanyaannya. Buat apa coba? Tidak perlu dijawab. Aku sudah pernah nerasakan itu di masa lalu dan sangat memalukan jika diceritakan.


"Bisa dibilang seperti itu," katanya menunduk lesu.


"Cewek masik banyak di dunia ini. Jangan terlalu meratapi satu orang cewek yang sudah menyakitimu nyampe kehilangan akal terus minum-minum segala," ujarku lembut sembari menyuapi satu sedok nasgor ke mulut. Hmm, enak. "Kenapa Siska khianatin kamu?" lanjutku kemudian.


"Bukan Siska." Andrian menyela cepat seraya menatapku sendu.


Alisku bertaut bingung. Jika bukan Siska lalu siapa? Apakah ia punya wanita lain?


"Lalu siapa?"


"Kamu."


Hening sejenak. Aku termangu. Bibirku mendadak kelu. Apakah itu  hanya sekadar asal nyeplos? Aku yakin Andrian bergurau. Maklum, habis mabuk.


Suara tawa hambar terdengar menggema di ruangan. "Haha ... kamu canda ya, Dri?"


Sesaat ia bergeming. Tatapannya begitu intens terhadapku. "Iya, Andrian bercanda."


Kakinya terayun melangkah mendekat, dan diam di samping kiri memerhatikanku.


"Ada apa?" tanyaku bingung.


Tanpa kata yang terucap, Andrian merapikan helaian rambut yang menutupi wajahku, dengan lembut menyelipkan rambut halus ini di balik telingaku. Aku jadi speechless dibuatnya. Sesudah itu, ia pergi.


'Aku sayang kamu, Al ...'


Deg! Mengapa tiba-tiba kalimat itu jadi terngiang di pikiran? Kalimat yang dia ucapkan tadi malam, saat dirinya sedang mabuk.


Al. Bukankah agak mirip sama nama depanku ya? Kugeleng-gelengkan kepala menepis perasangka.


Tidak! Itu pasti orang lain! Mungkin nama depannya sama denganku. Lucu saja manamungkin itu  diriku. Aku tersenyum geli sendirian. Dari pada memikirkan hal yang tidak-tidak lebih baik aku segera mandi, setelah itu pergi ke mall berbelanja kebutuhan sepuasku.


***


Aku hanya bisa berdiri mematung di pintu utama plaza. Ketika hendak pulang, cuaca mendadak hujan. Aku jadi gelagapan, mana tidak bawa payung lagi.


Bagaimana aku bisa memberhentikan taksi atau bis jika keadaannya hujan seperti ini? Aku paling malas  basah-basahan, apalagi bawa barang belanjaan.


Oh iya. Kuhubungi Andrian saja deh agar dirinya mau menjemputku. Kurogoh ponsel di dalam tas selempangku. Ajaibnya, ia sudah kirim pesan duluan, sungguh kebetulan.


[Ibu di mana?] 12:05


[Masih di mall, mau pulang hujan.] 12:07 sent


[Andrian jemput ya] 12:08


Bernapas lega, akhirnya ia paham juga tanpa perlu diminta. Hmm, cowok yang peka.


[Emang kamu gak keberatan?] 12:09 sent


[Nggak. Ibu di mall mana?] 12:09


Setelah itu, tidak ada balasan lagi darinya. Kembali kusimpan ponsel di dalam tas. Menunggu kedatangannya.


Hanya butuh waktu sepuluh menit, akhirnya Andrian tiba. Sepertinya Andrian ngebut, cepat sekali sampainya.


***


Di tengah perjalanan mobil laju mendadak berhenti.


"Kenapa, Dri?" tanyaku heran.


"Sepertinya mogok." Andrian berusaha terus-menerus menyalakan starter mobil. Namun, nihil tak ada suara deruan.


"Kita nunggu aja ya, Bu. Biar nanti Andrian hubungi montir buat benerin mobilnya." Aku mengangguk.


Cukup lama kami menunggu montir tersebut, tapi belum kunjung datang. Hujan masih turun dengan deras dan kami sudah bosan nunggu lama di dalam mobil. Aku yang hanya mengenakan kemeja putih lengan panjang tipis dan celana jeans mulai menggigil kedinginan.


"Ini."


Aku tercengang. Andrian menyampirkan jaket army-nya di tubuhku. Mungkin ia memerhatikanku yang sedari tadi memeluk diri sendiri.


Kutatap matanya penuh keheranan. "Kenapa kamu pakein ke Ibu? Kamu sendiri gimana?"


Senyuman tersungging di wajahnya. "Yang penting Ibu tidak kedinginan." Astaga, aku jadi tersentuh atas perhatiannya. Tak kusangka, Andrian anak yang berbakti pada orangtua.


Jeddar!


"Aarrghht!" Kilatan cahaya petir membuatku tersentak kaget dan takut. Reflek kututup mata. Aku punya phobia terhadap petir. Mengapa musti ada petir sih? Udah tau aku takut petir! Aku menggerutuku dalam hati.


"Jangan takut ada aku."


Suara Andrian menyadarkanku. Spontan kubuka mata, dan aku baru sadar ternyata aku tengah berada dipangkuannya! Apa-apaan diriku?! Aku membelalakan mata.


Kedua tanggan ini melingkar di lehernya dan kedua lengannya melingkar di pingganggu. Aroma wangi parfum maskulin khas pria merebak di indra penciumanku. Namun, kalau dirasa-rasa, memeluk dan berdekatan dengannya membuat diri ini nyaman.


Sejenak aku dan Andrian saling tatap. Mata elang itu terlihat teduh, aku bahkan hampir terbuai. Mengapa jantungku mendadak berdetak kencang?


Stop! Alfira segeralah lepaskan pelukanmu dan lekas turun dari pangkuannya! Betapa memalukannya diriku!


Buru-buru kulepaskan diri ini dan menjauh darinya kembali ke tempat dudukku. "M--maaf Dri, Ibu nggak sengaja," kataku salah tingkah sembari memalingkan pandangan ini ke kaca jendela.


"Nggak masalah ko."


Gugup, canggung dan salah tingkah, itulah kondisiku sekarang! Wajahku tiba-tiba memanas.


Hening. Sekilas kulirik ke arahnya.


Andrian terdiam fokus menatap ke depan. Ada semburat merah di pipinya, dan sesekali samar-samar bibirnya melengkung menyembunyikan senyum. Apakah ia menertawakan tindakan konyolku?


Aku jadi maluuuu ...!


***


"Bu Al, mau ke kantin bareng nggak?" Suara Bu Ani mengagetkanku dari lamunan, sontak kupandang Bu Ani yang berdiri di samping kanan.


"Bu Ani duluan saja nanti saya nyusul."


"Oh, ya sudah. Lagi mikirin apa sih dari tadi melamun terus? Apa lagi mikirin paksu tercinta, ya?" Bu Ani cengar-cengir dengan tatapan jailnya.


Aku hanya menanggapi dengan senyuman.


"Ya sudah. Saya duluan ya, Bu," pamit Bu Ani sembari berlalu dari hadapanku.


Kembali aku terpakur. Menopang dagu dengan kedua tangan atas meja. Sebetulnya tebakan Bu Ani ada benarnya. Aku memang sedang memikirkan seseorang, tapi bukan Mas Reza melainkan malah Andrian.


Kemarin siang kala insiden memalukan di mobil tersebut, kelebat bayang Andrian terus saja hinggap di otakku. Dirinya mengusik pikiran ini. Heran, mengapa wajahnya terus terbayang-bayang?


Sudahlah. Lebih baik aku pergi ke kantin saja. Bangkit berdiri, kulangkahkan kaki ini keluar ruangan guru. Langkahku tercekat di balik pintu. Dari kejauhan kulihat Andrian dan Siska berjalan beriringan saling bergandengan tangan.


Siska. Gadis itu seperti tidak bisa melepaskan Andrian. Kuperhatikan, tangannya terus saja bergelayut manja di lengan Andrian. Sesekali menyandarkan kepala di bahu sang pacar. Kadang merangkul Andrian mesra.


Dasar anak remaja! Masih sempat-sempatnya mesra-mesraan di koridor sekolah. Akan tetapi, disaat aku melihat pemandangan itu membuatku seperti tidak rela.


Tunggu!


Jangan katakan kalau ini adalah rasa CEMBURU?! Kugaruk kepala yang tak gatal. Mengapa aku merasa cemburu?