I Love You My Step Mother

I Love You My Step Mother
Tumbuh Benih Cinta Terlarang



"Haduh gawat! bentar lagi UAS mana gue jarang belajar lagi." Ferdy menggerutu tak karuan sambil menepak jidatnya sendiri.


"Sama, gue juga belum ada persiapan tuh," cetus Doni di sebelahku.


Saat ini kami bertiga sedang berjalan di koridor sekolah. Bukan kaki saja yang bergerak, tapi mulut juga. Topik obrolannyapun beragam, kadang membicarakan pacar, hobi, dan satu lagi adalah bahan gibahan juga tak luput diperbincangkan. Jangan kalian pikir, cewek saja yang suka bergibah, lelaki pun sama.


"Si Andrian mah enak lah, bisa minta bantuan sama mama tirinya, lah kita gimana?" seru Ferdy tiba-tiba, membuatku menoleh padanya heran. Meski demikian, aku jarang meminta bantuan Bu Alfira untuk membantuku belajar di rumah. Meski kadang Bu Alfira menawarkan sendiri tapi aku merasa canggung.


"Tenang ... tinggal nyontek aja ke si Andrian. Dia kan pinter," cetus Doni dengan senyum menyeringainya, ia juga menyenggol-nyenggol lenganku.


Memutar bola mata, malas menanggapi ocehan mereka. Sudah tahu  sebentar lagi ujian kenaikan kelas, tapi mereka malah leha-leha. Ujung-ujungnya mengandalkan diriku, membuat jengah saja. Bodo amat! Aku tidak akan beri jawabannya, biarkan aja mereka berusaha sendiri!


"Eh Dri, gimana huhungan lo sama Bu Alfria? Dia baik nggak selama jadi mama tiri lo?" tanya Doni.


"Ya, baik." Aku menjawab sekenanya.


"Enak ya papanya Andrian, bisa dapet bini muda. Ups," celetuk Ferdy yang entah mengapa otomatis membuatku jadi kesal dan panas hati, Doni malah cekikikan.


"Eh tuh Fer, yang diomongin ternyata ada di depan mata," seru Doni sambil menunjukan arah depan dengan dagunya, spontan aku langsung menoleh. Ternyata memang benar itu Bu Alfira, ia berjalan ke arah kami.


Semakin dekat ia berjalan menuju ke arahku, tapi aku bingung, antara mau menyapa atau tidak.


Bu Al menatapku sebentar. Setelah itu, tanpa sepatah kata tiba-tiba saja ia meringsut ke bawah lalu berjongkok di depan kakiku. Ternyata ia membetulkan tali sepatu kananku yang lepas. Setelah tali itu saling bertautan, ia pun berlalu pergi membuatku langsung termangu. Doni dan Ferdy malah melongo.


"Widih ... perhatian juga ya mama tiri lo," ucap Ferdy si nyebelin.


"Berasa kaya ibu kandung ya." Doni menggeleng takjub atas perlakuan Bu Al terhadapku.


"Jangankan ibu tiri, ibu kandug gue aja kagak perhatian macam gitu, sampe benerin tali sepatu segala, kecuali kalau gue masih kecil. Kalau udah gede mah yang ada gue sering diomelin ma nyokap gue yang bawel," ujar Ferdy sambil manyun sebal.


Aku masih bergeming tanpa sepatah kata. Malas menyaut perkataan mereka. Namun, dibalik itu hatiku berbunga, ada rasa bahagia mendapatkan perhatian Bu Al barusan, walaupun itu hal kecil.


***


Alfira POV


"Yuk, masuk Al." Sambil membuka pintu lebar-lebar, Widi mempersilakanku masuk ke apartemennya. Berjalan cepat menuju sofa langsung saja kuhempaskan tubuh ini ke atasnya. Lelah.


"Bentar ya aku ambilin minum dulu, Al," ucap Widi seraya bergegas ke dapur.


Tidak butuh waktu lama, Widi kembali dengan membawa kedua gelas jus jeruk. Di meja juga telah disediakan beberapa camilan, buah-buahan dan tentu saja buah kiwi kesukaanku bertengger di sana. Widi memang tahu apa kesukaanku, setiap kali aku bertamu ia selalu siap sedia menyediakan semuanya. Bisa dibilang dia memang sahabat terbaik.


Cukup lama kami berbincang membicarakan kesibukan masing-masing, hingga pada akhirnya entah mengapa aku jadi ingin curhat prihal percintaanku pada Widi. Ia tergolong orang yang bisa menyimpan rahasia, makanya aku percaya.


"Umm, Wid aku pengen tanya, dong."


"Apa? Tanya aja." Widi menyahut datar dengan arah pandang tetap fokus menonton layar TV.


Aku menghembus napas pelan. "Kira-kira salah nggak sih jika ada wanita yang telah bersuami jatuh cinta sama laki-laki lain?" Jujur aku sedikit gugup menanyakan hal demikian. Sejenak aku terdiam menunggu tanggapan Widi.


Mendengar hal tersebut spontan Widi langsung menoleh heran ke arahku. "Hah? Kamu jatuh cinta sama cowok lain?" tanyanya seraya mengernyit heran.


"Kalau misalnya gitu, gimana menurut kamu?" Aku mencoba tenang tapi hati ketar ketir menunggu jawaban Widi. Sejenak ia terdiam menatapku lekat.


Detik kemudian senyuman tipis terpatri di wajah cantiknya. "Enggak ada yang salah sama jatuh cinta. Jatuh cinta itu, kan bukan kehendak kita. Kita juga nggak bisa milih pada siapa kita jatuh cinta, karena menurut aku, CINTA itu jorok Al, ia datang, diem terus berlabuh nggak ngenal tempat." Aku tertegun.


Widi kembali memalingkan wajah menonton televisi. Ada ******* pelan keluar dari mulutnya. "Al, aku tau kalau kamu menikah karena perjodohan. Aku juga paham kalau misalnya kamu belum bisa membuka hati sama suami kamu itu. Tapi, jika kamu cinta sama cowo lain terus ada niat buat selingkuh ... " Widi menjeda ucapan. " ... Jangan deh!"


Mana mungkin aku selingkuh dengan anak tiriku sendiri?! Membayangkannya saja membuatku merasa itu tak bermoral dan memalukan. Namun, mengapa ada sisi lain dalam jiwaku yang berontak ingin memilikinya?


Aku lihat Widi kembali menengok ke arahku. "Ku harap kamu nggak nyampe ke situ Al," mohon Widi dengan tatapan tak dapat kuartikan. Ada senyum getir ia berikan.


"Tapi aku nggak bisa menampik perasaan aku, Wid. Setiap hari benih-benih cinta itu tumbuh terus menerus, dan entah kenapa kalau aku berada di dekat dia tuh bikin nyaman, dia selalu ada disaat aku butuh, bikin aku bahagia terus aku kaya cocok gitu sama dia," jelasku apa adanya dari hati.


"Ya terus kamu mau seligkuh gitu?!" sela Widi sambil menatapku tajam, seketika aku langsung gelagapan merasa diintrogasi oleh sahabat sendiri.


Mengulum bibir aku kikuk. “Enggak sih. Maksudku, aku bingung aja sama perasaan aku ini. Aku pengen ngilangin rasa ini tapi nggak bisa."


Wanita rambut sebahu itu langsung mengambil segelas air mineral yang ada di atas meja, lantas  meneguknya. Aku tahu apa yang akan ia lakukan, itu tandanya Widi akan berpidato panjang lebar.


"Bagus, jangan pernah kamu selingkuh! Karena statusmu udah bersuami. itu dosa, Al! Tapi, kalau emang kamu merasa nggak cinta sama suami kamu terus hubunganmu merasa hambar, ada dua opsi."


"Tadi, kan kamu gomong kamu nggak pengen berseligkuh, tapi perasaan kamu ke si dia udah terlanjur tumbuh dan nggak bisa kamu kendaliin. Aku kasih kamu cara ya Al, jika memang perasaan kamu udah mendalam ke si dia, nyampe nggak bisa ngelupain bayangnya terus sudah sampai tingkat mendalam, aku paham cinta memang susah dikendalikan, makin mencoba melupakan bisa jadi makin terbayang-bayang. Tapi, menurut aku cinta itu ada awalnya, dan awalnya ini yang masih dapat dikendalikan."


Dia menghela napas, lalu melanjutkan, "Sebagaimana seseorang yang sengaja bunuh diri dengan menceburkan diri kedalam api, ketika sudah terbakar, tidak mungkin dia punya kuasa untuk menjadikan api menjadi dingin, kan? Nah, karena terbakarnya dia itu tidak bisa ia kendalikan, maka langkah awalnya adalah JANGAN MENCEBURKAN DIRI KE DALAM KOBARAN API!" cerocos Widi tanpa henti, sedangkan aku terkatup manggut-manggut.


“Misal, kaya Menatap, ngobrol, berkunjung, saling berbalas status di sosmed, itu masih bisa dikendalikan kamu Al, dan cinta bisa berawal dari sana. Oleh sebab itu jika merasakan getar-getar awal tumbuhnya cinta kepada lelaki lain, padahal kamu punya suami, maka aktivitas yang awalnya boleh itupun harus dihindari."


Widi kembali meneguk segelas air yang tinggal setengah. “Jika terlambat menghindar dan cinta sudah terlanjur berurat berakar di hati, maka tidak ada cara lain kecuali harus berjuang untuk ‘menyapih’nya dengan sabar, jika tidak disapih maka bisa berlanjut ke tahap berikutnya yang makin dekat kepada perselingkuhan.” Ia meletakkan sedikit kasar gelas kosong itu sehingga menimbulkan bunyi ketukan.


“Jika sudah terlanjur mencintai lelaki selain suami kamu, maka hendaklah berusaha menyapihnya, berjuanglah, hindari lelaki tersebut tanpa harus memberi tahu alasan menghindar darinya, jangan dikatakan 'maaf aku menghindari kamu karena aku jatuh cinta kepadamu'. Langsung aja jauhin dia Al Pasti kamu bisa deh. Pokoknya jangan sampai cinta terlarang menerobos masuk ke hati kamu! Seperti itu,” tutur Widi panjang lebar, menaik turunkan alisnya seraya tersenyum tipis seperti meledekku, dan mungkin ia telah selesai dengan pidatonya.


Sesaat aku termenung. Benar juga apa yang dikatakan Widi, tapi bagaimana bisa? Sementara Andrian terus berada di dekatku, kemana-mana bersamanya. Aku pernah mencoba menghindari Andrian, namun tak berhasil. Aku malah semakin membutuhkannya.


"Emangnya Mas Rezamu itu kurang apa sih, Al? Dia udah kaya banyak duit, baik, hangat, manjain kamu, kasih apa yang kamu mau. Bukalah dikit-dikit hati kamu buat dia, ya meskipun dia bukan tipe kamu karena kalian beda usia. Kalau menurut aku gak tua-tua amatlah umur 46 tahun mah, tapi yag penting kan dia sayang sama kamu."


Mendesah lelah aku tertunduk, lalu menatapnya sendu. "Jangan tanya Wid, aku juga nggak tau. Sebaik apapun dia sama aku tetap saja hati aku nggak berubah." Aku berterus terang.


Widi menghela napas panjang, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke layar TV menonton acara yang menurut aku alay.


"Ok aku paham, cinta emang nggak bisa dipaksakan. Tapi ingat ya Al, selagi Mas Rezamu itu baik, perhatian, jarang nyakitin kamu dan peduli sama kamu, please kamu jangan nyakitin dia, kasihan aja sih ngebayanginnya. Dari pada kamu nyakitin dia dengan berselingkuh, mending kamu akhiri aja."


Mengakhirinya? Mana bisa? Sedangkan Mas Reza sudah banyak membantu pada keluargaku. Ia memperbaiki dan memberi modal pada usaha ayah yang hampir bangkrut. Ia adalah sahabat ayah, kalau ayah membutuhkan Mas Reza lah orang pertama yang mengulurkan tangannya. Aku jadi dilema.


"Emang siapa cowok itu Al? Masih kuliah apa udah kerja?" Widi menoleh padaku, mimik mukanya terlihat ingin tahu.


Aku mengulum bibir setenang mungkin. Padahal hati ketar ketir disaat aku membayangkan Andrian. "Oh, hmm ... rahasia."


"Ih bikin aku penasaran aja, kasih tau dong."


"Nggak," ucapku teguh dengan pendirian.


Widi mendengus cemberut sambil memajukan bibirnya lima centi, bikin aku terkekeh.


***


"Bolehkah aku mencintaimu lebih dari sekedar ibu dan anak?" Kalimat itu terus saja terngiang di kepalaku, membuatku masih terjaga di tengah malam.


Aku masih mengingatnya, Ketika dia menyanjung dan memujiku. Dia menyukai semua tentangku, dan dia bahkan ingin berterimakasih pada Tuhan, karena telah menciptakan aku. Mendengar penuturannya kemarin di malam itu dan semua kata-kata yang terlontar dari mulutnya, membuat perasaanku jadi tentram dan berbunga.


Katakanlah aku gila! Bisa-bisanya aku memeluknya selama itu! Ada keinginan yang mendorongku melakukan hal demikian, sebab berada di dekapannya ibaratkan sebuah rumah bagiku, tempat untuk aku pulang setelah penat seharian. Aku mukai rindu, padahal seharian aku melihatnya. Namun, aku selalu ingin berada di dekatnya. Apakah aku sudah tidak waras?


Mungkin, tergila-gila karena cinta terhadapnya.


Kusibakkan selimut menutupi seluruh tubuh. Dalam hati aku menjerit, "Ya Tuhan, sepertinya aku mulai gila! Bagaimana mungkin aku bisa sampai masuk ke dalam kubangan cintanya?!"


***


Andrian POV


Aku mengenyit heran, setelah sadar  di saat membuka laci meja nakas, kudapati kotak kecil yang berisi catatan kecilku ada di dalamnya. Padahal, aku selalu simpan di bawah kolong ranjang. Apa Bi Narsih yang memasukannya ke laci?


Bergegas aku turun ke lantai bawah mencari Bi Narsih. Setelah menyisir sekeliling, ternyata ia berada di luar tengah menyapu halaman. Aku menghampirinya.


"Bi?"


Bi Narsih menoleh ke arahku. "Ada apa Nak Andrian?"


"Saat Bibi bersih-bersih kolong ranjangku, apa Bibi memasukan kotak kecil ke dalam laci nakas?"


Bi Narsih mengerutkan dahinya. "Bukan Bibi. Soalnya Bibi masih ingat pesan Nak Andrian dulu, katanya tuh kotak nggak boleh diapa-apapin. Jadi sama Bibi mah suka dibiarin aja," tutur Bi Narsih meyakinkanku, tapi sepertinya ia jujur.


Apa aku memang tidak sadar kalau aku yang menyimpannya sendiri? Seingatku aku selalu menyimpannya di kolong ranjang.


"Mungkin nyonya kali," cetus Bi Narsih tiba-tiba membuatku terkejut.


"Kan, Bibi pernah dua minggu sakit nggak masuk kerja, yang beres-beres siapa lagi kalau bukan nyonya?"


Aku termangu. Apa benar Bu Alfria yang menyimpannya? Kalau memang benar, apakah ia sempat membaca isi catatanku?