
Di depan ruang ICU, Andrian dan Alfira hanya duduk terdiam. Menunduk ke arah lantai dengan pandangan mereka yang kosong. Entah apa yang keduanya pikirkan, yang jelas hati mereka diliputi rasa cemas, takut dan sedih bercampur menjadi satu mengingat kondisi Reza yang kritis disebabkan kecelakaan dan cedera parah.
Terutama Andrian. Ia menunduk lesu, apalagi setelah mendengar kondisi sang ayah, hatinya remuk. Air mata berjatuhan namun tidak ada suara yang terdengar, ia menangis dalam diam. Rasa takut akan kehilangan Reza seolah terbayang-bayang dalam otaknya. Dia tidak ingin rasa sakit saat kehilangan sang ibu terulang kembali pada ayahnya.
Jika itu terjadi, bagaimana dengan nasibnya? Andrian tidak ingin jadi yatim piatu, ia belum siap kehilangan Reza, Andrian ingin ayahnya tetap hidup. Andrian tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Kakek neneknya sudah tiada, hanya Reza tempatnya berlindung.
Andrian memang sempat menaruh rasa kesal dan sedikit benci pada Reza, tentu saja selepas pernikahannya dengan Alfira. Tapi, rasa sayang terhadap papanya jauh lebih dominan. Berulang kali rasa bersalah itu datang karena perasaannya dan ego untuk memiliki Alfira seutuhnya sehingga mengenyampingkan perasaan Reza yang mungkin suatu saat nanti akan terluka.
Entah mengapa memori Andrian tiba-tiba saja berjalan memutar kenangan dari masa lampau bersama sang ayah. Sosok Reza yang hangat, jarang marah ataupun membentaknya ketika melakukan kesalahan kecil, apalagi menghukum dengan kekerasan pisik membuatnya rindu.
Reza yang selalu memberikan apa yang Andrian mau, membahagiakannya, mendidiknya dengan tegas tapi tidak keras, dan melakukan yang terbaik untuknya. Andrian dan ibu kandungnya termasuk manusia yang beruntung mendapatkan seorang ayah dan suami yang penyayang dan bertanggung jawab.
Jika Reza pergi, bagaimana dengannya? Siapa yang dengan tabah menyambut ia sepulang sekolah ketika ayahnya itu sedang berada di rumah? Siapa lagi yang akan membiayai dan mengurusi keperluannya serta kerap berada di sampingnya mengiringi hobinya dalam bermain piano?
Reza tidak pernah mengekangnya, apa yang Andrian mau dan apa yang ia cita-citakan selama itu positif selalu ia support. Reza tidak seperti orang tua lain yang mengharuskan anaknya mengikuti apa yang dikehendak mereka.
Sementara Alfira, ia hanya duduk terdiam kebingungan. Ia sama sekali tidak merasakan kesedihan ataupun air mata yang keluar. Sampai pada akhirnya terdengar derap langkah dua orang mendekat ke arahnya. Seorang wanita paru baya menepuk pundak putrinya itu.
"Al?" Suara itu menyadarkannya dari lamunan.
Alfira mendongakkan wajah menatap datar ke asal suara. "Bunda."
"Bagaimana keadaanya? Apa dia akan baik-baik saja?" tanya ibunya dengan raut muka khawatir.
Alfira hanya menggeleng tidak tahu. Kemudian ia beralih menatap seorang pria yang berdiri di samping sang ibu, seseorang yang membuatnya kesal dan benci karena telah memaksanya terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, siapa lagi kalau bukan ayahnya.
Pria baru paya tersebut hanya bisa menghela napas berat, kemudian menyandar ke dinding rumah sakit yang dingin. Pandangannya menerawang ke langit-langit. Memikirkan kondisi sahabatnya yang sejak dulu setia menemaninya. Dia terpaut tiga tahun lebih tua dari Reza. Mereka tumbuh dan hidup bersama di panti asuhan.
Mereka saling melengkapi satu sama lain. Susah dan senang dijalani bersama. Mereka seperti sodara meskipun tak sedarah. Sampai saat mereka tumbuh remaja, ia harus terpisah dengan Reza karena ada sepasang suami istri yang berbaik hati mengadopsi Reza.
Sementara dia harus berjuang dan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya, karena tidak mungkin selamanya dia akan hidup di panti asuhan. Ia harus mencari kehidupannya sendiri, sampai pada akhirnya ia berhasil membangun usaha kecil dan membangun keluarga.
Meskipun begitu, mereka tidak sampai kehilangan kontak. Reza yang juga sukses membangun bisnis, tidak pernah luput ada dalam setiap kehidupannya. Setelah Reza sukses dan mempunyai penghasilan sendiri, Reza selalu hadir membantu secara finansial jikalau ia dalam kesusahan. Dia dan Reza seolah terikat, saling membantu dan mengayomi.
Baginya, hanya Rezalah keluarga yang ia miliki mengingat perjuangan mereka bersama hidup tanpa orang tua di panti asuhan. Alasan itulah kenapa ia rela jika Alfira dipersunting oleh Reza, bukan karena faktor balas budi atas semua yang Reza berikan semata, tapi ia tahu bahwa sosok Reza adalah sosok penyayang dan bertanggung jawab. Terkadang, orang-orang yang lahir dan tumbuh dalam kesusahan dan kebahagiaan tanpa cinta orangtua, mereka akan lebih menghargai apa itu kasih sayang.
"Apa kalian sudah makan? Bunda membawa bekal dari rumah, lebih baik kita sarapan dulu," kata sang ibu.
Sadar bahwa Andrian belum makan, Alfira pun menoleh ke arah Andrian dan ia menatapnya lekat. Alfira merasa terenyuh dengan kondisi Andrian yang mengeluarkan air mata tapi mulutnya membisu tak bergeming.
Alfira menggeser tempat duduknya, mendekat kemudian merangkulnya. "Andrian, kamu pasti lapar 'kan? semenjak kita sampai ke rumah sakit, dari tadi malam kamu belum makan. Kita makan yuk," ajaknya.
"Nanti kalau kamu sakit kamu nggak bisa jagain papamu."
"Ibu aja yang makan, Andrian nggak mau," lirihnya agak bergetar, ia masih menunduk.
Alfira menghela napas lalu menghembuskannya kasar. Ia geram karena anak tirinya itu tidak mau makan sedikitpun. Ia paham Andrian sedih, tapi tidak harus menyiksa diri. Ia juga harus memperhatikan perutnya.
Alfira menepuk bahu Andrian untuk menenangkan. "Papamu pasti baik-baik saja ko Andrian tenang aja."
***
Sudah seminggu Reza koma, dan itu membuat Andrian kehilangan gairah hidup. Sudah tiga hari dengan setianya ia duduk tertegun dan bahkan sampai tertidur di atas kursi rumah sakit di depan ruang ICU.
Andrian dan Alfira jauh-jauh dari Jakarta menuju rumah sakit di luar kota untuk menemani Reza yang belum siuman. Untunglah urusan rumah ada Bi Narsih yang meng-handle. Sedangkan Andrian berhasil mengantongi izin tidak masuk sekolah. untuk menunggu kabar tentang kondisi ayahnya.
Alfira yang melihat itu sempat prihatin. Seharusnya ia juga merasakan hal yang sama, tapi nyatanya Alfira sama sekali tidak merasakan apa-apa, seperti apa yang Andrian alami. Rasa tidak mau kehilangan membuat Andrian terlarut dalam kesedihan yang teramat dalam.
Sementara Alfira, apakah ia merasakan takut kehilangan Reza? Nyatanya Alfira kebingungan dengan perasaannya sendiri. Tidak merasa sakit, kesedihan ataupun takut kehilangan. Hatinya seolah biasa saja. Tapi di sisi lain, ia juga merasa bersalah.
Selama menikah dengan pria itu, ia belum bisa memberikan hatinya untuk Reza. Alfira malah jatuh cinta pada seseorang yang salah, Andrian. Kadang ia ingin mengusir rasa cinta terlarangnya itu, tapi bagaimana? Rasa itu tumbuh sendirinya tanpa bisa ia kendalikan.
Entah dorongan dari mana, tiba-tiba saja Alfira ingin masuk ke dalam ruangan tempat terbaringnya Reza yang tak berdaya. Ia duduk di samping ranjang, termangu menatap wajah yang tak sadarkan diri itu. Menyadari baru kali inilah ia menatap wajahnya lekat. Ia mendekat kemudian menatap Reza dengan seksama. Menatap wajah yang tampak tertidur pulas. Seketika dadanya menjadi sesak, mengingat bahwa ia telah mencurangi sang suami.
Perlahan Alfira menyentuh wajah itu yang selalu dihiasi senyum hangat. "Maafkan aku, Mas. Kalau aku belum bisa mencintaimu."
Tiba-tiba air menggenang di matanya. Ia terkesiap berusaha mengusap agar air mata itu tak jatuh, tapi entah mengapa air mata itu malah merebak di matanya. Mengaburkan pandangannya.
"Maaf, aku malah mencintai anakmu," lirih Alfira sembari mengusap wajahnya.
Dada Alfira sesak, hatinya penuh penyesalan. Mengapa ia sampai tidak bisa membuka hati pada pria yang menyayanginya? Mengapa ia sama sekali tidak pernah bisa menyambut cinta Reza? Beribu-beribu kali Reza selalu mengungkapkan rasa tapi Alfira hanya menganggapnya sebagai angin lalu.
Setidaknya, jika memang ia tidak bisa mencintai pria itu, tidak seharusnya ia berkhianat dan mengungkapkan rasa cinta pada orang yang tidak tepat.
Alfira merutuki kebodohan. Benar apa yang dikatakan Widi sahabatnya, bahwa seharusnya ia tidak usah memelihara perasaan terlarangnya pada Andrian.
Memelihara cinta terlarang yang mungkin tidak akan pernah bisa ia miliki, yang bisa saja rasa itu akan berakhir sia-sia dan menimbulkan luka.
Saat rasa terlarang itu masih belum tumbuh subur, sebenarnya ia tak perlu dilema. Ia hanya harus berjuang menghempaskan dan menyapih rasa itu. Seperti nafsu yang ibarat seorang bayi, bila kau biarkan bayi itu akan tetap menggantung menyusu, namun bila kau sapih maka ia akan berhenti sendiri.