
"Gue nggak mau ikut sama lu, pergi!"
laki-laki itu mengangkat sebelah alisnya heran. "Nggak akan! lu ikut sama gue!" Lalu tatapannya beralih padaku. "Lu siapa?"
"Kamu tidak perlu tahu," ucapku datar.
"Kalau begitu, lu nggak usah ikut campur urusan kita!" Pria itu mendekat hendak meraih pergelangan tangan wanita di belakangku namun aku segera menepisnya.
"Dia tidak mau pergi denganmu. Jangan paksa dia." Pria itu semakin geram, dia mendengus.
Aku tak menghiraukan sikapnya, nyatanya aku masih melindungi wanita asing ini."Aku nggak suka karena kamu kasar sama dia!" selaku penuh penekanan.
"Heh?! Lu siapa, sih? Ya terserah gue lah mau apain dia, orang dia calon tunangan gue!"
"Apa?! tunangan? Kita sudah putus ya Alex!" bantah wanita itu padanya.
"Kalian sudah putus, jadi kamu jangan anggap dia pacarmu lagi, dan seenaknya memperlakukan dia semaumu, paham?"
Laki-laki itu menatapku tajam. "Lu sebenarnya siapa, sih?!" tanyanya dengan nada tinggi.
"Dia pacar gue!" sahut wanita itu sontak mataku membulat seketika saat dia mengucapkan itu. Kenal saja tidak, mengapa dia mengakui aku pacarnya?
Si cowok terperangah kaget sekaligus bingung. "Apa?! Lu bercanda ya, Sil? Gue nggak pernah lihat orang ini!"
"Ya emang lu nggak lihat, karena gue hubungan jarak jauh sama dia! Jadi sekarang, lu jangan ngejar-ngejar gue lagi! Gue udah enek sama lu!"
Tiba-tiba wanita itu menggenggam tanganku. Dia menatapku dalam. "Ayo, kita pergi dari sini terus antar aku pulang." Dan aku pun menuruti permintaannya dengan meninggalkan laki-laki itu yang masih menganga tidak percaya.
"Sesil! Gue nggak akan lepasin lu ya, kita udah dijodohkan!" seru laki-laki itu dari kejauhan, tapi wanita bernama Sesil tidak meresponnya.
Aku merasa perlu untuk menjauhkan wanita itu dari situasi yang semakin memanas. Dengan lembut namun tegas, aku menarik perempuan itu pergi dan membawanya masuk ke dalam mobil. Setelah kendaraan melaju meninggalkan area parkir, aku segera menanyakan apa yang terjadi.
"Dengarkan, aku tidak tahu apa yang terjadi di luar tadi, tapi aku tidak tega melihatmu dalam situasi seperti itu," ucapku dengan suara yang penuh perhatian.
Perempuan itu, tampak sedikit gemetar. "Terima kasih, kamu sudah menyelamatkanku. Aku nggak tahu apa yang akan terjadi jika kamu nggak datang."
Aku mengangguk, kemudian bertanya lebih lanjut, "Sekarang, mengapa kamu berbohong kepada lelaki itu dengan mengatakan bahwa aku adalah pacarmu?"
Wanita dengan rambut coklat sebahu itu menggelengkan kepala, tampak sedikit malu. "Aku minta maaf, aku nggak tahu apa yang harus kukatakan. Lelaki itu adalah mantan pacarku, dia sangat posesif, dan dia nggak bisa nerima putusnya hubungan kami. Aku hanya berpikir bahwa jika aku mengatakan kamu adalah pacarku, dia mungkin akan meninggalkanku sendirian."
Aku mengerti situasinya, ada rasa empati terhadapnya. "Aku ngerti, tapi jangan pernah berbohong dalam situasi seperti itu lagi. Kadang-kadang, kebohongan bisa membuat situasi menjadi lebih buruk. Lebih baik kita bicarakan masalah ini dengan jujur dan mencari solusi yang tepat."
Aku melirik ke arahnya lagi, dia mengangguk, mengambil napas dalam-dalam. "Kamu benar, aku tahu itu adalah kesalahan besar. Aku hanya nggak tahu apa yang harus aku lakukan pada saat itu. Maaf jadi bawa-bawa kamu."
Aku tersenyum tipis, mencoba menghiburnya. "Yang terpenting, kamu aman sekarang. Dan jika kamu perlu bantuan atau dukungan lainnya, aku di sini untuk membantu."
"Makasih." Aku memandang ke sisi kiri, dia mengulurkan tangan. "Aku Sesilia Winata. Salam kenal."
Aku tidak menerima uluran tangannya karena aku sedang menyetir. "Aku Andrian Santoso. Maaf, aku sedang mengemudi."
"Oh, iya lupa," ucapnya terkekeh, aku menanggapi senyum tanpa menatapnya.
Aku sedang fokus pada jalan yang ada di depan, tetapi ponselku tiba-tiba berdering. Sementara mengemudi, aku mencari ponsel dan segera menghubungkan panggilan itu ke dalam sistem mobil sehingga suara teleponnya terdengar. Sesilia, yang duduk di sampingku, juga mendengar suara panggilan itu.
Saat suara Papa terdengar dari speaker mobil, aku menjawab dengan tenang, "Halo, Pa. Aku sedang di perjalanan. Ada apa?"
Papa terdengar agak gelisah di seberang sana. "Andrian, di mana kamu sekarang?."
"Jangan pulang terlalu larut. Sudah malam."
"Iya, Pa. Ini lagi di perjalanan."
"Ngomong-ngomong, apakah kamu sudah mendapatkan pekerjaan, Andrian?"
Aku menghela napas. "Belum, Pa. Aku masih mencari perusahaan-perusahaan yang mencari lowongan akuntan di website. Ada banyak sih, tapi aku cari yang dekat saja. Besok aku akan mengirim dokumen ke perusahaan-perusahaan tersebut."
"Baiklah semoga kamu berhasil, Andrian. Papa tutup dulu teleponnya." Sambungan telepon pun terputus.
Sesilia yang mendengar percakapan aku dan Papa tentang pekerjaan, tiba-tiba dia ikut bicara dengan suara yang penuh antusiasme. "Apa kamu lagi cari kerjaan?"
Aku menoleh ke sisi kiri. "Ya. Aku baru lulus dan pulang dari Belanda, aku nggak ingin lama-lama menganggur."
"Oh ya ... kamu kuliah di luar negeri?" tanyanya dengan senyum manis.
"Iya. Dapat beasiswa," jawabku dengan senyum juga.
"Keren dong."
Aku tertawa kecil. "Biasa saja."
"Sebenarnya ada lowongan untuk posisi staf keuangan di perusahaan tempatku bekerja. Mungkin kamu berminat."
Kontan aku menatapnya kembali. "Benarkah?" tanyaku dengan antusiasme yang sama.
Sesilia mengangguk. "Iya, posisi ini baru saja terbuka dan aku pikir kamu mungkin tertarik. Perusahaan ini cukup besar dan menawarkan peluang yang bagus. Jika kamu mau, aku akan berikan nomorku padamu."
"Wah, kebetulan sekali." Aku senang tak terkira. "Apa persyaratannya?"
Sesilia menjelaskan persyaratan dan tanggung jawab yang terkait dengan posisi tersebut. Aku mulai merasa tertarik dengan peluang ini, karena itu tampaknya cocok dengan latar belakang pendidikanku.
Aku berterima kasih pada Sesilia atas tawarannya dan menjelaskan bahwa aku akan mempertimbangkan hal ini secara serius.
"Baiklah, kasih nomormu." Aku segera menyerahkan ponselku setelah mencari pencarian nomorku di kontak. Ia terlihat mencatatnya.
"Nanti aku hubungi kamu."
Kami melanjutkan perjalanan dalam mobil, membicarakan lebih lanjut tentang pekerjaan dan peluang yang baru saja dibicarakan oleh Sesilia. Waktunya berlalu dengan cepat, dan segera mobil berhenti di depan sebuah cluster perumahan elite. Sesilia memberiku alamat rumah sebelumnya.
Kami berdua terdiam sejenak ketika mobil menepi dan berhenti. Sesilia berbalik ke arahku dengan senyuman hangat di wajah. "Terima kasih, Andrian, atas segalanya. Aku sangat menghargai bantuanmu."
Aku tersenyum balik, merasa bersyukur atas tawarannya untuk membantu memberikan pekerjaan dan kesempatan yang dia berikan. "Tidak masalah, Sesilia. Aku senang bisa membantu, dan aku akan mempertimbangkan tawaranmu dengan serius."
Sesilia mengangguk, mengucapkan kata-kata terima kasih sekali lagi. "Aku berharap semuanya akan berjalan lancar untukmu. Sampai jumpa lagi!"
Aku dan Sesilia turun dari mobil. Dia merapikan baju feminimnya yang begitu modis, lalu berjalan dengan percaya diri menuju gerbang rumahnya yang mewah bergaya. Pintu gerbang itu terbuka otomatis ketika dia mendekat, memberikan akses ke dalam perumahannya yang begitu indah.
Saat dia berjalan masuk, aku melihat keindahan rumahnya dan lingkungan cluster perumahan elite ini. Semuanya begitu terawat dengan baik. Sepertinya Sesilia hidup dalam kemewahan yang pantas baginya.
Dia melambaikan tangan perpisahan terakhir, aku melempar senyum sekali lagi padanya atas semua bantuan dan kesempatan yang dia berikan. Dia dengan langkah elegannya menghilang di dalam rumah yang mewah bergaya Eropa itu.
Aku kembali ke mobilku dan melanjutkan perjalanan pulang.