
Detik berganti ke menit, menit berganti ke jam, jam berganti ke hari, hari berganti ke minggu, minggu berganti ke bulan dan siang berganti ke malam, seperti itulah waktu berlangsung.
Dua orang berstatus anak dan ibu tiri tengah dilanda asmara. Sejauh ini, meski keduanya saling mencinta tapi status mereka tidak ada yang berubah dan tetap sama. Begitulah kenyataanya.
Bisa dikata cinta keduanya memilukan. Masing-masing ada rasa, tapi tidak bisa saling berpunya. Kadang terbesit dalam benak, untuk pergi ke tempat yang jauh. Mengarungi bahtera cinta dan berlabuh di dermaga kebahagian. Namun, mereka urungkan. Sebab, Alfira masih bisa berpikir waras, toh tidak mungkin akan berakhir semudah itu. Ia sadar dengan cinta dan situasi yang rumit kemudian jika ia menuruti perasaan, situasinya akan lebih kacau.
Lantas, apakah bisa mereka bersatu suatu saat nanti? kapan? bagaimana caranya? Yang jelas, keduanya sedang bergelut dengan fikiran masing-masing.
Pagi itu di dapur, Alfira yang sedang menyeduh kopi untuk suaminya dikagetkan oleh keberadaan dua tangan seorang remaja dari belakang yang melingkar di perutnya dengan erat.
"Andrian, lepasin nggak?" Alfira berbisik gusar. Ia mengedarkan pandangan ke segala arah untuk memastikan tidak ada keberadaan Reza di ruangan tersebut. Bisa gawat!
"Papa, di luar lagi nyuci mobil tenang aja," balas Andrian berbisik.
Alfira dengan susah payah melepaskan kedua tangan tersebut dan berhasil. Ia membalikan badan ke belakang, menatap wajah laki-laki yang merebut hatinya. Alfira menatap Andrian jengkel.
"Dasar kamu nggak tau tempat!" serunya kemudian berlalu pergi membawa nampan dengan secangkir kopi di atasnya. Andrian hanya cengengesan. Bagi Andrian, meskipun Alfira sedang kesal dan marah ia akan tetap terlihat cantik, begitulah pikiran bucin.
***
Malam sudah larut, tapi Alfira tidak bisa memejamkan mata. Sedari tadi perutnya memanggil minta diisi. Akhirnya ia pun bergegas ke dapur untuk mencari makanan, tapi stok sudah habis, ia lupa untuk berbelanja. Mie instan pun tak ada.
Dikarenakan malas memasak, ia kembali ke kamarnya merebahkan tubuh di samping Reza yang tengah tertidur lelap. Alfira meraih gawainya yang tergeletak di nakas, membuka sosial media lalu memperbarui status di Whatsapp.
'Aduh tengah malam lapar tapi gak ada makanan' keluhnya.
Andrian yang sedang membuka Whatsapp tidak sengaja membaca status Alfira. Menyadari kalau belahan jiwanya kelaparan, jiwa bucinnyapun bereaksi. Segera Ia bangkit berdiri, menyambar kunci motor sport-nya yang dalam di laci nakas, lantas bergegas meluncur mencari sesuatu.
Alfira yang sedang asyik tarik ukur beranda sosmednya mengernyit heran karena Andrian tiba-tiba menghubunginya pada tengah malam.
"Cepat keluar kamar," kata orang di seberang sana. Lekas Alfira bangkit guna membuka pintu kamar dan ia mendapati Andrian telah berada di ruang tengah.
"Nih," ucap Andrian seraya menyodorkan satu kantong plastik berisi sebungkus nasi goreng, dengan senang hati Alfira menerimanya. Kebetulan sekali dirinya sedang lapar, dan Andrian langsung membawakannya makanan. Ada rasa haru menyelimuti hatinya.
"Dimakan, ya."
Ketika Andrian membalikan badan untuk beranjak pergi, Alfira menahan lengannya, detik kemudian sebuah pelukan hangat penuh sayang mengejutkan Andrian dari belakang.
"Thanks, Dri. Aku sayang kamu,” lirih Alfira terharu.
Senyuman bahagia terpatri di wajah Andrian, bersamaan dengan jantungnya yang berdetak kencang tak karuan.
***
"Ra, lo masih mikirin itu, ya?" tanya Mira yang sedang mencuci tangannya di wastafel toilet.
"Nggak tau Mir, gue merasa aneh aja sih sama mereka berdua. Masa anak tiri dan ibu tiri nyampe sedekat itu kaya orang lagi pacaran," balas Rara yang tengah bercermin memoleskan lipbalm di bibirnya.
"Pikiran lo mah negatif mulu heran!" timpal Mira.
"Eh Mir, tau nggak?" Rara menggantungkan ucapan, sebelum berkata Rara celingak-celinguk memastikan hanya ada mereka berdua di toilet tersebut.
"Beberapa hari yang lalu pas pulang sekolah, kan gue berhenti dulu tuh di Alfamart. Kebetulan gue lihat ada mobil ka Andrian parkir di depan Alfa, di dalemnya ada Bu Al."
"Ya jelaslah ada Bu Alfira di dalam, mereka kan berangkat pulang bareng!" Mira menanggapi kesal. Masih saja Rara bahas hal itu, berburuk sangka pada Andrian dan Alfira.
Rara memutar bola mata jengah. "Ish ... dengerin dulu gue belum selesai! Tau nggak mereka ngapain di dalam mobil?"
"Ngapain?" tanya Mira penasaran, dan akhirnya tanpa sadar mereka bergibah ria.
"Mereka pelukan ...."
Bruk!
Gadis kaya itu melangkah mendekat ke arah keduanya dengan berkacak pinggang. "Lu berdua ngomong apa barusan?" tanya Siska datar.
Mulut Mira dan Rara terkatup, tubuh mendadak tegang. Mereka saling melirik satu sama lain dengan wajah tampak pucat.
'Apes lah gue, ada si nenek lampir, sejak kapan dia ada di WC sih ...' Rara membatin takut.
'Sialan, Napa tuh nenek lampir malah nongol?' Mira tambah bingung.
Seolah paham apa yang harus dilakukan, Rara dan Mira saling lirik, memberi kode untuk segera tancap gas. Selanjutnya, tanpa aba-aba mereka berlari terbirit-birit keluar dari ruangan tersebut sebab malas dan ogah berurusan dengan Siska si tukang bully.
"Yak! Kalian!!" seru Siska menggelegar dengan mata yang melotot marah.
***
Di dalam kelas, Siska sedang duduk melamun sambil menopang dagu dengan tangan kirinya. Orolan Mira dan Rara di toilet yang tak sengaja dia dengar terus terngiang-ngiang. Beberapa kali ia menepis prasangka aneh yang bergelut dalam pikirannya.
Terkadang Siska merasa heran. Akhir-akhir ini Andrian sering memprioritaskan Alfira dibanding dirinya. Namun, Siska coba berpikir positif, mungkin itu hanya baktinya sebagai seorang anak. Ia tak mau termakan rumor yang Rara bicarakan beberapa menit lalu.
Namun, rasa curiga mendadak bergelayut dalam otaknya. "Ish, ko gue jadi mikir yang aneh-aneh sih?" gumam Siska mencoba menepis perasangka.
***
Suara bel berbunyi, Reza bangkit berdiri dari sofa lantas segera berjalan membukakan pintu.
"Eh, Siska," sapa Reza tersenyum ketika sadar tamu yang bertandang adalah kekasih sang anak.
"Siang, Om," balas Siska dengan senyum imutnya.
Namun, Reza mengernyit tatkala melihat Siska yang membawa sebuah koper berukuran kecil di sampingnya. Sebelum bertanya ia mempersilakan Siska untuk masuk. "Ya udah masuk, yuk."
Mengangguk, Siska mengekori Reza sampai ruang tamu dan mendudukan diri.
"Bi ... Bawain minuman buat Siska!" teriak Reza pada Bi Narsih yang kebetulan lewat, tengah berjalan dari lantai atas menuju dapur.
Bi Narsih menoleh, lantas mengangguk patuh. "Iya, Tuan."
Kembali perhatian Reza terfokus pada koper Siska yang ia bawa bersamanya. "Siska bawa-bawa koper mau ke mana?" tanya Reza heran. Apakah gadis itu akan kabur dari rumah? Perasangka Reza yang tidak-tidak
"Mau nginep di sini. Boleh, kan Om?" Sengaja Siska tak memberitahu Andrian kalau ia akan menginap, rencananya ia akan memberikan kejutan.
Reza berpikir sejenak. Ada rasa lega rupanya terkaan Reza salah. Ternyata mau menginap, toh, batin Reza.
"Oh, boleh." Tanpa pikir panjang Reza mengizinkan. Lagipula tak terlalu khawatir sebab ada keberadaan Alfira di situ, jadi Reza pikir kedua remaja tersebut bisa dipantau bila sampai melakukan hal yang tidak-tidak.
Siska akhir-akhir ini sering berkunjung ke rumah Andrian, otomatis Reza dan Siska jadi saling mengenal. Kadang Siska juga sudah menganggap Reza sebagai calon mertua, meski belum jelas mereka jodoh atau tidak.
"Ya udah bagus deh, biar Bu Alfira ada yang nemenin. Soalnya Om bakalan nggak ada di rumah selama dua hari," tutur Reza kembali meraih koran di atas meja yang sempat tertunda untuk dibaca.
Mendengar hal itu, Siska senang. Raut wajahnya jadi semringah. "Makasih ya, Om." Reza merespon dengan anggukan.
Bi Narsih datang membawa dua gelas jus jeruk, menyimpannya di atas meja. "Diminum, Neng."
"Iya, Bi makasih." Siska memberi senyum tipis. Bi Narsih lantas undur diri.
"Kak Andrian di mana, Om? Apa ada di kamar?" Siska celingukan menyisir sekeliling, mencoba cari keberadaan Andrian tapi nihil. Belum terlihat batang hidungnya.
"Andrian, lagi belanja ke minimarket bareng ibunya," sahut Reza seraya membuka lembaran koran.
Ada rasa tak enak hati ketika mengetahui kalau sang pujaan sedang menemani ibu tirinya di luar sana. Mood Siska seketika berubah. Bagaimana tidak, percakapan kedua gadis di toilet itu kembali terngiang-ngiang di benaknya.
'Sedekat itukah mereka?' kata hatinya bertanya-tanya.