I Love You My Step Mother

I Love You My Step Mother
Rebutan Cowok



Andrian POV


Aku menjerit dalam hati. Sial! Mata ini tidak bisa terpejam, padahal malam sudah larut. Aku mengusap muka kasar. Semalaman ini aku masih terjaga. Semenjak insiden beberapa saat lalu, aku jadi salah tingkah.


Guling-guling tak jelas di tempat tidur, hentakan kaki ke atas ke bawah, kadang membenamkan mukaku ke bantal. Dan ingat, jangan tanyakan jantungku bagaimana! Ya jelaslah dag dig dug tak karuan! Mukaku rasanya panas. Satu lagi, aku senyum-senyum sendiri. Gila, ‘kan?!


Akan tetapi, aku baru ingat saat terjatuh tadi. Wajah Bu Alfira mendadak merah sekali. Apa ia malu karena menindihku? Itu baru pertama kalinya aku dan Bu Alfira bertatapan dalam jarak sedekat itu. Jujur itu membuat hatiku berbunga-bunga.


Menatap langit-langit kamar, aku nyengir lebar. Kejadian itu masih terbayang bayang dalam ingatan. Kalau ada orang yang lihat aku sekarang, pasti akan tergelak karena mungkin saja tampangku seperti orang bodoh. Masa bodoh. Pokoknya malam ini, aku harus berterima kasih pada kecoa.


***


"Papa pulang!" seru papa yang datang dari arah pintu, membuat moment pagiku yang berduaan di meja makan dengan Bu Alfira jadi hancur. Mengapa papa musti pulang secepat ini? Huh, tadinya aku ingin papa lebih lama di sana.


Menghela napas kasar, aku memberengut kesal. Papa mengganggu momentku dan Bu Alfira saja. Dia berjalan cepat  menghampiri Bu Alfira yang tengah duduk sarapan di meja makan. Beberapa kecupan mendarat di pipi Bu Alfira membuatku panas. Dasar papa! Mengapa harus ada acara membanjiri ciuman segala? Hatiku perih, pa!


"Kangen ih, sayang," kata papa di telinga Bu Alfira. Kuputar bola mata jengah.


"Mas, cepatlah sarapan."


"Iya, sayang. Mas kangen makan berdua sama kamu, Dek." Sambil mendudukan diri, dengan wajah genitnya papa menoel pipi Bu Alfira gemas.


"Apaan sih, Mas?" Bu Alfira mendelik sebentar. Raut wajahnya menyiratkan risih ketika papa melakukan hal itu.


Papa malah nyengir. "Habisnya kamu ngegemesin sih, Ma."


Mendecih sinis, aku muak melihatnya. Biasakah papa jangan berlagak romantis di depanku?


"Andrian, gimana sekolahmu?" Papa mengalihkan topik. Aku tidak menanggapi pertanyaannya. Pura-pura asyik menyantap makanan. "Andrian! Ditanya ko malah diam?!" Papa sedikit kesal.


"Iya, sekolahku lancar-lancar saja, Pa," balasku malas seraya memandang ke arahnya.


Papa menghela napas kasar. "Ngobrol sama kamu nggak asik!" Dia alihkan fokus kembali memandang Bu Alfira. "Sayang, kita jalan-jalan yuk, ngabisin waktu berdua. Kamu pengen jalan ke mana?" ajak papa dengan senyuman.


"Terserah, Mas."


Sudahlah, aku jadi jengkel melihatnya. Sebaiknya aku segera berangkat ke sekolah saja. Bangkit berdiri, lekas pergi.


"Andrian, tunggu!" Terdengar seruan Bu Alfira memanggilku, sekilas aku menengok ke belakang. Tampak Bu Alfira berlari kecil mengejarku yang telah sampai di ambang pintu dengan tergesa. Mungkin ia tidak ingin aku tinggalkan, karena akhir-akhir ini kami sering berangkat ke sekolah bersama-sama.


***


Author POV


Andrian duduk di kamar tidur, menatap layar laptopnya dengan konsentrasi. Malam itu, rumah terasa sunyi karena semua orang telah terlelap pergi ke alam mimpi.


Ketika jam menunjukkan pukul 11 malam, Andrian merasa kantuk mulai menghampirinya. Ia memutuskan untuk menutup laptopnya dan berbaring di ranjang. Akan tetapi, sebelum tidur, Andrian berniat ke dapur untuk mengambil sebotol air mineral karena tenggorokannya mendadak kehausan.


Andrian mulai mengayunkan langkah hati-hati supaya tidak menimbulkan suara di malam hari. Tanpa disangka-sangka, setelah sampai ruang dapur, ia berpapasan dengan Alfira yang hendak kembali ke kamarnya. Keduanya bergeming beberapa saat hingga Alfira mulai membuka suara.


"Ma---malam, Andrian," sapa Alfira tergeragap. Ia salah tingkah kedapatan mengenakan pakaian yang tak etis dilihat oleh anak seusia Andrian.


Andrian masih terkesima dengan pemandangan di depannya. Bagaimana tidak, Andrian menyaksikan Alfira dengan pakaian yang sangat minim dan berbeda dari biasanya. Ia memakai lingerie seksi berwarna merah yang terlihat begitu memikat. Andrian tidak bisa menahan diri dan menelan air liurnya, sekaligus merasa gugup setengah mati.


"Ya." Andrian memalingkan muka kemudian. Tidak sanggup rasanya ia melihat penampilan Alfira di hadapan yang membuat jantungnya jedag jedug seperti irama DJ remix.


"Ya sudah, Ibu mau ke kamar lanjut tidur." Dengan rasa gugup Alfira berlalu meninggalkan Andrian yang masih terpaku di tempat.


Sial*n! Umpat Andrian dalam hati. Mengusap wajah kasar, ia kesal. Mengapa wanita dengan tubuh semampai dan seksi itu harus jadi milik ayahnya?


***


Di pagi yang cerah di sebuah kelas, sambil menuggu jam pelajaran tiba, ketiga siswi kelas X IPA sedang asyik berceloteh ria.


"Mir, kamu tahu nggak kaka kelas yang jago main keyboard, siapa itu namanya?" tanya seorang siswi sebut saja namanya Rara.


Mira yang tengah asik memainkan ponsel menoleh. "Oh, Kak Andrian. Kenapa emang?" tanya Mira balik.


"Gue suka aja sih, hehe," balas Rara sambil cengengesan.


"Eh jangan naksir dia tahu!" seru Jaskia tiba-tiba di seberang meja tempat duduk Rara.


Rara mengangkat sebelah alisnya bingung. "Kenapa emang?"


"Dih ... gue gak tau kalau dia udah punya pacar," timpal Rara dengan muka polos. Tidak menyangka saja jika Andrian telah menjalin berhubungan dengan gadis lain.


Kemudian datanglah satu siswi lagi seraya menarik kursi mendekat ke arah ketiganya.


"Kalian kemana aja sih? Gue sering lihat ya kalau lagi di kantin atau pulang sekolah dia tuh suka bareng sama pacarnya tau!" sahut Desi sambil mendaratkan pantat di kursi, sebelah tangannya menopang dagu di atas meja.


"Waah ... sayang dong, jadi banyak yang patah hati. Secara gitu dia itu, kan banyak yang naksir. Ganteng, berbakat, pinter, ah paket komplit deh," tukas Mira kecewa. Sebetulnya, ia juga naksir sama Andrian. Namun, apalah daya yang hanya remahan rangginang itu bila dibandingkan dengan cewek-cewek lain yang naksir Andrian. Rata-rata cantik dan elegan.


"Iya pokonya ja---"


"Ah bodo amat. Sebelum janur kuning melengkung, gue masih punya kesempatan." Belum selesai Jaskia bicara Rara memotong ucapannya sambil bangkit dari tempat duduk lalu pergi keluar kelas.


"Dasar si Rara! Keras kepala banget sih! Dia nggak tau aja dengan siapa nanti dia berhadapan!" omel Jaskia agak kesal. Seharusnya Rara bisa tahu diri bila ingin berdekatan dengan Andrian.


"Maklumlah namanya juga bibit-bibit pelakor, hahaha," seru Desi disertai gelak tawa, sontak membuat Jaskia dan Mira pun ikutan terbahak. Tanpa mereka sadari ternyata ada seseorang menguping dari balik pintu yang setengah terbuka.


***


Jam istirahatpun tiba. Rara yang naksir Andrian beberapa minggu ini, akhirnya bertekad untuk mendekati Andrian secara intens. Saat Andrian mulai keluar, Rara mengikuti dengan mengekor di belakangnya. Sampai akhirnya, Andrian masuk ke dalam perpustakaan.


Sebelum menemui orang yang disukainya itu, Rara bersiap-siap terlebih dahulu. Mengeluarkan cermin dari dalam saku rok, Rara memandang wajahnya lekat-lekat. Takut kalau riasan di wajah luntur, Rarapun mulai memoleskan sedikit bedak dan lipbalm ke bibirnya.


"Sip! Udah cantik," gumamnya sambil menyimpan kembali riasan ke itu ke dalam saku.


Melihat Andrian yang sedang fokus memilah buku di rak, Rara dengan cekatan mendekat. Ia berakting seolah perpura-pura bingung mencari buku bacaan. Sesekali ia melirik ke arah Andrian yang tetap fokus mencari buku dengan muka datarnya.


Akhirnya, Rara punya ide. Ia mengambil beberapa buku dan menumpuknya sehingga membuat kedua tangannya kewalahan menopang buku tersebut. Sudah dirasa cukup, Rara dengan sengaja menabrak tubuh Andrian seolah-olah itu kecelakaan.


"Aduh, buku aku berjatuhan!" Rara bersandiwara dengan ekspersi kesal dan panik.


Sadar, dengan sigap Andrian langsung memunguti buku yang berserakan di lantai tersebut. "Maaf ya, kirain nggak ada orang di samping aku," ucap Andrian merasa bersalah.


"Aku juga minta maaf, mungkin aku nggak lihat," ujar Rara dengan mengulum bibirnya, sesekali senyum menyeringai tersungging di wajah.


Sudah selesai dengan adegan buku berserakan, Rara dengan jailnya, menyentuh punggung tangan Andrian yang sedang memunguti buku.


"Eh, maaf nggak sengaja." Andrian hanya menatapnya datar. Dirasa sudah cukup membereskan buku-buku tersebut, Andrian lalu beranjak pergi menuju meja baca.


Lagi-lagi Rara dengan muka tengilnya mengekor di belakang. "Boleh duduk disini, 'kan?"


"Ya boleh," balas Andrian dengan muka tanpa ekspresi.


Mereka hanya terdiam karena Rara merasa tidak punya ide lagi supaya bisa mendekati Andrian secara intens. Mungkin Rara harus memikirkan cara lain, begitulah pikirnya.


***


"Sis, Siska ...!" teriak seorang siswi sambil berlari menghampiri Siska yang sedang asyik bersantap di kantin bersama gerombolannya.


Dengan napas terengah-engah siswi itu mulai mendudukan diri di bangku kantin. "Gue punya kabar buat lo," katanya sambil menarik napas perlahan.


"Kabar apaan?" tanya Siska sembari tetap asik mengunyah bakso, sekaligus penasaran.


"Ada satu cewek yang naksir pacar lo!"


Mendengar itu Siska langsung terdiam dan menghentikan aktifitas makannya. Tatapannya mendadak tajam, membuat siswi tadi bergidik ngeri.


"Wih, siapa tuh Bel?" tanya Ria teman satu geng Siska.


"Dih, tuh cewek gak punya rasa takut apa? Berani-beraninya ngedeketin lakinya sobat kita si cantik Fransiska," celetuk Veranda–teman Siska satu lagi.


"Tadi gue nggak sengaja nguping, tuh cewek berambisi banget pengen deketin Kak Andrian. Serius deh," balas Bela sambil meneguk sembarangan es teh manis punya orang.


"Bela! itu punya gue kenapa lo habisin?!" seru Ria dengan muka kesalnya. Bela hanya cengengesan dengan senyum kuda.


Braak!


Siska mengebrak meja dengan botol minum, sontak membuat teman-temannya kaget.


"Siapa namanya? Anak kelas berapa?!" tanya Siska mengintimidasi, membuat Bela sedikit gemetaran. Siska terlihat menyeramkan kalau menyangkut hal ini.


"Ra--rara, a--nak kelas X IPA."