
Sebulan ini Rara gencar-gencarnya mendekati Andrian, dan lama kelamaan mereka pun makin dekat. Dirasa cukup bagi Rara PDKT, ia memberanikan diri untuk menembak Andrian. Soal diterima atau tidak itu urusan belakangan, yang jelas Rara sudah tidak tahan ingin mengungkapkan isi hatinya.
Sepulang sekolah, Rara meminta Andrian untuk datang ke rooftop, Andrian menuruti. Sebelum menyatakan perasaannya, Rara mencoba basa basi atau sekedar mengobrol terlebih dahulu dengan gebetannya itu.
Di tengah pembicaraan, Rara bertanya, "Kakak, lagi suka sama siapa?" Rara pura-pura tak tahu padahal ia sebenarnya sudah tahu siapa yang Andrian sukai, tapi ia hanya ingin memastikan.
Andrian terdiam sejenak dengan memasang muka datarnya. "Kenapa nanya itu, Ra?"
"Nggak sih, ya cuman pengen tahu aja," balas Rara tersenyum.
"Nggak ada, Ra," lisan Andrian berbohong, tapi hatinya menjawab Alfira, karena tidak mungkin dia jujur ke orang lain.
Mereka kembali terdiam, entah mengapa lidah Rara mendadak kelu. Situasinya semakin canggung sampai-sampai Rara tidak berani menatap Andrian.
"Terus kamu nyuruh aku ke sini ada urusan apa, Ra?" tanya Andrian memecahkan keheningan.
Rara kembali eye kontak dengan Andrian. "Hah? Oh ... hmm Rara pengen ungkapin sesuatu," ucapnya gugup.
"Apa?"
"Aku suka sama Kakak."
Hening. Andrian tak merespon, ia menghamburkan pandangannya ke arah lain. Entah mengapa setelah mendengar pengakuan Rara, Andrian jadi teringat akan Siska yang dulu juga sempat menyatakan cinta padanya.
"Kaka mau nggak jad---"
"Maaf Ra nggak bisa."
Jleb!
Rara ditolak! Mulutnya langsung terbungkam, kakinya serasa lemas. Tapi untungnya Rara sudah mempersiapkan diri untuk menerima segala kemungkinan yang terjadi. Ia paham, karena tidak mudah untuk menaklukan seorang Andrian.
"Oh, hahahahaha ya udah nggak apa-apa," katanya sambil tertawa garing, padahal hati diliputi rasa kecewa.
"Aku nggak mau nyakitin perasaan orang lagi, Ra." ucap Andrian dengan raut wajah menyesal.
Rara sempat berpikir, sepertinya yang dimaksud Andrian adalah Siska. "Kenapa emang, Ka? Bukannya tadi Kakak bilang nggak ada wanita lain yang disukai?"
Andrian terdiam tidak menjawab.
"Kalau boleh tahu kenapa Kakak bisa putus sama Siska?"
"Kita hanya merasa nggak cocok lagi, Ra."
Tentu saja Andrian kembali berdusta, padahal hubungannya dengan Siska disebabkan ia tidak mencintainya.
Cukup lama mereka terdiam dalam sunyi. Lalu Andrian pun melihat arloji di tangannya yang telah menunjukan waktu petang menandakan ia harus segera pulang.
"Kita pulang aja yuk Ra, udah sore," pintanya.
Rara terdiam karena otaknya memang sedang berpikir. "Kakak menyukai Bu Alfira, ya?" tanya Rara tiba-tiba sontak membuat Andrian terkejut. Bagaimana bisa Rara tahu kalau ia punya perasaan terhadap ibu tirinya itu. Terbesit di benak, bahwa sepertinya Siska yang menyebarkan berita itu, karena hanya ia lah yang satu-satunya orang yang tahu rahasia tersebut.
"K--kamu tau dari Siska, ya?" Andrian sedikit gemetar.
Rara tersenyum. "Jadi bener, ya?"
Andrian jadi salah tingkah dan gugup seketika. Mulutnya bungkam karena memang tebakan Rara tepat.
"Hahaha ... bukan dari Siska ko, kan Kakak tahu sendiri kalau Rara sama Siska itu nggak akur!" lanjut Rara sambil tertawa pelan.
"Lalu kamu tahu dari siapa?"
"Rara sering lihat Kak Andrian sama Bu Al berdua. Kalian terlihat bukan seperti ibu dan anak," ucap Rara pelan. Kemudian Rara melanjutkan, "tenang ko Kak, aku nggak bakalan bilang ke siapa-siapa, hehe."
Andrian hanya termangu, menyanggah pun tak bisa karena memang faktanya benar.
"Maaf sebelumnya jika Rara lancang. Kalau memang iya, please hentikanlah, Ka ..." Rara mengucapkan itu dengan tenang tapi hatinya ketar ketir. "Rara sebenernya nggak mau ikut campur sih, tapi Rara pengen kasih saran aja. Apa Kakak nggak cape melihara perasaan lebih pada orang yang Kakak nggak mungkin bisa memliki dia seutuhnya?"
Rara menghembuskan napasnya panjang, kemudian mengalihkan tatapan dari Andrian. "Rara juga tidak menyalahkan Kakak untuk mencintai Bu Al karena tumbuh rasa itu juga bukan kehendak Kakak. Rara paham Kakak mungkin kesulitan untuk menghempaskannya. Tapi Kak, masalahnya orang yang Kakak cintai itu sudah nggak akan mungkin lagi menjadi milik Kakak seutuhnya. Di agama kita, itu hal yang haram. Jika Kakak masih egois untuk memillikinya, bagaimana dengan ayah Kakak? Apa Kakak tidak memikirkannya? Bagaimana perasaanya? Pasti hancur jika megetahui kalau Kakak juga menginginkan Bu Al selayaknya kekasih."
Andrian terdiam tak berkutik. "Jika Kakak lebih mengedepankan perasaan dan ego untuk saling memiliki daripada akal, maka derita cinta itu nggak akan berakhir, nggak ada yang bisa mengakhirinya, bukan minuman keras, bukan pula narkoba, bahkan kematianpun nggak bisa mengakhiri derita itu!"
Rara mendadak berubah jadi dokter cinta. "Kita juga nggak perlu menyalahkan cinta, karena itu adalah anugrah dari yang Kuasa. Tapi kalau rasa cinta yang berlebih pada orang yang kita sudah terlambat untuk memilikinya, maka kita harus bijak menempatkannya. Jangan sampai ada bentuk-bentuk ‘penyaluran cinta’ yang dibenci Tuhan, yang pada hakikatnya hanya akan mengotori cinta tersebut."
Hembusan napas keluar dari mulut Andrian. "Kalau menurut Rara, ya udah sih Kakak ikhlaskan saja pada takdir, Kakak ridhoi saja Bu Al jadi Ibu Kakak. Yakin deh, pasti ketentuan yang Tuhan berikan itu merupakan yang terbaik buat kita. Mengenyampingkan perasaan cinta memang nggak mudah, tapi dalam hal ini akal juga harus lebih dominan daripada perasaan, Kak. Di agama kita jalan Kakak untuk bisa memiliki dia sepenuhnya sudah tertutup, jika Kakak masih bersikeras silakan saja tanggung penderitaannya Kak. Lebih baik Kakak relakan saja dia. Rara yakin ko pasti Kakak akan mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik darinya."
Jleb savage. Kata-kata yang terlontar dari mulut Rara entah mengapa tiba-tiba saja menusuk hati Andrian.
"Kak?" Rara menatap dan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Andrian, karena ia terlihat tertegun sedari tadi. Seketika Andrian pun sadar.
"A-apa, Ra?" tanyanya dengan muka cengo.
"Katanya mau pulang,"
"Oh ya udah, yuk."
***
Mira yang sedang duduk dan bermain gawai di atas meja kelas terkekeh melihat Rara yang masuk dan berjalan lesu ke arah bangkunya.
"Ckck, kayanya gagal nih?"
Rara mendelik kesal pada Mira karena meledeknya. Rara menyimpan tas di meja lalu mendudukan pantatnya ke bangku dengan lemas. Ia menarik napas dan mengembuskannya berat.
"Sumpah Mir, gue nyerah ah!" katanya pasrah, Mira tergelak. "Kayaknya si Kak Andrian itu bucin deh sama Bu Al, masa iya Bu Al udah milik bapaknya aja masih pengen diembat."
"Berarti selama ini Siska dianggap apa dong, Kalau dia bucin sama Bu Al?" tanya Mira yang tatapannya tak teralihkan dari ponsel.
Bibir Rara mendadak menyungging ke atas, dia puas karena Siska hanya dijadikan pelarian sama Andrian. "Ckck, kasihan si nenek lampir, dia cuman pelarian!" ucapnya dibarengi senyum menyeringai.
"Ya udahlah, kalau lu nggak bisa dapetin Kak Andrian setidaknya lu udah ungkapin perasaan lu padanya, 'kan? Barangkali aja nanti dia luluh."
"Nggak tau deh, kayanya susah. Sama Siska yang hubungan udah 10 bulan aja nggak bisa buka hati, apalagi gue?"
"Ya udah cari cowok lain aja. Katanya ada yang naksir sama lu."
Rara menoleh ke arah Mira penasaran. "Siapa?"
"Safrudin si anak culun!"
Brugh!
Rara menimpuk muka Mira dengan tasnya.
***
Andrian POV
Sudah hampir tengah malam, tapi aku belum bisa memejamkan mata. Entah kenapa ucapan Rara terus terngiang-ngiang di kepala. Apa yang dia ucapkan memang benar, kenyataanya aku dan Bu Alfira memang tidak bisa bersatu layaknya sepasang kekasih. Tapi bagaimana dengan rasa ini yang seolah-seolah tidak mau lepas dari tempatnya.
Keinginanan yang kuat untuk bisa memiliki dia seutuhnya masih terpatri dalam jiwaku. Lalu bagaimana dengan papa? Benar kata Rara, hati papa akan tersakiti jika dia tau bahwa aku dan istrinya saling mencintai.
Aku mengusap-usap muka kasar, mengacak rambut frustasi. Pikiranku kalut. Cinta terlarang ini membuatku tersiksa. Apa aku harus mengikhlaskannya saja? Tapi aku sangat mencintainya dan menginginkannya.
Mendengar suara getaran itu, segera kuambil ponsel yang tergeletak di atas nakas. Ah, ternyata papa. Dari kemarin, papa berada di luar kota, katanya sih mengurus klien. Namun, tumben malam-malam begini papa menghubungiku.
"Halo, Pah?"
"Selamat malam, apa ini keluarga Pak Reza Santoso?" tanya suara asing di seberang sana. Aku mengernyit heran, karena bukan papa yang berbicara.
"Iya, ini siapa?"
"Kami dari SATLANTAS POLRESTABES PURWAKARTA memberitahukan bahwa sodara Reza Santoso mengalami kecelakaan beberapa jam yang lalu. Sekarang beliau dilarikan ke rumah sakit Bakti Husada."
"A--pa?"