
"Rara, kejadiannya di luar jam belajar sekolah, sekolah tidak ada wewenang."
"Tapi Rara kemarin ditampar Pak, terus diseret sama Siska dan gerombolannya," ucap Rara dengan tampang mengiba.
Pak Agus selaku guru bimbingan konseling hanya bisa menghela napas berat. Bukannya Pak Agus tidak peduli, tetapi kalau menyangkut nama Siska, pria berjanggut lebat itu tidak bisa berbuat apa-apa sebab Siska punya kuasa dan keluarganya merupakan pemilik yayasan sekolah ini.
Pak Agus teringat, dulu pernah ada guru BK yang berani terang-terangan menegur dan menghukum Siska, guru tersebut dipecat tidak hormat. Keluarga Siska tidak suka jika ada anggota keluarga mereka yang harga dirinya diinjak-injak, sekalipun mereka salah. Sekali lagi, uang dan kuasa bisa mengalahkan segalanya.
Pria seperempat abad itu menghela napas kasar. "Sudahlah, Ra. Nanti juga dia nggak bakalan ganggu kamu lagi. Ingat. Jangan membuat masalah dengannya, ya."
"Tapi, Pak ...."
"Hmm, Bapak mau keluar dulu, mau ngurusin anak-anak yang lain." Pak Agus memilih abai dengan keluhan Rara, tidak mau ambil pusing. Ia lekas beranjak dari kursi lantas keluar meninggalkan Rara yang masih duduk membeku.
Serasa keluhannya tidak dipedulikan, Rara akhirnya menyerah dan berjalan gontai ke luar ruangan BK sambil mendengus kesal.
***
Di jam istirahat, Rara merasa malas keluar kelas untuk ke kantin. Ia masih jengah dan kesal mengingat pertikaiannya dengan Siska kemarin. Alhasil, Rara pun terpaksa membawa bekal dari rumah dan makan di ruang kelas bersama teman-temannya yang memang sudah terbiasa makan di dalam tanpa keluar.
"Lu udah lapor Pak Agus?" tanya Mira yang tetap asyik menyantap telur dadar.
Sebelum menjawab, Rara menutup kotak makannya kemudian menyimpannya di dalam tas dengan malas. "Percuma nggak ditanggepin."
"Udah ketebak, kalau menyangkut Siska guru tiba-tiba saja tak peduli," seru Jaskia yang tidak dimengerti maksudnya oleh Rara.
Rara mengernyit heran."Kok bisa gitu?" tatapan Rara tertuju serius pada Jaskia seolah meminta jawaban yang cepat. Jaskia yang duduk sebangku dengan Rara mulai mendekatkan wajahnya ke telinga Rara, matanya melirik ke sana ke mari.
"Lu emang nggak tau ya Siska itu siapa?" tanya Jaskia dengan nada rendah supaya sedikit berhati-hati meskipun sebenarnya di kelas itu terlihat lengang. Rara menggeleng.
"Keluarganya pemilik yayasan ini, bego."
Rara tersentak kaget. Ia baru sadar ucapan Jaskia tempo lalu, bahwa jangan pernah berani-berani berurusan dengan Siska.
Seketika mendadak hening. Namun, langsung dipecahkan oleh kedatangan Siska dan geng-nya yang tiba-tiba saja berjalan masuk dengan angkuh ke ruangan kelas mereka. Siska beserta kawan-kawannya melangkah maju ke arah lorong barisan bangku milik Rara tiga baris pojok kanan dari depan.
Melihat itu, Mira dan Jaskia bangkit berdiri lalu beringsut pergi meninggalkan Rara ke bangku mereka masing-masing. Keduanya hanya tidak ingin ikut campur ke dalam urusan yang Rara alami. Apalagi jika menyangkut si cantik berwajah imut yang mendadak berubah ke mode 'judes menyeramkan'. Siapa lagi kalau bukan Siska. Kalau ada yang berani melawan, bisa-bisa dikeluarkan tanpa hormat dari sekolah.
Memandang muka gadis dan gerombolannya itu, mimik wajah Rara menyemburatkan kebencian. Sekilas, Rara melihat Bela yang membawa sekantong pelastik berwarna hitam, entah apa isinya Rara tidak tahu.
Siska tersenyum misterius tetap dengan gaya menyilangkan kedua lengannya di dada. Tanpa instruksi tiba-tiba Bela mulai menyerahkan sekantong pelastik hitam tersebut ke tangan Siska, kemudian dengan cepat Siska menaburkannya ke tubuh Rara.
"Anjiiir!" pekik Rara kaget.
Rupanya, dalam sekantong pelastik yang isinya melekat di baju Rara tersebut adalah tepung bercampur telur busuk, hingga serpihan itu menempel kuat di beberapa atas rambut Rara dan sebagian di mukanya.
"Ish apaan-apan ini?!" bentak Rara emosi, sambil mengibas-ngibaskan bajunya dari kotoran tepung yang menempel.
Mira dan Jaskia yang menyaksikan adegan itu terpengarah melihat aksi Siska dan teman-temannya tanpa bisa melakukan apa-apa. Arah mata Siska memandang keduanya bergantian.
"Kalian udah tahu, kan akibatnya kalau berani-beraninya berurusan dengan gue. Nasib kalian akan sama kaya cewek b*tch satu ini!" seru Siska lantang sambil menunjuk Rara.
Kedua gadis itu menelan saliva kasar. Setelah puas melampiaskan kekesalan pada Rara, Siska dengan tatapan sinisnya melenggang pergi keluar kelas begitu saja.
Pasrah, Rara tetap membesihkan pakaian dan rambutnya dari serpihan tepung. Sekilas Rara melirik ke arah kawan-kawannya. Terlihat tatapan iba dan kasihan muncul dari mimik muka-muka tersebut. Perasaan Rara berkecamuk dan campur aduk. Jengkel dan emosi hinggap di dadanya saat ini.
Dengan sigap, Mira dan Jaskia menghampiri Rara kemudian membantu Rara membersikan kotoran tersebut. "Ra, sorry ya kita nggak bisa bantu lo," ucap Mira dengan rasa penyesalan.
"Nggak apa-apa gue ngerti!" balas Rara sedikit kecewa.
***
Ruang kantin seketika menampakan aura mencekam tatkala Siska dan gerombolannya menginjakan kaki di tempat itu. Tatapan mata Siska terfokus pada seseorang yang membuat ia jijik akhir-akhir ini. Rara yang terlihat menyendiri itu sedang menyantap makanannya dengan lahap.
Terbesit di benak Siska untuk mengusili gadis itu. Melenggang dengan angkuhnya, Siska sambil diekori teman satu geng-nya berjalan melewati kerumunan meja-meja yang dipenuhi siswa/i yang tengah memerhatikannya.
Sadar dengan kehadiran Siska, Rara bangkit berdiri. Kebetulan Siska mendapati jus alpukat berada di atas meja bekas Rara tempati. Dengan sengaja Siska menyiramkan jus tersebut ke punggung Rara yang hendak akan pergi. Siska tersenyum semringah.
Langkah Rara tercekat, saat merasakan sesuatu yang basah di baju belakang tubuhnya. Spontan ia membalikan badan dengan mengeram kesal. Emosi Rara tersulut. Ingin membalas perlakuan Siska, Rara mulai melangkah, tetapi Ria yang ada di samping Rara membentangkan kakinya ke bawah otomatis membuat Rara terperangkak tak berdaya.
Siska dan komplotannya menertawan tindakan tersebut, seolah perbuatan buruk itu menjadi kesenangan tersendiri untuk mereka. Dirasa cukup bahan bulliyan untuk hari ini, Siska dan kawan-kawannya pun pergi dengan rasa puas dan wajah tak berdosa.
Anak-anak di sana hanya bisa menonton aksi negatif tersebut tanpa melakukan apa-apa. Ada yang iba, ada yang bengong, dan ada yang merasa heran prihal perkara apa kiranya Rara dijadikan objek pembulliyan. Anak-anak lain yang sudah mengetahui permasalah Rara malah ikut menertawakan dengan tindakan negatif Siska dan kawannya.
Rara masih tertunduk malu. Ingin menangis tapi cairan itu ia tahan. Rara hanya mencoba tegar dan kuat, tidak ingin terlihat lemah. Dalam keterpurukan itu, Rara merasakan sentuhan lembut seseorang di kedua pundaknya dari belakang. Ia menoleh, dan mendapati wajah cantik tengah tersenyum manis padanya.
Sosok cantik bersahaja itu menarik Rara untuk bangkit lantas memapahnya keluar kantin.