
Aku masih sakit dan Andrian begitu perhatian. Pagi ini, hari minggu. Dari jauh aku tengah memerhatikan bagaimana Andrian dengan penuh keahlian menyiapkan sarapan untuk kita berdua. Hatiku terpukau dengan cara ia bergerak gesit di dapur, mengambil bahan-bahan dengan hati-hati.
"Masak apa, Dri?" tanyaku sambil menghampirinya.
Andrian menoleh ke arahku saat ia sedang mengiris wortel. "Andrian mau masak sup, buat Ibu."
"Memangnya kamu bisa masak?" Aku mengernyitkan kening.
"Bisa dong, tapi kalau disuruh masak yang berat-berat Andrian nggak bisa," jawabnya disertai kekehan. "Ibu istirahat saja di kamar."
"Bosan lama-lama di kamar terus."
"Ibu, kan masih lemah dan belum pulih sepenuhnya, jadi Ibu harus dibanyakin istirahat. Nanti Andrian bawakan makanan ke kamar." Andrian meletakkan panci berisi air di kompor setelah ia selesai mengiris sayuran untuk membuat sup.
"Maaf ya merepotkan kamu, Andrian," kataku tak enak hati.
Andrian menatapku dengan ekspresi datar. "Jangan bilang begitu, untuk Ibu Andrian akan lakukan apapun."
Aku dibuat tertegun dengan ucapannya barusan. Melihat Andrian peduli terhadapku dengan begitu tulus membuat hatiku tersentuh. Aku melihat kebaikan dalam tindakannya.
"Ibu ke kamar dulu, ya. Mau istirahat." Andrian mengangguk setelah aku berpamitan padanya.
Lima belas menit kemudian, Andrian membawakan makanan ke kamar tempatku sedang duduk menyandar di ranjang. Aku melihat bagaimana ia dengan lembut menyuapi makanan ke mulutku, sambil kami bercakap-cakap dengan penuh kehangatan. Setiap suapannya seperti rayuan rasa yang mengalir dalam setiap gigitan.
Ketika aku mencicipi makanan yang dia siapkan, rasanya seluruh tubuhku terasa hangat dan nyaman. Seperti diapit oleh kebahagiaan yang mengalir. Aku tidak bisa menahan senyum di wajah saat aku melihatnya dengan bangga mengamati reaksiku.
"Enak nggak?" Andrian menatapku penasaran.
"Iya, ko kamu jago juga masak sup."
"Andrian, gitu lho," ujarnya disertai cengiran lebar.
Kami berbagi cerita, tawa, dan harapan di balik setiap suap makanan. Dia mendengarkan dengan seksama dan memberikan tanggapan yang penuh perhatian. Dalam percakapan kami, aku merasa benar-benar didengar dan dihargai.
"Pada malam itu kamu kenapa terlihat marah saat banting pintu? Apa kamu punya masalah?" Aku mengalihkan topik karena tiba-tiba teringat kejadian di malam itu. Aku penasaran sejak beberapa hari ini dia tak pulang ke rumah.
Ekspresinya berubah datar ketika aku memberikan sederet pertanyaan. "Nggak ada apa-apa ko."
Dahiku mengerut. "Terus, kenapa kamu pergi dari rumah selama lima hari? Papamu sampai khawatir."
"Andrian nginap di rumah teman."
"Kalau ada masalah cerita saja."
Andrian menunduk menatap lantai. "Nggak ada apa-apa." Detik kemudian ia memandangku intens. "Andrian nggak bisa bilang ke orang."
"Kenapa?" tanyaku dengan raut penasaran.
"Andrian, mau ke dapur dulu ya cuci ini. Ibu jangan lupa minum obatnya." Andrian beranjak dari sisi ranjang, dengan piring dan mangkuk kosong di tangan. Ia berlalu tanpa menjawab pertanyaanku.
Walaupun aku masih penasaran dengan sikapnya yang berubah tiba-tiba itu, tetapi aku merasa terharu atas perhatian yang dia berikan. Setiap momen yang kami habiskan bersama di dalam kamar ini membuatku semakin tersentuh oleh sikapnya yang hangat dan ramah.
***
Dua hari sudah aku terbaring lemas karena sakit, dan hari ini aku putuskan untuk mengajar lagi. Berkat Andrian yang mengurusku dengan baik dan telaten, perlahan kondisiku mulai membaik sehat kembali. Aku harus berterima kasih padanya.
Sedangkan Mas Reza, ia masih sibuk dengan urusannya di luar kota. Saat menghubungi lewat telepon, Mas Reza masih belum bisa pulang. Sebetulnya, aku juga tidak terlalu memedulikannya. Terserah ia mau berlama-lama di suatu tempat sekalipun, toh aku juga tidak pernah merindukannya.
Bisa dibilang, aku menikahinya tanpa rasa cinta, tetapi karena Ayah yang terus mendesakku, jadi jangan salahkan diriku bila aku belum mampu membuka hati untuknya!
"Bu, nanti pulang bareng Andrian lagi, ya," ucapnya setelah kami sama-sama turun dari mobil. Anggukan pelan aku berikan sebagai jawaban. "Oh, iya. Kalau Ibu merasa kelelahan, terus pengen pulang, tinggal panggil Andrian saja."
Entahlah, selama dua hari ini aku dibuat takjub dengan sikapnya yang tiba-tiba saja jadi sangat manis dan perhatian. Apa mungkin disebabkan aku sakit?
"Iya," balasku seadanya dan tidak lupa memberikan senyum manisku.
"Baiklah, kalau begitu Andrian duluan ya, Bu." Andrian berlari kecil meninggalkan area parkiran. Sesekali ia menengok ke belakang memandangku sembari melambaikan tangan. Sampai sosok itu hilang dari kejauhan.
***
Puji Tuhan, akhirnya proses mengajar telah usai. Hampir lima menit aku berada di parkiran, menyandar pada kendaraan, menunggu kedatangan Andrian. Tampak dari kejauhan, ia berjalan cepat menghampiriku. "Maaf, Bu. Lama menunggunya?" tanyanya dengan napas terengah.
"Nggak lama-lama amat ko. Ibu, juga baru sampai di parkiran," balasku berbohong, padahal sebenarnya sudah lima menit yang lalu.
"Ok deh, yuk kita pulang."
Saat kami akan memasuki mobil, seorang gadis tiba-tiba datang menghampiri Andrian.
"Ish ... Kakak, ko tinggalin aku?!" Gadis itu memberengut kesal.
"Siska, maaf ya hari ini aku nggak bisa anterin kamu dulu."
"Ish, padahal aku udah suruh sopirku pulang lagi, karena aku pengen pulang bareng sama kakak!" rengeknya sambil bergelayut manja di lengan Andrian. Sedangkan Andrian hanya menanggapi dingin.
Sekilas Andrian melirik ke arahku. Mungkin ia memberi kode minta izin padaku. "Kamu anterin dia aja dulu, Dri. Setelah itu baru kita pulang ke rumah."
Si gadis kemudian menoleh ke arahku, dengan senyum simpul terpatri di wajah manisnya. "Eh ada Bu guru, eh salah, tante." Dia mendekatkan diri, mengulurkan tangan. "Kenalin, Bu. Namaku Siska, pacarnya Kak Andrian."
"Iya, Ibu sudah tahu kok," kataku seraya mengangguk kemudian menerima uluran tangannya. Semua guru dan murid pasti sudah tahu dengan cucu pemilik yayasan ini.
"Ayo, kita pulang," seru Andrian seraya memasuki mobil duduk di belakang kemudi setir. Namun, saat aku memegang handle mobil hendak masuk ke dalam, gadis itu mencekal lenganku. Reflek aku menoleh heran.
"Tante, bolehkah Siska duduk di depan bersama Kak Andrian? Tante di belakang saja, ya," pintanya sambil cengengesan.
Baiklah. Sebagai orang dewasa di sini aku harus mengalah. Dia pacar Andrian, dan mungkin sedang dilanda kasmaran jadi dia ingin selalu dekat dengan pujaan.
"Iya, boleh Siska," ucapku dengan bibir menyungging ke atas.
"Makasih, Tante."
Selama di perjalanan, tidak henti-hentinya gadis manja itu berceloteh, membuat seisi mobil jadi berisik. Aku yang menyukai ketenangan, sedikit terusik. Bisakah sebentar saja dia berhenti bicara?
***
Di jam-jam prime time begini enaknya nonton televisi sambil nyemil. Akan tetapi, sepertinya tidak cukup hanya dengan memakan camilan saja, karena cacing-cacing di perut berontak minta makanan yang mengenyangkan.
Memasuki dapur, membuka lemari kichen set. Mengambil sebungkus mie instan. Sesaat kemudian Andrian datang. Ia berjalan ke arah kulkas, membuka lalu mengambil sebotol air mineral lalu meneguknya.
Bergeming aku memerhatikannya. Dia, terlihat seksi ketika sedang meminum air. Eh? Aku menggeleng-gelengkan kepala supaya sadar. Apa yang aku pikirkan? Kembali aku alihkan fokus membuka mie.
"Ibu, masak mie?" Suara Andrian mengalihkan perhatian. Reflek aku menoleh menatapnya datar.
"Iya. Kamu mau mie nggak? Biar Ibu yang masakin."
Anak itu memberikan senyum tipis ke arahku. "Andrian, nggak lapar ko, Bu," balasnya sembari meletakan kembali botol itu di dalam kulkas.
Dahiku mengerut, ketika kurasakan ada sesuatu merayap di atas pergelangan kakiku. Perlahan aku menunduk ke bawah, dan aku mendapati ...
"Aaarrgh, kecoaak ..!" pekikku panik dan ketakutan.
Serangan panik melanda. Tubuhku mendadak seperti reog Ponorogo yang tidak bisa diam karena sibuk jingkrak-jingkrakan disertai kibasan kaki ke sana ke mari, biar cepat-cepat makhluk sialan itu enyah dari atas kakiku. Aku jijik!
Namun, tanpa disengaja aku menubruk badan Andrian yang tidak bisa menahanku karena pergerakan cepat yang mendadak. Otomatis kami berdua terhempas ke lantai dengan posisi yang tidak etis. Aku menindih tubuhnya!
"Aaaw," Andrian meringis kesakitan terjatuh ke lantai. Detik kemudian, mata kami saling beradu pandang. Sejenak kami terdiam dalam keheningan.
Deg!
Entah mengapa jantungku tiba-tiba saja berdetak kencang. Wajah memanas tak karuan dan tanpa disadari kami saling terpaku memandang satu sama lain. Ada desiran aneh menjalar.
Perasaan apa ini?