I Love You My Step Mother

I Love You My Step Mother
Perpisahan



Andrian dan Alfira yang sedang duduk di depan ruang ICU terkejut bahagia mendengar kabar dari dokter bahwa ternyata Reza yang sempat mengalami koma akibat kecelakaan seminggu yang lalu, saat ini kondisinya cukup menggembirakan.


"B-benar, Dok?" tanya Andrian tak percaya, awalnya ia sudah pasrah tapi ternyata takdir berkata lain.


"Iya, beliau sudah sadar, tidak ada cacat dan penumpukkan, fungsi syaraf baik, CT scan baik, enggak ada tulang tengkorak patah. Memang tulang selangka kiri lecet, tidak lama lagi Pak Reza akan pindah ke ruang biasa (dari ruang ICU)," ujar dokter pria tersebut, Andrian dan Alfira pun bisa bernapas lega.


"Pak Reza tidak mengalami luka permanen, dan tidak ada bedah syaraf, hanya ada pemasangan pen di bagian tulang selangka bagian kiri. Itu kalau sudah baik, beberapa hari lagi ia akan ditangani bedah ortopedi," imbuh sang dokter.


"Terimakasih ya, Dok" kata Andrian dengan senyum haru.


"Iya, saya permisi dulu," ucap sang dokter tersenyum sambil berlalu pergi.


***


Di taman rumah sakit, Alfira dan Andrian duduk berdua hanya untuk sekedar menikmati angin malam. Mereka terdiam dan terhipnotis karena malam itu langit sangat indah, ditaburi bintang-bintang dan bulan yang bersinar terang.


"Andrian ...," suara Alfira memecahkan kesunyian tanpa lepas dari memandangi bintang.


Andrian menoleh ke arah ibunya. "Hmm?"


Sebelum berkata Alfira menghela napas berat. "Kamu, cari cinta yang lain, dan relakan saja aku," ucapnya pelan.


Mendengar itu hati Andrian perih, begitu juga dengan Alfira, seakan berat mengucapkan kalimat yang terlontar dari mulutnya sendiri. Tapi bagaimana lagi, dia harus mengakhirinya, mengingat mereka tidak akan pernah bisa bersatu.


Andrian mengalihkan pandangannya kembali mentap bintang yang bercahaya indah. "Kenapa kita harus memiliki rasa ini jika pada akhirnya akan berujung sakit?" kata Andrian pedih.


"Maka dari itu mari kita kubur perasaan ini. Jika tidak, maka kita akan tetap menderita karena cinta yang tumbuh pada lahan yang salah."


"Kalau kita tidak bisa?"


"Harus bisa Andrian."


Dada keduanya terasa sesak, tubuh mereka mendadak lemas. Kedua bola mata Andrian sudah menggenang, pertanda air mata akan jatuh, tapi ia tahan.


"Kenapa kamu juga mencintaiku? Seharusnya aku saja yang menderita karena rasa ini, kenapa kamupun harus menerimanya? Biarlah aku yang menanggung jika pada pada akhirnya kamu juga harus terluka karena rasa ini," ujar Andrian.


"Nggak apa-apa Andrian, aku tidak menyesal mencintaimu meskipun berujung perih. Jatuh cinta pada dirimu adalah hal yang terindah dalam hidupku karena cintamu itu dapat merubahku menjadi orang yang sempurna di matamu."


"Tapi aku benci ketika rasa ini menyakiti kita berdua!" sergah Andrian emosi.


"Oleh sebab itu mari kita sama-sama buang cinta ini, dan kita hanya akan menyayangi sewajarnya sebagai ibu dan anak." Kata-kata yang mudah diucapkan di bibir Alfira, tapi berat dan menusuk di hati keduanya.


Cukup lama mereka terdiam, pandangan keduanya masih asyik memperhatikan bintang-bintang yang berkelip-kelip di langit, tapi hati keduanya tersiksa menerima kenyataan bahwa mereka tidak bisa memelihara cinta yang kadang membuat hati berbunga-bunga bahagia.


Entah mengapa kata-kata mutiara dari Rara terngiang-ngiang di kepalanya. Hingga pada akhirnya Andrian memutuskan, "Baiklah." Andrian menghembuskan napasnya panjang. "Aku akan coba move on darimu," lanjutnya. "Dan aku akan merelakanmu demi Papa."


Mendengar itu seketika satu tetes air mata jatuh ke pipi, dengan cepat Alfira menghapusnya karena Ia harus terlihat tegar. Alfira menoleh ke arah Andrian. "Maukah kamu menyayangiku layaknya ibu?" dengan senyuman getir.


"Baiklah." Andrian tidak menatap Alfira, karena baginya itu akan sangat menyakitkan. Setidaknya malam itu, sakit hati mereka tertuntaskan!


***


Reza dan Alfira yang sedang duduk di ruang keluarga langsung menoleh kaget ke arah Andrian. Pasalnya, dulu Andrian tidak punya rencana berkuliah di luar negeri. Sehingga bagi Reza melanjutkan study ke luar negeri itu sangat mendadak.


"Katanya dulu rencanya ke UI ko sekarang milih ke luar negeri?" tanya Reza heran.


"Andrian dapat beasiswa Pah, terus Andrian juga pengen cari pengalaman," ujarnya sambil menunduk.


"Beasiswa dari mana? Terus rencana kuliah di universitas mana?"


"Andrian mengikuti program Orange Tulip Scholarship Pah, di Radbound University."


Bukan tanpa alasan Andrian menempuh pendidikannya di luar negeri, tentu saja karena ia ingin menjauh dari Alfira. Ia berpikir, barangkali saja dengan menjaga jarak darinya, rasa cinta itu lama kelamaan akan memudar, walau pada dasarnya terasa berat karena akan berpisah dengan waktu yang cukup lama.


Entah mengapa setelah Alfira mendengar itu hatinya berdenyut nyeri. Dia bangkit berdiri dari sofa, berjalan dengan gontai menuju kamarnya. Dia meringkuk di balik selimut, menahan tangis bahwa dirinya akan berpisah dengan Andrian. Namun, bukankah itu resikonya? Ketika mereka berdua sudah berjanji untuk berjuang saling mengubur perasaan masing-masing maka ia harus kuat, sebab kadang perjuangan terasa perih.


"Ya sudah, kalau Papa dukung saja."


Andrian tersenyum tipis. "Makasih, Pah."


***


Setelah Andrian lulus SMA dan telah menyiapkan keberangkatannya ke Belanda, Andrian menyempatkan datang ke sekolah. Ia ingin menemui seseorang yang tidak lain adalah mantannya.


Di parkiran sekolah, Andrian menyisir pandangannya ke sekitar, berharap dapat bertemu dengan Siska. Hingga pada akhirnya, Andrian menemukan gadis itu. Terlihat ia berjalan menuju ke arah mobil jemputan yang sudah menunggunya.


Dengan cepat Andrian berlari menghampiri, lalu ia menarik lengan gadis itu reflek Siska menoleh ke belakang. Ia terkejut sekaligus bingung karena ternyata Andrian yang menahannya.


Siska memasang muka dingin dan cuek. "Mau apa?" tanya Siska datar.


Perlahan Andrian melepaskan tangannya dari lengan Siska. Andrian menatap Siska instens. Seketika rasa penyesalan menyeruak di jiwanya mengingat apa yang telah ia lakukan pada Siska. "Aku cuma mau minta maaf sekali lagi."


Siska menatap wajah rupawan itu. Wajah yang ia benci karena laki-laki yang berada di hadapannya telah memberikan luka yang menyayat hati. Disisi lain, ada sedikit rasa senang ia bisa kembali memandangi wajah yang selama ini ia cintai.


Bisa dibilang sebenarnya Siska masih menyimpan rasa pada Andrian, hal itu membuat ia frustasi. Bisa-bisanya ia masih menyimpan rasa cinta terhadap orang yang telah menggoreskan luka, begitulah batinnya merutuki.


"Udah basi!" balasnya ketus sambil membuang tatapan dari Andrian, kemudian dia mulai melanjutkan langkah.


"Aku mau pergi ke Belanda!" Seruan Andrian seketika mencekatkan langkah Siska, ia mematung dan tertegun. "Terimakasih sudah ada di hidup aku, meskipun aku belum bisa mencintaimu sepenuhnya tapi aku senang menjalin hubungan sama kamu. Kata orang kamu galak dan manja, tapi bagiku kamu gadis yang baik, ceria dan manis."


Siska terdiam tidak menanggapi. "Selamat tinggal Siska, aku harap suatu saat nanti kita bisa bertemu."


Setelah mendengar itu, Siska tetap melanjutkan langkahnya. Dia sama sekali tidak merespon atau pun menengok ke arah Andrian. Dia pura-pura tak acuh, padahal hatinya berontak bilang tidak. Ya, dia sedih mendengar itu, berpisah dengan Andrian.


Di dalam mobil menuju perjalanan pulang, Siska terdiam. Entah mengapapa cairan bening yang ia tahan sedari tadi tiba-tiba keluar, dengan cepat ia langsung menyekanya. "Sialan!"