
Alfira POV
Setiap malam, aku datangi kamar Andrian. Melihat ke segala arah. Hatiku mulai rindu ketika melihat bayangan dia yang sedang fokus belajar di meja belajarnya. Hatiku mulai rindu ketika tak sengaja kulihat bajunya yang menggantung di lemari.
Hatiku mulai rindu ketika bayangnya yang sedang tertidur lelap di atas ranjang, hatiku mulai rindu melihat senyum menawan itu ketika aku mengantar segelas susu ke kamarnya.
Aku merindukannya, saat dia bermanja ria padaku, memelukku, memperhatikanku, menggodaku, semua tentang dia aku rindu. Katakanlah kalau aku gagal move on.
Malam itu, di taman rumah sakit. Aku sudah berjanji pada diri sendiri, bahwa aku akan mengubur perasaan ini, tapi kenyataannya sudah hampir dua tahun lebih berlalu selepas kepergiannya ke Belanda, rasa ini masih tetap sama. Aku mencoba untuk mencintai Mas Reza, tapi nyatanya kadar cintaku pada Andrian lebih besar, tak berkurang sedikit pun.
Berpisah dengan Andrian seharusnya jadi solusi untuk menghapus perasaan ini secara perlahan, tapi menjauh darinya malah semakin membuatku menderita. Jujur, aku ingin dia tetap berada di sini, bersamaku.
Apakah aku sudah tak waras? Apakah aku sudah menjadi budak cintanya? Entahlah, yang jelas aku sangat merindukannya! Aku ingin dia cepat pulang! Rasa rindu ini sudah membuncah tak bisa ditahan. Ibarat gunung yang sebentar lagi akan memuntahkan lahar!
Aku bergeming duduk di tepi ranjang. Kuteringat dalam lamunan, membayangkan cinta dan sentuhan tangannya. Senyumannya yang perlahan pudar saat dia lambaikan tangan dan pergi meninggalkanku seolah masih terngiang dalam ingatan. Seandainya jarak tiada berarti akan kuarungi waktu dalam sekejap untuk bertemu dengannya.
Rindu ini terus mengganggu, mengganggu hati ini yang beku merindukannya. Tahukan di sini aku selalu menantinya? entah mengapa aku jadi melankolis begini. Memang agak berlebihan namun itulah yang kurasakan.
Andrian cepatlah pulang, aku rindu.
***
Aku mengernyitkan dahi heran saat melihat Mas Reza pulang ke rumah dengan wajah yang begitu berseri-seri. Beberapa bulan terakhir ini, ia telah menjadi semakin jarang berada di rumah, bahkan terkadang ia tidak pulang sama sekali selama seminggu penuh. Padahal, aku tengah disibukkan dengan tugas mengurus bayi yang memerlukan perhatian dan perawatan ekstra.
Pernah pada suatu malam, ketika Mas Reza tiba-tiba muncul di depan pintu rumah dengan senyum cerah di wajahnya, aku tidak bisa menahan rasa penasaran. "Mas, apa yang terjadi denganmu akhir-akhir ini? Kenapa kamu sering pulang larut malam dan kadang tidak pulang sama sekali?"
Mas Reza menjawab dengan santai, "Oh, itu hanya karena ada banyak pekerjaan di kantor, Dek. Urusan klien baru yang harus Mas selesaikan."
Aku tetap merasa khawatir, "Tapi, Mas, kamu tahu bahwa aku butuh bantuanmu di rumah. Bayi kita memerlukan perhatian, dan aku merasa sangat lelah karena harus mengurus semuanya sendirian." Aku memang tak mau menggunakan jasa pengasuh bayi atas saran dari Mas Reza.
Mas Reza mengangguk, mencoba memberikan pemahamannya. "Mas tahu, Dek. Baiklah, Mas minta maaf jika Mas tidak bisa membantu lebih banyak."
Namun, aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Mas Reza. Ada rahasia yang belum terungkap, dan ketidakjelasan ini semakin membuatku gelisah. "Mas, aku hanya ingin keterbukaan dari kamu. Jika ada masalah atau sesuatu yang mengganggu pikiranmu, tolong katakan padaku. Kita bisa mencari solusi bersama-sama."
Mas Reza tampak ragu sejenak sebelum akhirnya menghela napas dalam-dalam. "Baiklah, Dek. Sebenarnya, ada masalah besar di kantor yang memaksa Mas harus bekerja lebih keras. Firma hukum tempat Mas bekerja sedang menghadapi situasi keuangan yang sulit, dan pekerjaan ini penting bagi masa depan perusahaan."
Aku merasa lega karena akhirnya Mas Reza membuka diri. Namun, kekhawatiranku tentang kondisi Mas Reza masih ada. "Mas, aku mengerti situasi ini, tetapi kamu juga harus memprioritaskan keluarga. Kamu harus mencari cara agar aku tidak terlalu kesepian di rumah. Bi Narsih, kan hanya pekerja paruh waktu, Mas."
Mas Reza mengangguk setuju, "Kamu benar, Dek. Aku akan berusaha untuk lebih ada di rumah, meskipun pekerjaanku di kantor tetap penting."
"Mas sudah makan?" tanyaku mengalihkan topik. Mas Reza mengangguk.
"Mas ke kamar dulu, ya. Cape." Saat Mas Reza berjalan melewatiku, aku mencium aroma wangi parfum khas wanita.
Sejenak aku tertegun heran. Sejak kapan Mas Reza memakai parfum wanita?
***
Andrian POV
Bulan ini musim semi. Langit Lisee tampak cerah, bunga-bunga Tulip dengan beragam spesies bermekaran dengan rumput-rumput hijau menyegarkan mata. Semenjak menginjakan kaki ke negeri ini, taman Keukenhof dengan luas 80 hektar sudah menjadi incaran favoritku untuk menghabiskan waktu weekend atau saat aku tidak punya jadwal kuliah ketika musim semi.
Sudah dua tahun aku menempuh pendidikan di negeri kincir angin, dan selama itu pula aku menjaga jarak darinya. Bu Alfira, mungkin sekarang dia sudah bisa mengubur cinta terlarangnya, atau mungkin saja sekarang dia sudah membuka hatinya untuk Papa.
Sebelum aku pergi ke bandara, aku dan dia sudah berjanji untuk bisa move on. Saling membuka hati pada orang lain. Saling berjuang untuk menghempaskan rasa terlarang ini, dengan tidak berkomunikasi satu sama lain. Berharap perlahan bisa menghapus perasaan masing-masing.
Aku hanya menghubungi Papa untuk sekadar menanyakan kabar. Akan tetapi, untuk menghubungi Bu Alfira walau hanya sekadar teleponan atau video call akan selalu ku urungkan. Sengaja kami menjaga jarak, agar rasa ini bisa menghilang dengan sendirinya.
Menarik napas dalam, lalu mengembuskannya. Duduk bergeming di antara taman yang dikelilingi bunga Tulip bermekaran. "Aku merindukanmu," monologku.
Seharusnya aku mampu, tapi entah mengapa terkadang aku sangat merindukannya. Apa aku gagal move on? Ayolah Andrian, kamu harus lebih ekstra lagi untuk mengubur rasa ini. Ya, aku harus mencoba membuka hati untuk wanita lain. Aku pasti bisa!
***
Dua tahun kemudian, setelah perjalanan panjang, sampai juga aku di tanah air tercinta ini. Kuhirup udara Indonesia yang sudah empat tahun aku tinggalkan. Senang rasanya bisa kembali ke negeri ini.
Selama empat tahun lamanya, aku sengaja tak pulang ke Indonesia walau hanya sekadar mengambil libur atau apapun itu. Setiap Papa mengubungi, ia selalu bertanya mengapa gerangan aku tidak pernah pulang sesekali ke rumah alasan yang kuberikan cukup geli sebenarnya. Agar hemat ongkos pesawat dan aku ingin fokus belajar, reaksi Papa selalu geleng-geleng kepala saat aku melihatnya di video call.
Sambil mendorong koper, ku tengok kanan kiri, berharap dapat kutemukan taksi di depan bandara. Sengaja aku tidak memberitahu Papa, rencananya aku ingin memberikan dia kejutan.
Sampai pada akhirnya sebuah taksi berhenti di depanku. Segera ku simpan koperku di bagasi, kendaraan pun lekas meluncur membelah jalanan.
***
Mata Papa terbelalak seketika, lalu tersenyum lebar saat Papa membukakan pintu. Dia terkejut sekaligus bahagia karena aku tidak mengabarinya terlebih dahulu, tahu-tahu aku sudah berada di depan pintu rumah.
"Ya ampun Andrian, ko kamu tidak mengabari Papa? Coba aja kamu kasih tau Papa pasti nanti Papa akan sambut dan jemput kamu di bandara."
Aku tersenyum. "Sengaja, Pa. Biar jadi kejutan buat Papa."
"Yu udah ayo masuk, kamu pasti cape," ucap Papa sambil merangkulku. "Mah, Andrian pulang!"
Mendengar seruan Papa, akhirnya sosok itu muncul dari arah dapur. Bu Alfira, dia tertegun dan mematung saat melihatku. Aku melihat sorot matanya yang berbinar, perlahan senyuman terbit di wajahnya.
Kuperhatikan dia lekat, dia semakin dewasa dan cantik. Tapi, tunggu! Siapa itu? Ada seorang bocah laki-laki yang bersembunyi dari balik bokongnya. Dia mengintip ke arahku.
Kemudian Bu Alfira menggendongnya, lalu berjalan mendekat. Aku tersenyum gemas saat dia menatapku dengan cengiran lebar.
"Mama apa dia Kak Andlian?" katanya dengan cadel.
Bu Alfira tersenyum dan mengangguk. Aku terbelalak tidak percaya, apa jangan-jangan dia anaknya Bu Al? Tapi mengapa Papa tidak memberitahuku?
Aku menoleh ke arah Papa. "Kenapa Papa nggak bilang-bilang kalau aku sudah punya adik?"
Papa malah cengengesan. "Hehe, biar jadi kejutan!"
Lalu bocah itu tiba-tiba memberontak minta diturunkan dari gendongan Bu Alfira. "Mama Ali pengen tulun!"
Bu Alfira sedikit kewalahan menghadapinya karena bocah itu dengan gesit minta diturunkan, aku yang melihatnya sedikit khawatir takut ia terjatuh. "Ya ampun Ari pelan-pelan turunnya!"
Dia berlari dengan girang lalu aku menangkapnya saat dia melompat ke pangkuanku. Tak henti-hentinya ia tersenyum padaku.
"Jadi namamu Ari?" Ia mengangguk dengan lucunya membuat aku gemas.
"Kakak, nanti main yuk." Aku hanya tersenyum lalu mengangguk padanya, karena saking menggemaskannya kugelitiki perutnya hingga dia tertawa keras, tampak dia menggeliat minta melepaskan diri dari gendonganku tapi tidak bisa.
"Hahaha ... Kakak gellii!!" rengeknya membuat aku terkekeh, karena tidak tega akhirnya kuhentikan saja. Kucium dia sekilas, kemudian menurunkannya ke lantai. Dengan antusiasnya bocah kecil itu beralih memainkan ransel dan koperku. Andai aku tahu kalau aku punya adik, mungkin aku akan membelikan dia oleh-oleh berupa mainan dari Belanda.
"Andrian pasti kamu lelah dan lapar, 'kan? Sekarang kamu makan setelah itu istirahat," ajak ibu tiriku sambil berlalu pergi. Entah mengapa iris mata ini tak lepas memperhatikannya sampai perlahan punggungnya tak terlihat masuk ke dalam dapur.
'Bu Al, apakah kau sudah berhasil membuang cintamu padaku?' kata hatiku bertanya.
***
Sambil menikmati secangkir machiato di Coffe Shop, jari jemariku disibukkan mengetik tut tut di laptop untuk mencari lowongan pekerjaan lewat internet.
Mencari perusahaan yang sedang membutuhkan seorang manager bisnis. Tentu saja, aku tidak mau berlama-lama menganggur, meskipun Papa sempat bilang bahwa ia memintaku untuk mengelola bisnisnya, tapi aku ingin punya karir sendiri dan pengalaman bekerja di perusahaan orang lain secara mandiri.
Kutengok arloji di pergelangan tangan, menunjukan pukul 08:30 malam. Sepertinya aku harus pulang karena sudah cukup lama aku berada di sini. Gegas aku masukan laptop ke dalam ransel, menyeruput kembali sedikit machiato yang tersisa.
Aku keluar dari kafe dengan langkah mantap, memasang jaket dan ransel sambil berjalan menuju mobil di parkiran. Namun, ketika aku mendekati mobil, aku tidak bisa mengabaikan suara cekcok yang terdengar di seberang sana.
Tak sengaja aku melihat sepasang laki-laki dan perempuan terlibat dalam pertengkaran yang memanas. Lelaki itu tampak marah, dan tangannya menggenggam lengan perempuan itu dengan kasar. Mereka terlibat dalam adu mulut yang semakin panas dan tidak sehat.
Aku merasa perlu untuk mengintervensi situasi ini. Tidak tega melihat perempuan itu disakiti atau terluka. Dengan cepat, aku mulai berlari menuju ke arahnya.
Saat aku mendekat, lelaki itu mencoba menarik perempuan itu menuju mobilnya, tindakan kasar yang semakin membuatku harus cepat bertindak. Dengan kecepatan langkah, aku mencapai mereka dan menahan laki-laki itu dengan sigap.
"Hey, berhenti!" Aku berteriak dengan suara tegas.
Lelaki itu terkejut oleh tindakan tiba-tiba dariku, dan perempuan itu memanfaatkan kesempatan untuk melepaskan diri dari cengkeraman lelaki tersebut. Perempuan itu mundur ke belakang punggungku. Aku tetap berdiri di antara keduanya, siap untuk melindungi perempuan ini jika diperlukan.
Aku menoleh ke belakang sekilas, dia terlihat terengah-engah, tetapi ada ekspresi rasa lega di wajah cantiknya. Kembali aku menatap tajam lelaki yang masih marah di depanku ini.
"Sekarang, tenanglah," Aku berkata dengan suara yang tenang namun tegas. "Tidak ada yang perlu dilakukan dengan kekerasan. Mari bicarakan masalah ini dengan tenang."
Aku berusaha membantu menyelesaikan konflik ini dengan damai untuk menghindari pertikaian fisik yang lebih serius dan untuk memastikan keselamatannya.
"Jangan ikut campur lu!" sentak laki-laki itu.
"Aku tidak bisa tinggal diam melihat perempuan disakiti."
Lelaki itu beralih memandang dia yang ada di belakangku dengan tajam. "Ayo ikut gue! Lu tahu, kan kalau kita sudah dijodohkan?!"
"Gue nggak mau ikut sama lu. Pergi!"