
"Bosan," ucap Alfira jenuh sambil rebahan di atas sofa. Andrian yang tidak sengaja lewat, mendengar keluhannya. Ia pun berinisiatif mengajak ibu tirinya itu untuk keluar.
"Ibu mau jalan-jalan?" Andrian menawari.
Mendengar ajakan Andrian, Alfira membelalakan mata, terkejut karena Andrian bisa sampai membaca fikirannya kalau hari ini ia memang ingin keluar dan jalan-jalan.
Sungguh laki-laki yang peka, batinnya.
Alfirapun langsung menoleh kemudian bangkit duduk dari posisinya. Memandang Andrian dengan senyum kecil terpatri. "Iya, Ibu bosan aja hari libur nggak ada kegiatan."
"Ke Dufan mau?"
Mendengar tawaran Andrian entah mengapa Alfria malah ingin, dan sepertinya asyik, pikirnya. Mengangguk tanda meng-iyakan. Melihat respon Alfira, Andrian tersenyum bahagia.
"Ibu siap-siap dulu, ya." Bangkit dari sofa, dengan secepat kilat Alfira bergegas ke kamarnya guna mengganti pakaian, pun Andrian. Keduanya seolah akan pergi berkencan.
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka berangkat menggunakan motor sport milik Andrian. Alfira yang memintanya, karena tiba-tiba saja ia ingin merasakan sensasi diboncengi anak tiri.
***
Kedua manusia berstatus ibu dan anak tersebut telah sampai pada lokasi tujuan. Alfira dan Andrian berjalan beriringan mengelilingi kawasan arena bermain.
Beberapa pasang mata yang melihat sekilas, berfikir kalau Alfira dan Andrian adalah sepasang kekasih. Bagaimana tidak, jika di sekolah Alfria sering mengenakan baju dinas, batik dan celana sayur, sementara untuk di luar atau jalan-jalan setelan yang Alfira pakai mencerminkan style anak muda yang sesuai dengan usianya.
Mengenakan celana jeans panjang berwarna hitam dan jaket denim ice blue jeans beserta kaos putih, tampak serasi dengan Andrian yang memakai jaket denim hoodie-nya.
Wahana demi wahana telah mereka naiki, hingga sampailah pada wahana yang membuat jantung berdegup kesetanan. Alfira yang punya phobia kecoa dan petir rupanya dengan hal yang satu ini nyalinya lumayan besar, berulang kali ia mengajak Andrian untuk mencoba wahana tersebut.
"Dri, kita coba naik itu yuk," ajak Alfira antusias sambil menunjuk wahana permainan bernama roller coster.
Melihatnya saja sudah membuat Andrian bergidik ngeri dan menelan air liur. Ia tidak suka wahana yang memacu adrenalin. Ekspresi Andrian yang menyiratkan keraguan dan ketakutan, menjadi perhatian Alfira sedari tadi.
Coba memahami, akhirnya Alfira memutuskan untuk menaiki wahana sendirian saja. "Ya udah nggak apa-apa kalau kamu takut," ucap Alfira dengan senyumnya.
Mendengar hal itu Andrian merasa diremehkan, takut dicap kurang gentleman. Di depan wanita tersayang harusnya tampak kuat, bukan cemen seperti itu, gengsilah, kata hatinya menggerutu. "Ih nggak ko, yuk naik."
"Beneran?" tanya Alfria meyakinkannya.
Andrian mengangguk tak yakin karena memang ia ketakutan.
Mungkin disebabkan rasa cinta yang besar terhadap Alfira, Andrian memberanikan diri menerima ajakan Alfira menaiki wahana tersebut meski rasa takut menyelimuti.
Selama menaiki roller coaster, tak henti-hentinya jantung Andrian berdegub heboh. Tubuhnya gemetaran, berulang kali ia menutup mata agar tidak sampai melihat pemandangan di depan yang melaju kencang.
Isi dalam perutnya berasa ingin keluar, dan satu hal lagi, ia juga tidak tahan ingin buang air kecil. Namun, permainan itu belum berhenti juga. Andrian tak tahan lagi!
Sadar dengan keadaan Andrian yang memperihatinkan, Alfira yang duduk di sebelahnya mencoba menenangkan. Ia menggenggam lembut tangan Andrian. Ada rasa kasihan, tapi lucu juga lihat ekspresi sang anak tiri. Berulang kali ia menahan tawa.
Akhirnya apa yang diharapkan Andrian berhenti juga. Selesai menaiki wahana itu, sesuatu yang membuat perutnya mual, memberontak ingin keluar. Berlari tergesa ia mencari sudut taman yang sunyi. Di belakangnya Alfira mengekori bingung.
Berjongkok menghadap taman, lalu sesuatu itu meluap keluar tanpa diminta. "Hueek!" Andrian muntah. Kepalanya pusing serasa oleng.
Tawa Alfira pecah. Siapa suruh juga memberanikan diri naik wahana ekstream jika awalnya memang phobia, tidak usah diberani-beranikan seolah jagoan, begitulah batin Alfira.
Perlahan ia mendekati Andrian, membungkuk menepuk-nepuk punggungnya yang masih berjongkok sambil mengeluarkan muntahan.
Alfira mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam tas gendongnya. "Diminum dulu."
Andrian bangkit berdiri, menerima lantas menenggaknya. "Aku kapok," kata Andrian sambil menyeka bibirnya dengan punggung tangan. Ia menoleh memandang Alfira melas. Mimik mukanya membuat Alfira terkekeh.
"Mau naik apa lagi?" tanya Alfira kemudian. Andrian sejenak berpikir.
"Yang ringan-ringan aja ya, Bu," jawab Andrian dengan puppy eyes-nya membuat Alfira semakin gemas.
"Kalau naik bianglala?"
"Kalau bianglala sih it's oke." Menurut Andrian, wahana tersebut tidak terlalu mengguncang jantungnya, tidak semenyeramkan yang tadi dilalui.
Setuju, Andrian menggangguk mengiyakan.Sebelum lanjut, keduanya rehat sejenak guna mengisi energi kembali untuk bersenang-senang.
Duduk berdua di bangku taman area bermain, Alfira memandang Andrian lekat. Remaja tampan di sampingnya ini terlihat kelelahan dan berkeringat. Tentu saja dikarenakan tidak kuat seusai menaiki permainan yang membuat jantung kesetanan.
Merogoh sapu tangan di kantong celana, tangan kanan Alfira terulur menyeka keringat di dahi Andrian. Sempat tegang akibat perlakuan Alfira yang mendadak, Andrian berusaha rileks. Degupan jantung itu kembali hadir kala Alfira mendekatkan wajahnya hingga mengikis jarak di antara keduanya.
Andrian memerhatikan intens wajah cantik sang ibu tiri. Sorot matanya tiba-tiba tertuju pada ranumnya benda kenyal yang membuat air liur mengalir begitu saja ke tenggorokan. Bibir bergincu merah muda itu tampak seksi dipenglihatan Andrian. Ingin rasanya ia mencoba mengecup tapi apalah daya.
Pun dengan Alfira. Semakin dekat, semakin terasa debaran aneh di hatinya. Dengan jarak sedekat ini, ia bersusah payah mengontrol detak jantung yang kian menggila. Bak berlari maraton, sambil menyeka keringat di dahi dan leher Andrian, Alfira mencoba setenang mungkin.
Dalam hati ia meracau, bisa-bisanya dirinya jatuh cinta pada remaja yang merupakan anak dari sang suami. Bagaimana bisa begitu? Sungguh tidak adil dan menyiksa. Semakin rumit saja, batinnya menggerutu kesal.
"Sudah cukup istirahatnya?" tanya Alfira memundurkan wajahnya. Andrian mengangguk kikuk.
"Yuk kita lanjut lagi," ajak Alfira tersenyum sambil mengulurkan tangan pada Andrian, dengan senang hati anak itu menerimanya sehingga berakhir saling menggenggam.
Saat ini, mereka tengah berada di dalam sebuah kincir besar yang akan membawa pada ketinggian +- 30 meter dpl.
Perlahan posisi keduanya semakin naik sampai tepat berada di puncak ketinggian. Alfira tampak menikmati wahana tersebut, sedangkan Andrian malah bergeming. Alfria yang menyadari itu sempat berpikir apakah Andrian juga takut ketinggian?
Tepat sekali dugaannya. Memang benar kalau Andrian merasa ketakutan. Bukan di wahana ekstrim saja, setenang wahana bianglala pun dirinya terlihat gelisah. Alfira tidak tahu saja, Andrian juga mengidap phobia ketinggian.
Raut muka cemas dan gelisah tampak kentara sekali di wajah Andrian. Beberapa kali ia terpejam. Kedua tangan bergetar itu mengepal kuat di atas paha.
Merasa iba, Alfira menggeser posisi duduk lebih dekat ke samping Andrian, tangan kanannya menangkup wajah Andrian kemudian menyandarkan kepala Andrian di bahunya. Tangan kiri Alfira menepuk-nepuk pundak Andrian untuk menenangkan.
Sadar tengah diperlakukan manis, mata Andrian terbelalak. Jantung yang awalnya sudah berdegup kencang, sekarang makin meninggi intensitas degupannya jadi tak karuan.
"Coba lihat deh Dri, bentar lagi sunset, pasti indah kalau melihatnya dari ketinggian seperti ini," kata Alfira pelan.
Andrian tidak merespon perkataan Alfira. Mulutnya membisu, tubuhnya kaku, wajahnya memerah dan jantungya berlari maraton tapi hatinya berbunga bahagia.
Entah itu takdir atau kebetulan, tapi suasana tersebut mendadak berubah jadi romantis. Matahari yang mulai terbenam di ufuk barat, pemandangan pantai yang indah serta gemerlapnya lampu-lampu Ancol Taman Impian, membuat mereka terdiam dalam kedamaian. Jangan tanyakan jantung Alfira! Meskipun ia terlihat tenang tapi hatinya bergemuruh.
Cukup lama Andrian menyandar nyaman pada bahu Alfira, dan tak terasa pula wahana itu berhenti menandakan waktu bermain telah usai.
Setelah menaiki wahana yang mendadak romantis, rona merah dan senyuman kecil terukir di wajah keduanya. Beberapa kali Alfira dan Andrian membuang tatapan untuk menyembunyikan senyuman, tapi entah mengapa senyuman itu tak henti-hentinya terbit. Mereka seperti kedua sejoli yang dilanda kasmaran.
Sebelum pulang, keduanya memutuskan untuk makan di di restoran area sekitaran taman terlebih dahulu. Dari awal memesan makanan, melahap sampai tandaspun tidak ada perbincangan yang terlontar. Alhasil, hanya kecanggungan yang tercipta. Namun sesekali keduanya saling curi pandang tanpa ada yang sadar satu sama lain.
Terpesona, Andrian dan Alfira saling terpesona.
Setelah puas bermain dan makan, merekapun memutuskan untuk pulang. Berjalan beriringan menuju parkiran yang agak jauh, kaki kiri Alfira tidak sengaja tersandung paving block membuatnya meringis kesakitan.
"Aduh!" Alfira membungkuk mengelus pergelangan kaki.
"Ibu kenapa?!" tanya Andrian khawatir.
"Kaki kiri Ibu terkilir, sakit banget Andrian, " ujar Alfira tanpa menolah sedikitpun. Ia mencoba berjalan sambil terpincang-pincang, tetapi rasa sakit itu malah semakin berdenyut nyeri. Sedang Andrian coba memapahnya.
"Aduh gimana dong? Masa jalan dengan satu kaki?" Alfira mengeluh akibat rasa sakit yang melanda. Takut semakin parah, langkahnya berhenti sejenak. Berulang kali ringisan kesakitan terdengar membuat Andrian makin cemas dan iba.
Khawatir dengan kondisi Alfira, tanpa aba-aba Andrian langsung memunggungi Alfira lalu membungkukkan sedikit badannya. "Ayo naik!" titahnya.
"Ma--maksud kamu digendong gitu?" tanya Alfira terbata.
"Iya, cepetan Ibu naik ke punggung Andrian!" seru Andrian tanpa penolakan.
Tanpa pikir panjang Alfira melakukan hal yang Andrian suruh. Keduanya mendadak gugup dalam posisi seperti itu.
Para pengunjung taman bermain yang melihat kedua insan itu terdengar saling berbisik. Ada yang memuji dan ada juga mencibir.
"Ish lebay digendong-gendong segala."
"Kenapa tuh?"
"Tau."
"Romantis banget aduuh." Begitulah bisik-bisik tetangga, ups.
Tanpa menggubris omongan orang, Andrian dan Alfira malah menikmati moment itu. Merenung, Alfira tidak pernah diperlakukan selembut dan semanis ini oleh orang lain selain kedua orangtuanya. Ia terkadang pernah dapat perlakuan romantis dari Reza, tapi sama sekali tidak menimbulkan getaran dan rasa hangat di hati seperti apa yang tengah Andrian lakukan.
"Andrian," bisik Alfira yang masih tetap betah nangkring di atas punggung Andrian.
"Hmm?" balas Andrian sekenanya, jujur ia gugup sekaligus senang. Biar lama dalam posisi itu, Andrian malah melambatkan langkah. Ia berjalan santai walau beban berat berada di punggungnya, tapi tidak masalah.
"Siapa wanita yang kamu sayang selain Ibu kamu?" Andrian terdiam, bingung mau jawab apa.
"Siska ya?" bisik Alfira asal tebak. Ada rasa sesak ketika ia menyebutkan nama itu, nama pacar sang anak tiri. Andrian masih bungkam.
"Boleh dong Ibu tau?" Alfira mendesak penasaran. Namun, Andrian tidak menyahut.
"Ya udah lupain aja," gumam Alfira kecewa. Langkah Andrian terhenti, membuat Alfira mengernyit bingung.
"Ada," balasan singkat akhirnya keluar dari mulut Andrian. "Tapi Andrian tidak bisa memilikinya." Andrian kembali melanjutkan langkah.
Kalimat terakhir membuat keduanya tertegun. Pahit dan miris mana kala menyadari seseorang yang kita cinta tak bisa kita miliki.
'Aku juga tidak bisa memilikimu, Andrian' batin Alfira perih. Ia mengeratkan kedua lengannya di leher Andrian, seolah tak ingin kehilangan.
Tanpa disadari, ada sepasang mata memerhatikan keduanya lekat. Dia menyipitkan mata memastikan, dan rupanya benar. Dia mengenal dua orang yang tengah bergendongan itu.
"Kakak!" Dia menyeru hingga menyadarkan Andrian dan Alfira dari lamunan. Spontan dua orang itu menoleh bersamaan ke asal suara.
"Siska," gumam Andrian terkejut, dan Alfira termangu.
Siska berjalan menghampiri Andrian, ia menaikan sebelah halisnya heran. Entah mengapa Siska merasa pemandangan yang ia lihat ini sungguh aneh dan membingungkan, sekaligus kesal.
"Kakak habis dari Dufan juga?"
"I--iya," balas Andrian gagap, keringat dingin mengucur di keningnya. Ia terciduk oleh Siska.
Ada rasa sebal dalam hati saat mengingat ketika tadi pagi ia berencana pergi ke Dufan bersama Andrian, tetapi malah Andrian urungkan dengan alasan ada keperluan. Ternyata eh ternyata ...
Padahal bisa saja lain waktu menemani Alfira, tetapi Andrian malah memperioritaskan ibu tiri ketimbang dirinya, Siska membatin.
"Pantesan tadi Siska ajak Kakak jalan gak mau, jadi karena ini?" tanya Siska datar.
"Kan bisa kapan-kapan lagi Siska. Masalahnya Bu Alfira lagi bosan, jadi Kakak temenin main keluar," jelas Andrian meyakinkan.
Untuk kali ini Siska bisa paham dan mencoba wajar dengan alasan Andrian. Ia sadar jika Alfira sudah menjadi bagian hidup dari kekasihnya itu. Siska berpikir Andrian hanya ingin berbakti pada Alfira yang telah berstatus jadi ibu tiri. Beda halnya bila Andrian jalan dengan wanita lain, mungkin Siska akan mencingcang dan mencabiknya.
"Bu Alfira ko sampai digendong segala?" Siska merasa risih melihat Alfira mengalungkan lengan erat di leher Andrian. Menempel bak permen karet.
"Ka--ki Ibu terkilir Siska nggak bisa jalan," jawab Alfira setenang mungkin, ada rasa malu sebenarnya ketika terciduk oleh murid sendiri.
"Iya, nggak bisa jalan jadi Kakak gendong," sela Andrian cepat. Sungguh situasi yang mencanggungkan.
"Oh." Siska memanyunkan bibirnya.
"Aku pamit dulu ya Siska, sampai ketemu besok." Dengan langkah gesit Andrian berjalan menuju parkiran motor, menghindari Siska yang tengah menatapnya cemberut.