I Love You My Step Mother

I Love You My Step Mother
Karaoke



Pada jam istirahat, seorang pria berkacamata yang tak lain adalah rekan kerja Andrian mendekatinya. Ruangan tempat Andrian bekerja berbentuk kubikal sehingga memudahkan pria itu berinteraksi dengan Andrian tanpa harus repot-repot keluar ruangan.


"Hai, Mas Andrian."


Andrian yang tengah duduk santai sambil meneguk air mineral menoleh, "Iya, ada apa, Mike?"


"Entar sepulang kerja, mau join kita nggak?"


Andrian mengerutkan dahi. "Ke mana?"


Mike memberikan senyum terselubung. "Karaokean. Ikut, ya? Asyik lho tempatnya."


Sesaat Andrian berpikir lalu mengangguk. "Oke, aku ikut."


Si pria berkacamata mengajak Andrian dan beberapa rekan lainnya untuk pergi ke tempat karaoke setelah bekerja. Ia ingin mengadakan sesi bersenang-senang setelah seharian suntuk bekerja bagai kuda. Andrian pun setuju dan bersedia ikut serta. Mereka berencana untuk menghabiskan waktu bersama sambil bernyanyi dan bersantai.


Andrian dan beberapa rekan kerja yang semuanya adalah laki-laki telah tiba di tempat karaoke. Gedung tersebut tampaknya memiliki berbagai jenis hiburan malam, termasuk klub. Suasana dalam gedung terasa hidup dengan lampu-lampu berkilauan dan musik yang terdengar dari kejauhan. Mereka siap untuk menyanyi dan bersenang-senang di sore menjelang maghrib yang menyenangkan ini.


Mereka memasuki ruangan karaoke. Beberapa orang sudah mulai bernyanyi, tetapi Andrian memilih untuk tidak menyanyi kali ini. Sebaliknya, ia duduk dan menikmati pertunjukan dari rekan-rekan kerjanya. Di atas meja tersedia minuman beralkohol dan beberapa bungkus rokok.


Usai bernyanyi Mike berucap pakai mikrofon, "Eh, Mas Andrian. Kenapa kok cuma duduk-duduk aja? Malam ini kita harus bersenang-senang! Ayo, ambil mikrofon dan nyanyi!"


Andrian tampak ragu dan gugup. "Nanti saja, deh. Aku lebih suka menikmati penampilan dari kalian saja."


"Oh, jangan begitu. Mari berpartisipasi, Mas Bro! Siapa tahu kamu punya bakat terpendam dalam bernyanyi."


Andrian menggaruk tengkuk yang tak gatal. "Baiklah, baiklah, sekali ini saja, ya. Tapi jangan tertawa kalau suara aku fals."


Mereka semua tertawa dan Andrian akhirnya ikut bersenang-senang, meskipun mungkin sedikit malu-malu. Dia bangkit dari sofa, mikrofon tersebut beralih tempat pada tangan Andrian sekarang. Lagu berbahasa Inggris jadi pilihannya, berjudul I am still loving you.


"Wah, bagus juga suaranya!"


"Mantap Mas Andrian!" seru salah seorang rekan kerjanya yang lain. Mereka ikut mendendangkan lagu seraya menghayati setiap liriknya.


Selesai bernyanyi, Andrian kembali mendudukan diri di tempatnya. Rekan kerjanya yang lain berbisik, "Eh, dengar-dengar, kayaknya teman-teman lain mau sewa LC nih."


"Apa itu LC?" tanya Andrian polos membuat pria berkemeja merah maroon itu menganga.


"Aduh, Bang Andrian nggak tau LC, ya? Itu lho ladies companion yang bisa nemenin dan mandu para tamu karaokean." Dia menepuk pundak Andrian gemas.


Andrian tersenyum kaku, "Oh."


Pria itu tersenyum genit. "Jadi, Bang Andrian mau nyewa juga, nggak? Kayak yang lain?" tanyanya dengan menaik turunkan alis. Andrian menggeleng. "Wah, padahal asyik lho, Bang. Hihi."


Beberapa saat kemudian, empat orang wanita seksi berpakaian minim memasuki ruangan. Mata Andrian menyipit setelah menyadari satu dari beberapa wanita itu pernah ia lihat sebelumnya.


Andrian hanya memerhatikan beberapa rekan kerjanya yang tengah asyik dilayani oleh LC tadi. Ia melihat mereka ditemani untuk minum, merokok, bahkan ada yang bersentuhan satu sama lain. Andrian membelalakkan mata saking terkejutnya ketika ada salah atu wanita yang tengah diraba-raba, diremas dan dicium.


Pemandangan tersebut membuatnya semakin berbeda dan terasing di tengah orang-orang yang sedang asyik menikmati malam dengan penuh kesenangan duniawi.


Andrian memilih untuk keluar dari ruangan karaoke setelah ia mendapatkan panggilan dari Sesilia. Ia merasa perlu menjauh sejenak dari keadaan yang semakin tidak nyaman baginya di dalam ruangan tersebut.


"Hallo?"


"Hallo, Andrian, kamu di mana?" tanya Sesilia ke intinya.


Andrian mengernyitkan kening heran. "Sedang ada di tempat karaoke dengan beberapa karyawan lain. Ada apa, Bu Sesil?"


Di seberang sana Sesilia yang tengah duduk merawat wajahnya di meja rias mengerucutkan bibir. "Hmm, panggil aku seperti biasa, nggak usah formal gitu." Dia tidak suka dipanggil ibu.


"Kan, kamu sudah jadi CEO. Makanya aku panggil Bu Sesil."


"Itu kalau di kantor, di luar kantor nggak usah!" Sesilia mendengus.


Andrian tertawa ringan. "Oh, maaf."


"Jadi, kamu lagi ada di tempat karaoke? Aku hanya ingin tahu, kamu ngapain aja? Mau pulang jam berapa?" Sesilia memberondong pertanyaan pada Andrian. Baru kali ini Andrian melihat sisi lain Sesilia yang cerewet.


"Tentu saja cuma nyanyi, emangnya mau apa lagi?" Andrian dibuat kebingungan dengan pertanyaan yang satu ini. "Aku rasa sebentar lagi aku akan segera pulang," lanjutnya.


"Baiklah, hati-hati di jalan. Oh, iya. Jangan tiru kelakuan rekan kerjamu yang lain, ya."


"Maksudmu?" Andrian tambah bingung.


Sesilia mengembuskan napas. "Nggak ada maksud. Ya udah, aku tutup teleponnya."


"Oke."


Di seberang sana sesilia menatap layar ponsel. Ia melihat sebuah status di Instagram yang berasal dari karyawan kantor. Tampak mereka sedang bersenang-senang sambil karaokean ditemani beberapa wanita cantik dan seksi. Kecuali Andrian yang terlihat duduk di pojok ruangan sendirian.


Alasan itulah yang membuatnya menghubungi Andrian karena ia tahu kalau Mike telah mengajak Andrian ke tempat tersebut, terbukti dari unggahan Mike di insta story.


Sesilia merasa tidak rela jika karyawan lain mengajak Andrian ke tempat seperti itu. Ia mungkin khawatir tentang keberadaan Andrian di sana dengan beberapa wanita cantik yang ikut serta. Ini bisa menjadi pertanda bahwa Sesilia mulai merasakan perasaan khusus terhadap Andrian.


Dia jadi bertanya-tanya dan makin penasaran. Apakah Andrian sama dengan lelaki lainnya? Atau memang dia berbeda? Sesilia jadi nyengir sendiri saat mengingat percakapan di telepon tadi. Lelaki itu sepertinya cukup polos terdengar dari perkataannya yang bernada bingung.


Andrian masuk kembali ke ruang karaoke dan ia semakin terkejut ketika melihat Mike berciuman intim dengan wanita berambut pirang. Miini dress hitam yang ja kenakan cukup ketat, sehingga kedua paha mulusnya terekspos. Pemandangan ini semakin menambah ketidaknyamanan yang dirasakannya di tempat tersebut.


Terutama, saat menyadari jika perempuan itu adalah wanita yang pernah Reza ajak makan malam bersama. Dia berpikir, apakah pekerjaan wanita bernama Devi yang disebut klien oleh papanya itu macam begini?