
Andrian POV
Aku tidak mengerti. Sudah dua hari ini Bu Alfira sangat pendiam, ia jarang menyapa, dan juga seperti menghindar dariku.
Ada apa dengannya? Apa dia punya masalah? Apakah aku membuat kesalahan? Aku hanya bingung dan merasa sakit diabaikan olehnya.
Pagi ini, kulihat dia sedang berkutat untuk menyiapkan sarapan. Aku tidak tahan dengan sikapnya yang demikian. Menghampirinya lantas menyapa, "Bu?"
Bu Alfira tidak menoleh padaku, ia tetap fokus mengiris bawang dengan muka tanpa ekspresi. Apa ia tidak dengar?
"Bu!"
"Aww sakit!"
Kulihat ada darah di jarinya akibat goresan pisau tajam. Secepat kilat aku berlari menuju ruang tengah untuk mengambil kotak P3K, lalu kembali ke dapur.
"Sini Andrian obati."
Aku meraih telapak tangan Bu Alfira dan memasangkan handsaplas di jari manisnya. Melirik sekilas ke arahnya, ternyata ia pun tengah memandangku. Hanya beberapa detik ia menatapku, setelah itu membuang tatapannya dariku.
"Sudah selesai, lain kali hati-hati ya Bu kalau mengiris bawang." Jujur, aku tidak mau dia terluka. "Mau Andrian bantu?" tanyaku dengan senyuman.
Bu Alfira diam tak menggubris, ia kembali melanjutkan aktifitas mengiris bawangnya. Aku merasa kebingungan dengan sikapnya yang berubah. Tidak tahan seolah dicampakkan, dengan lunglai aku pergi meninggalkannya.
***
"Kakak, kenapa sih diem aja sedari tadi?" Suara Siska membuyarkan lamunanku. Aku sedang bersamanya duduk berduaan di taman belakang sekolah, tapi pikiranku dipenuhi oleh satu orang, siapa lagi kalau bukan Bu Alfira.
Aku menoleh ke samping kanan, menatapnya. "Apa?" tanyaku datar.
"Dari tadi Siska ngomong denger nggak sih?" Siska mendengus kesal dengan melipatkan kedua lengan di dada.
"Emang kamu ngomong apa?" Aku sama sekali tidak menyimak apa yang dia bicarakan sedari tadi. Pikiranku melanglang buana hanya pada satu orang.
"Udah ah bete! Siska mau balik ke kelas aja!" Dia membuang muka. Mimik cemberut terpampang di wajahnya, aku terkekeh geli sekaligus merasa bersalah.
Mengelus-elus pucuk kepalanya lembut, aku berkata, "Jangan cemberut dong sayang."
Ekspresi gadis itu seketika berubah, menoleh cepat padaku dan senyuman terbit di wajahnya. "Eh panggil apa barusan?"
"Sayang."
Siska mencubit kedua pipiku gemas. "Nah gitu dong, Ka. Siska udah nunggu-nunggu panggilan itu dari Kakak pas kita jadian, tapi baru sekarang diucapin." Senyum manisnya mengembang.
"Maaf ya." Aku balas mencubit pipi lembutnya.
Aku terlonjak karena tiba-tiba satu kecupan singkat mendarat di bibirku.
"Ih Siska! Gimana kalau ada yang lihat?!" ucapku sambil mengamati sekitar.
Dia malah nyengir. "Hehe ... yang kemarin belum cukup."
Hening sesaat. Kami masih saling pandang dengan senyuman terukir di wajah. Sesaat kemudian Siska menyandarkan kepalanya di bahuku.
"I love you, Ka."
"Love you too."
Maaf Siska, ungakapan itu hanya di bibir, tapi hatiku belum bisa mencintaimu. Seandainya bisa aku ingin mencintaimu, tapi perasaanku padanya masih tetap sama. Meskipun beberapa kali aku mencoba menghapus perasaan ini, tetap saja rasa ini terus hinggap di dalam sana.
***
Alfira POV
Semilir angin malam dari jendela yang terbuka begitu menusuk pori-pori kulitku. Cahaya bulan menerobos sela-sela ventilasi, memberi sedikit cahaya untuk menerangi gelapnya kamar ini.
Aku berdiri diam di dekat jendela manatap keluar. Pikiranku gamang dan bimbang setelah mengetahui bahwa aku berada di antara dua cinta yang berbeda. Mas Reza yang terus mengungkapkan rasa, dan Andrian yang memendam cinta.
Andrian, selama itukah kamu mencintaiku?Kenapa tidak ada keberanian untuk kau nyatakan rasamu itu? Seandainya kau ungkapkan perasaanmu, aku tidak akan mau menerima lamaran papamu, dan menikahinya tanpa cinta.
Sekarang aku baru sadar. Dulu, setelah aku menjadi ibu tirinya, sikapnya mendadak dingin. Mengabaikanku, dan menghindar. Mungkin karena dia tengah memendam rasa sakit atau benci menatapku.
Pasti dia cemburu, ketika Mas Reza di pagi hari mencium keningku dan ketika di malam hari menggauliku. Aku yakin, kala di dapur tempo itu, ketika kami berciuman itulah alasannya marah dan berakhir membanting pintu dengan keras. Pasti dia muak, bukan?
Saat aku sendiri dan papanya pergi, dia selalu hadir. Ketika aku membutuhkan dia selalu ada. Aku tidak menyadari perhatian dan kepeduliannya itu adalah tanda cinta, dan sialnya dengan sikapnya itu aku mulai suka. Mengapa rasa suka ini harus ada, ketika semuanya begitu rumit?
Setelah aku tahu dia menyimpan rasa terhadapku begitu lama, ingin kuputar waktu. Jika dulu dia nyatakan cinta, mungkin semuanya tidak akan serumit ini.
Aku bisa merasakan saat aku menatap kedua bola matanya tagi tadi, terlihat sebuah kesedihan yang amat dalam. Aku benci ketika aku mengetahui ada satu hati yang patah! Aku juga benci ketika aku mulai ...
Mengagumi dan menyukainya!
Aku tidak akan membenci rasa suka ini, jika seandainya dia bukan anak tiriku!
***
Andrian POV
"Andrian bagaimana sekolahmu?" tanya papa sembari menyeruput kopi. Tadi malam, papa pulang dari Surabaya, setelah beberapa hari mengurusi klien-nya.
"Baik, Pa."
"Kamu kaya lagi nggak selera makan. Kenapa?" Mungkin papa heran melihatku yang tidak semangat menghabiskan sarapan. Aku memang kehilangan nafsu makan, itu karena Bu Alfria mengabaikanku.
Sekilas papa menoleh ke samping Bu Alfria. "Mama juga kenapa sih, dari tadi diem mulu?" papa mengerutkan keningnya.
"Nggak kenapa-kenapa ko."
Aku jadi heran, sedari tadi Bu Alfria terus saja menunduk melihat sepiring nasi goreng yang hanya dimainkan oleh sendoknya tapi tidak dilahap. Akhir-akhir ini ia sedikit aneh.
"Oh iya, Papa mau cerita. Pas di Surabaya tuh, Papa ketemu dua sahabat Papa waktu kuliah. Namanya Roni yang satunya Yuli. Tau nggak sekarang mereka jadi apa?" Papa menggantungkan ucapannya.
Aku hanya menyimak seraya menyantap makanan di hadapan. Namun, pandangan Bu Alfira masih tidak berubah, menunduk, memperhatikan nasi goreng.
"Jadi sepasang suami istri," lanjut papa.
"Emang kenapa, Pa?" tanyaku penasaran.
Papa menatapku dengan senyuman lebar. "Papa kira tidak ada apa-apa di antara mereka. Soalnya, tingkah mereka berdua biasa-biasa saja layaknya sahabat. Si Roni juga, tidak pernah cerita kalau dia suka Yuli. Si Yuli juga tidak pernah cerita kalau dia suka Roni." Papa kembali menyeruput kopi.
"Sekarang, mereka malah jadi suami istri. Papa kaget aja, padahal dulu mereka udah pernah menikah, tapi bercerai katanya sih sudah nggak cocok terus gak cinta sama pasangan masing-masing. Ternyata, Roni dan Yuli selama ini memendam perasaan saling suka. Ih Papa heran aja, kenapa mereka gak saling ungkapin aja dulu waktu kuliah?"
"Mas kaya nggak tau aja cinta diam-diam."
Tiba-tiba Bu Alfira bersuara, ia mengucapkan itu sekilas sambil melirik ke arahku.