I Love You My Step Mother

I Love You My Step Mother
Perselingkuhan atau Bukan?



Sore itu, Alfira sedang sibuk di dapur, fokus mengiris sayuran untuk makan malam bersama keluarga. Bunyi pisau yang beradu dengan bahan makanan terdengar, harum tempe goreng mulai tercium. Alfira benar-benar menikmati aktifitas memasaknya sambil mendendangkan lagu. Hingga tiba-tiba ia merasakan kecupan singkat mendarat di pundaknya.


"Boleh kubantu?" bisik remaja tampan itu dengan cengiran lebar.


Refleks Alfira membalikan badan. Perasaannya tidak karuan, ia melotot pada anak itu dengan jengkelnya. "Kamu ngapain kaya gitu, sih?"


"Emang nggak boleh?" Andrian menaik turunkan alisnya.


Alfira mendengus. "Ya kamu lihat-lihat tempat dong!" sungut Alfira galak. Ia menghentikan pekerjaannya sejenak dan mencoba menenangkan detak jantung yang berdetak hebat.


Andrian hanya tertawa ringan, cengengesan. Bukannya mengindahkan ucapan Alfira, ia malah cari mati dengan tingkahnya yang sekarang memeluk Alfira dari belakang. Sontak wanita itu berdiri kaku.


"Andrian, lepaskan aku," ucapnya dengan suara lemah, mencoba untuk melepaskan diri.


Enggan melepaskan, Andrian malah memeluk ibu tirinya itu dengan lebih erat. "Papa lagi di ruang kerjanya, ko."


"Tapi ini tidak etis, Andrian," bisik Alfira gelagapan.


"Lima menit aja, aku kangen." Andrian masih tersenyum lebar, seolah tindakannya tidak akan berisiko.


Hati Alfira berdebar mendengar bisikan bernada godaan dari anak tirinya itu. Dia bisa merasakan detak jantungnya berpacu lebih cepat. Pelukan Andrian yang hangat dan erat membuatnya merasa nyaman, meskipun situasinya sedikit menegangkan.


"Andrian, kamu ngeyel, ya."


"Biarin." Andrian menjulurkan lidah, Alfira yang melihatnya dari samping tambah jengkel.


Alfira merasakan sentuhan lembut tangan remaja itu di perutnya, entah mengapa mengalirkan kehangatan dan gelenyar aneh ke seluruh tubuhnya.


Tiba-tiba, suara langkah kaki seseorang memecah keheningan di antara keduanya. Reflek, Andrian terkesiap melepaskan pelukan. Reza datang dengan langkah ringan, pandangan matanya langsung tertuju pada Andrian yang tiba-tiba bergerak cepat menyambar pisau di rak. Dia meraih pisau lain dan dengan sigap berpura-pura membantu Alfira mengiris bawang di meja pantry.


Sedangkan Alfira, ia kikuk tak karuan. Ingat ada goreng tempe di wajan, perhatiannya ia alihkan kemudian. Alfira mengangkat tempe goreng itu dengan perasaan was-was.


"I--iya, Pa. Pengen bantu aja."


"Bagus, biar istri papa nggak kerepotan."


'Harusnya kamu, Mas yang bantuin istri masak, bukan Andrian,' kata Alfira dalam hati, jengah. Reza memang tidak pernah membantunya walau Alfira kadang sering kerepotan. Bagi Reza, itu adalah tugas istri bukan tugas suami.


Andrian tersenyum kaku. "Iya, Pa."


Alfira masih terdiam, ia kembali mengiris sayuran dengan perasaan gugup tak terkira. Sementara Reza, berlalu pergi ke ruang kerjanya dengan botol minuman dibawanya.


Alfira dan Andrian menghela napas lega setelah Reza hilang dari pandangan. "Untung papa nggak lihat."


Alfira mendengus. "Kamu sih, Andrian. Ada-ada saja!" Alfira menoyor kepala Andrian gemas, lelaki itu malah terkekeh. "Udah duduk sana, biar aku yang lanjutkan masak."


Ketika Andrian selesai mengiris bawang, dan memilih duduk di kursi makan, kini Alfira yang melanjutkan aktifitas memasaknya. Sembari menopang dagu di atas meja, Andrian memerhatikan Alfira dengan senyum mengembang di wajahnya. Wanita itu benar-benar berhasil membuatnya gila. Seandainya Alfira adalah istrinya, mungkin setiap dia memasak, Andrian akan selalu mendekapnya dari belakang, menempel bak perangko.


Sadar tengah ditatap oleh sang anak tiri, Alfira melempar senyum simpul ke arahnya. "Kenapa lihatin Ibu kaya gitu?" tanya Alfira sambil menumis sayur.


"Ibu cantik." Pipi Alfira merona, ia salah tingkah.


Walau Andrian sering memuji Alfira dengan kalimat yang sama, tapi entah mengapa dua kata itu tak pernah membuatnya bosan. Bahkan kerap kali menimbulkan efek blushing bak tomat busuk di wajahnya. Dulu, banyak pria yang mengatakan cantik pada Alfira namun tak pernah memberikan efek apapun. Biasa saja rasanya.


Dari pada dipandangi seperti itu oleh Andrian, Alfira kembali fokus pada wajannya. Ia tak mau kedapatan merona di depan sang anak tiri. "Ada yang lebih cantik dariku, Andrian. Nggak usah terlalu sering memuji ah."


"Di mataku Ibu tetep yang paling cantik."


Hati Alfira mendadak seperti taman bunga yang bermekaran.