I Love You My Step Mother

I Love You My Step Mother
Curiga



Alfira keluar dari kamar mandi, masih mengenakan handuk yang melekat di tubuhnya. Ketika mendengar suara ponsel yang berbunyi, ia berencana untuk mengangkat panggilan itu segera setelah selesai mengeringkan rambut dengan handuk.


Namun, suaminya, Reza, yang tiba-tiba masuk kamar dengan gesit meraih ponsel yang terletak di atas kasur tersebut. Buru-buru ia melangkahkan kaki ke balkon kamar. Sedang Alfira, memilih mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambutnya.


Reza tampak serius saat berbicara dengan seseorang di telepon. Matanya sesekali melirik ke arah Alfira, dan dia berbicara seolah berbisik. Alfira merasa ada sesuatu yang tidak biasa dengan gelagat sang suami.


Setelah berbicara sebentar, Reza mengakhiri panggilan itu, masuk kembali ke dalam kamar dan memandang Alfira dengan senyum kaku. Ekspresinya tampak gugup dan canggung. "Urusan bisnis, biasa."


Padahal Alfira tidak mengucapkan sepatah kata, ataupun bertanya tetapi suaminya itu malah mendahului dan berkata demikian. "Oh." Respon Alfira tak acuh.


"Dek, kayanya nanti Mas nggak bakalan pulang lagi. Mas harus mengurus klien di luar kota, nggak apa-apa, kan?" tanya Reza menatap istrinya intens.


Alfira meletakkan hairdryer di lemari, mengambil kaos dan celana santai. "Iya."


Pria itu mendekat, mengecup pipi Alfira singkat. "Maaf, ya. Mas akhir-akhir ini sibuk nggak ada waktu buat kamu dan Ari," ucapnya dengan mimik penyesalan dan rasa bersalah.


"Sangat penting, ya, Mas?" tanya Alfira berbasa-basi. Sebetulnya ia tak ingin tahu juga.


Reza mencoba menjelaskan, "Ini penting sekali, Dek. Kamu tahu betapa sibuknya pekerjaan di kantor. Mas berjanji, ini hanya sesaat dan Mas akan kembali secepatnya."


Alfira memberikan senyum tipis. "Ya, nggak apa-apa, Mas. Jangan terlalu dipikirkan."


"Lagipula sekarang ada Andrian di rumah, jadi kamu nggak sendirian lagi." Reza memeluk Alfira mesra, sementara wanita itu tak merespon apapun. "Satu jam lagi, Mas berangkat. Tolong siapkan pakaian ke tas, ya, Dek."


Reza keluar dari kamar, meninggalkan Alfira yang masih tertegun di tempat. Ia merasa ada sesuatu yang membuat perasaannya tak nyaman akhir-akhir ini. Suaminya sering kali sibuk dan jarang berada di rumah selama dua tahun terakhir.


Dia mencoba untuk tidak perduli, tapi pertanyaan di benaknya semakin berkecamuk. "Urusan bisnis lagi? Kamu sudah sering sekali bepergian belakangan ini. Apa yang sebenarnya terjadi?" Alfira bergumam sendiri.


Alfira merasa tidak puas dengan jawaban klise tersebut, tetapi dia memilih untuk tidak memikirkannya saat ini. Tak mau ambil pusing, ia keluar dari kamar lalu melangkah ke arah dapur. Dari kaca jendela dapur, ia mendapati Andrian dan Ari sedang berada di taman belakang.


Alfira duduk di teras belakang rumah, memperhatikan dengan seksama dua orang di depannya. Andrian, anak tirinya yang semakin dewasa, sedang asyik bermain dengan Ari. Bocah tiga tahun itu tampak antusias. Ia berlari sembari tergelak ketika Andrian berusaha mengejarnya ke sana kemari.


"Raaww ...! Monster ini akan tangkap kamu bocah nakal!" seru Andrian menakut-nakuti sang adik.


"Aaahhh.. hahaha!"


Alfira tersenyum lebar ketika Ari tertawa riang. Mereka berdua saling menggelitik saat bermain bersama. Andrian benar-benar menunjukkan sifatnya yang lembut dan perhatian terhadap adik tirinya itu.


Ada rasa bahagia melihat hubungan yang berkembang antara Andrian dan Ari. Seiring dengan perjalanan waktu, Andrian telah tumbuh menjadi pria yang tampan dan bertanggung jawab, dan dia telah menerima peran barunya sebagai anggota keluarga. Kepeduliannya terhadap Ari menghangatkan hati Alfira. Ia merasa bersyukur atas kedamaian yang ada dalam keluarganya saat ini.


Dalam hati, Alfira merenungkan tentang perasaannya terhadap Andrian. Meskipun dia sudah menikah selama hampir lima tahun lebih lamanya dengan Reza, ada bagian dalam hati yang belum sepenuhnya bisa melepaskan perasaan itu.


Pertanyaan-pertanyaan berkecamuk di dalam pikiran. Apakah Andrian juga merasa seperti ini? Apakah dia masih memiliki perasaan terhadapnya? Dan yang lebih sulit untuk ditanyakan: apakah Andrian telah menemukan pengganti Alfira dalam hatinya?


Selama itu pula Alfira mencoba menjalani pernikahannya dengan bahagia bersama Reza. Namun, pertanyaan-pertanyaan ini tetap menghantui. Mungkin suatu hari nanti, dia harus benar-benar melepaskannya dan membuang jauh-jauh perasaan terlarang itu.


Tetapi saat ini, dia berusaha untuk memfokuskan diri pada keluarga dan mencoba melepaskan masa lalunya dengan Andrian, sekaligus meraih kebahagiaan dalam hidup barunya bersama Ari dan Reza.


"Halo, dengan siapa ini?" tanya Andrian.


"Ini aku, Sesilia. Masih ingat?" jawab seorang wanita di ujung sana yang tengah duduk di kursi kebesarannya.


Andrian tersenyum lebar. "Oh, iya. Sesilia. Ada apa?"


"Ini tentang pekerjaan. Aku punya kabar baik. Ada lowongan pekerjaan yang aku pikir mungkin cocok untukmu."


"Oh, begitu? Apa pekerjaannya?" tanya Andrian tampak antusias.


"Ini adalah posisi staf keuangan di perusahaan tempatku bekerja. Mereka sedang mencari seseorang yang dapat mengelola keuangan dengan baik, dan aku pikir kamu akan sempurna untuk pekerjaan ini."


"Kedengarannya menarik. Apa yang harus aku lakukan?"


"Aku akan memberimu semua detailnya. Gaji kompetitif, jadwal yang cukup fleksibel, dan tim yang hebat untuk bekerja. Aku bisa membantumu mengirimkan resume dan mendapatkan wawancara dengan manajemen."


"Terima kasih banyak, Sesilia. Aku sangat menghargainya. Aku akan segera menyiapkan semua dokumen yang diperlukan."


"Tidak perlu terima kasih, Andrian. Aku tahu kamu memiliki potensi besar. Aku senang bisa membantu. Semoga kamu berhasil nanti." Di seberang sana Sesilia menyunggingkan senyum, sesekali ia memainkan pena dengan jarinya.


"Aamiin, terima kasih lagi, Sesilia. Aku akan segera menghubungi kamu setelah semua dokumen selesai."


"Tidak masalah, Andrian. Semoga sukses, aku berharap semuanya berjalan dengan lancar."


Andrian mendengarkan dengan cermat dan mengajukan beberapa pertanyaan tentang tanggung jawab pekerjaan, gaji, dan jadwal kerja. Sesilia menjelaskan semuanya dengan baik, dan mereka berdua membicarakan kemungkinan langkah selanjutnya dalam proses rekrutmen.


Setelah berbicara dengan Sesilia, Andrian merasa gembira dengan peluang pekerjaan yang ditawarkan. Dia berterima kasih kepada Sesilia atas kesempatan ini dan berjanji untuk mengirimkan resume dan dokumen lain yang diperlukan sesegera mungkin.


Setelah menyelesaikan panggilan itu, Andrian kembali memperhatikan Ari yang sedang bermain di sekitarnya. Dia merasa bersemangat tentang peluang pekerjaan baru ini dan berharap semuanya akan berjalan lancar.


Alfira yang memerhatikan sedari tadi, mengernyitkan kening. Ia penasaran dan bertanya-tanya siapa gerangan yang berbicara dengan Andrian di telepon.


Dia merasakan ada sesuatu yang mengusik hatinya. Beranjak dari kursi, Alfira berjalan mendekat pada Andrian dan Ari yang sedang duduk di atas rumput elastis belakang rumah itu. Dengan wajah datar di wajahnya, dia bertanya, "Andrian, siapa yang tadi menghubungimu?"


Andrian menoleh ke arah Alfira, masih memegang ponselnya. Dia tersenyum dan menjawab dengan antusias, "Temanku memberikan kabar tentang pekerjaan yang dia bicarakan sebelumnya. Dia memberitahuku soal detail posisi staf keuangan yang tersedia di perusahaannya dan menyampaikan bahwa mereka sangat tertarik agar aku bisa bergabung."


Ada rasa lega di hati mendengar jawaban yang Andrian berikan. Wanita itu tersenyum manis. "Oh, begitu. Itu kabar bagus. Apa pekerjaannya?"


Andrian dengan semangat menjelaskan detail pekerjaan yang telah dibicarakannya dengan Sesilia pada Alfira. Ia bangga dan ikut bahagia mendengar tentang peluang pekerjaan yang akan datang untuk Andrian. Dia memberikan dukungan penuh dan berharap semuanya akan berjalan lancar.


"Semangat, Andrian. Aku akan mendukungmu," ucap Alfira seraya mengelus lembut pundak Andrian. Debaran di hati rupanya belum hilang saat Alfira menyentuhnya lama.


"I--iya." Andrian mendadak tergagap.