I Love You My Step Mother

I Love You My Step Mother
Perselingkuhan Yang Tak Disadari II



Andrian tersenyum lebar, sembari menghampiri Alfira yang tengah berdiri menyandar ke badan mini bus dengan lelah. "Sudah lama nunggunya?"


Mengembuskan napas, Alfira menegakkan kembali badannya. "Lumayan, nunggu kamu di sini lama banget."


Andrian nyengir, lalu berbisik, "maaf, tadi aku harus ngurusin Siska dulu. Dia terus merajuk minta diantar pulang."


"Terus?" tanya Alfira mengernyitkan dahi.


"Ya aku nggak bisa. Aku suruh dia telepon sopirnya saja. Aku, kan pengen pulang bareng pujaan." Andrian menaik turunkan alisnya, menggoda Alfira.


Alfira mengerling. Mendengar ucapan yang terlontar dari mulut anak tirinya itu, membuat hatinya bergemuruh. "Ya sudah yuk. Kita pulang."


Andrian memutari mobil sedannya, begitu pun Alfira segera masuk ke dalam. Laju kendaraan perlahan meninggalkan area parkir sekolah menuju rumah. Namun, di tengah perjalanan Andrian menepi dan memberhentikan kendaraan itu di minimarket.


"Kamu mau belanja?" Alfira menoleh datar pada Andrian.


"Beli kopi dulu sebentar. Ibu tunggu di sini, ya." Alfira mengangguk.


Sembari menunggu Andrian, ia menurunkan kaca mobil lalu menyembulkan kepalanya ke luar jendela yang terbuka. Memerhatikan langit abu yang mendung pertanda sebentar lagi akan hujan. Ia kembali menaikan kaca jendela.


Selang beberapa menit kemudian, tetesan air dari langit mulai turun. Andrian berlari kecil kembali ke dalam mobil dengan dua cup kopi instan panas di tangannya. "Yaah, kejebak hujan deh," katanya sambil menyerahkan satu cup cappucino panas itu pada Alfira.


"Emangnya kenapa kalau kejebak hujan? Kita, kan di dalam mobil. Kalau mau berangkat pun oke-oke saja. Beda cerita jika kita naik motor." Alfira meniup kopi itu beberapa kali, sesekali menyesap kopi itu hati-hati.


"Justru karena itu aku lebih suka kejebak hujan." Andrian menyeruput kopi hitam arabica-nya. Ia sedikit meringis merasakan lidahnya yang sedikit terbakar. "Hah, panas."


"Tapi, kan masih tetap bisa berangkat, Andrian."


Andrian menoleh cemberut. "Kalau aku nggak mau?"


Mengernyitkan dahi, Alfira menatap Andrian bingung. "Maksudnya?"


"Aku nggak mau pulang, pengen kejebak hujan saja sama kamu. Biar bisa berduaan. Boleh, kan? Ya, ya, ya ... boleh, ya?" tanya Andrian dengan sorot mata memohon.


Alfira tersipu. Wanita itu gampang sekali dibuat luluh oleh tatapan puppy eyes sang anak tiri. Mengembuskan napas panjang, menyandar pasrah pada jok mobil lantas mengangguk. "Tapi kalau hujan udah reda, langsung pulang. Nanti papa kamu banyak nanya."


Remaja tampan itu bersorak kegirangan. "Yes!"


Melihat tingkah Andrian yang manja, wajah Alfira mengukir senyum. "Dasar."


"Kita pindah tempat duduk ke jok belakang, yuk."


"Kenapa?" Alfira kembali dibuat bingung.


Andrian memberi senyum terselubung. "Pengen aja duduk di belakang. Pasti hujannya lama. Nggak enak duduk di kemudi setir nggak bisa tiduran."


"Iya udah." Alfira menyerahkan kopinya ke tangan Andrian, sementara itu ia membungkuk melangkahi perseneling untuk duduk di jok belakang, disusul Andrian kemudian.


Hening sejenak. Andrian menoleh pada Alfira yang sedang menyandarkan kepala pada kaca jendela. Seharian ini pekerjaannya sebagai guru menguras tenaga dan pikiran. Sampai-sampai ia tak sengaja tertidur.


Senyum simpul terpatri di wajah Andrian kala melihat sosok Alfira yang membuat debaran di jantungnya kian mengencang. Walau wajah cantik itu tengah tertidur pulas, pesona wanita itu sangat memikat. Andrian mengulurkan tangan kirinya menyentuh pipi putih mulus itu dengan lembut.


"Ibu cantik," katanya tanpa berhenti memuji pujaannya itu. "Ibu menarik. Bisa-bisanya bikin aku jatuh cinta."


Andrian menggeser tubuhnya supaya bersentuhan dengan Alfira. Ia mengangkat lengan kiri untuk merangkul Alfira. sejurus kemudian, tangan kanannya menarik kepala Alfira untuk bersandar di bahunya. Perlakuan Andrian membuat Alfira terkesiap, membuatnya tertegun sejenak.


"Andrian ...." Alfira mengangkat wajah menatap Andrian yang mulai menutup matanya.


"Tidur lagi aja kalau cape."


"Tapi, posisi kita ...," ucap Alfira sembari mencoba melepaskan diri dari dekapan Andrian. Namun, seakan tak menghiraukan perkataan Alfira, Andrian malah mengeratkan pelukannya membuat Alfira salah tingkah. Jantungnya bertalu-talu, mukanya blushing.


Kini, wajah Alfira terbenam pada ceruk leher Andrian. Bau parfum maskulin menguar di Indra penciumannya. Alfira menghirup wangi tubuh khas milik Andrian yang membuatnya memabukkan. "Kok kamu bisa wangi terus sih, Andrian? Rata-rata cowok kan, bau."


"Andrian nggak suka bau badan nggak enak."


"Beruntung dong jodoh kamu."


Andrian terdiam tak menanggapi. Ada rasa sesak di dada saat Alfira mengucapkan kalimat itu. Inginnya Alfira yang jadi istri dan pendamping seumur hidup, namun malah sang ayah yang mendapatkan itu. Andrian kesal.


"Andrian?" Andrian masih terkatup tak menjawab. "Kamu tidur?" Alfira mengangkat wajahnya, memandang wajah tampan itu dari dekat. Kedua lengannya turut melingkar di pinggang Andrian.


"Belum."


"Seberapa besar kamu mencintaiku?" Alfira ingin tahu.


Andrian sedikit menghela napas. "Tak terukur pokoknya."


"Serius."


"Iya."


"Tapi aku milik papamu.


"Tapi hatimu milikku."


Hening. Keduanya kembali bergeming meratapi kisah cinta yang menyesakkan dada. Hanya bisa mencintai, tapi tak bisa memiliki raga masing-masing.


"Tapi, kit---."


"Bisakah Ibu diam? Kita nikmati saja momen ini," potong Andrian terkesan dingin.


Keduanya saling mengeratkan pelukan. Mata Andrian masih terpejam, sedang Alfira termangu. Sampai kapan semua ini akan berlanjut? Pikirannya berkecamuk. Hatinya gundah gulana.