
Mereka saling pandang dengan tatapan intens. Andrian merasa beruntung bisa menghabiskan waktu berdua dalam mobil bersama Alfira walau hanya sebentar. Dalam pelukan mesra itu, keduanya merasa aman dan nyaman saling berdekatan tanpa butuh kata yang harus terucap.
Namun, tanpa sepengetahuan mereka, ada sepasang mata yang sedang mengamati dengan seksama dari luar mobil yang terparkir itu. Kaca mobil yang agak transparan, memudahkannya melihat ke dalam. Andrian dan Alfira tak menyadari kehadirannya karena terlalu terbuai satu sama lain.
Gadis itu tak ingin terlalu terpaku dengan pemandangan di dalamnya walau dirinya sedikit penasaran. Dia memutuskan berjalan masuk ke dalam minimarket dengan pikiran terusik. berulang kali dia menepis perasangka negatif yang ada di pikirannya.
"Kenapa mereka begitu mesra?" batin Rara bertanya-tanya.
Hujan mulai reda, berganti dengan gerimis. Alfira melepaskan diri dari dekapan Andrian
"Hmm, masih betah." Andrian merengek minta Alfira untuk mendekat kembali.
"Apa sih kamu, Andrian. Udah ah, kita pulang." Alfira merapikan bajunya yang sudah kusut karena dipeluk Andrian cukup lama.
"Ya udah." Dengan ogah-ogahan, Andrian membungkuk ke depan melangkahi perseneling mobil dan mendaratkan pantatnya di kursi kemudi. Sedang Alfira masih duduk di jok belakang.
"Nggak ke depan?" tanya Andrian sembari menoleh ke belakang.
"Di sini saja lah, tanggung mau pulang."
Kendaraan itu akhirnya bergerak meninggalkan area minimarket. Selang beberapa menit, mobil itu terparkir di pekarangan rumahnya setelah Alfira turun membukakan pagar.
Andrian bergeming, sedangkan Alfira gelagapan mencari alasan. "Tadi ke minimarket dulu, Mas. Karena hujan jadinya kami nunggu hujan reda sambil ngopi bareng Andrian," katanya sedikit grogi.
Reza membulatkan mulutnya membentuk huruf O. Ia kembali fokus membaca berita online di ponselnya.
Namun, sebelum keduanya masuk ke kamar masing-masing, tanpa Reza sadari Andrian memberikan flying kiss pada Alfira yang tengah memandangnya kini. Wanita itu membelalakkan mata dengan tingkah konyol Andrian yang terus menggodanya.
Walaupun Alfira sedikit terkejut oleh ciuman melayang kiriman Andrian padanya, hatinya dibuat meleleh, pipinya kembali merona. "Dasar anak nakal," gumamnya pelan. Andrian yang mendengar itu malah terkekeh puas sembari berlari kecil untuk menghindari omelan Alfira nantinya.
Setelah masuk kamar, Alfira bersandar di daun pintu, tertegun. Entah mengapa tangannya refleks menyentuh bibir ranumnya, seolah ciuman melayang itu telah mendarat dengan sempurna. Ia tersenyum geli membayangkannya.
Sungguh, tindakan sederhana itu telah mengisi hatinya dengan kegembiraan. Dia merasa dihargai dan dicintai oleh Andrian, dan itu adalah perasaan yang luar biasa.
"Andrian, kamu sungguh tidak bisa berhenti membuatku tersenyum, ya?" Tangannya turun ke dada menyentuh debaran jantungnya yang kian mengencang.
Alfira berjalan ke arah ranjang, merebahkan badan dengan senyum yang tak pudar dari wajahnya. Flying kiss sederhana itu telah meninggalkan jejak bahagia di hatinya. Ia tahu betul dan sadar bahwa perasaan terlarangnya pada Andrian tidak bisa dibenarkan. Namun, cinta datang berlabuh tanpa diminta bukan?
Jadi, nikmati saja rasa ini. Mungkin suatu saat rasa ini akan memudar seiring berjalannya waktu. Alfira harap begitu. Tetapi kapan? Dari hari ke hari perasaannya pada Andrian malah semakin kuat dan erat. Alfira menghela napas panjang, memejamkan mata. Cinta terlarang itu terlalu indah baginya.