
Angin berembus sepoi-sepoi. Langit tampak cerah berwarna biru dengan kumpulan awan berjejer seperti domba. Aku kemudian beralih memerhatikan orang-orang yang berlalu lalang di bawah sana.
Duduk sendirian di rooftop sekolah membuatku damai. Mungkin mulai hari ini dan seterusnya, akan kujadikan saja tempat ini sebagai tempat favoritku sekarang.
Aku ingin menjernihkan pikiran dan perasaanku, dari sosoknya yang terus memenuhi otak dan menetap dengan setianya dalam hati ini. Aku ingin menghapusnya dari memoriku, dan mengusirnya dari hatiku.
Namun, mengapa sesulit ini?
Dari hari ke hari, ketika melihat sosoknya membuatku semakin sakit. Beberapa hari ini ia terlihat dingin, jarang tersenyum dan caranya membalas ucapanku yang serba singkat itu tidak seperti biasanya. Aku tidak tahu kenapa, tapi dengan sikapnya yang seperti itu membuat hatiku mejadi rapuh.
Ya Tuhan, mengapa menghapus bayang dan cinta untuknya sngat sesukar ini? Tolong permudahkanlah ...
"Ka Andrian."
Suara seseorang menyadarkanku dari lamunan, kutengok kebelakang, rupanya Rara.
Ia menghampiriku, lalu mendudukan diri di sampingku dengan menyilangkan kedua kakinya.
"Aku nggak nyangka Kaka di sini juga," ujarnya dengan senyuman.
"Pengen nyobain menyendiri aja di rooftop, Ra."
"Rara juga kadang-kadang ke sini, kalau pikiran lagi gabut sama galau mode on." Rara terkekeh.
Aku menyunggingkan senyum mendengar ucapannya. "Siska nggak sering ngelakuin apa-apa lagi, kan sama kamu?" tanyaku mengalihkan topik. Khawatir bila pacarku berbuat hal yang diluar batas lagi pada Rara
Seolah malas mendengar nama Siska, Rara memalingkan pandangannya lurus ke depan.
"Udah nggak, biasa aja. Tapi kadang dia suka menatap sinis sama Rara," balasnya dengan muka datar. "Kalau dipikir-pikir, Rara nggak punya salah sama dia, hanya karena Rara pengen jadi teman Ka Andrian dia malah membully Rara. Aneh!"
"Maklumin aja Ra dia orangnya memang posesif."
"Ya tapi nggak gitu juga caranya!" Nada bicara Rara sedikit meninggi, lalu ia menoleh padaku. "Kaka kenapa sih bisa suka sama dia sedangkan pacar Kakak itu galak?"
Entahlah, akupun tak tahu, Ra. "Dia emang galak, manja, tapi dia sangat baik sama aku, Ra," ungkapku apa adanya. Ya meski Siska badgirl, tetapi ia memerlakukanku dengan baik dan manis. Aku merasa istimewa, tentu saja karena aku pacarnya.
Rara terdiam. Sekilas kulihat bibirnya manyun ke depan. Aku malah terkekeh geli, lucu juga dia.
"Kakak!!" Pekikkan seseorang mengagetkan kami berdua. Aku dan Rara menoleh ke belakang, dan ternyata Siska! Aku melirik ke arah gadis di sampingku yang mendadak wajahnya memucat.
Kami bangkit berdiri. Siska berjalan cepat menghampiri kami berdua. Sorot matanya tajam mengarah ke Rara.
Aku sudah mulai curiga dengan pergerakan tangannya yang terangkat seolah akan melayangkan sebuah tamparan mengarah pada gadis di sebelahku. Dengan gesit aku langsung menahannya.
Siska menoleh menatapku dengan tatapan kesal. "Ish Kakak lepasin, aku mau ngasih dia pelajaran!"
"Hentikan Siska! Jangan kekanak-kanakan!" seruku tegas.
"Aaarghht! Lepasin!"Siska meronta mencoba melepaskan tangannya dari cengkramanku.
"Kamu kenapa sih? Lagian cuma ngobrol doang, ko?!" Aku jengah padanya yang ringan tangan.
Pergelangan tangan Siska terlepas setelah ia menariknya kasar dari genggamanku. "Aku nggak suka Kakak berduaan sama dia!"
Kulirik Rara sekilas. Ia mendecih sinis, dengan memutar kedua bola mata jengah.
"Lo *****! Minggat dari sini!" bentak Siska sambil menunjukan arah pintu keluar.
"Siska! Kamu nggak boleh ngomong kaya gitu!" selaku dengan nada tinggi.
"Nggak apa-apa Ka, Rara pergi ya."
"Gak usah lihatin muka sok polos lo!"
Aku mengembuskan napas kasar menyaksikan amukan kekanak-kanakan Siska yang tak jelas. Rarapun pergi tanpa memerdulikan ucapan Siska yang menyakitkan di hati.
"Kamu bisa jaga sikap nggak, sih?" aku berkacak pinggang.
Siska menyilangkan kedua lengan di dada. Memandangku tak kalah tajamnya. "Emangnya sikap aku kenapa?! Ya wajarlah kalau aku marah!" semburnya galak.
"Kakak nggak ngerti perasaanku? Aku cemburu!"
"Iya ... Kakak paham, tapi kan tidak seharusnya kamu bersikap seperti itu. Kakak cuman nggak sengaja bertemu sama Rara di rooftop," jelasku setenang mungkin. Kuharap Siska bisa mengerti. Aku benci sifat posesifnya.
"Dia itu, kan sengaja deket-deketin Kakak tau!" sela Siska membuang muka dariku.
"Dia cuman pengen berteman ko, emang salah?"
"Pokoknya aku nggak mau Kaka berteman sama dia!"
"Ko kamu gitu?"
Siska kembali menatapku dengan tatapan menusuk. "Kenapa?! Kakak nggak terima?!" Mengapa aku bisa punya pacar yang doyan menggertak dan kasar seperti ini?
"Emang salah ya cuma berteman?"
Sesaat Siska terdiam, matanya melotot tapi tampak berkaca-kaca. "Aku benci Kakak!" setelah mengucapkan itu ia berlalu pergi meninggalkanku begitu saja.
Kembali aku membuang napas qlelah meladeni perdebatan tak berfaedah dengan Siska yang kekanak-kanakkan. Oh Tuhan, berilah aku kesabaran.
***
Alfira POV
Gemericik hujan di malam yang dingin terdengar di luar sana. Peluh dan keringat membasahi sekujur tubuh. Pergumul*n panas penuh gejolak nafsu yang akhirnya berakhir lemah di atas tempat tidur.
Helaan napas lelah terembus dari mulut kami berdua. Mas Reza menelentangkan badan dengan tangan yang bersedekap. Napasnya terengah.
Kurasakan ia menyelipkan tangan kanannya di leherku. Mendekatkanku pada dekapannya. Mas Reza mengecup keningku singkat, lalu ia menarik selimut menutupi tubuh telanj*ng kami. Matanya terpejam hendak terlelap. Aku mendongak memerhatikannya.
Sudah hampir tiga bulan ia menjadi suamiku, tapi aku belum bisa membuka hati ini padanya. Mas Reza sosok pria yang baik, hangat dan bijaksana, memberikan apa yang aku mau. Bisa dibilang ia sangat memanjakanku dan perhatian, tapi tidak seperhatian Andrian terhadapku.
Entah bagaimana jadinya seandainya Mas Reza tahu bila Andrian menaruh hati padaku, kemudian aku sebagai istrinya yang juga menyimpan rasa yang sama. Mungkin ia akan murka dan kecewa.
Ini tidak benar!
Aku harus segera menghempaskan rasa terlarang ini sebelum rasa ini tumbuh dan semakin dalam. Jangan ada satu tambahan hati yang retak. Aku tidak ingin hubungan antara ayah dan anak hancur gara-gara satu orang wanita.
Aku terbangun setelah mendengar suara alarm ponsel di pagi hari. Mengerjakan mata, menggeliat merenggangkan otot.
"Pagi," sapa seorang pria di sampingku dengan suara seraknya. Kudapati Mas Reza yang tengah memperhatikanku lekat.
"Apa?" tanyaku dengan suara parau khas bangun tidur.
Tanpa diduga Mas Reza malah menindihku. Aku pasrah sekaligus kesal, pasti ia menginginkan satu ronde lagi.
"Hmm ...," aku meleng*h pelan, merasakan bibirnya yang terus menciumi leherku. Ia mulai lagi.
Ciumannya naik ke rahangku, kemudian ke daun telinga. Sebelum semua itu berlanjut, dengan cepat aku mendorongnya ke sisi kiri.
"Masih pengen ih," rengeknya manja.
"Hari ini ada rapat di sekolah, jadi harus berangkat agak pa---... Aww!" Aku memekik kesakitan, ia malah menggigit leherku lagi. Sial!
"Hehe, tanda kepemilikan."
Aku mendesis kesal, ia malah terkekeh.
Bangkit dari ranjang, tanganku terulur mengambil handuk yang menggantung di dinding untuk menutupi tubuh polosku. Lekas aku pergi ke kamar mandi.
Buru-buru aku menatap diri pada cermin yang terpasang. ****! Aku mengumpat dalam hati setelah sadar ada beberapa bercak merah tergambar di leher putih jenjangku. Ya Tuhan, bagaimana jika Andrian sampai lihat?
***
Pagi itu Andrian terlihat murung. Mungkin disebabkan karena akhir-akhir ini aku terpaksa menghindarinya. Di dalam mobil aku dan Andrian hanya terdiam. Kadang aku merasa tidak tega karena dengan sengajanya aku menghindar tak memerdulikannya seolah tak ada. Hanya wajah datar tanpa senyuman yang aku berikan.
Biarlah Andrian membenciku. Dari pada dirinya harus menyimpan rasa yang akan menyakitkan terus menerus. Aku harap, perasaannya padaku akan lenyap seiring berjalannya waktu.