I Love You My Step Mother

I Love You My Step Mother
Hancur



Andrian POV


Sudah tiga hari Siska menginap di rumah, dan itu membuatku sedikit terganggu, disebabkan aku tidak bisa berduaan dengan Bu Alfira. Entahlah, seharusnya aku senang dengan kehadiran Siska, tapi entah mengapa ia malah jadi benalu di antara kami berdua.


Hampir sembilan bulan Siska jadi pacarku, seharusnya aku sudah mulai mencintainya, tapi kenyataanya aku tidak bisa move on dari Bu Al. Hatiku masih saja dimiliki olehnya, meskipun ia kini menjadi milik papa. Raga Bu Alfira memang bukan punyaku, tetapi hatinya untukku.


Perasaan ini rasanya campur aduk saat mengetahui Bu Alfira juga mencintaiku, bahagia karena cinta yang terbalaskan. Merasa bersalah pada Siska, tidak sepatutnya aku menjadikan ia pelarian bila pada akhirnya aku tidak bisa mencintainya.


Untuk papa tentunya, aku sedikit kasihan pada papa karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Namun, semua itu salah papa, bukan?  Mengapa pula papa harus menikahi Bu Alfira secepat itu tanpa bertanya pada Bu Al prihal cinta atau tidak?


Salahkah dengan apa yang aku lakukan pada Bu Alfira? Sebuah kesalahankah ketika kami diam-diam mencuri waktu berdua di luar? Salahkah ketika kami saling berbohong pada pasangan masing-masing? Apa aku salah ketika kami saling menyatakan cinta satu sama lain dan mencurahkan kerinduan di setiap saat?


Apakah kami keterlaluan ketika kami belum bisa membuka hati untuk orang lain?


Tidak! Semua Itu bukan salah kita berdua! Salahkan saja cinta, mengapa cinta ini harus berlabuh pada orang yang tidak tepat? Jika kami tidak ditakdirkan saling memiliki mengapa rasa itu tetap melekat kuat di dalam sana? Jadi, salahkan saja cinta, jangan salahkan orang yang mencinta!


Dua puluh menit aku berada di dalam kamar mandi, merasakan dinginnya guyuran air shower guna menjernihkan fikiranku yang berkecamuk.


Tubuh ini sudah mulai menggigil karena tidak biasanya udara di pagi sekarang sedingin ini. Kutarik kran untuk mematikan shower air lalu ku ambil handuk yang menggantung untuk menutupi setengah tubuhku dan handuk kecil untuk mengeringkan rambut.


Saat ku buka pintu kamar mandi, aku melihat Siska sedang duduk di tepi ranjang. Berapa lama ia sudah berada di kamarku?


Aku mengerutkan dahi sebab ada sesuatu yang aneh disaat aku melihat ia tidak seperti biasanya. Siska duduk terpaku dalam diam, pandangannya entah kemana dan ekspresi di wajahnya susah untuk dijelaskan, kosong.


Aku mencoba mendekatinya. "Siska?" Namun, dirinya tidak menjawab. "Kamu kenapa?" Siska masih bergeming tidak menanggapi.


Batinku bertanya-tanya sebenarnya ada apa gerangan? Gadis yang selalu ceria dan enerjik saat berada di dekatku, mendadak berubah.


Kucoba untuk menggenggam sebelah tangannya, tetapi ia langsung menepis kasar membuatku tersentak kaget. "Lepasin bangsat!"


Apa telinga ini tak salah dengar? Barusan Siska memanggilku 'bangsat?' "Kamu kenapa sih? Aku nggak ngerti deh."


Sorot mata Siska mendelik tajam menatapku. Seolah menyiratkan kebencian yang aku tidak tahu apa sebabnya. Namun, ku melihat ada genangan di matanya. Kelopak itu perlahan mulai menitikkan air mata. Aku tertegun kebingungan.


"Apa aku buat kesalahan?"


Plak!


Detik kemudian Siska menampar sebelah pipiku keras dengan segala emosinya sampai-sampai kepalaku tertoleh ke kiri. Ya Tuhan, rasanya panas dan perih. Kembali aku menatapnya dengan penuh tanda tanya. Aku ingin penjelasan darinya tapi Siska malah seperti ini.


"Siska katakan padaku sebenarnya kamu kenapa?” Aku coba menggenggam sebelah tangannya, lagi-lagi ia menepis nya.


"Jangan pegang-pegang tanganku! Aku jijik sama kamu! Aku jijik!" teriak dengan air mata yang mengucur deras. Siska menangis. Hatiku mendadak diliputi rasa tak enak hati.


"Siska!" teriakku ketika tiba-tiba ia berlari keluar dari kamar. Aku terpaku beberapa saat sebelum akhirnya aku bisa menyadarkan diri. Membuka lemari baju dan kuambil kaos dan celana lalu dengan cepat aku memakainya.


Tergesa aku melangkah kan  kaki ke kamar tamu dan ku dapati Siska tengah membereskan pakaiannya ke koper. Air mata Siska makin tak terbendung, mengalir membasahi pipinya. Kepala Siska yang tertunduk memudahkan air mata itu terjatuh.


"Jahat," lirihnya di sela-sela tangisan. Sesekali Siska menarik ingus dan menyekanya dengan punggung tangan.


Perlahan ku ayunkan kaki menghampirinya, mendekat guna mencoba menenangkan dan minta penjelaskan apa maksud semua ini?


"Siska please jangan begini, aku nggak paham sebenarnya ada apa? Kenapa kamu begini? Apa aku buat kesalahan? Kumohon jawab aku."


Setelah selesai membereskan baju dan menutup kopernya, Siska segera beranjak pergi tapi dengan cepat aku mencekalnya.


"Jelasin dulu sama aku kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?" Aku menghalangi pergerakannya di ambang pintu.


"Minggir nggak?!" pintanya parau, aku menggeleng.


"Kamu jangan pergi, jelasin dulu sama aku kamu kenapa?" tanyaku memohon dengan mimik muka memelas.


"Minggir."


"Enggak!" Aku menggeleng.


Siska menghela napas panjang. Sorot mata tajam penuh amarah itu seolah menusuk relung hatiku yang paling dalam. "Kamu jahaat!" serunya lantang.


Aku jahat? Mengerutkan dahi aku tidak mengerti.


Aku terpental ke lantai saat Siska dengan tiba-tiba mendorong tubuhku cukup kuat. Aku bangkit berdiri mengejarnya walau ada sedikit rasa sakit tapi masa bodoh yang penting aku bisa mengejar Siska. Kulihat Siska berjalan tertatih-tatih seraya mendorong koper menuju lantai bawah dan pastinya menuju pintu keluar.


Langkahku ikut tercekat kala langkah Siska tiba-tiba berhenti tepat di saat berpapasan dengan Bu Alfira di ruang tengah. Siska menatap Bu Alfira tajam, tapi deraian air mata masih memenuhi wajahya. Bu Alfira memandang Siska bingung.


Sekilas Bu Alfira memandang ke arahku, tatapannya penuh tanda tanya menandakan ia minta penjelasan dariku apa yang terjadi dengan Siska. Aku menggeleng karena aku sendiri memang tidak tahu.


Cukup lama Siska menatap Bu Alfira tanpa sepatah kata, iapun melenggang pergi menuju begitu saja. Aku tetap mengikutinya, melewati Bu Alfira yang masih terdiam  berdiri keheranan.


Sampai berada di teras rumah, rupanya ada papa yang baru saja pulang dari kantor. Papa mengerutkan dahinya ketika mendapati Siska berjalan mendorong koper keluar rumah dengan tangisan pilu.


"Lho, Siska kamu kenapa?" tanya Papa lembut sambil memegang kedua pundak Siska.


Siska terdiam di tengah isakannya yang tidak bisa dikendalikan itu, ia menatap papa nanar.


"Permisi Om Siska mau pulang," lirihnya seraya menghapus air mata.


"Tapi kenapa kamu nangis?"


Siska sempat menoleh ke arahku, aku terbeliak sekaligus menelan saliva kasar ketika papa ikut menatap ku dengan rahang yang mulai mengeras. Mampus.


"Tanyakan saja pada anak, Om." Setelah itu Siska berlalu pergi meniggalkan aku dan papa yang masih terpaku di tempat.


"Kamu apain dia Andrian?!" bentak Papa padaku.


"Andrian tidak tahu, Pa," balasku sedikit takut. Jantung ini berdebar mendadak.


"Cepat antar dia pulang!"


"I--iya, Pa." Bergegas aku berlari kecil menyusul Siska yang telah hilang dan sudah keluar dari gerbang rumah.


Aku terlambat ketika Siska telah memasuki sebuah mobil hitam BMW, sepertinya ia menghubungi supir pribadi untuk menjemputnya.


Percuma saja mengejarnya, mobil itu melaju dengan cepat. Aku menghela napas yang tak beraturan, mematung di pinggir jalan. Menatap laju mobil yang perlahan menjauh dengan menyisakan banyak tanda tanya.