I Love You My Step Mother

I Love You My Step Mother
First Kiss



"Ayo Kak masuk," ucap Siska semringah seraya menarik lengan Andrian guna memasuki pintu utama sebuah mansion mewah.


Sepulang sekolah, Siska mengajak Andrian untuk mampir ke rumahnya yang elegan, mewah dan klasik. Bisa dibilang kediamam keluarga Siska lebih cocok disebut istana.


Selain halaman depan dan belakang yang luas serta pagar yang menjulang, unsur dekoratif seperti ukiran atau pahatan serta pilar-pilar pada eksterior dinding dan patung-patung berukuran kecil kerap hadir pada mansion tersebut.


Seorang pelayan pria paru baya berseragam rapi sedang berdiri di depan pintu. Pria itu menyapa Andrian dengan ramah, lalu Andrian membalasnya dengan senyuman dan anggukan.


Pelayan yang bekerja di mansion keluarga Siska, berjumlah cukup banyak dan mereka berseragam. Bisa dibilang, Siska lebih banyak menghabiskan kesehariannya dengan pelayan dibanding orangtuanya yang super sibuk mengurusi bisnis.


"Sis, ini rumah apa istana?" ucap Andrian dengan muka cengo. Tatapannya tidak lepas berkeliling melihat seisi mansion.


"Nanti juga Kaka bakalan tinggal di sini kalau kita udah nikah," ucap Siska entengnya sambil tetap bergelayut manja pada lengan Andrian.


"Emang kita jodoh?" timpal Andrian asal.


Mimik muka Siska berubah cemberut. "Emang Kaka gak serius sama aku?!" Nada suaranya seketika naik beberapa oktaf. Siska inginnya berjodoh, tetapi Andrian menimpali usil.


'Aamiinin, kek,' batin Siska.


Anak lelaki cengengesan, sambil mencubit pipi pacarnya gemas. "Iya, serius."


Sejenak Andrian terdiam. Ia merasa pacaran dengan Siska adalah hal yang tidak direncanakan. Niat Andrian menerima cinta Siska hanya karena ia ingin melupakan Alfira, sosok wanita yang selama setahun lebih berada di hatinya.


"Jangan cemberut gitu dong. Yuk lanjut lagi, Kaka ingin lihat isi rumah sayangku," goda Andrian.


Keduanya pun melanjutkan berkeliling. Sembari berjalan, Andrian dibuat terperangah dengan seisi mansion keluarga Siska. Kolam renang yang luas, tempat gym, deretan mobil mewah, home thearter, serta perpustakaan pribadi.


"Papa mamamu mana?" Andrian merasa heran karena sedari tadi tak terlihat kemunculan sosok kedua orangtua Siska, ia hanya melihat dari potretnya yang terpajang di dinding.


"Orang tua aku lagi di luar negeri. Kakak laki-laki tertua kuliah di Amerika, kakak yang satunya jagi di Ausie," jelas Siska seraya memberikan senyuman manis pada kekasihnya.


Andrian hanya mengangguk-anggukan kepala. Keluarga super sibuk, pikirnya.


"Kita nonton film yu." Siska mengajak Andrian setelah sanpai di area home theater.


Sepertinya seru, pikir Andrian. "Ayo!"


"Eh, tapi aku mau ganti baju dulu ya Ka, Kakak mau ikut ke kamar aku?" Siska iseng menggoda Andrian.


Sontak Andrian tertegun mendengar ucapan Siska barusan. Dirinya sempat berpikir. Apakah Siska benar-benar polos atau memang ...


"Aku tunggu di luar kamar kamu aja, deh," kata Andrian gugup. Siska yang awalnya menahan tawa, sontak keluar pecah saat melihat ekspresi Andrian yang salah tingkah.


"Hahaha! Aku bercanda kali, Ka."


"Oh." Andrian kikuk.


***


Di ruangan mini bioskop tersebut, keduanya tampak serius dan asik menonton film romantis berjudul 'After We Collided' yang dibintangi oleh Josephine Langford dan Hero Fiennes-Tiffin.


Tanpa mereka sadari, ternyata film itu tidak sedikit menampilkan adegan dewasa dari kedua pemain. Andrian sedikit kikuk, tetapi Siska terlihat menikmati dan terkadang gadis itu berdehem tanpa alasan.


Sebuah tangan halus dan hangat Andrian rasakan menggenggam tangan sebrlah kirinya. Pandangan keduanya masih terpaku ke layar.


"Sis, nggak ada film lain apa?" tanya Andrian pelan, tubuhnya juga agak sedikit menegang.


"Udah ah tonton aja."


"Tapi itu kan ada ade---"


Cup!


Andrian agak terperanjat karena Siska main nyosor begitu saja. Sesaat Siska melepaskan ciuman. "Rileks aja, Ka," ucap Siska terkekeh pelan. Pasalnya, tibuh Andrian sangat kaku.


Siska kembali menempelkan daging kenyal itu ke bibir tebal Andrian dengan mata yang terpejam.


Andrian masih kikuk, gugup. Ia tidak pernah berciuman. Dirinya tidak tahu bagaimana membalas ciuman Siska. Matanya masih terbelalak, sementara mata Siska terpejam menikmati. Sesekali gadis itu **********. Sungguh sangat berpengalaman. Youtube ternyata sangat berguna, pikirnya.


'First kiss gue' batin keduanya.


Andrian berusaha mengimbangi ciuman Siksa, meski agak malu-malu.


Cukup lama bibir mereka berpagutan, akhirnya keduanya melepaskan ciuman. Namun, tetap dengan tangan yang saling menggenggam. Tatapan mereka bertemu, dan Siska malah tertawa kecil melihat ekspresi Andrian yang datar dan gugup.


Selepas first kiss keduanya, kembali fokus mereka beralih pada layar yang tengah memutar film. Rona merah terpamoang di wajah kedua remaja tersebut.


Senyum merekah juga terpancar di wajah Siska, sedangkan Andrian malah bergeming kikuk tak karuan.


***


Alfira POV


Hari ini Bi Narsih ijin tidak bisa bekerja karena sakit. Otomatis, aku harus membereskan rumah ini sendirian. Untungnya rumah ini tidak terlalu besar tidak pula terlalu kecil. Rumah dua lantai yang sangat sederhana tapi asri.


Selesai dengan ruang tengah, ruang keluarga, dapur dan kamar, tinggal kamar Andrian yang belum aku bereskan.


Dengan menenteng peralatan bersih-bersih berupa vacum cleaner dan kemoceng, satu persatu anak tangga aku lewati.


Setibanunya di kamar Andrian, aku mengela napas kasar. Lelah sekali baik tangga sambil membawa alat berat ini. Dari pada aku mengeluh, mending kumulai saja..


Menekan tombol di vacum cleaner agar berjalan. Kuarahkan kesegala arah. Debu-debu masuk lewat sedotan.


Ketika mulai membersihkan kolong ranjang, tidak sengaja aku melihat sebuah kotak kecil berada di sana. Meraihnya lantas kutiup debu tipis yang hinggap di atas tutup kotak tersebut.


Dahiku mengernyit. Aku penasaran, mengapa Andrian sampai menyimpan kotak di bawah kolong ranjang?


Membuka kotak terebut pelan. Ada sebuah catatan kecil bertuliskan 'My first love'. Sepertinya catatan ini sudah lama, hampir setengah tahun ketika kulihat di tanggalnya.


Aku sebenarnya tidak ingin tahu, tapi penasaran juga. Membuka catatan itu lantas mulai membacanya dari halaman awal.


Hey kau yang di sana. Saat pertama kulihat kamu, entah kenapa aku merasakan ada getaran saat melihatmu dan saat di dekatmu.


Mengapa aku selalu terdiam saat aku menatap mata indahmu? Mengapa aku selalu terpaku ketika melihat senyum manismu?


Saat aku mengingatmu, pikiran ini bukan lagi milikku. Mengagumimu dalam diam itu caraku, karena bukan kata tapi hati yang bicara.


Perasaan cinta ini sangat dalam hingga aku memilih untuk memendam. Memperhatikanmu diam-diam, mendoakanmu setiap hari dan mencintaimu secara rahasia.


Aku terkekeh membaca tulisannya yang begitu puitis tersebut. Tidak menyangka kalau sosok Andrian yang cuek dan bermuka datar itu ternyata cukup romantis.


Saking penasaran, kubuka lagi halaman berikutnya. Perasaanku masih sama, tidak berubah. Semakin hari aku semakin mencintaimu dan mengagumimu, cinta dalam diam.


Kau tahu? Aku tak hanya mendoakanmu diam-diam, tapi juga berharap tatap kapan-kapan.


Adakah yang lebih hormat diam-diam mencintaimu, diam-diam mendoakanmu, diam-diam pula membinasakan rasamu. Semua serba diam-diam.


Saat aku merasa jatuh cinta, terkadang ada suatu dorongan yang membuatku ingin mengungkapkan perasaan cintaku kepadamu. Namun, terasa sulit untuk mengungkapkannya. Ada perasaan malu, ragu, gelisah, bahagia yang bercampur menjadi satu. Jika tak diungkapkan, aku bingung harus berbicara apa.


Yang jelas, aku sangat mencintai kamu ...


Alfira Eliana Nurdin ...


Mendadak aku membeku kaget. Jantung ini berdegub kencang tak karuan. Andrian. Jadi selama ini anak itu menaruh hati padaku?