I Love You My Step Mother

I Love You My Step Mother
Pacaran



Suara jangkrik saling bersahutan. Bintang berkilapan dan bulan bercahaya terang senantiasa berduet menciptakan malam yang indah. Malam ini di balkon kamar, aku termenung menikmati sunyinya malam. Rumah ini sudah sepi makin sepi saja. Dari tadi pagi, Mas Reza pergi ke luar kota guna menemui klien mengurusi kasus sengketa.


Disamping sudah jadi seorang pebisnis, Mas Reza juga merangkap menjadi seorang pengacara.


'Sayang aja masa punya ijazah S2 sarjana hukum nggak kepake,' begitulah ucapnya kira-kira.


Padahal, dengan berbisnis pun hidupnya telah tercukupi. Akan tetapi, bagi Mas Reza menjadi seorang pengacara itu cita-cita sedari kecil.


Menopang dagu ke pagar balkon. Menarik napas panjang. Mendadak aku jadi teringat seseorang. Andrian, anak tiriku. Sudah lima hari ia tidak pulang ke rumah. Terakhir, di kala malam itu ia keluar tergesa-gesa sambil menggendong ransel dan mengenakan helm di kepala lalu membanting pintu tanpa kata yang terucap. Anak itu seperti menyimpan rahasia.


Karena jengah Mas Reza sampai mengomelinya beberapa kali via telefon. Seperti anak yang tidak punya rumah, begitulah ujarnya. Semenjak aku menjadi ibu tiri, ia jarang berada di rumah. Setelah pulang sekolah, Andrian selalu pergi tanpa pamit, kemudian pulang pada malam harinya, begitu terus kurang lebih selama satu minggu.


Kadang saat jam pelajaranku, ia selalu tampak tidak semangat. Murung dan lesu. Ia lebih banyak terdiam dan menjadi pasif. Dulu Andrian sangat aktif bertanya perihal pelajaran dibanding murid lain, tapi sekarang sungguh berbeda.


Ada apa dengannya? Apa karena kehadiranku di kehidupan Mas Reza sehingga ia jadi berubah seperti sekarang? Ataukah sebab lain Andrian belum bisa menerimaku sebagai ibu pengganti untuknya? Entahlah. Ku tanyakan saja pada bulan dan bintang, apakah kalian tahu?


***


Flashback


Andrian POV


Aku mengetuk pintu rumah Doni beberapa kali, menunggu sang penghuni membukanya. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya sesosok remaja menyebalkan muncul setelah membukanya.


"Masuk, Bro," ucap Doni sembari mengembuskan asap rokok padaku dengan kekehan. Memang layak anak itu aku sebut menyebalkan karena begitulah kelakuannya.


"Asapnya kena muka aku tau." Aku memberengut kesal.


"Sorry, Bro gue nggak sengaja," ujarnya dengan cengiran lebar. "Eh, cepetan masuk. Dingin Bro di luar."


"Don, sorry ya malam-malam gini gue bertamu ke rumah lo," kataku merasa tidak enak hati.


"Gak apa-apa ko, justru pas gue bilang ke nenek kalau malam ini lu mau kerumah gue dia malah seneng, katanya biar rumah ini makin hangat. Lagian kenapa sih lu ngedadak banget malam-malam gini? Coba dari tadi siang, kan gue bisa siap-siap buat beres-beres kamar. Kamar tamu agak berantakan bro, malu lah dilihat lu," celotehnya panjang lebar.


"Nggak tau nih, tiba-tiba saja pengen nginep di rumah lu. Oh ya nenek lu mana?" Pandanganku menyapu ke segala arah.


"Udah ke alam mimpi kali." Aku membulatkan mulut membentuk huruf O.


"Oh iya, motor lu masih di luar, 'kan? Ya udah nanti gue masukin sekalian sama helem lu ke garasi. Sekarang lu istirahat aja, tuh kamar tamu di atas sana sebelah kamar gue. Lu udah tahu, kan?" Doni menunjuk ke arah lantai atas.


"Iyalah. Gue, kan sering main di rumah lu."


Doni membukakan pintu lebar-lebar. Perlahan-lahan aku mengayunkan kaki memasuki rumah. Kesunyian dan sepi menyelimuti, membuatku merasakan kesendirian yang mendalam.


"Sini kunci motor lu, biar gue masukin ke garasi." Aku menyerahkan benda itu pada Doni dan ia langsung keluar rumah untuk mengamankan kendaraanku.


Aku berjalan ke lantai atas menuju kamar yang telah disediakan Doni untukku, menyalakan lampu dan merasa seolah-olah ruangan itu tidak pernah ditempati sebelumnya. Suara langkah kakiku bergema di lantai yang kosong, menciptakan suasana yang mencekam.


Hanya ada tempat tidur yang kosong, tanpa ada tanda-tanda kehidupan. Aku Melepaskan ransel dan meletakkannya di pojok ruangan. Keheningan dan kesunyian yang menyelimuti rumah ini membuatku seperti berada di dunia yang terpisah.


Aku menggigit bibir dan mencoba mengusir rasa sepi yang terus menghantui. Menyadari bahwa ini hanya tempat sementara. Aku harap, dengan melarikan diri sesaat dari papa dan Bu Alfira akan membuatku lebih baik dan mungkin saja Doni bisa menghiburku. Namun, nyatanya kesendirian dan ketenangan di malam ini membuatku merasa terisolasi dan terombang-ambing oleh pikiran dan emosi yang rumit.


Mengambil napas dalam-dalam aku mencoba menenangkan diri sendiri. Aku berjanji untuk mengisi waktuku dengan aktivitas agar teralihkan dari semua kerumitan ini. Aku berharap dengan berjalannya waktu, rasa sakit ini perlahan akan hilang dan berganti ketenangan.


Dengan tekad yang kuat, aku harus berusaha mengatasi kesendirian dan kehampaan yang melanda. Aku membaringkan tubuh kemudian sambil menarik napas dalam. Memandng langit-langit kamar, aku merenung.


Tuhan, mengapa aku harus mencintai dia, jika pada akhirnya Kau takdirkan dia bukan untukku? Lebih baik Kau hilangkan saja perasaan ini jika cinta ini membuatku sakit saat aku melihatnya bukan denganku. Rasanya, seperti belati menghujam jantungku.


Menarik selimut menutupi seluruh tubuh. Entahlah, yang jelas sekarang aku lelah. Hati, pikiran dan semua yang menyesakkan membuatku ingin berteriak melepaskan beban di dada.


***


"Sis, aku ... mau jadi pacar kamu."


"Be--neran nih, Ka?" Mata itu sangat berbinar bahagia. Kadang, mengerjap. Mungkin tanda tak percaya bahwa aku menerima cintanya. Senyum hangat ku berikan padanya.


Aku mengangguk pelan. "Iya. Kakak nerima cinta kamu." Aku jadi salah tingkah dan kikuk saat Siska dengan tiba-tiba melemparkan diri ke dekapanku. "Siska! nanti kalau ada yang lihat gimana?" tanyaku gusar, sambil pandanganku menyisir sekeliling, takut ada orang lain.


Ia mendongakkan wajah menatapku dengan bibir yang mengerucut lucu. "Emangnya kenapa kalau orang lihat? Sekarang kita, kan sudah resmi pacaran?"


"Tapi, kan malu. Masa di sekolah peluk-pelukan?"


Siska mendengus. "Ish. Di taman belakang sekolah, kan sepi nggak ada yang lihat ini ko jangan khawatir, Kak." Sekarang ia membenamkan mukanya di ceruk leherku.


"Kak ..."


"Apa?"


"Makasih udah nerima cinta aku."


"Soalnya, Kakak juga menyukaimu, Siska." Bohong. Kalimat itu hanya manis di bibir, untuk menyenangkannya saja.


"Benarkah?" Siska kembali mendongakkan wajah. Kali ini, mukanya sangat memerah dengan senyum merekah. Anggukan pelan kuberikan sebagai jawaban.


Pelukannya semakin mengerat. "Aku makin sayang sama Kaka deh."


"Pergi yuk. Bentar lagi bel masuk kelas berbunyi," ajakku padanya.


"Bentar lagi." Siska merengek seperti enggan beranjak.


"Masa pelukan terus? Nanti dilihat orang malu lho."


"Aah, entar pokoknya. Aku masih pengen posisi seperti ini, meluk Kakak," katanya manja. Ya sudahlah aku hanya bisa pasrah. Kubiarkan Siska sesaat menikmati moment ini.


Aku tercenung. Apakah pacaran dengan Siska bisa menghilangkan perasaanku pada Bu Alfira? Kadang aku merasa bersalah pada Siska, tanpa ia ketahui aku telah menjadikannya pelarian.