
Setelah Siska mengetahui ada seorang gadis yang mengincar Andrian beberapa hari ini, Siska dan teman satu geng-nya secara diam-diam mengawasi tingkah laku Rara di sekolah.
Saat ini kelima gadis itu tengah fokus mengamati Rara yang ketahuan mendekati Andrian di taman sekolah. Melihat itu, Siska merasa geram, amarahnya sudah mendidih, tapi ia tahan. Menunggu waktu yang tepat untuk memberikan Rara pelajaran, begitulah pikirnya.
"Astaga, bener-bener tuh cewek." Suara Ria memecahkan keheningan.
"Sis, lo belum mau kasih dia pelajaran?" tanya Bela yang tetep fokus mengamati kelakuan Rara bak seorang polisi mengincar penjahat.
Siska masih tetap bergeming dengan tatapan penuh amarah. Kedua tangannya terus mengepal, pertanda Siska ingin sekali menonjok muka gadis itu.
"Pulang sekolah kita eksekusi!" jawaban Siska yang penuh penekanan dianggukan oleh teman-temannya.
***
Kegiatan belajar mengajar telah usai, para siswa dan siswi pun berhamburan keluar kelas untuk pulang ke rumah masing-masing, termasuk Rara.
Siska and the genk ternyata sudah bersiap menunggu kedatangan Rara di tempat parkir motor. Pandangan mereka tetap fokus menyisir sekeliling, sampai terlihatlah sosok gadis yang membuat Siska tidak bisa tidur nyenyak akhir-akhir ini.
Veranda dan Kinal, kawan suruhan Siska akhirnya menghampiri Rara yang sedang memakai helemnya. Berasa ada seseorang menepuk kedua bahunya, Rarapun menoleh ke belakang.
"Ra, bisa ikut kita?" tanya kedua gadis itu dengan senyuman misterius.
"Mau apa? Bukankah kalian itu anak kelas X IPA 2 ya? Ada keperluan apa sama gue?"
Rara merasa bingung, ia sama sekali tidak punya urusan dengan anak yang berbeda kelas dengannya. Veranda dan Kinal saling melirik satu sama lain dengan senyum menyeringai.
"Ada yang mau bicara sama elo, penting," tukas Kinal.
Karena Rara merasa tidak ada kecurigaan sama sekali, akhirnya Rarapun meng-iyakan. "Ya udah deh tapi jangan lama-lama ya, gue pengen cepet pulang," ucap Rara dengan malas.
Veranda dan Kinal membawa Rara ke sebuah gudang di sudut sekolah. Rara merasa heran sekaligus ada sesuatu yang membuat perasaanya tidak enak.
"Ko kalian bawa gue ke gudang sih?" Rara mengernyit heran.
Tanpa ba bi bu lagi, Veranda dan Kinal menyeret Rara masuk ke dalam gudang. Terlihat Siska yang sedang menunggu dengan melipatkan kedua tangan di dada, tatapannya sungguh tajam dan menakutkan.
"Eh, kampret! Lo berdua kenapa sih nyeret-nyeret gue ke mari?!" bentak Rara kesal sambil melepaskan diri dari cengkraman Veranda dan Kinal.
Siska berjalan angkuh menghampiri Rara. "Selamat datang pelakor."
Sadar dengan keberadaan siswi lain di gudang tersebut, raut wajah Rara tambah kebingungan, dahinya mengerut.
Senyum miring terpampang di wajah Siska. "Kenalin. Gue Siska pa-car-nya Andrian." Siska berkata dengan penuh penekanan pada kata 'pacar' seraya mengulurkan tangan.
Rara berpikir sejenak. Detik kemudian, ia paham dengan maksud semua ini. Rara mencoba bersikap tenang, karena watak Rara yang tidak ingin orang lain melihat dirinya gusar.
Rara tidak membalas uluran tangan Siska, justru ia malah melipat kedua tangan. Seringai miring ia berikan pada Siska. "Oh, jadi elu ya pacarnya Kak Andrian yang kata anak-anak lain galak?" Rara seolah tidak ada rasa takut sama sekali. Ia malah semakin berani dengan memberikan cibiran.
Melihat sikap Rara yang sedikit songong, Siska merasa geram. Ia sudah mengepalkan kedua tangannya, tetapi Siska berusaha tetap tenang. "Sekarang lo udah tau, 'kan? Jadi nggak usah rayu-rayu lagi pacar gue paham?!"
Rara memutar bola matanya, memberi gesture berpikir. "Hmm ... kalau Kak Andrian sendiri tiba-tiba suka gimana? Gue nggak bisa nolak juga, kan?"
Rara merasa cemas, tapi ia tidak ingin menunjukkan ketakutannya. "Emang gue salah ya gue suka sama Kak Andrian? Gue juga nggak tahu kalau dia udah punya pacar. Jadi jangan salahkan gue juga, dong."
Siska tertawa menghina, "nggak tahu? Lo pikir gue akan percaya, huh? Gue sudah muak sama cewek-cewek modelan kayak lo. Cewek yang suka nyari perhatian sama cowok-cowok ganteng pacar orang!"
Rara mencoba menjaga ketenangan. "Heh asal lu tahu aja gue nggak ada niat buat curi Andrian dari lu, ya. Yang namanya perasaan nggak bisa dikendalikan," ujar Rara penuh kebohongan. Padahal, sudah dari jauh hari peringatan dari Jaskia agar tak dekat dengan Andrian berulang kali ia dengar. Namun, malah diabaikan.
Siska tetap keras kepala. Ia melampiaskan kecemburuan dan kemarahannya dengan mengejek Rara dan mencoba mengintimidasi. Namun, Rara berusaha untuk tidak terpengaruh.
"Sekarang jauhin Kak Andrian, atau gue bakal ...."
Rara mencebikkan wajah. "Bakal ngapain?" tanya Rara secara tidak langsung menantang Siska, si gadis jutek, angkuh dan punya pengaruh di sekolah. Mendengar perkataan Rara, darah Siska merangkak naik menjadikan wajahnya memerah penuh gejolak amarah.
Tanpa basa basi, Siska menarik kerah baju Rara kasar lalu mengehempaskan tubuhnya ke lantai. "Aws!" Tampak Rara meringis kesakitan.
"Eh Nenek Lampir! Lo kenapa sih?!" bentak Rara sambil bangkit kemudian menepuk-nepuk seragamnya yang kotor ketempelan debu lantai gudang.
Sebelum membalas perkataan Rara, Siska mencoba mengatur napasnya perlahan dengan posisi kedua tangan masih mengepal. "Lo bilang apa barusan?"
"Nek Lampir," jawab Rara dengan entengnya.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi kanan Rara. Diperlakukan seperti itu Rara mulai geram. Ingin membalas tamparan Siska, Rara mulai mengayunkan tangan kanannya, tetapi tertahan, karena ada Ria dan Bela yang dengan sigap menahan gerakan Rara. Ia memberontak. Namun, tidak bisa. Rara kewalahan melawan cengkraman Bela dan Ria.
"Lepasin gue kampret! Elu berani ya keroyokan?!" seru Rara dibarengi tatapannya mengarah ke Siska yang penuh amarah.
"Cewek songong kaya lo pantes diginiin. Makanya, lo jangan berani berurusan sama gue!"
Rara tidak bisa berkutik, karena kedua tanggannya dicengkeram oleh Bela dan Ria. "Mau diapain nih cewek, Sis?" seru Veranda tiba-tiba.
"Oh iya. Mana spidol yang tadi kita siapin?" tanya Siska sambil menoleh ke arah Kinal.
Kinal dengan cepat mengeluarkan spidol itu dari dalam tas. Kemudian dia melemparkannya ke arah Siska. "Nih." Siska dengan reflek berhasil menangkapnya.
Siska mendekat ke arah Rara yang sedang diapit oleh Bela dan Ria. Ia mulai mengarahkan ujung spidol itu ke dahi Rara. Lalu ia mulai menuliskan sesuatu.
"Cewek kaya lo pantesnya disebut PE-LA-KOR!"
Seketika di jidat Rara pun tertulis 'Pelakor'. Melihat itu, Siska dan teman-temannya tertawa terbahak-bahak.
"Balik yu guys, besok kita lanjutin lagi. Bye pelakor," seru Siska sambil melambaikan tangannya diselingi senyuman sinis dan licik.
Tanpa aba-aba, Bela dan Ria menghempaskan kembali Rara. Kali ini bukan ke lantai, tapi ke tumpukan kardus tak terpakai.
"Haha, mampus!" cibir Siska dengan senyuman lebar, merasa puas.
Mereka berlima pun berlalu keluar dari gudang tersebut meninggalkan Rara yang marah, sakit hati dan kesal. Diperlakukan sepeti itu Rara mencoba tegar, ia berencana akan melaporkan Siska dan geng-nya ke guru.