
Warning !!!
Cerita ini mengandung sex education
Aku harap kalian-kalian yang belum menikah dapat memahami alur cerita ini
Bahwa sex before married tidak semudah membalikkan telapak tangan bagi sebagian pasangan
Sore dengan udara yang cerah, Alen mengajak Raya kencan ke mall, karena dia sedang bebas tugas. Alen memakai celana jeans dipadu kaos putih polos yang ditutup jaket santai, karena di balik jaket itu tentu saja Alen tidak bisa meninggalkan senjata apinya meskipun sedang bebas tugas, sementara Raya memakai jeans dipadu kaos merah. Mereka berdua memang tampak serasi mau memakai apapun.
Sebuah foodcourt menjadi tujuan mereka untuk menikmati ice cofee dan cemilan ringan.
“Sayang .... kamu benar siap menikah denganku ? Siap jadi ibu bayangkari ?” Tanya Alen sambil memasukkan tahu walik pedas ke mulutnya.
“Iya, kak .... Kakek juga sudah meminta begitu.” Jawab Raya. “Tapi kak .... apa kalau kita sudah nikah, kakak akan meminta anu ?”
“Anu apa ?” Tanya Alen bingung
“Anu itu .... ya anu itu.” Jawab Raya bingung juga menjelaskannya.
“Anu itu apa sih ???” Tanya Alen tambah bingung.
“Masa kakak tidak tahu ?” Tanya Raya balik dan cemberut karena Alen tidak paham. “Tanya kak Ezar aja deh kalau udah nikah itu ngapain !!?”
“Aku harus tanya Ezar ? Oke akan ku telepon dia.” Kata Alen dan mengeluarkan ponselnya, lalu menelepon Ezar.
Ezar yang disebrang sana sedang menikmati kopi di kantor mengangkat telepon dari Alen.
“Apa bro ???” Tanya Ezar
“Zar ... kalau udah nikah anu itu apaan sih ?” Tanya Alen balik.
“Hah.... apaan itu, anu itu ???” Ezar balik bertanya lagi
“Sayang, Ezar juga gak tahu !” Seru Alen
“Ah ... ga mungkin !!” Balas Raya
“Zar ... aku juga bingung.” Kata Alen
“Coba jelaskan ....” Pinta Ezar
“Jadi gini, tadi Raya nanya, kalau aku dah nikah sama dia apa aku akan meminta anu itu ? Apaan coba ?” Kata Alen
Ezar beberapa detik kemudian tertawa ngakak, sepertinya paham apa yang dimaksud dengan anu itu oleh Raya.
“Lah malah ketawa ...” Gerutu Ezar.
“Anu itu mungkin maksudnya hubungan suami istri. Udah ah .... kalian ini bener-bener pasangan paling konyol menurutku.” Ezar menutup teleponnya sambil tertawa.
“Sayang .... apa maksudnya anu itu ..... hubungan suami istri ?” Tanya Alen
“Iya, masa gak tahu.” Jawab Raya.
“Ya tentu saja lah, sayang .... aku kan laki-laki normal.” Kata Alen.
Hampir 3 bulan ini kamu tinggal serumah denganku saja aku sudah menahan luar biasa, apalagi setiap kali melihatmu bangun tidur masih dengan piyama hotpand, sayang. Batin Alen.
“Tapi nanti aku hamil kak .... kuliahku belum selesai.” Kata Raya. “Padahal kakek mintanya bulan depan kita udah resmi menikah.”
“Ya tidak apa-apa, kamu hamil juga ada aku, apa repotnya.” Balas Alen.
“Ah .... nggak nggak ... aku gak mau hamil dulu sebelum selesai kuliah.” Kata Raya.
“Kan bisa pakai pengaman, sayang ....” Bisik Alen.
“Apa itu pengaman ? Apa kakak akan pakai semacam borgol ?” Tanya Raya
“E busyet .... apa hubungannya borgol dengan urusan ranjang ?” Tanya Alen balik.
“Nggak tahu.” Jawab Raya. “Lalu pakai apa ?”
“Balon sayang.” Kata Alen
“Apa itu ?” Tanya Raya
“Kamu beneran gak tahu ?” Tanya Alen seakan tak percaya gadis manis didepannya benar-benar lugu luar biasa kalau urusan cinta. “Yang seperti balon itu ....”
“Emang kakak pernah pakai ? Trus pakainya dimana ?” Tanya Raya penasaran.
“E .... anu ... kakak belum pernah pakai, hanya tahu saja.” Kata Alen
“Kalau begitu nanti kakak belajar pakainya gimana, biar pas melakukannya nanti tidak gagal.” Balas Raya
“Hahhh !!! Yakin ?” Tanya Alen. “Kalau kakak belajar sekarang trus korbannya siapa, sayang ???”
“Emang harus ada korbannya ?” Raya masih saja tidak mengerti
*Bundaaaaaa .... ini calon mantumu kenapa gini amatttt\, tolongin jawabnya gimana bunda.*Teriak Alen dalam hati sambil menggaruk-garuk kepalanya frustasi.
“Kakak ... bagaimana kalau setelah ini kita beli balonnya lalu kita coba.” Kata Raya.
“Hahhhh !?” Alen sudah benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi.
Tiba saatnya pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, Raya tetap merengek minta beli yang dimaksud Alen pengaman. Akhirnya Alen membelokkan motornya ke sebuah minimarket yang selalu menyediakan di dekat kasir. Alen masuk ke minimarket dan Raya mengekor dibelakangnya.
Alen dengan ragu-ragu mengambil sekotak pengaman yang dibicarakan sejak tadi dan memberikan ke kasir.
“Kakak katanya beli balon, kenapa kotaknya kecil sekali ?” Tanya Raya
“Hais !!! Jangan berisik. Nanti sampai rumah kakak jelaskan.” Jawab Alen sambil mengeluarkan uang dari dompetnya dan memberikan pada mbak kasir, sementara mbak kasir hanya senyum-senyum saja.
Senyum situ deh mbak, aku udah ngilangin urat malu nih buat ngebeli si pengaman sialan itu. Gumam Alen.
Alen kemudian mengajak Raya pulang ke rumah. Ayah dan bunda belum pulang dari acara resepsi temannya, Farel masih di rumah sakit ada operasi mendadak. Dirumah hanya ada Bibi Munah pembantu di rumah Alen.
“Kakak ... ayo gimana makainya ?” Tanya Raya yang sudah membuka sebungkus dan mengeluarkan isinya. “Ih .... kok licin-licin gini sih kak balonnya. Mana tipis gini ...”
Alen mengusap-usap wajahnya bingung. Bukan hanya bingung, super bingung kali ini.
“Kakak ini dipakainya dimana ?” tanya Raya lagi. “Trus gimana bisa pengaman kayak begini bisa bikin gak hamil ?”
“Itu.... e.... dipakainya di .... eh sebentar !!!” Alen ke dapur dan mencari sesuatu, dan kembali dengan sebuah pisang.
“Kenapa kakak bawa pisang ?” Tanya Raya
“Sayang .... emang selama sekolah kamu gak pernah apa dapat pendidikan kesehatan reproduksi ?” Tanya Alen balik
“Pernah kak, tapi waktu itu aku tidak tertarik, malah tertidur di kelas.” Jawab Raya.
“Nih ya .... itu namanya k*nd*m\, sayang .... k*nd*m dipakainya begini.” Kata Alen sambil memasukkan k*nd*m ke pisang yang tadi dibawanya.
“Lalu apa hubungannya pisang dipakaikan k*nd*m dan membuat aman tidak bikin hamil ?” Tanya Raya bingung. “Pisang itu dimakan\, bukan malah dikasih k*nd*m. Pisang mana bisa bikin orang hamil.”
“Pisang bisa bikin perempuan hamil kalau tidak diberi pengaman, karena nanti pisang bisa penyemburkan mayonais ke dalam gua panas.” Jawab Alen. Dan Alen merasa jawabannya sebenarnya sangat konyol.
Bunda dan Ayah yang baru saja pulang dan melihat Alen sedang memegang pisang yang sudah disarungi k*nd*m teriak-teriak histeris.
“Aleeeeennnn !!!” teriak Bunda Alin. “Kamu mau ngapain sama Raya pakai begituannn !!!???”
“Hahhh !!! Bunda, kaget aku !” Balas Alen. “Ini bunda .... aku bingung jelasinnya.”
“Kalian belum saatnya pakai beginian !” Seru Bunda Alin. “Kamu juga Len.... kamu tuh polisi, proses nikah itu rumit, mesti tes ini itu, masa kamu mau jebol gawang dulu sebelum waktunya. Bisa-bisa kerjaanmu diujung tanduk kalau kamu mau kayak gituan dulu.”
“Enggak bundaaaa !!! Bunda salah pengertian.” Protes Alen
“Bunda kenapa heboh sih !?” Tanya Raya. “Aku hanya minta kakak untuk jelasin apa itu pengaman dan bagaimana pakainya supaya nanti kalau aku sudah nikah dengan kakak tidak hamil dulu sampai aku selesai kuliah.”
Bunda Alen yang mendengar penjelasan Raya tampak bingung, sedangkan Ayah Caesar yang sudah paham langsung tertawa ngakak. Farel yang baru saja pulang dan sudah mendengar obrolan absurd tersebut ikut tertawa.
“Bunda, tolongin ....” Kata Alen memelas. “Dia nanya terus makainya dimana dan gimana ? Aku mana mungkin menunjukkan sekarang kan ?”
Bunda yang akhirnya sadar akhirnya ikutan tertawa keras.
“Kenapa malah kalian pada ketawa sih ?” Tanya Raya bingung. “Aku kan cuma pengen tahu kenapa balon licin ini bisa jadi pengaman ?”
Satu keluarga ini akhirnya juga bingung harus bagaimana menjelaskan tentang balon pengaman pada Raya, bahkan Farel yang seorang dokter pun bingung harus bagaimana cara menjelaskannya.
Akhirnya, Farel membukakan sebuah video youtube dan meminta Raya untuk menontonnya sendiri supaya Raya bisa mengerti maksud dari balon pengaman alias ****** dan harus dipakai dimana.
“Kakak ..... emang ga berat ya kemana-mana bawa barang kakak kemana-mana tiap hari ?” Tanya Raya
“Apalagi itu ?” Tanya Alen bingung
“Itu ....” Raya menunjuk ke arah celana Alen. “Tapi kalau bisa panjang kok sekarang gak kelihatan ya ? Apa kakak normal ?”
Alen dan yang lainnya lagi-lagi kembali tepok jidat, sementara Raya masih saja tetap dengan wajah bingung.