
Raya tampak kembali naik ke atas panggung bersama teman bandnya, posisinya kali ini berubah, Raya memegang gitar dan berdiri ditengah panggung, berdiri di belakang stand mic. Alen tampak kembali bergabung dengan Ezar dan Jonas.
“Len.... info dari sisi barat panggung, sepertinya ada orang mencurigakan disana.” Kata Ezar.
“Suruh awasi terus jangan sampai lengah.” Balas Alen. “Aku akan mendekat ke panggung. “Kalian ke sisi barat dan timur.”
“Oke !” balas Ezar dan Jonas.
Penonton tampak ricuh dan bersorak-sorak ketika Raya kembali naik panggung. Kali ini Raya melepas topinya sehingga benar-benar terekspost jelas kemanisan wajahnya. Alen benar-benar bisa leluasa memandanginya.
“Oke teman-teman .... saya kembali berdiri di panggung ini, dan ada sebuah request lagu dari seseorang yang ia minta saya menyanyikan lagu ini. Semoga suka lagu ini ...”
Raya memetik gitarnya dengan lembut, melodi awal lagu yang sangat dinikmati Alen.
Cinta kita memang tidak semudah yang dibayangkan
Dulu kita saling menyakiti dan hampir menyerah
Tapi kini kita ada 'tuk saling menyempurnakan
Ku berdoa untuk bisa hidup dan menua bersamamu
Suara merdu Raya menggema, menyanyikan lagu dengan alunan romantis, Alen benar-benar menikmati, ternyata Raya menyanyikan sendiri secara akustik, tanpa alunan alat musik lain.
Hanya kamu di hatiku, yang mampu mengertiku
Menjadikan diriku yang lebih baik
Aku menyayangi kamu
Kamu selalu setia menemani diriku
Cinta kita memang tidak semudah yang dibayangkan
Dulu kita saling menyakiti dan hampir menyerah
Tapi kini kita ada 'tuk saling menyempurnakan
Ku berdoa untuk bisa hidup dan menua bersamamu
Alen tersenyum dan terus memandang Raya tanpa berkedip. Raya yang ternyata baru menyadari kalau Alen tidak jauh dari panggung tampak tersenyum, kemudian dia melanjutkan lagu lain.
Hanya dirimu yang kucinta
Takkan membuat aku jatuh cinta lagi
Aku merasa
Kau yang terbaik untuk diriku
Walau 'ku tau kau tak sempurna
Takkan membuat aku jauh darimu
Apa adanya
Ku 'kan tetap setia kepadamu
Tuhan jagakan dia
Dia kekasihku
Kan tetap milikku
Aku sungguh mencintai
Sungguh menyayangi
Setulus hatiku
Walau 'ku tau kau tak sempurna
Takkan membuat aku jauh darimu
Apa adanya
Ku 'kan tetap setia kepadamu
Ho-o-o
Tuhan jagakan dia
Dia kekasihku
Kan tetap milikku
Aku sungguh mencintai
Sungguh menyayangi…
Raya yang baru saja menyelesaikan satu lagu kemudian turun dari panggung dan menghampiri Alen.
“Gimana kak ?” Tanya Raya.
“Suaramu bagus.” Kata Alen. “Terima kasih ya.... Ku kira kamu hanya akan bisa menyanyikan lagu-lagu genre keras, ternyata manis juga menyanyikan lagu barusan.”
“Hmmm .... terima kasih, kak.” Balas Raya
“Minumlah... pasti haus ...” Kata Alen sambil menyodorkan sebotol air mineral miliknya, Raya menyambutnya dan meminumnya.
Jonah dan Ezar yang melihat dari jauh tampak tersenyum, Ezar kemudian membuyarkan Alen dengan memberikan pesan melalui microfon mini yang mereka pakai semua dibalik telinga.
“Hei .... Pe De Ka Te nya tunda dulu .... ada yang harus diawasi.” Kata Ezar
“Asyemmm .... ganggu kesenangan aja.” Balas Alen. “Aku tetap waspada.”
“Waspada dari mana, matamu aja melototin Raya terus gitu.” Kata Jonas.
“Awas !!! Jangan ada yang mendekat !!! Kalau ingin nyawa gadis ini selamat !” Teriak orang itu
“Heh .... siapa kamu !?” Bentak Raya. “Beraninya menodongku dan mengancam !!!”
“Diam kamu !!!” bentak laki-laki itu.
Alen tampak terkejut, sejurus kemudian Jonas dan Ezar sudah mendekat, beberapa orang berseragam polisi sudah siap siaga dengan senjata masing-masing.
“Len ... kecolongan...” Kata Ezar.
“Kenapa harus Raya yang disandera ?!” Tanya Alen frustasi.
“Tenang .... atasi dengan tenang. Cuma satu penjahat.” Balas Jonas.
“Ray ... tolong jangan berontak, nurut ya .... semua akan baik-baik saja.” Kata Alen. “Percaya kakak ...”
“Tito.... hentikan. Kamu sudah terkepung !” Seru Jonas sambil mengarahkan pistolnya. “Menyerah saja ...”
“Enak saja !!! Aku sudah tahu dari tadi aku terkepung !” Balas laki-laki itu yang ternyata bernama Tito, ******* yang selama ini dicari-cari polisi.
“Oh .... jadi kamu yang namanya Tito si ******* yang sedang dicari-cari itu !?” Tanya Raya dengan nada galak. “Ah ..... beraninya cuma sama cewek .... kamu laki-laki apa banci sih !!!?”
“Ray ... diamlah .... biar kami yang selesaikan !?” Seru Alen yang kemudian ikut menodongkan pistolnya.
“Kak.... kamu .....?” Raya bingung.
“Aku polisi Ray .... kami sedang mengawasi jalannya acara ini.” Kata Alen. “Tenanglah ya .... kumohon ....”
“Achhh .... kenapa sih selalu saja berurusan dengan polisi.” Gerutu Raya. Apalagi Raya kemudian melihat Jonas. Raya tidak pernah lupa wajah polisi yang pernah menangkapnya satu bulan lalu dalam balapan liarnya.
“Kenapa kakak juga disini ?!” Tanya Raya
“Aku temannya Alen.” Jawab Jonas. “Udah tenang ya Ray ... ini bukan arena balapan yang bisa seenak jidatmu memacu motor, kamu sedang ditodong senjata.”
“Ahhhh ..... kalian bisanya cuma nodongin pistol doang tanpa tindakan nyata !!” Seru Raya yang tiba-tiba menarik kepala Tito dan membantingnya ke depan. Tak pelak tentu saja ada resiko dari tindakan Raya,
tangannya tergores pisau yang dipegang Tito dengan luka cukup dalam. Darah segar mengalir dari lengan Raya.
“Rayaaa ....!” Alen langsung lari mendekati Raya, dan entah tiba-tiba memeluknya, sementara Jonas dan Ezar dengan sigap menangkap Tito tanpa perlawanan.
“Kamu nekat Ray .... sudah aku bilang diam dan turuti aku kenapa tidak nurut ...” Kata Alen.
Raya tampak bingung tiba-tiba dipeluk pria tampan yang baru saja dikenalnya itu.
“Sakit kak ....” rintih Raya.
“Iya ... lukamu dalam sekali, ayo segera ke rumah sakit.” Kata Alen yang langsung menggendong Raya ke dalam mobil polisi dan disetir sendiri oleh Alen. “Bertahan .... kamu nekat sekali sih !!!”
“Kalau aku tidak bergerak mau berapa jam dalam posisi seperti itu terus.” Protes Raya sambil memegangi tangannya.
“Iya tapi tidak dengan membuat kamu terluka ....” Balas Alen. “Aku khawatir”
Raya memandang Alen tampak bingung.
Alen sudah sampai di IGD rumah sakit, dan ternyata di belakang mobil mereka Jonas dan Ezar menyusul. Alen membopong Raya masuk ke IGD dan berteriak-teriak seperti orang gila.
“Dok .... tolong ....!!! Korban sabetan pisau !!” teriak Alen
Dokter dan perawat segera menangani Raya, 10 jahitan dilengan Raya. Gadis itu begitu kuat, bahkan menahan sakit hanya sambil meringis-ringis. Alen yang melihatnya tidak tega, bahkan terus memegang tangan Raya tanpa dilepas.
Setelah selesai, Raya diberi beberapa pertanyaan oleh bawahan Alen, karena kasusnya mau tak mau Raya adalah korban.
“Kau kuat sekali, Ray ..... Tito bahkan tanpa perlawanan kamu banting saja.” Kata Jonas.
“Apa kamu belajar bela diri ?” Tanya Ezar.
Raya mengangguk, “Dari umur 5 tahun aku sudah menguasai bela diri.” Jawab Raya
“Pantaslah ...” Kata Alen. “Tapi lain kali jangan seperti itu lagi, aku khawatir.”
Jonas dan Azer tampak bengong mendengar kata-kata Alen.
“Sudah 2 kali kakak bilang khawatir sama aku.” Kata Raya dengan tatapan polos. “Kakak kan bukan kakakku .... bukan juga kekasihku... kenapa khawatir ?”
Alen langsung merah mukanya, sementara Jonas dan Azer senyum-senyum nggak jelas.
Bocah .... aku khawatir karena aku sudah mulai menyukaimu. Batin Alen
“Huff.... panas.... kita cari minum dingin aja Nas....” Kata Azer sambil menarik Jonas keluar dari ruang perawatan Raya.
“Kakak... aku mau pulang .... aku tidak perlu rawat inap kan ?” Tanya Raya
“Iya, nanti kakak antar pulangnya.” Jawab Alen
“Motorku di kampus kak ...” Kata Raya
“Soal motor nanti biar diurus Azer atau Jonas. Mana kuncinya ?” Tanya Alen
Raya menyerahkan kunci motornya pada Alen. Satu jam kemudian Raya diperbolehkan pulang dengan syarat 3 hari lagi harus kontrol balutan dan jahitan. Tangan Raya juga harus menggunakan arm sling karena jahitan yang banyak tidak diperbolehkan banyak bergerak dahulu.
Alen mengantar Raya pulang ke rumah, Bibi Rose tampak terkejut melihat gadis yang dia asuh sejak kecil pulang dengan seorang pria tampan, apalagi tangan Raya memakai arm sling.
Bibi Rose mempersilahkan Alen duduk di ruang tamu, kemudian Alen menceritakan kejadian sebenarnya. Sementara Raya masuk ke dalam membersihkan diri di kamarnya.
“Maaf, Nyonya ...karena masalah ini Raya menjadi korban. Saya tidak bisa mengemban tugas menjaga dengan baik.” Kata Alen
“Panggil saja saya bibi, saya ini pengasuhnya Raya. Tidak apa-apa, terima kasih sudah berusaha menyelamatkannya.” Balas Bibi Rose. “Anak itu dari dulu tidak pernah berubah, selalu nekat dan tanpa perhitungan. Maaf jika dia selalu merepotkanmu.”
“Tidak, Bi .... saya merasa senang bisa menjaganya.” Kata Alen.
“Jika bersedia, tolong jaga dia untuk seterusnya, Bibi ini sudah tua, tidak selamanya bisa menjaganya, Kakek Raya juga sudah semakin tua.” Balas Bibi Rose.
“Saya akan berusaha, Bi, itupun jika Raya bersedia saya jaga.” Kata Alen.
“Terima kasih, Alen.” Balas Bibi Rose.