I Love You, My Police

I Love You, My Police
Yang Hamil Siapa, Yang Ngidam Siapa



Satu minggu Ara mendapatkan perawatan di rumah sakit, akhirnya dibolehkan pulang, karena Ara tinggal di kos-kosan dan tidak mungkin pulang ke Bandung karena sudah mulai bimbingan skripsi, akhirnya Ara sementara waktu tinggal di rumah Raiden dan Ayah David.


Alen masih saja dengan drama mual muntahnya setiap pagi bangun tidur, dan masih belum bisa makan nasi. Badannya tampak lesu, agak kurusan sedikit. Sementara Raya, makanan apapun masuk ke dalam perutnya.


Kantor pagi ini tampak agak sepi, banyak yang sedang dinas luar. Hanya ada Alen, Jonas dan Ezar.


“Nas,.... aku pengen banget makan tu mangga.” Kata Alen sambil menunjuk pohon mangga yang menjulang tinggi di pekarangan kantor, kebetulan mangga sedang berbuah.


“Belum mateng itu.” Balas Jonas.


“Gakpapa.” Kata Alen


“Ya udah manjat sendiri sono.” Balas Jonas


“Maunya kamu yang manjat.” Kata Alen sambil memainkan matanya.


Jonas mendesah panjang, kesal. Bukan kenapa-napa, pasalnya sudah beberapa hari terakhir ini permintaan Alen macem-macem dan aneh-aneh. Pernah suatu hari tiba-tiba Alen pengen banget makan nasi pecel dikasih keju mozarella. Pernah juga pagi-pagi heboh telepon Pak Dirga minta supaya dibawakan masakan dari istrinya ke kantor, karena tiba-tiba Alen pengen banget makan dari masakan Bu Dirga.


“Bapak satu ini ternyata kalau ngidam merepotkan banget.” Kata Ezar.


Jonas melepas sepatunya dan sudah bergelajut naik pohon mangga yang lumayan tinggi dan mendapatkan 3 buah mangga setengah matang yang diinginkan Alen. Alen sudah menyiapkan pisau untuk mengupas mangga, dan memakannya dengan lahap. Jonas dan Ezar yang melihatnya merasakan ngilu yang teramat dalam membayangkan asamnya rasa mangga muda itu, dan yang makan sepertinya menikmati sekali.


Meita, sang polwan cantik dan seksi melihat atasannya begitu menikmati mangga muda juga ikutan ngilu ketika lewat didepannya.


“Kenapa Mei, Mau ?” tanya Alen


“Enggak pak !!” Seru Meita dan langsung kabur dari hadapan Alen. Takut ngidamnya Alen minta yang aneh-aneh nanti. “Duh.... itu orang kok gitu amat sih, istrinya yang hamil kenapa dia yang ngidam gitu.”


Sore hari, Alen menjemput Raya di kampus dan mengajak jalan-jalan ke mall untuk makan sore sekalian.


“Kak.... nanti ke klub ya, aku kok pengen nge DJ.” Kata Raya


“Nggak capek ?” Tanya Alen


“Enggaklah kak, anakmu ini selalu energik.” Jawab Raya


Malam jam 9, akhirnya Alen mengantar Raya ke Klub, dan Raya mengambil posisi sebagai DJ dengan alunan musik garapannya yang asyik alunannya. Alen yang sedari tadi duduk mengawasi Raya, tampak sedang minum Vodka, bukan minuman yang biasa dia minum sebenarnya, tapi entah karena efek asamnya mangga muda tadi jadi mulut Alen serasa kebas dan kecut, sehingga Alen memilih minum Vodka sambil merokok. Pria satu ini sebenarnya tidak hobi merokok, tapi kali ini dia merokok karena merasa mulutnya rasanya tidak karu-karuan.


Jonas dan Ezar ternyata datang menyusul dan bergabung dengan Alen. Alen yang sudah habis satu botol Vodka mulai agak mabuk, karena memang Alen bukan peminum ulung seperti teman-temannya.


“Halah ... bocah satu ini sok-sok an amat pake acara minum segala.” Kata Jonas lalu membenarkan posisi duduk Alen yang sudah cengengesan gak jelas.


“Ngapa kamu tumben nge vodka ?” Tanya Ezar.


“Mulutku asem gara-gara mangga muda tadi.” Jawab Alen yang ternyata masih belum terlalu mabuk.


“Hahaha .... makanya ngidam gak usah aneh-aneh.” Kata Ezar.


“Aku bingung, kenapa Raya yang hamil tapi aku yang kudu ngidam ?” Tanya Alen.


“Itu karena kamu terlalu khawatir sama kondisi Raya. Mulai sekarang kamu harusnya jangan terlalu khawatir kondisi Raya, Dia cewek kuat kan ?” Kata Jonas. “Kalau kamu terlalu khawatir ya jadinya kamu kayak gini.”


Raya ternyata sudah turun panggung dari tadi dan menghampiri ketiga sahabat itu, melihat suaminya yang sudah setengah mabuk Raya agak terkejut, karena Alen selama ini hampir tidak pernah menyentuh minuman keras apapun.


“Lah kenapa dia ?” Tanya raya


“Katanya mulutnya asem gara-gara mangga muda tadi pagi.” Jawab Jonas.


“Mangga muda..... ?” Tanya Raya bingung


“Tadi pagi aku disuruh manjat pohon mangga, dia pengen mangga muda. Dia abis 3 biji, kita-kita sampai ikutan asem liat dia makan.” Jawab Jonas


Alen yang melihat Raya kemudian berdiri, dan mengajak Raya turun ke lantai, “Sayang .... temenin aku melantai dulu kali ini, gapapa kan ?” Tanya Alen


Raya hanya menurut saja, menolak permintaan orang sudah setengah sadar bisa kacau urusannya. Alen begitu bersemangat melantai mengikuti irama musik yang sedang diputar. Jonas yang kumat usilnya merekam kegiatan yang dilakukan Alen yang seperti biasanya. Kalau Alen sadar mana mau dia melantai seheboh itu. Tiba-tiba Alen menarik Raya dalam pelukannya dan dengan penuh hasrat mencium Raya tanpa ampun. Jonas tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengabadikan dengan ponselnya. Jarang-jarang atasannya bertingkah rada edan.


“Kakak udah ayo pulang ....” Kata Raya


“Sebentarlah sayang .... belum lewat jam 12 ini.” Balas Alen yang kembali menggerakkan tubuhnya tapi kali ini sambil memeluk Raya, kepalanya tersandar di pundak Raya. “Sayang ... jangan tinggalin aku ya, aku gak mau


kehilangan kamu.”


“Haih, siapa juga yang mau ninggalin kakak ?” Tanya Raya.


“Aku tuh sangat menyayangi kamu.” Kata Alen.


Raya memberi kode pada Jonas supaya menghubungi Raiden, karena pasti jika akan pulang nanti pasti Alen drama harus dia yang setir mobilnya. Buat kali ini Raya jelas tidak bisa membiarkan.


Raiden datang bersama Viko 15 menit kemudian. Melihat ulah adik iparnya yang sudah mabuk dipelukan Raya, dia tentu saja tertawa ngakak.


“Vik .... bawa tu bocah ke mobil, kita antar mereka pulang. Kamu bawa mobil Alen nanti !” Perintah Raiden


“Oke, tuan.” Balas Viko


Viko sedikit memaksa Alen untuk keluar dari klub malam diikuti Raya yang memang juga sudah mengantuk. Kali ini Raya memilih pulang ke rumah Bunda Alin.


Bunda Alin membukakan pintu dan tampak terkejut melihat penampilan putranya sudah tidak karu-karuan. Alen tidak dibuat tidur dikamar, tapi ditidurkan di sofa ruang tengah. Raiden dan Viko kemudian pamit pulang.


“Kalian .... tidak sedang dalam masalah kan ?” Tanya Bunda Alin bingung


“Nggak, Bun.” Jawab Raya. “Kakak tadi minum buat hilangin rasa asem dimulutnya karena tadi pagi ngabisin 3 biji mangga muda.”


“Hahhhh !!!!” Bunda Alin benar-benar heran dengan anaknya. “Mangga muda .... yang hamil kan kamu, Ray.... kenapa dia yang makan ???”


“Lha mana aku tahu, Bun. Sejak aku hamil juga dia yang mual muntah gak jelas gitu. Liat aja berat badannya kan turun itu.” Jawab Raya.


Bunda Alin kemudian melepas sepatu Alen dan mengendorkan pakaian Alen, kemudian menyelimuti Alen.


“Kamu tidur kamar Alen saja sayang ....” Kata Bunda Alin. “Nanti kalau dia sadar kan juga nyusul ke kamar.”


“Oke, Bun. “ Balas Raya


“Heran deh .... ini istrinya yang hamil kenapa malah suaminya yang ngidam gak jelas gini.” Kata Bunda Alin sambil masuk kembali ke kamarnya.


Jam 3 pagi Alen terbangun, matanya terasa berat, dia baru sadar kalau dia tidak di rumahnya, tapi di rumah orang tuanya.


“Kenapa aku bisa tidur disini ?” Tanya Alen kemudian pergi kedapur, mengambil air minum dan menegaknya sampai habis 1 botol. “Raya kemana ya ??”


Alen kembali duduk di sofa ruang tengah. Dia tidak mencari Raya karena masih terlalu pagi, kasihan kalau masih terlelap. Alen membuka ponselnya, dan membuka pesan dari Jonas. Ternyata Jonas mengirim video yang tadi sempat direkamnya.


Alen melompat terkejut melihat video tingkah dirinya sendiri di klub malam.


“Setan tu bocah !!!” Seru Alen dalam hati. “lagi ngedan malah di video.”


Ehhhh Kunyuuuukkkk !!! Kurang kerjaan banget videoin aku lagi mabok.Alen mengirim pesan pada Jonas.


Jonas ternyata juga baru bangun tidur, kemudian membalas pesan Alen. Sekali-sekali bos, liat bos edan semalam. Wkwkwkwkwk.


Awas kalau sampai video ini tersebar !! Ancam Alen


Nggak bos, Cuma udah aku kirim ke Ezar sama Bos Dirga. Balas Jonas.


Alen mengacak-acak rambutnya tidak jelas, nanti di kantor dia pasti jadi bahan bullyan pak Dirga atasannya. Jarang-jarang memang Alen menunjukkan tingkah edan kalau tidak pas mabok. Selama ini dia selalu menjaga


sikap dalam keadaan apapun. Jonas juga tahu diri tidak akan menyebarluaskan video itu, karena bisa berpengaruh pada reputasi kerja Alen sebagai perwira polisi.


Makanya bos, kalau ngidam yang wajar-wajar aja, jangan yang aneh-aneh. Untung kemarin cuma mangga muda 3 biji, bukan sepohon-pohonnya disantap. Jonas kembali mengirim pesan.