
Sudah 1 minggu berlalu, luka di lengan Raya sudah sembuh, hanya sekarang Raya beralih konsultasi dengan dokter kulit untuk menghilangkan bekas lukanya. Sebenarnya Raya tidak terlalu peduli dengan bekas lukanya, tetapi karena kerewelan Alen yang sekarang menyandang status pacar Raya meminta Raya untuk konsultasi dengan dokter kulit dan Raya menurutinya.
Sore itu, Raya pulang dari kuliah, kali ini tidak diantar jemput Alen lagi, karena Raya sudah membawa motornya sendiri. Raya mampir ke kantor Alen karena mereka janjian akan ke Club Malam milik Alen nanti malam.
Raya memarkir motornya tepat di sebelah motor Jonas, lalu masuk ke ruangan Alen dengan wajah cerianya.
“Duh .... happy amat keliatannya ?” Tanya Ezar.
“Kalau cemberut ntar cepet tua.” Jawab Raya.
Raya kemudian duduk di salah satu kursi kosong, dan membuka laptopnya di meja kosong didepannya.
“Sedang apa ?” Tanya Alen
“Meretas.” Jawab Raya santai
“Hahhhhh !!!! Jangan aneh-aneh, yang ....” Kata Alen. “Apa yang akan kamu retas ?”
“Perusahaan pesaing kakek .... mereka main curang.” Balas Raya dengan santai. “Mereka kemaren berhasil bobol sistem keamanan perusahaan kakek, untuk bisa segera aku atasi, waktu nya sekarang aku beraksi.”
“Emang apa yang akan kamu lakukan ?” Tanya Jonas
“Bangkrut dalam hitungan menit.” Jawab Raya terkekeh.
“Sayang .....”
“Tidak .... bercanda .... aku hanya akan membuat sedikit kelimpungan saja.” Kata Raya.
“Sebenarnya seberapa hebat kamu dalam meretas situs internet dan keamanan perusahaan ?” Tanya Jonas
“Aku retas sistem keamanan kepolisian pun kalau aku mau bisa kok.” Jawab Raya
“Ah .... tidak-tidak .... dasar bocah.” Gerutu Alen. “Macam mafia saja kamu ini.”
“Selesai !” Seru Raya.
“Apa yang kamu lakukan ?” Tanya Alen
“Membuat nilai saham merek turun sedikit, hehe...” Jawab Raya. “Dengan begitu mereka akan memohon pada kakek untuk mengembalikannya lagi. Akan aku kembalikan jika kakek meminta.”
“Lain waktu retas saja situs-situs porno, Yang.” Kata Alen. “Itu lebih membantu kita”
Raya, memang bukan gadis sembarangan, kecerdasan diatas rata-rata tentu saja soal mudah untuk main retas sana retas sini.
“Kakak mau kemana ?” Tanya Raya
“Latihan menembak, sayang.” Jawab Alen. “Kita masih ada waktu 3 jam untuk ke klab.”
“Ikutttt !!!” Seru Raya
“Hah !!! Mau ngapain ??” Tanya Alen.
“Memangnya tidak boleh nonton ??” Tanya Raya. “Aku pengen liat kemampuan kalian dalam hal menembak.”
“Ya ayolah .... !” Seru Jonas. “Tapi jangan teriak-teriak ya kalau kaget.”
“Lihat saja nanti.” Balas Raya.
Sebenarnya ruang latihan menembak tidak bisa sembarang orang masuk, apalagi kalau ketahuan pimpinan, tapi karena Pak Dirga juga ikut latihan sambil mengisi kekosongan waktu, Raya pun dibolehkan ikut.
Raya memandang dengan seksama latihan Alen, Ezar, Jonas dan Pak Dirga dengan seksama. Raya tersenyum kecut melihat hasil mereka menembak semua, karena tidak semua tepat sasaran.
“Kak..... boleh aku mencoba ?” Tanya Raya.
“Mencoba apa ?” Tanya Alen balik
“Menembak.” Jawab Raya.
“Memangnya bisa ?” Tanya Alen
“Kakak tidak percaya, kalau hanya pakai model HS 9 ataupun MAG 4 aku bisa, atau kau suruh pakai Desert eagle juga boleh.” Jawab Raya. “Pistol yang kakak pegang adalah HS 9.”
“Dari mana kamu tahu soal senjata ?” Tanya Alen bingung
“Tanya saja pada kak Justin ...” Jawab Raya.
Raya sudah merebut pistol ditangan Alen dan dengan cekatan mengisi amunisi, tanpa canggung sekalipun. 10 tembakan yang dikeluarkan Raya tepat sasaran semua, tak ada yang meleset satupun. Tentu saja semua yang
Raya meletakkan senjata yang sudah kosong amunisinya itu.
“Sayang .... jawab kakak, belajar dari mana kamu ?” Tanya Alen
“Kak Justin yang ajarin aku dari aku umur 10 tahun.” Jawab Raya. “Bahkan jika mau akupun bisa pegang senjata secara legal. Tapi sepertinya aku tidak perlu.”
“Kak Justinmu itu apakah seorang penembak jitu ?” Tanya Jonas
“Yes !!!” Jawab Raya
“Oh Gooooddd !!! Len .... cewekmu ini cetakannya Justin, penembak jitu juga.” Kata Ezar.
“Raya ... boleh kau tunjukkan kebolehan menembakmu yang lain ?” Tanya Pak Dirga
“Saya harus menembak dengan apa ?” Tanya Raya
“Sebentar.”
Pak Dirga masuk ke dalam ruangan dan keluar dengan membawa sebuah senjata, Barret M82. Tentu saja Alen kaget, bukan sembarang orang bisa pegang itu.
“Kita pindah ke lapangan tembak.” Kata Pak Dirga
Semua mengikuti langkah Pak Dirga, sesampai di lapangan tembak Pak Dirga menyerahkan senjata itu ke Raya, “Bidik dalam jarak 15 meter !”
Raya mengangguk, tentu saja Raya menyelesaikan dengan baik. Bidikan tepat sasaran.
“Kamu bener-bener kalah telak dari calon istrimu, Len !” Seru Pak Dirga. “Dia bukan sembarangan anak perempuan, Len.... bagaimana kamu menyelidikinya ?”
“Belum menemukan titik temu, Pak.” Jawab Alen. “Seluruh akses menuju keluarganya di Jepang tidak ditemukan. Hanya ada satu titik terang saja, sepertinya calon istri saya ini anak dari keturunan mafia, atau mungkin yakuza Jepang.”
“Ngeriiiii ....” Kata Jonas bergidik.
“Tapi aku suka.” Kata Alen. “Dia gadis penuh kejutan.... bahkan baru kali ini kau tahu bahwa dia seorang penembak jitu. Kalau mau saja mungkin dia bisa jadi pembunuh bayaran.”
“Bimbing dia terus Len ... siapa tahu setelah lulus kuliah dia mau sekolah perwira.” Kata Pak Dirga
“Hahhh .... tidak pak tidak .... sudah cukup aku saja yang terjun di dunia kepolisian, dia jangan.” Balas Alen. “menakhlukkan dia di balapan liar mobil dan motor saja aku belum sanggup, ditambah dengan ini .... “
“Hari ini kita dibuat malu oleh seorang gadis usia 20 tahun.” Kata Jonas. “Kita bahkan tidak apa-apanya dibanding keahlian dia, Sekali-kali perlu diajak tuh anak untuk nangkep penjahat.”
“Hahhh !!! Tidak.... menyebalkan kalian !” Seru Alen.
Beberapa saat kemudian, mereka kembali ke ruang kerja masing-masing. Raya pamit sebentar ke minimarket di depan kantor.
“Aku menemukan sesuatu !” Seru Jonas. “Kakak kandung Raya. Dan ketiga nama ini tidak asing lagi dalam dunia bisnis gelap dimasa lampau.”
“Siapa ?” Tanya Alen
“Kakak pertamanya, usianya 34 tahun, namanya Kenan Aditama atau Kenan, yang kedua usia 30 tahun, namanya Kenzie Aditama, biasa dipanggil Ken, dan yang terakhir usia 28 tahun Samuel Aditama, biasa dipanggil Sam. Ketiganya pernah terlibat bisnis perdagangan senjata ilegal, tapi itu sekitar 5 tahun lalu, dan sekarang mereka meninggalkan bisnis itu. Mereka sekarang bergelut di bisnis Klub Malam, Bar, Hotel, dan pengamanan pejabat tinggi.” Jawab Jonas. “Nama Aditama adalah nama ayah mereka. Jadi nama Raya sendiri sebenarnya adalah Sheeva Raya Ryoko Aditama.
“Jadi, bisa dikatakan mereka memang keluarga mafia dimasa lampau.” Kata Ezar. “Karena yang aku tahu mereka bertiga juga pemegang kendali Vulkanis, sebuah kelompok mafia besar di negaranya.”
“Jadi calon istriku adik dari mafia ?” Tanya Alen
“Ya ... dan kakek Raya tidak lain tidak bukan adalah Tuan Arata, penguasa Klan Blue Stars.” Jawab Jonas.
“Mati aku.” Gumam Alen.
“Hahaha ..... ternyata kamu punya calon istri keluarga mafia tobat,” Kata Pak Dirga.
“Lalu apa hubungannya dengan kematian Justin ?” Tanya Alen
“Kemungkinan Justin mati ditangan Klan Black Stars, itu adalah musuh bebuyutan Blue Stars. Mereka muncul kembali setelah 10 tahun mengendap hilang.” Jawab Jonas. “Sasaran mereka adalah Raya, karena Ando sang
penguasa Black Stars dulu menyukai ibu Raya, tetapi malah menikah dengan orang Indonesia. Jadi dia sepertinya ingin balas dendam karena cintanya tidak tercapai, otomatis tidak bisa menguasai Blue Stars.”
“Oke ... jangan sampai Raya mendengar ini dulu.” Kata Alen. “Ini tidak baik untuk psikologisnya. Aku khawatir sisi mafianya juga akan muncul jika tahu.”
“Benar.” Balas Ezar. “Ini yang terbaik.”
“Ini baru kejutan pertama, Len .... entah kejutan berikutnya apalagi.” Kata Jonas. “Selalu waspada saja, kita siap bantu.”
“Oke.”